Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Talak Tiga?


__ADS_3

Sudah lima hari Andre tak pernah lagi pulang ke rumah ini. Dihubungi tak aktif nomor ponselnya dan ditanyakan ke mama mertua pun jawab mama selalu tak tahu dan tak ada pernah memberi kabar ke mamanya sendiri. Aku lelah dan capek seperti ini. Ditinggalkan begitu saja tanpa memberi kabar padahal aku dan anaknya menunggu di sini. Aku mondar-mandir sedari tadi di kamar, memikirkan Andre yang tak kunjung pulang ke rumah.


Apalagi foto aku dan Andre semasa pacaran dulu jatuh begitu saja ke lantai. Membuat aku cemas memikirkannya dan perasaanku tak enak sekali. Apa yang terjadi pada suamiku di luar sana Ya Allah? Ahh, semoga saja dia pulang hari ini dalam keadaan baik-baik. Aku berusaha menyingkirkan prasangka buruk yang menghantui pikiranku. Ya, aku tak mau bayiku rewel lagi. Apalagi kalau pikiranku yang begitu kalut dan sedih. Tentu akan berimbas pada bayiku seperti kemarin.


‘’Oh iya, udah lama aku nggak menonton bahkan sejak hamil Rafi. Mana tahu sedikit menghiburku.’’ Aku bergegas menghenyak di sofa dan menghidupkan televisi. Seketika aku kaget memandangi layar yang tengah tayang.


‘’Papa? bukannya itu Papa? Atau hanya mirip saja dengan Papa? Berhutang sebanyak 2 millyar? Hah?’’ sontak aku membungkam mulut saking kagetnya memandangi yang tengah tayang di televisi.


Apa itu benaran papa Ardi? Tapi masa iya papa sebanyak itu berhutang, untuk apa? Apa untuk menyenangkan selingkuhannya? Lalu bagaimana dengan perusahaan yang dipegang di tangan papa itu? Apa mama sudah berhasil merebut kembali?


Gegasku mematikan televisi kembali dan melangkah dengan tergesa-gesa ke lantai bawah. Tampak bibi tengah sibuk menyiapkan makanan siang.


‘’Bi, Bibi tahu nggak?’’ ucapku dengan napas terengah-engah.


‘’Kenapa, Monik? Tenangin dulu dirinya, tahan napas dan keluarkan biar lega.’’ Bibi tampak terheran dan sekaligus menarik napas lalu mengeluarkannya perlahan, mencontohkan padaku.


Aku mempraktikkan yang dikatakan oleh bibi dan benar saja terasa lega napasku.


‘’Nah, gimana, Monik? Kamu bicara apa tadi?’’ tanya bibi kembali.


‘’ Tadinya aku mau nonton karena udah lama nggak nonton, eh tahu-tahunya nampak berita Pak Ardi yang ditangkap polisi,’’ ucapku satu napas. Bibi sontak kaget dan membungkam mulutnya.


‘’Hah? Apa? Yang bener aja Monik, kamu salah lihat kali.’’


‘’Nggak, Bi. Udah jelas-jelas nama Pak Ardi yang ada di sana,’’ sungutku.


Bibi sejenak terdiam,’’Kalo iya, syukurin itu mah. Habisnya jahat banget sama Bu Karni, main api di belakangnya,’’ omel bibi dengan bibir manyun.


‘’Bibi mah, biar bagaimana pun itu Papa mertuaku loh.’’


‘’Eh, ma’af deh, Monik. Habisnya Bibi kesel banget, apalagi tega selingkuh di belakang istrinya yang memberikan harta dan segalanya. Eh, dia malah mengkhianati sang istri, suami macam apa coba. Nggak tahu diri banget,’’ kesal bibi tampak dari raut mukanya.


‘’Tapi, iya juga sih, Bi. Mungkin itu balasan semuanya atas perbuatan Pak Ardi selama ini dan apalagi punya hutang 2 Millyar,’’ lirihku pelan.


‘’Apa? 2 Millyar? Jadi dia ditangkap gara-gara nggak bayar hutang?’’ tanya bibi spontan kaget lagi.


Aku mengangguk secepatnya,’’Iya sih Bi kalo menurut berita yang tayang di TV.’’


