
‘’Assalamua’laikum!’’ Suara di luar sana mampu membuyarkan lamunanku yang tengah memberikan ASI ke bayi mungilku.
‘’Itu beneran Nenek kamu deh, Raf,’’ lirihku sembari memandangi bayiku.
‘’Tapi, kamu belum kenyang kan, Nak?’’
‘’Wa’alaikumussalam, sebentar.’’ terdengar suara wanita yang beberapa hari ini merawatku di luar sana.
‘’Gawat nih, jangan sampe nanti Bu Karni ceplos sama Tante Sisi kalo aku dijemput karena akan dinikahkan,’’ lirihku yang merasa cemas.
‘’Semoga aja yang kucemaskan ini nggak akan terjadi,’’ batinku sambil menggeleng berkali-kali.
Seketika terdengar bunyi ketukan pintu seiring dengan suara tante di luar sana.
‘’Ada yang nyariin kamu, Monik. Kamu nggak tidur kan?’’
‘’E—enggak kok, Tante. Kebetulan Rafi sedang minum ASI, tapi udah siap kok,’’ sahutku yang bergegas membaringkan Rafidan kembali. Aku bangkit dan melangkah keluar dari kamar.
‘’Ayuk,’’ ajak tante Sisi seketika memandangi aku yang lambat sekali langkahku.
Ada rasa cemas yang hadir di hatiku ini. Entahlah! Semoga yang kucemaskan itu tak kan terjadi. Aku membuntuti wanita yang berkerudung lebar itu ke ruang tamu. Bibirku bergetar ingin bicara, namun tak jadi.
‘’Mama ke sini mau jemput kamu. Ma’af ya, Nak. Andre nggak bisa jemput, dia masih kerja,’’ kata wanita separuh baya itu memotong pembicaraanku. Bu Karni menyebut dirinya ‘’Mama’’. Atau Ayu yang menyuruh melakukan hal ini agar tante tak mencurigaiku?
‘’Lah, kok malah bengong? Ayuk duduk sana dekat mertuamu!’’
Seketika aku merasa lega. Syukurlah jika calon mertuaku itu tak ceplos dalam ucapannya.
‘’I—iya, Tante.’’
‘’Ya udah, Tante mau bikini minuman dulu.’’
‘’Nggak usah, Si. Tante ke sini cuman mau jemput Monik dan buru-buru juga,’’ tolak bu Karni seketika membuat wanita yang berwajah meneduhkan itu berbalik.
‘’Masa nggak minum apa-apa Tante. Sesekali ke sini loh,’’ sungutnya.
‘’Kalo gitu teh aja deh, Si,’’ kata calon mertuaku itu sembari senyuman terlukis di bibirnya.
‘’Monik bereskan dulu barang-barang yang akan dibawa, ya?’’ Aku bergegas bangkit sejenak melirik ke bu Karni dan tante Sisi, tak tahu lagi harus memanggil dengan panggilan apa ke calon mertuaku itu, takutnya malah kecoplosan nantinya.
‘’Apa perlu Mama bantu?’’ tanya bu Karni. Aku hanya menggeleng secepatnya, lalu bergegas melangkah ke kamar yang selama ini kuhuni dan membereskan semua barang yang akan kubawa.
Kumasukkan semua pakaianku ke koper, lalu bergegas melangkah kembali ke luar mengambil pakaian bayiku yang terjemur di sebelah kamar yang kutempati selama ini dan membawanya ke dalam kamar. Bergegas kumasukkan semua pakaian bayiku.
Beberapa menit kemudian, Alhamdulillah semuanya sudah beres.
‘’Raf, kamu masih tidur ya, Nak?’’ kataku sembari menghampiri bayi mungilku ke atas ranjang.
‘’Ternyata kamu masih tidur, Nak. Kita berangkat ke rumah Nenek sekarang ya.’’ Dengan pelan kuambil bayiku dan menggendongnya, lalu bangkit dan meraih koper.
‘’Walaupun hanya beberapa hari aku di sini, tapi kamar ini nyaman banget dan rasanya ingin berlama-lama tinggal di sini,’’ gumamku sembari tersenyum, yang tiada putusnya memandangi kamar yang belakangan ini kuhuni. Aku menghela napas pelan.
Kututup kembali pintu kamar dan melangkah menuju ruang tamu. Tampak calon mertuaku itu sedang mengobrol dengan tante Sisi. Seketika matanya tertuju padaku yang tengah menggendong bayi dan menenteng koper di tangan kananku.
