Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Diusir?


__ADS_3

‘’Wanita mur*han, p*lacur. Keluar kamu sekarang!’’ hardik mereka di luar sana.


Tubuhku terasa lemas, napasku terengah-engah, dada terasa sesak dan buliran air mata lolos begitu saja. Jadi mereka sudah tahu kalau aku hamil di luar nikah? Ya Allah, ketakutanku selama ini pun akhirnya terjadi.


‘’Kenapa sih, Ibu kost ini bisa menampung wanita m*rahan kayak dia.’’


Berbagai upatan, hinaan dan caci maki yang kudengar dari luar sana. Membuat hatiku teriris. Aku tahu bahwa aku insan yang kotor, tetapi tak begitu juga caranya. Jika mereka tak suka dengan kehadiranku di sini, mereka bisa bicara baik-baik kepadaku. Bukan dengan cara mempermalukan aku seperti ini.


‘’Bagaimana ini, apa aku harus keluar?’’ lirihku dengan suara bergetar, aku mondar-mandir di kamar dengan pikiran yang begitu kalud.


‘’Kalo kamu nggak keluar pintu kost ini akan kami dobrak!’’


‘’Kita dobrak aja, si m*rahan itu nggak akan keluar kayaknya!’’ usul salah seorang dari mereka, masih terdengar jelas olehku.


‘’Jangan lama-lama, dobrak saja!’’


BRAAKKK!!


‘’Mereka berhasil, gimana ini?’’ bisik hatiku sembari menghenyak di ranjang.


Ya, mereka berhasil menobrak pintu di depan.


Langkah kaki mereka semakin mendekat ke kamar yang kuhuni, membuat aku semakin pusing. Aku memijit kening yang terasa sakit dan masih mondar-mandir.


‘’Di mana wanita itu?’’ tanya salah seorang dari mereka.


‘’Kita cek kamar ini satu persatu, pasti masih di sini keberadaannya.’’


‘’Nggak mungkin dia bisa kabur dengan keadaannya yang kayak gitu.’’


‘’Aku harus kabur, tapi gimana caranya?’’ lirihku sembari menggigit bibir.


‘’Oh iya, lewat jendela.’’ Aku menatap ke arah jendela yang masih tertutup.


Bergegas kukemaskan semua barang-barang untuk kubawa, tak lupa benda pipih yang diberikan oleh Ayu kumasukkan ke dalam saku-saku. Kutenteng tas yang berisi pakaianku, lalu berjalan menghampiri jendela kubuka perlahan dengan sangat hati-hati, takut bakalan ketahuan sama mereka dan keburu datang ke kamar ini.


‘’Semua kamar sudah kita telusuri, kecuali kamar itu. Ya, pasti dia berada di dalam. Ayo!’’


Dengan perlahan aku keluar dari jendela.


‘’Alhamdulillah berhasil,’’ lirihku pelan, sembari memegang perutku yang kian membesar. Ada sedikit rasa lega di hatiku. Kututup perlahan jendela. Ya, aku harus kabur dari sini.


‘’Aw!!’’ perutku terasa sangat sakit. Bagaimana pun aku harus memaksakan untuk berjalan dan kabur dari sini. Aku mencoba melangkah dengan langkah gontai.


‘’Sial! Dia sudah kabur!’’ upatnya. Masih terdengar olehku.


‘’Bagaimana ini? Apa sebelumnya Bu Asih nggak tahu tentang wanita itu?’’


‘’Itu dia, kayaknya enggak deh. Seenaknya aja Bu Asih, bisa-bisanya dia mau menerima wanita hamil di luar nikah untuk tinggal di kostnya.’’


‘’Malah kita nanti yang ikut kena azab dosa besarnya.’’


‘’Sudah, sudah! Kayaknya dia sudah kabur dari sini, ngapain kita nyari wanita murahan itu. Asalkan dia nggak tinggal di sekitar sini aja. ‘’ suara itu tak asing lagi bagiku. Ya, bu Nirma guru sekolahku. Kuyakin ini semua kelakuannya yang berani melaporkanku ke warga di sini. Aku harus secepatnya kabur dari sini.


‘’Atau aku ke rumah Bu Karni aja. Tapi aku takut sama Pak Ardi.’’


‘’Lebih baik aku pergi jauh dulu dari sini.’’