‘’Tapi untuk apa uang sebanyak itu ya, Bi?’’


‘’Mungkin untuk selingkuhannya kali, Monik. Memanjakan selingkuhan dengan berhutang, eh malah nggak bisa bayar lagi.’’ Bibi tampak tersenyum sinis.


‘’Bener juga, Bi. Menurut aku juga begitu, tetapi gimana keadaan Bu Karni kalo tahu soal berita ini ya, Bi? Aku takut—’’


Bibi kembali menata hidangan,’’Monik tenang aja, Bu Karni nggak akan syock kok. Lagian kan mereka mau pisah, entah sekarang udah pisah. Bu Karni pun nggak akan mempertahankan orang kayak Pak Ardi.’’ Tangan bibi tak berhentinya menata makanan di meja makan, tetapi mulutnya tak mau berhenti bicara saking kesalnya.


‘’Mau pisah, Bi? Bibi tahu dari mana?’’ bisikku karena takut kedengaran mama.


‘’Sssttt! Bapak sopir pribadi Bu Karni yang bilang kemaren. Bibi takut ahh, ntar kedengaran sama Bu Karni, bisa-bisa Bibi dipecat dong.’’ Bibi meletakkan jari telunjuknya di bibir, pertanda menyuruhku mengecilkan volume suaraku.


‘’Ma’af deh, Bi. Nggak kok, nggak akan kedengaran, Bi.’’ Aku tersenyum menatap wajah cemas bibi.


‘’Eh, Bibi beberes dari tadi kan? Aku malah ngeganggu Bibi. Bibi ngerasa terganggu nggak sih, Bi?’’


‘’Nggak sama sekali kok, Monik. Ini udah siap, mulut Bibi bicara dan tangan juga gerak makanya selesai secepatnya.’’ Bibi tertawa kecil.


‘’Syukurlah, Bi. Kalo gitu makan siangnya udah siap kan? Biar aku yang manggil Bu Karni untuk makan siang ya, Bi.’’


‘’Udah nih, Monik. Eh, biasanya Bibi yang manggil. Apa nggak apa-apa?’’


‘’Nggak apa-apa, Bi. Biar aku aja ya.’’ Aku bergegas melangkah menuju kamar mama mertua yang tak jauh dari ruang makan. Tampak pintunya tertutup olehku. Kucoba mengetuk tanpa berpikir lagi.


‘’Ma, yuk kita makan siang, Ma,’’ lirihku sambil mengetuk pintu.


‘’Mama belum laper, Nak,’’ sahut mama mertua lirih di dalam sana.


‘’Lah, udah jam berapa ini, Ma. Ntar Mama sakit lagi, aku nggak mau Mama kenapa-napa.’’


Sesaat pintu terbuka dan kupandangi wajah mama tampak sembab. Apa mama usai menangis? Apa mama menangis karena papa yang ditangkap? Apa mama sudah tahu semuanya tentang berita yang tayang di televisi tadi?


‘’Mana mungkin Mama menangisi lelaki kayak Papa,’’ batinku.


‘’Monik,’’ panggil mama membuyarkan lamunanku.


‘’Eh iya, Ma. Yuk kita makan siang,’’ ajakku. Mama menggeleng secepatnya.

__ADS_1


‘’Mama nggak laper, kamu duluan makan siang sama Bibi ya.’’


‘’Nggak, Ma. Udah jam segini Mama nggak mungkin nggak laper.’'


‘’Mama nggak ada selera,’’ jawab mama kemudian.


Kutatap wajah mama seperti menyembunyikan sesuatu. Apa mama sedih dan syock mendengar kabar mengenai papa yang ditangkap? Ahh! Kurasa mama tak mungkin perduli dengan lelaki seperti itu. Aku tahu bagaimana mama yang sebenarnya walaupun aku belum lama kenal dengan mama mertua. Tapi aku sudah hapal sekali bagaimana seorang mama Karni.


‘’Mama pengen makan apa? Biar aku beliin.’’


Mama tampak menggeleng secepatnya,’’Mama nggak mau makan apa-apa. Mama mau istirahat dulu.’’ Mama mertuaku bergegas melangkah ke dalam kamar, namun aku mencegahnya dengan menarik tangan mama pelan.