‘’Apa nggak berat, Nak?’’ tanya wanita separuh baya itu yang bergegas menghampiriku dan mengambil alih koper dari tanganku.
‘’Ta—tapi—’’
‘’Nggak apa-apa, biar Mama aja yang bawa ya.’’
‘’Lagian kamu nggak boleh ngangkat yang berat, nanti malah nggak ada air ASInya.’’
Aku pun hanya mengangguk.
‘’Duduk dulu, Monik!’’ titah tante Sisi sembari menepuk sofa di sampingnya.
Dengan pelan aku duduk di sampingnya.
‘’Aku kira suaminya yang akan jemput Monik, Tante.’’
Membuat tenggorokanku tercekat. Kali ini ucapannya mampu membuat jantungku seakan-akan copot. Kutatap bu Karni sedang menghenyak di sofa dan tampak tengah berpikir, kuyakin beliau tengah menyusun kata-kata agar tante tak mencurigaiku.
‘’Nah itu dia, Andre sibuk banget, Si. Makanya tadi dia nelpon dan minta tolong sama Tante untuk menjemput Monik,’’ ucap bu Karni sembari menyeruput teh yang masih tersisa. Wanita yang wajahnya meneduhkan itu hanya mengangguk dan ber ‘oh’ saja, itu membuat aku sedikit bisa bernapas lega.
Sesaat kemudian.
‘’Kalau gitu kami pamit dulu ya, Si. Makasih banget, kamu udah mau merawat dan menjaga menantu Tante.’’ Bu Karni bergegas menyalamu tangan tante Sisi. Begitu pun denganku yang bangkit dan meraih tangan tante itu untuk takdzim.
‘’Sama-sama Tante, aku senang banget malahan ada temen di rumah. Biasanya aku sendiri,’’ lirih tante Sisi, ada sesuatu yang ditahan tampak di sorot matanya. Aku tahu tante pasti kembali merasa kesepian, apalagi setelah aku dan bayiku pergi dari sini.
‘’Tan, aku pamit dulu ya. Makasih banyak udah menerima aku di sini, udah mau menjaga dan merawat aku serta Rafi,’’ kataku dengan lirih.
‘’Sama-sama. Tante senang kok, apalagi ada Rafi. Tante bisa menggendongnya dan bermain bersamanya tiap hari itu membuat Tante senang banget. Pasti Tante akan merasa kesepian, kamu kan dibawa mertuamu,’’ sahut tante Sisi, matanya berembun dan mengelus kepala bayiku.
‘’Rafi? Udah ada nama cucu Mama ya, Monik?’’ tanya bu Karni menatapku dengan heran.
‘’Ma’af, Tante. Aku yang ngasih namanya kok, kalo Tante nggak suka dan akan mengganti juga nggak apa-apa kok.’’
‘’Enggak, enggak kok. Malahan Tante makasih banget ke kamu.’’ bu Karni tampak menunjukkan seulas senyuman.
‘’Ya udah, kami pamit dulu. Kapan-kapan nanti Tante bawa Monik dan Rafi ke sini lagi.’’
‘’Biar aku anter ya, Tan.’’
Aku dan bu Karni bergegas melangkah ke depan, diantar oleh tante Sisi. Kulihat ternyata mobil bu Karni tengah diparkirkan di depan rumah milik tante. Seketika sopir bu Karni keluar dari mobil.
‘’Silakan masuk, Mba Monik. Hati-hati ya.’’
__ADS_1
Sopir itu membukakan pintu untukku dan dengan pelan aku memasuki mobil. Begitu pun dengan calon mertuaku, beliau duduk di sampingku. Kupandangi keluar tampak tante Sisi masih mematut kami dengan pandangan sendu. Kami melambaikan tangan, lalu wanita yang merawatku beberapa hari ini seketika membalasnya. Beberapa saat kemudian, sopir pun menghidupkan mesin mobil dan langsung tancap gas.
***
‘’Monik, ma’afkan Ibu ya. Kamu pasti kaget tadi kan?’’ Bu Karni memecah keheningan di sela angin menerpa kerudungku.
‘’Nggak apa-apa kok, Bu. Malahan aku lega, tadi aku pikir Ibu akan keceplosan,’’ lirihku sembari tersenyum.
‘’Nggak kok, Nak. Ayu kemaren kan udah bicara sama Ibu, katanya Ibu harus menutupi siapa kamu sebenarnya.’’
‘’Oh ya, obat-obatmu dibawa kan?’’
‘’Alhamdulillah dibawa kok, Bu. Ada di koper.’’