Perlahan kumelangkah sembari menenteng tas. Beberapa menit kemudian, aku sudah jauh dari kost itu. Membuat aku bisa bernapas lega. Keringat sebesar biji jagung pun bercucuran di wajahku, perlahan kuseka dengan tangan.


Begitu lelah rasanya untuk kabur dari kost itu. Hidupku rasanya tak tenang, mungkin karena perbuatanku. Aku sudah mencicipi kemanisan yang belum pada waktunya. Allah pasti murka karena perbuatanku beberapa bulan nan lalu itu. Aku begitu bodoh! Ya, aku pantas mendapatkan ini semua.

__ADS_1


‘’Capek rasanya,’’ bisik hatiku sembari menghenyak di pinggir jalan yang kebetulan ada kursi santai di sana. Oh iya, bagaimana kalau kuhubungi saja bu Karni terlebih dahulu. Perlahan kukeluarkan benda pipih itu, lalu menekan nomor kontak calon mertuaku itu.


‘’Nggak aktif,’’ ucapku lemas.


Aku menghembuskan napas perlahan, ‘’Oh iya, kucoba menelpon Ayu dulu.’’ Kutekan nomor kontak Ayu.


Berdering, tapi tak diangkat. Coba kuulangi kembali, siapa tahu tadi Ayu ada kesibukan.


‘’Wa’alaikumussalam. Kamu di mana? Bantu aku, Yu. Aku kena usir dari kost,’’ ucapku dengan napas terengah-engah.


‘’Ya Allah, kok bisa?’’


‘’Ceritanya panjang, nanti akan kuceritakan. Sekarang jemput aku ya.’’


‘’Aku akan jemput, tapi ini aku masih di rumah sakit menemani Nenek. Beliau dirawat.’’


‘’Ya Allah, Nenek masuk rumah sakit? Kok kamu nggak cerita, Yu.’’


‘’Iya, Monik. Gimana aku mau cerita, karena beliau baru saja masuk rumah sakit. Dan juga aku nggak mau menambah beban pikiran kamu.’’


‘’Ya udah, kamu di mana sekarang. Biar aku jemput, tapi aku tunggu dulu Bunda biar Nenek ada yang jagain. Soalnya Bunda tadi sedang mengurus surat-surat keperluan Nenek,’’ imbuhnya di seberang sana.


‘’Aku udah jauh dari kost itu, nanti kukirimkan alamatnya.’’


‘’ Iya, Yu. Tapi cepetan ya, aku capek banget rasanya nih.’’


‘’Iya, kamu cari tempat duduk dulu di sana. Biar bisa istirahat.’’


‘’Jangan kemana-mana ya, tunggu aku. Okey.’’


‘’Assalamua’laikum.’’


‘’Kayaknya aku harus makan dulu deh. Mumpung Ayu juga belum ke sini.’’


‘’Oh iya, di sana kayaknya ada warung nasi deh.’’


Aku menyeberangi jalan dengan hati-hati. Ternyata benar saja, ada warung nasi sederhana. Warung nasi Padang yang begitu sangat kusukai, ternyata pembelinya sangat ramai, seketika semua mata tertuju padaku. Tapi aku tak perduli, yang kupikirkan adalah bagaimana caranya agar perutku kenyang. Aku bergegas memesan nasi.


‘’Bu, makan di sini ya?’’ pintaku ke wanita separuh baya yang tengah sibuk melayani pembeli itu.


‘’Iya, Nak. Sebentar ya,’’ sahutnya yang masih fokus melayani pembeli.


Aku menghenyak di kursi yang sudah disediakan. Penat rasanya.


Beberapa menit kemudian..


‘’Sambalnya apa, Nak?’’


‘’Rendang aja, Bu."


‘’Sebentar ya.’’ Aku mengangguk dan tak lama kemudian wanita separuh baya itu sudah membawakan pesananku.


‘’Silakan, Nak,’’ ucapnya yang kukira dia adalah pemilik warung. Dia menghidangkan nasi dan sambal rendang di depanku.


‘’Makasih banyak, Bu.’’ Ibu itu tersenyum lantas mengangguk.


‘’Udah berapa bulan ini?’’ tanya beliau memandangi perutku.


‘’Udah 9 bulan, Bu,’’ sahutku sembari mencuci tangan.


‘’Wah, sebentar lagi bakalan ngelahirin tuh, Nak.’’

