Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
POV Nina


__ADS_3

Aku mondar-mandir di kamar kesayanganku dengan hati gelisah tak karuan. Sudah tiga hari tak ada kabar dari lelaki yang berjanji akan menikahiku itu. Dan nomor wattsappnya juga tak dapat kuhubungi. Kenapa dengannya? Apa dia sudah berubah pikiran? Apa dia sudah baikan lagi sama si Monik itu.


Tanpa pikir lagi, aku bergegas meraih ponsel dan menekan nomor kontak seseorang.


Berdering.


‘’Assalamua’alaikum. Om apa kabar?’’


‘’Wa’alaikumussalam, Nina. Om baik, kamu apa kabar?’’


‘’Ba—baik, Om. Tapi beberapa hari ini Andre nggak pernah lagi menghubungi aku,’’ kataku seadanya.


‘’Maksud kamu?’’


‘’Nomornya offline, Om. Udah beberapa hari nggak ada kabarnya lagi.’’


‘’Dia baik-baik aja kan, Om? Dia ada di rumah? Please, aku mau bicara sebentar aja sama dia.’’


‘’Nina, ma’af. Om lagi di luar kota.’’


‘’Ngapain, Om? Meeting di sana? Kok Om nggak pergi sama Papi.’’


‘’Udah dulu ya, Nina. Om banyak kerjaan.’’


‘’Hallo, Om!’’


Astaga! Dimatikan sepihak oleh om Ardi. Sikapnya sangat aneh menurutku, entah kenapa. Dia bilang sedang berada di luar kota, untuk apa? Pekerjaan? Jika menyangkut pekerjaan papi pasti akan ikut juga, karena setahu aku papi dan om Ardi itu bekerja sama di perusahaannya. Atau sekarang papa Andre itu kerja sama dengan perusahaan lain juga? Tapi, kenapa aku agak merasa aneh ya. Aku berusaha menepis rasa penasaran itu.


Aku memutuskan untuk bergegas melangkah ke lantai satu. Kutelusuri anak tangga satu-persatu dengan cepat.


‘’Pi, Papi ada meeting di luar kota nggak?’’ Aku bergegas menghampiri papi yang tengah menikmati secangkir kopi di ruang keluarga dan ditemani oleh laptop kesayangannya, dia seketika menoleh.


‘’Nin? Lah, kok tumbenan. Biasanya selalu bilang good morning gitu sama Papi. Kamu kenapa, Sayang? Kok cemberut gitu mukanya?’’


‘’Eh, iya. Good morning, Pi,’’ lirihku sembari menggarut kepala yang tak gatal.


‘’Gitu dong. Good morning too, Sayang.’’


‘’Sini duduk dulu.’’ Lelaki cinta pertamaku itu tampak menepuk sofa, aku bergegas duduk di sampingnya.


‘’Ada apa? Kok kamu cemburut begitu dan rambutmu juga kelihatan kusut,’’ kata papi tak hentinya menatapku. Aku menghela napas gusar.


‘’Ini, Pi. Andre udah beberapa hari ini nggak ada ngabarin aku. Udah aku coba menghubungi, malah nggak online sama sekali,’’ keluhku.


‘’Papi akan coba untuk menanyakan ke Ardi. Kamu tenang aja ya, Sayang.’’ Lelaki yang berumur lima puluh tahunan itu bergegas mengelus pucuk kepalaku.


‘’Udah aku hubungi, katanya dia sedang di luar kota.’’


Membuat papiku terkesiap.


‘’Ke luar kota?’’


‘’Iya, Pi. Makanya aku nggak tahu lagi harus gimana dan apalagi dia masih bersama istrinya itu.’’


‘’Aku nggak mau kalau nggak nikahnya sama Andre. Pokoknya aku nggak akan nikah seumur hidup!’’


‘’Sayang, jangan ngomong begitu. Kata-kata itu adalah do’a loh. Lain kali kamu harus hati-hati bicaranya. Papi akan usahakan untuk mencari Andre demi anak kesayangan Papi ini.’’ Dia menatapku dan mencoba menenangkan diriku, namun tetap saja hatiku ini tak tenang sebelum mendapatkan kabar dari lelaki yang berhasil membuat aku tergila-gila itu. Papi tampak menghela napas gusar.


‘’Tapi kan dia udah punya istri, Sayang.’’


‘’Pokoknya aku nggak peduli, Pi! Yang salah itu Papi, kenapa membiarkan dia menikahi perempuan lain? Dan kenapa Papi juga menjodohkan aku dengan Andre? Semua ini nggak akan terjadi, Pi. Aku udah terlanjur sayang sama dia!


Dadaku terasa bergemuruh hebat dan bergegas bangkit.

__ADS_1


‘’Sayang! Dengerin dulu kata Papi,’’ panggilnya.


Namun aku tak mempedulikan, aku bergegas melangkah menuju lantai dua dengan tergesa-gesa. Aku merasa kecawa dengan ucapan papi yang katanya si Andre sudah mempunyai istri. Aku tak mempedulikan itu. Bagaimana pun caranya, lelaki itu harus bisa jadi milikku seutuhnya. Aku tak mau tahu.


‘’Mas, apa salahnya sih kamu membantu Nina untuk mendapatkan Andre? Bukannya kamu dulu yang saling menjodohkan anak kita dengan anak temanmu itu,’’ kata mami ketus, terdengar olehku. Aku menoleh sejenak dan bergegas melanjutkan langkahku menuju lantai dua.


Ya, aku harus melakukan sesuatu. Agar aku bisa mendapati lelaki yang kucintai itu dengan sepenuhnya.


‘’Pak Andi!’’ panggilku dengan sekerasnya.


‘’Ah iya, Non. Ada yang bisa dibantu?’’


Akhirnya dia muncul juga di hadapanku, lelaki berseragam yang selalu setia menemaniku ke mana-mana, dia sopir pribadiku.


‘’Kalo saya manggil Bapak, itu artinya saya butuh bantuan!’’ aku berkata dengan ketus dan tampak lelaki itu menunduk lalu mengangguk pelan.


‘’Antarin saya,’’ pintaku.


‘’Baik, Non.’’


Aku bergegas memasuki kamar dan menyambar tas mewahku yang bewarna keemasan itu. Tanpa pikir lagi aku bergegas melangkah menuju lantai satu kembali. Tampak wanita yang berpakaian layaknya anak muda itu bergegas menghampiriku, namun aku tetap melanjutkan langkahku tanpa menoleh.


‘’Nin, kamu mau ke mana, Sayang?’’


‘’Aku ada perlu sebentar, Mi,’’ sahutku tanpa menoleh dan terus saja melangkahkan kakiku.


***


‘’Antarin saya ke jalan Melati nomor 12, RW 4 dan RW 5.’’


‘’Baik, Non,’’ sahutnya yang masih fokus menyetir. Tak berselang lama mobilku sudah memasuki pekarangan rumah elite. Aku bergegas turun. Sopir pribadiku itu langsung membukakan pintu seperti biasa untukku.


‘’Akhirnya aku bisa ke sini lagi,’’ gumamku memandangi perumahan yang begitu tampak luas. Mataku tertuju pada lelaki yang tak asing lagi bagiku. Dia tengah menggendong bayi sembari duduk di taman, sepertinya dia hanya berdua saja dengan anaknya. Ini kesempatan emas untukku.


‘’Ndre!’’


‘’Ni—Nina? Ngapain kamu ke sini?’’ lirihnya.


‘’Aku rindu banget sama kamu, Ndre. Nomor kamu nggak bisa dihubungi dan aku mencemaskanmu,’’ kataku sembari menghenyak di sampingnya.


‘’Nggak seharusnya kamu ke sini. Bagaimana kalo Mamaku nanti ngelihat kamu? Bisa habis aku,’’ katanya dengan ketus. Tampak dari raut mukanya yang begitu kesal, namun aku tak peduli. Aku akan melakukan segala cara agar bisa mendapatkan lelaki yang sudah mampu membuatku tergila-gila itu.


‘’Ya bagus dong. Aku juga mau minta restu sama Mama kamu.’’ Aku bergegas menggeser posisi dudukku hingga mendekat ke lelaki yang tengah menggendong bayi itu.


‘’Nina, Mama aku nggak akan restuin hubungan kita dan lagian aku udah punya anak,’’ lirihnya, namun dengan nada ketus. Aku menghela napas gusar.


‘’Aku nggak peduli itu, Ndre.’’


‘’Sekarang juga kamu bawa bayimu ke dalam. Biar kita bisa bicara berduaan,’’ pintaku kemudian karena risih memandangi bayinya.


‘’Kamu keberatan? Atau aku sendiri yang bawain bayimu ke dalam? Aku kasih ke Mamanya sekalian dan nanti aku juga mau bilang kalau kamu udah janji untuk menikahiku,’’ kataku sembari tersenyum sinis. Membuat dia terkesiap.


‘’Astaga! Kamu udah gila ya, Nin?’’ Dia menggeleng dan bergegas melangkah sembari menggendong bayinya itu. Tak pernah dia mengatakan bahwa aku ini gila, baru sekarang aku dengar dari mulutnya itu. Kenapa dia begini? Apa karena si Monik itu dia jadi begini? Apa kelebihannya wanita itu hingga membuat pacarku berubah begini? Ah, aku tak peduli. Aku akan lakukan segala cara.


‘’Gila karena kamu, Sayang.’’


Ya, aku akan melakukan berbagai cara supaya lelaki itu jadi milikku. Tak ada yang bisa menghalangiku untuk mendapatkan lelaki yang kucintai itu. Biarpun harus menggadaikan kebahagiaan orang lain, aku tak peduli. Kebahagiaanku yang paling penting. Tak berselang lama, dia sudah kembali lagi.


‘’Kamu mau apa lagi, Nina?’’ tampak sorot matanya menatapku begitu tajam.


‘’Aku mau menagih janji kamu, Ndre.’’


‘’Aku udah punya Monik dan juga udah punya anak—‘’

__ADS_1


‘’Hussh! Aku enggak peduli itu,’’ lirihku sembari meletakkan telunjukku di bibirnya. Membuat dia menatapku.


‘’Papi lagi nyariin kamu. Dan dia minta aku untuk bawa kamu ke rumah. Kamu tahu kan kalo Papi nggak bisa dibantah? Apalagi kamu pernah diselamatin sama Papi.’’ Sebenarnya aku tak mau mengungkit itu, tapi itulah senjataku sekarang.


‘’Aku nggak akan ke sini lagi. Kalo kamu mau ikut sebentar denganku,’’ imbuhku kemudian. Tampak dia tengah menghela napas dengan berat. Entah apa yang terjadi padanya belakangan ini, hingga membuat dia berubah total padaku.


‘’Oke. Aku ikut sama kamu. Tapi ingat, jangan ganggu istri dan juga anakku.’’ Dia berkata ketus. Ya, aku harus sabar menghadapi lelaki ini.


‘’Nah, gitu dong sejak tadi.’’


Kupandangi dari bawah hingga ke atas, dia berpakaian levis bewarna hitam pekat dan tak lupa baju kaos bewarna putih, tentu saja itu yang menambah ketampanan diri seorang Andre.


‘’Ayuk ke rumahku!’’ Aku bergegas menggandeng tangan kekarnya, namun malah ditepisnya dengan kasar.


‘’Kamu tahu kan? Ini rumahku, di sini ada istri dan juga Mamaku,’’ kesalnya. Aku harus sabar menghadapi lelaki ini, walaupun aku begitu kesal padanya. Kesal pada sikapnya yang berubah drastis. Tanpa berkata lagi dia tampak bergegas melangkah dan aku mengikutinya.


‘’Silakan, Mas, Non!’’ Sopir pribadiku tampak membukakan pintu. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Di mobil hanya deru mobil yang menemani dan bunyi klakson sesekali.


Aku bergegas merogoh tas mewahku.


‘’Ya aku harus menghubungi seseorang.’’


‘’Bi, tolong siapkan seindah mungkin, aku akan membawa pacarku.’’


‘’Baik, Non. Makanannya?’’


‘’Seperti biasa. Kan Bibi udah tahu makanan favorit aku dan pacarku,’’ Aku berkata ketus. Dan bergegas memutuskan sambungan sepihak.


Tiada pembicaraan antara aku dan Andre, dia tampak menatap pemandangan di luar dengan tatapan kosong, entah apa yang terjadi padanya belakangan ini hingga dia berubah sikapnya terhadapku. Tak berselang lama, mobilku sudah memasuki pekarangan rumah. Aku tersenyum bahagia.


‘’Akhirnya aku bisa membawamu ke sini, Ndre,’’ bisik hatiku. Aku dan Andre bergegas turun. Dia menatapku sejenak. Aku bergegas menggandeng tangan kekarnya, hingga dia menatapku dengan tatapan malas dan berusaha menghindar dariku.


‘’Ndre, kamu nggak mau mengecewakan Papi kan? Jadi nurut saja ya,’’ bisikku di telinganya. Ini adalah salah satu senjata terampuhku yang bisa membuat lelaki itu tak berkutik dibuatnya. Aku tersenyum sinis, tanganku masih menggandeng tangan kekar Andre dan kami melangkah menuju lantai dua.


‘’Papimu mana?’’ tanya lelaki yang sedari tadi hanya diam saja.


‘’Papi lagi istirahat. Nanti aja kita temui ya. Sekarang sama aku dulu.’’


Seperti biasa jika kami ingin berduaan pasti ke ruang khusus itu. Aku dan Andre bergegas melangkah.


‘’Ah, Non, Mas! Silakan!’’


Wanita separuh baya yang berseragam itu bergegas melangkah keluar dari ruangan, yang sepertinya dia sudah mempersiapkan sesuatu yang aku minta. Aku hanya menyahut dengan anggukan dan melirik pada lelaki yang berdiri gagah di sampingku. Aku memberikan kode agar memasuki ruangan yang biasa kami pakai untuk beromantisan.


Tatkala dia memasuki ruangan, dia terheran. Aku yakin dia terheran bukan karena memandangi isi mewahnya ruangan, tetapi tempat makan romantis yang sudah dipersiapkan oleh bibi Ningrum.


Sebuah kasur empuk berukuran besar yang terlentang di tengah ruangan, di belakangnya terlihat lukisan hati yang terpajang, sofa panjang bewarna keemasan juga diletakkan di bawah kaki ranjang, dengan meja bulat modern, lantai bewarna cream cerah menutupi seluruh bagian bawah ruangan dan lampu mewah yang menggaris kotak langit-langit ruangan. Ditambah dekor meja dan kursinya yang jika dilihat tak membosankan mata memandang dan di meja tertata dengan indah baked salmon dua porsi, spageti carbonara dua porsi, secangkir jus lemon dan secangkir jus mangga.


‘’Untuk apa kamu susah payah menyiapkan seperti ini, Nina?’’ Dia tiada putusnya memandangi seisi ruangan ini.


‘’Kita udah lama nggak berduaan. Jadi aku sengaja buat kayak gini agar kamu nggak bosen sama aku dan kita bisa happy.’’


‘’Duduklah, Ndre!’’ pintaku karena dia masih terus memandangi seisi ruangan ini, entah karena takjub atau sebaliknya. Dengan ragu dia bergegas menghenyak di kursi yang telah dihiasi seindah mungkin.


‘’Tunggu sebentar!’’ Aku bergegas melangkah menuju kamarku yang berjarak dekat dengan ruangan ini. Setibanya di dalam, aku bergegas membuka almari dan mencari gaun dress yang kubeli kemarin. Tanpa berpikir lagi, aku bergegas mengganti pakaianku dan mematut diri ke cermin.


‘’Kalo begini, apa kamu akan masih dingin sikapmu sama aku, Ndre?’’


Aku tersenyum sinis memandangi diriku yang sudah mengenakan dress mewah yang bewarna merah maroon itu, tentu sangat cocok di kulitku. Aku bergegas melangkah kembali ke ruangan. Tampak lelaki itu tengah termenung.


‘’Ndre!’’ panggilku dengan suara mendayu dan bergegas menghenyak di sampingnya.


Aku sengaja mendekatkan kursi kali ini dengan kursi yang diduduki Andre. Aku berpura-pura meraih tissue , hingga aku dan Andre tak ada lagi jarak di antara kami, apalagi pakaianku menampakkan belahan. Tampak dia menelan saliva. Lelaki mana yang tak kan tergoda dengan wanita secantik dan sebohai aku coba? Tampak dia menatapku seperti orang bernafsu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2