‘’Syukurlah, kamu capek, Nak? Biar Ibu yang memeluk Rafi ya.’’
‘’E—enggak usah, Bu. Nanti Ibu malah capek tangannya.’’
‘’Nggak apa-apa, kan Rafi itu cucu ibu.’’ Bu Karni mengambil bayiku dan meletakkan ke pangkuannya. Seketika rasa penat tanganku hilang.
‘’Ya Allah, apa Pak Ardi akan bisa menerimaku?’’ batinku sembari memandang ke luar.
‘’Dan bagaimana dengan Papa? Apa Papa mau menghadiri pernikahanku, apa beliau mau jadi wali nikah untukku?’’
Seketika wanita berkerudung lebar itu menatapku bingung.
‘’Ada apa sih, Nak? Kok bengong begitu?’’
‘’A—apa Pak Ardi mau menerima aku, Bu? Secara kan beliau nggak merestui hubunganku dengan Andre,’’ jelasku panjang lebar.
‘’Cepat atau lambat dia akan mau menerimamu. Kamu harus percaya itu, Nak,’’ sahut bu Karni meyakinkanku dan menepuk pundakku dengan pelan.
‘’Bagaimana bisa aku percaya Bu kalo Pak Ardi itu orangnya sekeras itu,’’ batinku seketika.
‘’In syaa Allah, kamu tenang aja ya, Nak. Yang penting kamu harus percaya dulu dan Ibu akan selalu bantu kamu.’’
‘’Iya. Makasih banyak ya, Bu.’’ Calon mertuaku itu tampak mengangguk lalu tersenyum memberi semangat padaku.
Beberapa menit kemudian, mobil sudah memasuki pekarangan rumah mewah dan sopir pribadinya bergegas menepikan mobil. Aku melangkah keluar dengan perlahan, lantas seperti biasa sopir pribadi bu Karni membukakan pintu untukku.
‘’Aku kembali lagi ke rumah ini. Kali ini membawa bayi, anak darah daging Andre.’’ Aku memandangi rumah mewah yang pernah kutempati ini dengan tak putus-putusnya.
‘’Oh iya, Pak. Bawa koper Monik ke dalam ya,’’ pinta calon mertuaku itu.
‘’Baik, Bu.’’
‘’Ayuk kita masuk, Monik!’’ ajak beliau, aku bergegas membuntuti bu Karni ke dalam rumah.
****
‘’Bi, Bibi!’’ panggil bu Karni seketika. Wanita yang setia menemani bu Karni itu seketika melangkah dengan tergopoh-gopoh.
‘’Eh, ada Monik dan bayinya.’’
‘’Iya, Bi,’’ sahutku sembari tersenyum.
‘’Bibi udah beresin kamar Monik?’’ tanyanya seketika.
‘’Udah kok, Bu. Sedari tadi malahan.’’ Dia tampak tersenyum.
‘’Yaudah, nanti anter juga makanan untuk Monik ya, Bi.’’
‘’Ini kopernya, Bu.’’
‘’Bawa sekalian ke kamar Monik. Tolong ya, Pak.’’ Sopir pribadinya itu tampak mengangguk lantas bergegas melangkah ke lantai dua.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi aku sudah selesai melakukan ritualku dan Rafi pun sudah dimandikan oleh neneknya.
‘’Assalamua’laikum, Neng Monik!’’ Suara mengucapkan salam dan ketukan pintu dari luar sana.
‘’Wa’alaikumussalam, sebentar.’’ Aku bergegas melangkah untuk membukakan pintu. Membuat aku terheran dibuatnya.
‘’Nyari siapa ya, Mba?’’ tanyaku seketika, karena wajahnya asing sekali olehku. Dia masih muda, rambutnya sebahu dan menenteng sesuatu di plastik. Entah apa itu, aku pun tak tahu.
‘’Neng Monik kan?’’ tanyanya kembali tanpa menjawab pertanyaanku.
‘’Iya, ada apa ya, Mba?’’
‘’Saya mau menghias Mba. Perkenalkan saya Nira tukang hias pengantin. Udah mandikan?’’ dia tersenyum ramah dan menyodorkan tangannya, aku hanya melongo saja.
‘’Menghias? Maksud, Mba?’’ sahutku dengan terheran.
‘’Kok Mba nggak tahu sih, hari ini kan hari pernikahannya Mba.’’ Aku kaget seketika.
‘’Kok Bu Karni nggak bilang ke aku ya. Cepat banget, padahal baru kemaren juga aku baru sampe di sini, sekarang malah disuruh nikah,’’ batinku.