__ADS_1


‘’ Ibu kalau melihat kamu jadi keinget masa-masa Ibu lagi hamil dulu. Ibu manja banget ke suami, sampai makan pun harus suami yang nyuapin,’’ celoteh wanita separuh baya itu dengan mata berbinar.


‘’Iya, Bu. Mudah-mudahan.’’


‘’Baik banget suaminya yah, Bu,’’ sahutku sembari menutupi kesedihan di wajahku.


‘’Baik banget, sampe sekarang malahan,’’ sahutnya sembari merapikan beberapa gelas di depanku. Seketika wanita muda yang kutaksir seumuran denganku itu menghampiri ibu pemilik warung nasi.


‘’Bu, ada yang mesan nasi 20 bungkus,’’ ucapnya menghampiri.


‘’Ya udah, biar Ibu bantu.’’


‘’Kamu makan dulu ya, Nak. ‘’ aku mengangguk, beliau bergegas melangkah ke depan.


‘’Jika Ibu tahu semua tentangku, mungkin Ibu akan jijik melihatku,’’ bisik hatiku sembari menatap sendu kepergian ibu itu dari hadapanku.


‘’Apa aku bisa kayak Ibu itu? Punya suami yang baik banget dan sayang sama keluarganya, apa aku pantas mendapatkannya?’’ gumamku pelan sembari menyucurkan air putih dari galon.


Ya, aku hamil di luar nikah, sedangkan ibu itu? Dia bukan sepertiku, pantaslah dia mendapatkan suami idaman. Bukan sepertiku, yang punya banyak dosa. Aku tak tahu apa aku bisa seperti dia, sedangkan dosaku sangatlah banyak.


Apalagi jika aku menikah dengan Andre, aku tak yakin jika dia akan menyayangiku dengan tulus, aku tak yakin dia akan memperlakukanku dengan baik seperti ketika pacaran dulu, karena kurasa dia bukan seperti orang yang kukenal dulu. Dia yang dulu perhatian, sayang, cinta dan memberikan semuanya kepadaku. Ternyata itu hanya dulu, lain dengan sekarang. Hanya sesaat.


Kini bahkan dia merasa enggan untuk menikahiku padahal anak yang kukandung adalah hasil perbuatan maksiat aku dan dia, karena dia aku jadi begini. Seharusnya dia bisa menerimaku dengan keadaan seperti ini, toh juga karena ulahnya.


Kutepis semua pikiranku yang melayang ke mana-mana, kucoba menyuap nasi yang sedari tadi tergeletak di depanku.


Beberapa menit kemudian, aku telah selesai makan dan bergegas melangkah untuk membayar ke kasir.


‘’Berapa, Mbak?’’


‘’15.000,00 aja, Mbak.’’


Aku bergegas menyerahkan uang 15 ribuan dan kulihat wanita separuh baya itu sedang sibuk sekali. Bergegas kumelangkah keluar dari warung nasi.


‘’Oh iya, aku lupa, Ayu kan berjanji untuk menjemputku,’’ lirihku menepuk kening perlahan.


Aku harus kembali ke tempat tadi, perlahan kumelangkah dan menyeberang dengan hati-hati.


‘’Akhirnya aku sampe di sini, tapi kok Ayu belum datang sih?’’ lirihku menghembuskan napas lega.


Kupandangi di sekelilingku, tak ada nampak mobil Ayu lewat.


Seketika perutku terasa sakit sekali, perlahan kucoba duduk di kursi santai di pinggir jalan. Perutku bagian bawah yang ada semakin sakit dan sulit bergerak. Apakah ini yang dinamakan kontraksi?


Apa aku akan segera melahirkan? Allah! Sangat sakit rasanya, keringat sebesar biji jagung mulai menetes di wajahku. Rasa sakit perutku semakin bertambah, begitu juga dengan perutku yang bagian bawahnya.


‘’Duuhhh!!’’ aku menjerit kesakitan. Rasanya aku tak kuat lagi untuk menahan rasa sakit perutku ini.


‘’To—toloong!!!’’ Pemandanganku pun seketika kabur.


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran bagaimana proses melahirkan Monik, apa berjalan dengan lancar atau sebaliknya? Bagaimana pula dengan Andre? Yuk, ikutin terus kisah selanjutnya.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.


See you next time!❤


Instagram: n_nikhe

__ADS_1


__ADS_2