‘’Ma, aku nggak mau Mama entar sakit. Aku sayang sama Mama. Aku mohon, Mama makan ya.’’


‘’Ya udah Mama makan, ini karena kamu yang menyuruh. Sebenarnya Mama nggak ada selera.’’ Seketika aku bernapas lega dan tersenyum.


‘’Alhamdulillah, gitu dong, Ma.’’


‘’Mama mau makan apa? Biar aku beliin ke luar.’’


‘’Nggak usah, Sayang. Kan Bibi masak tadi.’’


‘’Katanya Mama enggak ada selera. Oh iya, di depan ada jualan gado-gado. Enak loh, Ma. Aku pernah dibeliin sama Andre.’’


‘’Ya udah, itu aja beliin buat Mama. Tapi Bibi yang beliin ya, kamu nggak boleh keluar nanti Rafi malah nangis.’’


‘’Siap, Ma. Kalo gitu aku panggil Bibi dulu.’’ Mama mengangguk lantas tersenyum. Aku bergegas menemui bibi yang masih beberes di ruang makan.


‘’Bi, Bibi udah siap kan?’’ tanyaku seketika menghampiri bibi dan membuat dia menghentikan tangannya menata hidangan di meja makan.


‘’Belum, Monik. Dikit lagi kok.’’


‘’Ada apa, Monik? Butuh bantuan Bibi?’’ tanya bibi tersenyum khas miliknya.


‘’Iya sih, Bi. Aku mau minta tolong beliin Bu Karni gado-gado di depan rumah kita ini. Bibi tahu kan?’’


‘’Ya udah, biar Bibi yang beliin. Tahu Monik, kan Bibi pernah beli juga.’’


Aku bergegas merogoh saku-saku rok. Alhamdulillah masih ada tersisa uang pemberian mama mertua beberapa hari yang lalu.


‘’Nah, ini, Bi. Beli dua bungkus. Satu untuk Bibi dan satu lagi untuk Bu Karni.’’ Aku menyodorkan uang lima puluhan ke bibi.


‘’Ya udah kalo gitu sebungkus aja ya, Bi.’’


‘’Monik nggak beli juga?’’ tanya bibi sambil meraih uang yang tengah kusodorkan. Aku menggeleng.


‘’Nggak usah, Bu Karni aja, cepat ya, Bi.’’ Bibi mengangguk dan bergegas melangkah ke luar. Sedangkan aku melangkah menuju lantai dua memastikan bayiku apa dia sudah terbangun atau belum.


Setiba di lantai atas, aku memasuki kamar dan kudapati bayiku terbangun sendiri, tetapi dia hanya terdiam saja.


‘’Ya Allah, ternyata anak Mama sudah bangun nih.’’ Kuambil dengan pelan dan meletakkan bayi mungil di pangkuanku.


‘’Pasti laper ya, Sayang.’’ Bergegas aku berikan ASI untuknya. Tak berselang lama, terdengar suara yang tak asing lagi bagiku.


‘’Monik, yuk makan siang,’’ ajak bibi.


‘’Nanti aja, Bi. Rafi kebangun, oh ya panggil sekalian Ibu ya, Bi. Suruh beliau makan siang duluan,’’ sahutku.


‘’Oke, Monik.’’


Sesaat kemudian bayiku terlelap kembali. Ternyata kalau anak bayi itu suka tidur ya, buktinya setelah makan dia langsung terlelap. Perlahan kubaringkan bayiku kembali ke ranjang. Dan pintu berderit seketika. Siapa yang membuka pintu tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu? Apa bibi? Ah, biasanya bibi selalu memanggilku sebelum memasuki kamarku. Aku bergegas menoleh. Aku terkesiap dan mataku melotot seketika.


‘’Ndre? Alhamdulillah kamu akhirnya pulang,’’ lirihku tanpa kusadari air mataku lolos seketika dan bergegas menghampirinya. Dia hanya terdiam saja, tatapannya kosong dan entah kenapa menurutku dia tampak jauh berbeda olehku. Atau cuman perasaanku saja?


‘’Ndre! Aku dan anakmu merindukanmu. Kenapa kamu nggak pernah ngasih kabar? Kamu ke mana aja beberapa hari ini?’’ Tanpa pikir lagi bergegas kupeluk erat tubuh kekarnya itu. Dia diam membisu dan tatapannya tajam menatapku.


Ya Allah, kenapa dengan suamiku?


Seketika dia melepaskan pelukan dengan kasar tanpa berkata sepatah kata pun, membuatku terkesiap dan kebingungan dengan sikapnya. Lantas dia bergegas melangkah menuju lemari. Apa jangan-jangan dia mau menjemput pakaiannya? Tidak! ini tak mungkin, semoga perkiraanku salah. Aku terus membuntutinya dan berusaha menepis semua prasangka buruk yang menghantuiku.


‘’Kamu mau apa, Ndre?’’


Ya Allah benar saja, dia membuka lemari itu.


‘’Ndre! Jawab, Ndre! Kamu mau apa?’’ Kali ini nada suaraku sungguh naik saking kesalnya karena dia tak menjawab pertanyaanku sedari tadi.

__ADS_1


Dia masih tak menjawab ucapanku sepatah kata pun. Dia mengeluarkan semua pakaiannya dari lemari dengan kasar. Membuat mataku melotot tak percaya memandanginya.


‘’A—apaan ini, Ndre. Kamu kenapa mengeluarkan semua bajumu.’’


‘’Ndre, kamu nggak boleh ninggalin aku dan anakmu,’’ teriakku dengan deraian air mata merebut pakaian yang dimasukkan Andre ke kopernya itu.


Semakin keras aku berusaha merebut semakin keras pula tangannya melepaskan tanganku. Karena tangan kekarnya lebih kuat dariku membuat aku terhuyung ke belakang dan semua pakaiannya pun sudah masuk ke koper. Dengan pelan aku bangkit.


‘’Aku salah apa? Apa salahku? Kamu jangan kayak gini dong. Anak kamu lagi butuh kasih sayang dari Papanya.’’


‘’Udaahh! Cukup!’’ bentaknya membuatku kaget bukan main. Ya Allah kenapa dia bisa seperti ini? Sudah lima hari dia tak pulang ke rumah dan kini dia kembali lagi ke rumah dengan sikap yang jauh berubah.


‘’Monika Putri, sekarang juga kutalak kamu dengan talak tiga. Mulai detik ini, kamu bukan istriku lagi.’’


Jleb! Allah tubuhku lemas tak berdaya mendengar kata-kata yang ke luar dari mulutnya. Tubuhku luruh seketika dan deraian air mata membasahi pipiku. Aku memegangi kakinya dan bergelayut di kakinya membuat dia susah untuk melangkahkan kaki.


‘’Ndree, kamu jangan main-main dengan ucapanmu itu, Ndre. Kamu bercanda kan?’’


‘’Nggak, kamu pasti bercanda!’’ ucapku dengan deraian air mata yang masih memegangi kakinya.


‘’Lepaskan! Sekarang kamu bukan istriku lagi!’’ bentaknya.


‘’Apa salahku? Kenapa kamu menceraikan aku? Salahku apa?’’ kataku di balik isakan tangisku. Tak henti-hentinya tangisanku. Tetapi Andre tak ada perasaan iba yang muncul di hatinya sedikit pun malah berusaha untuk melepaskan tanganku dari kakinya.


‘’Aku udah nggak cinta lagi sama kamu, puas kamu?’’ ketusnya dengan suara menggelegar. Seperti ada ledakan di hatiku. Aku tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.


‘’E—enggak, ini nggak mungkin. Dulu katanya kamu mencintai aku,’’ ucapku di sela isakan tangis sembari menggeleng.


Ya, dulu ketika kami jadi sepasang kekasih, Andre sering sekali mengungkapkan rasa cintanya terhadapku dan memperlakukan aku bak seorang ratu di hatinya. Tetapi kenapa dia seenaknya bicara kalau dia tak mencintaiku lagi. Dia berkata tanpa memikirkan perasaan aku. Apa karena sudah ada wanita lain yang hinggap di hatinya hingga membuat rasa cintanya padaku pudar begitu saja? Apa wanita itu adalah Nina yang pernah dijodohkan oleh papa mertuaku? Ya Allah, aku tak boleh berpikir seperti ini. Buktinya belum ada, tak baik aku menuduh orang yang tidak-tidak.


‘’Itu dulu! Sekarang beda lagi!’’ ketusnya dan berusaha untuk melepaskan tanganku dari kakinya.


Tanganku pun lepas dari kakinya, membuat kepalaku terbentur ke tembok. Sungguh begitu sakit kepalaku. Dia bergegas melangkah ke luar kamar tanpa memperdulikanku. Membuat mama dan bibi berlarian menghampiriku.


‘’Ya Allah, Monik!’’ pekik mama.


‘’Ya Allah, Monik!’’ bibi juga menghampiriku.


Kepalaku terasa sangat pusing sekali.


‘’Andre! Anak kurang ajar! Jangan lari kamu!’’ Mama bergegas mengejar Andre ke luar, sedangkan bibi memapahku menuju sofa.


‘’Monik, kamu nggak apa-apa? Dan apa yang dilakukan sama Mas Andre?’’ Aku hanya mampu menggeleng kali ini. Dan seketika aku memeluk bibi erat dan tangisanku pun kembali pecah.


‘’Bi, apa salahku, Bi? Kenapa Andre menceraikanku? Kenapa Andre meninggalkanku?’’ ucapku di sela tangisanku. Bibi mengelus punggungku.


‘’Bibi tahu ini berat buat kamu, tapi mungkin ini jalan yang terbaik diberikan oleh Allah. Mas Andre bukan yang terbaik untuk Monik. Buktinya dia selalu membentak dan meninggalkanmu,’’ lirihnya. Aku melepaskan pelukan dari bibi lalu menatapnya.


‘’Bagaimana dengan anakku, Bi?’’


‘’Soal biaya untuk Rafi dan kamu biar Mama yang menanggung.’’ Suara mama mertua. Aku menoleh seketika. Tampak beliau berdiri di ambang pintu.


‘’Bukan itu yang aku inginkan, Ma,’’ sahutku secepatnya.


‘’Aku ingin Andre, anakku butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya.’’ Aku menyeka air mataku dengan kasar.


‘’Nak, ma’afkan Mama. Mama nggak bisa mencegah Andre dan ma’afkan Mama yang nggak berhasil mendidik Andre.’’ Mama tampak melangkah ke tempatku duduk.


‘’Dan Mama nggak mau kamu tersakiti terus, cukup Mama yang tersakiti karena ulah Papamu.’’ Seketika air mata mama menetes. Beliau menatapku dan meraih tanganku.


‘’Lepaskanlah Andre, Mama tahu ini berat buat kamu. Tetapi kamu berhak bahagia, Nak. Mama tanya, kamu bahagia nggak sama Andre? Jawab jujur!’’


Seketika aku menggeleng,’’Nggak, Ma. Tetapi Rafi butuh kasih sayang Papanya.’’


‘’Mama nggak tahu mau bicara apalagi, tetapi kamu harus tahu kalo lelaki seperti Andre nggak sepantasnya dipertahankan, walaupun dia adalah anak kandung Mama. Mama nggak ingin kamu menderita dan tersakiti terus.’’


‘’Mama benar, walau terasa sulit bagiku. Aku akan mencoba untuk ikhlas melepaskannya. Mungkin ini adalah balasan dari Allah atas semua dosaku, atas perbuatanku yang melanggar larangan-Nya,’’ gumamku dalam hati.


‘’Makasih banget, Ma. Udah peduli sama aku, udah mau menerimaku di sini dan Mama begitu baik sama aku. Izinkan aku pergi dari sini.’’


Bersambung..


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.


**Terima kasih banyak buat Readers yang masih setia membaca novel ‘’Kemanisan Sesaat’’ walaupun Author sering nggak update, tapi kalian tetap menunggu lanjutan ceritanya. Ya, itu karena Author yang sering sakit akhir-akhir ini. Dan sekarang Alhamdulillah udah lumayan membaik berkat do’a kalian. Mohon supportnya ya dengan cara like, vote, komen dan share. Dan juga ikutin cerita ini sampe ending. Oke, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.

__ADS_1


See you next time**.❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2