‘’Eh, tunggu. Tapi apa Andre mau? Bagaimana pula dengan Papanya?’’
‘’Eh, tapi nggak apa-apa deh. Bukannya itu yang aku mau, aku nggak mau bayiku nggak punya ayah. Apalagi dia udah lahir,’’ batinku yang banyak sekali muncul pertanyaan di benakku.
‘’Gimana, Neng?’’
‘’Ya udah deh, Mba. Mari masuk!’’
Dia mengangguk dan bergegas memasuki kamarku. Dia menyuruhku untuk mengenakan pakaian pernikahan,ternyata plastik yang ditenteng mba Nira itu berisi pakaian dan alat-alat untuk menghias mempelai wanita. Ya, pakaiannya begitu bagus dan cocok denganku. Lalu wanita yang bernama Nira itu menyuruhku untuk duduk di depan cermin, dia segera mulai menghias wajahku. Sesaat kemudian aku teringat kalau dari kemarin puncak hidung Andre tak pernah tampak olehku. Kemanakah Andre? Tapi, kenapa aku malah dihias sekarang, bagaimana kalau dia tak hadir?
__ADS_1
Aku mematut diriku ke cermin dengan pikiran yang melayang-layang.
‘’Ya Allah, Alhamdulillah ternyata diriku begitu cantik dihias. Tapi Nikah setelah melahirkan nggak pernah terbayang olehku dulu. Ya, dulu aku menginginkan menikah, setelah itu baru melahirkan. Sekarang? Nggak seperti yang kuimpikan selama ini,’’ batinku sembari mematut diri ke cermin.
Ya, sekarang hanya penyelasan yang kurasakan. Aku menyesal telah berbuat yang tak senonoh dengan seseorang yang belum halal untukku. Aku tergiur dengan kemanisan yang bersifat sesaat, dan aku berbuka yang belum pada waktunya. Semuanya telah terjadi, mau tak mau aku harus menjalaninya.
Ya, penyesalan itu pasti datangnya di akhir.
Betapa indah dan berkahnya bagi mereka yang pandai menjaga mahkotanya, pandai menjaga dirinya dan hanya berpacaran setelah menikah. Itu sungguh indah, keinginanku selama ini kandaslah sudah. Itu semua salahku yang tak bisa menjaga diriku dan terbuai dengan rayuan syetan. Seketika buliran air mataku berjatuhan.
Beberapa menit kemudian, aku telah selesai dihias.
‘’Alhamdulillah, Neng Monik cantik banget. Tapi jangan nangis gitu dong, ntar make-upnya hilang lagi,’’ katanya sambil tersenyum mematutku.
Aku hanya terdiam seketika sembari menyeka buliran air mataku yang terus saja berjatuhan dengan tissue. Sesaat kemudian calon mertuaku itu menghampiriku.
‘’Ya Allah, cantik banget kamu, Nak,’’ kata calon mertuaku yang tak bisa memendam ucapannya.
‘’Makasih, Bu,’’ lirihku.
‘’Iya nih, Tan. Cantik banget sahabatku ini.’’
‘’Eh, Ayu? Kapan datangnya, kok aku nggak tahu? Jangan-jangan kamu udah tahu tentang ini?’’ ucapku menoleh seketika, memandangi Ayu yang tengah berada di ambang pintu.
‘’Kalo tahu, nggak surprise dong. Kamu bisa aja, Monik,’’ sahutnya terkekeh dan bergegas memasuki kamarku, lalu berdiri di sampingku.
‘’Jangan panggil Ibu. Panggil Mama aja ya, Monik. Iya kan, Tante?’’ imbuh Ayu
‘’Iya. Nah bener banget itu, panggil Mama aja ya, Nak.’’
‘’Eh, iya, Ma.’’
Beliau pun tersenyum menatap ke arahku.
‘’Rafi Mama bawa ke bawah ya, biar Bibi yang jaga,’’ kata calon mertuaku.
‘’Iya. Sekalian susu tabung di meja itu dibawa ya, Ma,’’ tunjukku seketika.
Beberapa menit kemudian, aku masih duduk di depan cermin sembari mematut diriku ke cermin. Buliran air mataku tak hentinya menetes.
‘’Monik, udah dari tadi kamu menangis loh. Make-up kamu pun udah luntur tuh,’’ kata Ayu pelan, yang masih berdiri di belakangku. Aku menghela napas berat.
