Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Apakah Ini Balasan Untukku?


__ADS_3

Sudah tiga hari suamiku tak kunjung pulang ke rumah. Aku tak tahu entah dia ke mana dan mama Karni pun tak tahu menahu soal keberadaannya. Sudah kutanyakan ke beliau, kata beliau tak ada dia memberikan kabar sekali pun ke mama dan sudah dihubungi nomornya tetapi tak aktif. Aku sangat khawatir dengan suamiku. Entah apa salahku hingga dia tak mau pulang ke rumah. Tak tahu lagi rasanya yang ada di pikiran Andre. Apakah dia benar-benar berubah? Atau dia memang bersama wanita yang dijodohkan oleh papa Ardi?


‘’Ndre, kamu di mana sih? Rafi dan aku merindukan kamu di sini,’’ lirihku sembari menatap bayiku yang terlelap di pangkuan.


Kasihan sekali anakku belum lama merasakan kasih sayang dari seorang papanya dan kini? Papanya menghilang entah ke mana. Seusia bayiku masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Semua ini juga salahku. Aku mencicipi kemanisan yang bukan pada waktunya, syetan menghasut dan aku pun berhasil dihasutnya tanpa memikirkan apa akibat dari perbuatanku ini.


Aku buta karena cinta. Cinta yang salah, cinta yang belum pada waktunya. Semudah itu aku menyerahkan semuanya dan bahkan aku mencopot kerudungku? Betapa gilanya diriku ini. Andaikan saja aku bisa menjaga diriku, tak kan seperti ini akhirnya.


Seketika bayiku terbangun dan menangis.


‘’Ulala! Anak Mama udah bangun ya. Pasti laper kan, Sayang.’’


Aku bergegas memberikan ASI, namun tetap saja dia tak mau dan tak hentinya menangis. Membuat kepalaku semakin berdenyut. Aku memijit kening dengan pelan.


‘’Ya Allah, Monik. Rafi kenapa lagi? Kok menangis terus dia?’’ ucap bibi di luar sana.


‘’Nggak tahu nih, Bi. Bangun tidur dia langsung nangis, aku mau ngasih ASI. Tapi dia nggak mau, Bi,’’ jawabku yang bergegas turun dari ranjang membawa bayiku.


‘’Itu karena pikiran kamu yang gelisah, Bibi yakin itu.’’ Pintu seketika berderit dan bibi langsung memasuki kamarku.


Bibi ada benarnya juga. Memang pikiranku sekarang begitu kalud, melayang entah ke mana. Aku hanya terdiam menatap bibi sembari menggendong bayiku.


‘’Bener kan, Monik?’’ ulang bibi menatapku.


Aku mengangguk saja,’’Iya, Bi. habisnya Andre nggak pulang-pulang, gimana aku nggak banyak pikiran coba. Aku takut jika dia berpaling lagi di luar sana, Bi.’’ lirihku dengan mata berembun. Bibi menatapku dengan tatapan iba.


‘’Ya Allah, Monik. Udah coba dihubungi gitu?’’


‘’Udah, Bi. Nomornya nggak aktif.’’


‘’Astaghfirullah. Ke mana Mas Andre ya?’’ lirihnya yang menghenyak di ranjang.


‘’Itulah yang aku cemaskan, Bi.’’


‘’Aku takut terjadi sesuatu pada Andre dan aku takut jika dia bermain api di luar sana padahal di sini ada istri dan anakknya yang sedang menunggu kehadirannya.’’ Air mataku lolos seketika. Napas terasa sesak dan aku tak mampu menahannya.


‘’Aku capek begini, Bi.’’ isakan tangisku semakin kencang membuat bayiku terbangun dan menangis.


‘’Monik, yang kuat dan sabar ya. Kasihan loh sama Rafi.’’ Bibi beregas mengelus punggungku perlahan. Bayiku terus saja menangis tanpa hentinya.


‘’Nah apa kata Bibi, anakmu juga ikutan nangis tuh.’’ Benar saja, ketika aku semakin larut dalam isakan tangis, bayiku juga semakin kencang menangisnya.


‘’Sini biar sama Bibi.’’


Bibi bergegas mengambil bayiku dan meletakkan ke pangkuannya. Seketika dia terdiam. Bibi membawa berdiri dan menyanyikan sholawat untuknya. Aku mencoba menghela napas kuatur napas agar sedikit terasa lega. Lalu kuseka buliran air mata dengan ujung kerudung.


‘’Istirahatlah dulu, Monik. Nanti cerita lagi ke Bibi biar perasaanmu plong,’’ lirih bibi pelan karena takut terganggu Rafi.


Aku membalas dengan anggukan dan melangkah ke ranjang untuk istirahat sejenak. Kucoba memejamkan mata, namun mataku enggan untuk terpejam. Mungkin karena banyak pikiran. Dan aku tetap memaksakan untuk memejamkan mata, mumpung ada bibi yang menjaga bayiku.


Sejam kemudian aku terbangun. Mataku sulit untuk dibuka saking lelahnya karena Rafi sering rewel dan juga banyak pikiran. Kupaksakan membuka mata dan duduk dengan perlahan sembari mengumpulkan nyawa. Mataku tertuju ke samping kiriku.


‘’Ada bayiku. Bibi ke mana ya?’’


Aku terheran karena mendapati bayiku yang tengah terlelap di sampingku. Karena sebelum tidur Rafi bersama bibi, bibi yang menimang-nimangnya. Dan sekarang kudapati bibi tak ada. Ya, mungkin karena bibi yang sedang banyak kerjaan dan karena Rafi yang sudah tertidur pulas makanya bibi berani meninggalkan bayiku. Kutatap benda yang melingkar di dinding.


‘’Pukul 13.00? Andre masih aja belum pulang, ke mana dan di mana kamu tidur tiga hari ini, Ndre? Pulanglah, anakmu dan istrimu menunggu di rumah,’’ lirihku dengan buliran air mata yang menetes. Kembali kutatap bayi mungilku itu. Kuseka buliran air mata perlahan.

__ADS_1


‘’Kasihan sekali kamu, Sayang. Ma’afkan Mama ya, Nak.’’ Aku mengecup keningnya pelan.


Seketika benda pipihku berdering. Ada rasa bahagia muncul di hati ini.


‘’Pasti itu Andre. Ya, pasti suamiku,’’ tebakku dengan perasaan senang. Gegasku raih. Kutatap layar ponsel lantas aku menghembuskan napas pelan.


‘’Kukira tadi suamiku, ternyata Mama.’’


‘’Assalamua’alaikum, Nak. Kok kamu nggak ada kabar beberapa hari ini?’’ Suara mama di seberang sana.


‘’Wa—wa’alaikumussalam. Ma’af, Ma. Cucu Mama rewel beberapa hari ini. Makanya aku nggak pernah lagi telpon Mama,’’ sahutku lirih.


‘’Ya Allah, Rafi sakit, Monik? Kok kamu nggak bilang sama Mama.’’ suara mama kedengaran cemas di seberang sana.


Sesaat aku terdiam. Tak mungkin kuceritakan semuanya ke mama, termasuk masalah yang tengah menimpa rumah tanggaku. Aku berusaha memikirkan alasan atau jawaban yang akan kukatakan pada mama. Aku tak mau jika mama tahu nanti malah menjadi beban pikiran sama beliau dan berimbas kepada kesehatan mama, aku tak mau mama sedih lagi dan kenapa-napa lagi. Cukup kemarin ini aku membuat kedua orang tuaku sedih, kecewa, dan sakit hati dengan semua kelakuanku.


‘’Monik, kamu baik-baik aja kan?’’


‘’Eh, iya, Ma,’’ sahutku gegalapan.


‘’Ada apa sih, Monik? Ceritalah ke Mama, jangan dipendem sendiri masalahmu. Nggak baik, Nak.’’


Jleb! Ya Allah, apa yang mesti aku katakana kepada mama. Apa mama punya firasat tentangku ya?


‘’E—enggak kok, Ma. Alhamdulillah aku baik-baik aja, cuman Rafi rewel karena kurang enak badan aja kali, Ma. Tapi Alhamdulillah sekarang udah nggak lagi kok,’’ sahutku secepatnya takut mama bertanya lagi, nanti malah banyak kebohongan yang keluar di mulutku, aku tak mau.


‘’Syukurlah kalo gitu. Kamu jangan segan-segan cerita ke Mama ya, jika ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan telpon Mama langsung.’’


‘’Iya, Mama tenang aja. Oh, ya Papa udah sembuh kan, Ma?’’ aku mengalihkan pembicaraanku.


‘’Alhamdulillah Papamu sekarang udah sembuh, Monik. Malahan tadi udah mulai masuk kantor lagi.’’ seketika ada rasa lega dan perasaan senang muncul di hatiku ini.


‘’Udah Mama bilangin. Tapi kata Papamu dia udah beneran pulih dan suntuk juga di rumah terus, belum lagi kerjaan kantor udah dua minggu ditinggalkan,’’ jelas mama panjang lebar.


‘’Syukurlah, Ma. Kalo memang keadaan Papa udah beneran membaik, aku beberapa hari ini selalu kepikiran Papa,’’ lirihku.


‘’Iya, Nak. Sekarang kan Papa udah sembuh, jangan banyak pikiran nanti Rafi malah rewel lagi. Jaga kesehatanmu juga ya,’’ nasihat mama di seberang sana.


‘’Oh iya, Mama dan Papa akan pindah rumah.’’


Membuatku aku terkesiap.


‘’Iya? Tapi kenapa, Ma?’’ tanyaku heran.


‘’Kan kamu tahu sendiri tetangga kita sekarang kayak apa dan Mama sama Papa juga ingin kamu mengunjungi kami sesekali ke rumah, nah makanya kami memutuskan untuk pindah. Biar bisa kamu mengunjungi Mama dan Papa jika kamu merindukan kami.’’


‘’Mama bener juga,’’ gumamku.


‘’Iya juga, Ma. Alhamdulillah, aku seneng dengarnya, Ma. Tapi—’’


‘’Kamu jangan ragu, Nak. Rumah yang kita tempatin nanti jauh lebih besar dan nggak kalah bagus juga dari sebelumnya kok.’’ mama langsung memotong pembicaraanku.


‘’Umm, alhamdulillah kalo gitu, Ma.’’


‘’Dan kalo kamu ingin tinggal dengan suamimu di sana juga nggak apa-apa.’’


Ya Allah, Andre saja hingga saat ini tak pulang-pulang dan tak ada kabarnya.

__ADS_1


‘’Monik? Kamu ada masalah dengan suamimu?’’


‘’Kalo rasanya kamu nggak bisa tinggal di sana, biar tinggal aja sama Mama dan Papa di rumah baru kita nanti. Mama dan Papa akan menerimamu kembali, kami nggak mau jika kamu makan hati.’’


Jleb!


‘’Ya Allah, aku harus jawab apa lagi ini,’’ gumamku dalam hati. Tanpa kusadari buliran air mataku kembali menetes. Kuhembuskan napas pelan agar terasa lega. Perlahan kuseka buliran air mata dengan ujung kerudung.


‘’Iya, Ma. Makasih. Tapi, Alhamdulillah aku baik saja di sini. Kalo aku ingin tinggal bersama Mama dan Papa, aku akan bilang kok. Mama jangan cemas ya, in syaa Allah aku baik-baik saja di sini,’’ jawabku mencoba untuk bersikap seolah-olah dalam keadaan baik-baik saja.


‘’Syukurlah, Mama lega mendengarnya sekarang. Karena Mama mimpi kamu semalam, kamu duduk termenung sambil menangis dan itu membuat Mama selalu kepikiran kamu. Semoga kamu nggak bohong ke Mama ya, Nak.’’


Jantungku berdegup mendengar ucapan mama.


‘’Ya Allah, ma’afkan aku ya, Ma. Aku nggak ingin Mama kepikiran lagi, biarlah aku pendam sendiri,’’ gumamku dalam hati.


‘’Humm, Ma udah dulu ya. Aku mau makan dulu Bibi udah manggil, sampaikan salam aku ke Papa. Mama jaga kesehatan selalu ya. Dan jangan banyak pikiran, aku nggak mau Mama kenapa-napa. Assalamua’alaikum.’’


Aku bergegas memutuskan sambungan telepon karena bibi memanggil dariluar dan juga aku tak ingin nantinya malah keceplosan bicara ke mama kalau rumah tanggaku sedang ditimpa masalah. aku tak mau hal itu terjadi, mama dan papa tak boleh banyak pikiran lagi, tak kan kubiarkan beliau sedih dan kecewa denganku.


Perlahan kubangkit dan meletakkan benda pipih di nakas. Kubuka pintu, tampak bibi berdiri membawa nampan yang kukira berisi makan siang untukku.


‘’Ma’af lama banget, Bi.’’ aku menelungkupkan kedua telapak tangan di dada.


‘’Nggak apa-apa, Monik. Ya udah Bibi bawa ke dalam ya.’’ aku mengangguk dan tersenyum lantas beliau membawanya ke dalam kamarku.


‘’Langsung dimakan ya, Monik.’’ Bibi menatapku sambil meletakkan nampan yang berisi makanan di nakas. Kubalas dengan anggukan.


‘’Oh ya, ma’afkan Bibi tadi meninggalkan Rafi. Bibi teringat belum bikin makan siang, makanya Bibi bergegas ke bawah.’’


‘’Nggak apa-apa kok, Bi. Bibi kan udah bantu menidurkan dan menenangkan Rafi, malahan aku bersyukur banget. Makasih banyak, Bi.’’ Aku menghenyak di kursi.


‘’Sama-sama, Monik. Ya udah Bibi kembali ke dapur dulu.’’ Bibi tersenyum khas miliknya.


Kembali kubalas dengan anggukan. Bibi melangkah ke luar dan menutup pintu dengan pelan. Kutatap nampan di depanku yang berisi makanan lantas mengeluarkannya. Ada nasi, ayam sambal bumbu, sayur asem, jus naga dan segelas air putih. Seleraku rasanya tak ada sedikit pun, Andre selalu terbayang olehku. Seleraku makin hilang rasanya.


‘’Ya Allah, apakah ini balasan untukku atas perbuatanku yang melanggar larangan Engkau Ya Allah? Aku teringat dengan kata-kata Ayu.’’


‘’Setiap perbuatan akan dibalas oleh Allah, Monik,’’ ucapnya seketika itu.


‘’Perbuatanku yang melanggar larangannya. Aku begitu mudah saja melakukan hal terlarang itu, begitu mudah aku terpedaya oleh syetan yang terkutuk. Dan dengan ilmu agamaku yang sangat minim tentang hal itu, bahkan waktu itu aku nggak tahu hukum berpacaran itu apa, dan hingga aku terjerumus kepada zina. Kemanisan yang bersifat sesaat, berakibat buruk pada diriku. Hingga aku hamil di luar nikah, Andre pun lari dan nggak mau tanggung jawab waktu itu, belum lagi Papa membenciku lalu mengusirku dari rumah hingga nggak tahu hendak melangkahkan kaki entah ke mana. Dan untung aku masih memegang uang diberikan sama Mama, hingga aku mencari kost-an dan menginap di sana untuk sementara waktu, tetapi ternyata Ibu kost pun galak dan nyinyir banget dan hingga akhirnya aku ketahuan oleh warga kalo aku hamil di luar nikah itu semua Ibu guru yang kutemui di warung membocorkan semua aibku, pada akhirnya aku lari dari kost lewat jendela dan banyak lagi ujian yang menimpaku,’’ batinku yang terbayang semua yang pernah kualami.


‘’Tetapi Allah masih menyayangiku yang punya banyak dosa ini, buktinya aku sekarang mendapat tempat tinggal dan nikah dengan Andre.’’


‘’Dan sekarang, Andre berubah lagi seperti biasanya. Bahkan dia nggak pulang-pulang ke rumah sudah tiga hari. Aku pantas mendapat balasan seperti ini, aku pantas diuji oleh Allah.’’


Ya, manisnya pacaran itu ternyata hanya sesaat saja dan semua rayuan yang keluar dari mulutnya hanya ketika pacaran. Jarang yang ada pacaran yang romantis itu akan berlanjut hingga jenjang pernikahan. Seharusnya aku lebih menahan perasaan cintaku terhadap Andre dan seharusnya juga aku tak menerima cintanya. Tetapi aku malah menerima, aku buta dengan cinta. Hingga aku menurutkan semua hawa nafsu dan akhirnya aku terjerumus seperti ini.


Penyesalan datang di akhir, itu karena aku tak memikirkan terlebih dahulu apa akibatnya terhadap diriku dan karena minim sekali ilmu agama yang kumiliki, saking minimnya hukum berkerudung saja ketika itu aku tak tahu hingga mudahnya membuka kerudungku di depan orang yang belum halal menjadi milikku.


‘’Astaghfirullah ‘al adziim.’’ Buliran air mataku menetes tak hentinya.


Prang!


Membuat aku terkesiap dan menoleh ke sumber bunyi itu. Aku menghapus buliran air mata dan bergegas melangkah. Ya Allah, foto aku dan suamiku semasa kami pacaran dulu? Kenapa bisa jatuh begini? Ada apa ini Ya Allah? Tampak kacanya sudah retak sekali. Kali ini perasaan aku sungguh tak enak. Apa yang terjadi di luar sana pada suamiku?


Bersambung.

__ADS_1


Terima kasih banyak buat Readers yang masih setia membaca lanjutan novel "Kemanisan Sesaat", semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan rezekinya ya. ❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2