‘’A—aku nggak nyangka aja, Yu. Nggak pernah terpikir olehku akan begini. Aku menikah setelah melahirkan,’’ kataku lirih di sela isakan tangisku.
‘’Aku mengerti gimana perasaan kamu dan bagaimana rasanya berada di posisi kamu, Monik. Tapi, nggak baik juga kamu berlarut dalam kesedihanmu,’’ katanya pelan dan memegangi jemariku yang siap diberi hiasan henna.
‘’Jadikan ini sebagai pembelajaran hidup bagimu dan cobalah untuk menerima semua ini. Minta ampun juga ke Allah, aku yakin Allah pasti mengampuni hamba-Nya yang mau bertobat serta memperbaiki diri.’’ Yang membuat buliran air mataku semakin luruh dibuatnya.
‘’Kamu harus tetap semangat, jangan larut dalam kesedihan terus. Ada anakmu yang akan kamu rawat dan jaga, dia butuh kamu dan Papanya,’’ imbuhnya kemudian dan dia bergegas menyeka buliran air mataku yang terus saja menetes di pipi.
Dalam hati aku membenarkan apa yang tengah diucapkan oleh Ayu, namun hatiku masih ada rasa bimbang dan ketakutan. Takut jika Andre malah menyia-nyiakanku. Seketika benda pipihnya berdering.
‘’Bentar ya, Monik.’’ aku hanya mengangguk. Dia tampak bergegas melangkah ke luar.
Entah siapa yang menelponnya. Aku menghela napas dengan gusar dan menyeka air mataku dengan tisuue. Entah berapa kali sejak tadi Ayu menambah make-upku karena dia luntur dan berkurang karena air mata yang terus saja membasahi pipiku.
‘’Monik, ternyata sepupuku kecelakaan. Aku harus ke rumah sakit dulu, ya? Nggak apa-apa kan? Aku akan cepat ke sini,’’ katanya dengan lirih, tampak wajah ayunya itu dirundung kecemasan. Siapa ya? Atau Dion?
‘’Ya Allah! Ya udah, nggak apa-apa, Yu. Kalo kamu nggak bisa hadir nanti, bantu aja dengan do’a ya,’’ sahutku yang bergegas memegangi jemarinya. Dia tampak mengangguk.
‘’Aku pergi dulu, Monik,’’ pamitnya kemudian, dengan tergesa-gesa melangkah.
‘’Iya, Yu. Hati-hati ya.’’
Aku menghela napas dengan berat. Seketika mataku melongo menatap ke arah jendela.
‘’Si—siapa kamu?’’ kataku dengan terbata. Wanita bertubuh seksi, berpakaian selutut dan rambutnya terurai rapi. Netranya sangat tajam menatapku. Kenapa dia masuk lewat jendela? Apa maunya? Dan siapa wanita ini?
‘’Kamu nggak perlu tahu siapa aku. Yang jelas batalkan pernikahanmu dengan Andre atau—‘’ dia terus saja mendekat ke arahku.
‘’Atau apa? Hah?’’ ketusku yang hilang kesabaranku dibuatnya.
‘’Atau aku sendiri yang akan membatalkannya,’’ ketusnya sembari melipat tangan di dadanya.
‘’Jangan-jangan kamu yang bernama Nina?’’ tebakku kemudian. Aku bergegas tegak dan menatapnya dengan tatapan tajam.
‘’Iya, kenapa?’’ dia malah tersenyum sinis yang membuatku muak.
‘’Aku nggak ada masalah apapun sama kamu, jadi tolong jangan menghalangi aku untuk mendapatkan Andre,’’ kataku pelan, yang berusaha untuk meredam emosiku.
‘’Selama kamu masih mengharapkan Andre, kamu itu bermasalah besar denganku!’’ tunjuknya dengan kasar mengarah padaku.
‘’Sadar diri dong! Om Ardi nggak merestui kamu dengan Andre.’’
‘’Hei! Kamu pergi nggak sekarang juga! Jangan membuat keributan di sini dan jangan menjadi penghalang!’’ teriakku yang sudah habis kesabaranku. Hingga teriakkanku yang begitu keras terdengar ke luar.
‘’Monik! Kamu kenapa, Nak?’’ suara calon mertuaku di luar sana, itu sukses membuat wanita itu kaget.
‘’Awas kamu! Aku nggak akan membiarkan kamu bahagia sama Andre!’’ ancamnya menunjukku dengan telunjuk kirinya mengarah padaku. Dia bergegas keluar melewati jendela dan hilang dari pandanganku seketika.
Bersambung..
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.
Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.
__ADS_1
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe