Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Semoga Kamu Tenang Di Sana


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama aku melaksanakan ibadah, setelah darah wiladahku berhenti. Jauh sebelum azan berkumandang aku sudah bangun terlebih dahulu. Kupandangi anak semata wayangku tengah terlelap pulas. Aku bergegas meraih handuk dan melangkah ke kamar mandi. Begitu terasa dingin subuh ini menusuk tulang sum-sum, berbeda dengan subuh sebelumnya. Atau karena aku yang mandi di subuh hari? Entahlah! Tapi sungguh berbeda terasa dinginnya pada subuh ini, sungguh menusuk.


Tak berselang beberapa menit aku sudah selesai mandi wajib, sebelumnya tentu aku sudah membaca buku tentang penjelasan mandi wajib seorang wanita yang selesai wiladah.


Duh! Dinginnya sungguh luarbiasa. Tapi, sebenarnya mandi subuh itu sangat bagus untuk kesehatan. Sesaat kemudian, aku telah selesai memakai pakaian. Rasanya begitu segar tubuh ini, tapi mampu membuatku menggigil juga. Bergegas aku naik ke tempat tidur dan dengan pelan kuraih selimut lalu menyelimuti tubuh. Namun, dinginku tak kunjung reda.


Bagaimana ini? Padahal aku ingin sekali sholat sunnah taubat terlebih dahulu. Ah, iya. Bukankah kemarin mama membeli minuman jahe. Aku membuka selimut dan dengan pelan turun dari tempat tidur. Lalu melangkah ke ruang makan. Kucari minuman jahe yang dibeli mama kemarin. Alhamdulillah ada, ternyata terletak di etalase. Aku langsung membuatkan minuman jahe itu dengan air panas.


‘’Hem, harum banget. Baru kali ini aku mau nyobain minuman jahe,’’ gumamku sambil menghirup aroma jahe dari minuman yang kuseduh.


Karena kusengaja menyampurnya dengan air dingin, jadi minumannya tak terlalu panas hingga bisa langsung diminum. Benar saja, rasa dinginku hilang seketika. Digantikan dengan rasa hangat. Karena tubuh sudah terasa hangat, aku bergegas berwudhu’


Kulaksanakan sholat sunnah taubat terlebih dahulu. Minta ampun kepada Sang Pencipta atas semua dosa-dosa yang telah kuperbuat.


Sangat lama aku bermunajat dengan deraian air mata penyesalan hingga terdengar suara mic musholla yang memutarkan orang membaca Al-Qur’an. Aku menyeka buliran air mata yang sejak tadi tak berhenti menetes. Lebih baik aku melaksanakan solat sunnah sebelum subuh dulu dua rakaat. Selesai bacaan salam kedua, azan subuh pun berkumandang merdu. Sungguh terasa damai hati ini.


‘’Alhamdulillah Ya Allah,’’ gumamku sambil mengusap muka dengan kedua telapak tangan.


Langsung aku menyegerakan solat dua rakaat itu. Selesai solat, aku langsung mengambil Al-Qur’an kecil pemberian tante Sisi. Walaupun bacaan Al-Qur’anku belum lancar, namun aku akan berusaha untuk belajar dan belajar. Segera kulantunkan ayat suci Al-Qur’an.


****


Benda canggihku seketika berdering. Mataku beralih menatap benda yang terletak di nakas itu.


‘’Siapa ya pagi begini menelpon? Apa itu Ayu atau Mama Karni?’’ Aku bergegas bangkit dan meraih benda canggih. Nomor baru?


‘’Hallo! Assalamua’laikum.’’


‘’Selamat pagi, Mba. Kami dari pihak rumah sakit. Ingin mengabarkan kalo Andre baru saja menghembuskan napas terakhir dan Mamanya sekarang pingsan.’’


Aku membungkam mulut dan terperanjat kaget, rasanya lutut begitu lemas.


‘’I—innalillahi wa innailaihi roji’un.’’ Aku terduduk lemas di lantai.


‘’Mengapa kamu secepat ini pergi, Ndre?’’ Deraian air mata membasahi pipi. Hingga benda canggih itu spontan terjatuh dari tanganku ke lantai.


‘’Hallo, Mba. Mba denger suara saya kan?’’ Membuat aku tersadar dan menatap benda canggih yang tergeletak di lantai lalu aku segera meraihnya.


‘’De—dengar, aku akan segera ke rumah sakit.’’ Tanpa menyahut ucapannya, aku bergegas mematikan sambungan sepihak.


Aku bangkit dan menatap Rafi yang tengah terlelap. Hari ini juga label anak yatim sudah tersemat pada anakku. Ya Allah, kasihan sekali kamu, Nak. Baru seusia kamu sudah ditinggal mati oleh sang ayah. Dengan pelan aku menghampiri Rafi yang masih terlelap.


‘’Kasihan sekali Dedek, Nak. Do’akan Papa ya supaya dia tenang di alam sana,’’ kataku dengan suara bergetar sambil mengusap kening bayiku. Seketika dia terbangun dan menangis kencang. Aku bergegas memeluk dan menciumnya.

__ADS_1


‘’Sayang, ada Mama di sini, Nak.’’ Aku yakin firasatnya sudah datang pada bayiku karena mereka ada pertalian darah. Kubawa berdiri sambil menggendongnya, namun dia tetap saja menangis kencang.


‘’Monik? Si Dedek kenapa?’’ Terdengar suara mama di luar sana dan beliau langsung memasuki kamarku. Aku melirik sejenak ke mama.


‘’A—Andre meninggal barusan, Ma,’’ kataku dengan tenggorokan tercekat.


‘’A—apa? Siapa yang mengabarkan kamu?’’


‘’Pihak rumah sakit, Ma. Barusan aku dapat kabar. Aku yakin karena itu si Dedek menangis.’’ Aku membelai kepala mungilnya yang mulai berkeringat karena terus menangis.


Aku melirik sejenak ke mama, sangat lama beliau termenung sambil meneteskan air mata.


‘’Biar Mama yang bujuk si Dedek ya. Kamu siap-siaplah sekarang. Nanti biar Mama yang jagain si Dedek di rumah. Kamu pergilah ke rumah sakit. Mama Karni pasti membutuhkanmu, Nak,’’ kata mama lirih dan langsung mengambil alih Rafi di gendonganku. Aku menyetujui ucapan mama dan langsung bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.


***


‘’Sus, apa pasien atas nama Andre benaran meninggal?’’ Aku tergesa-gesa menghampiri wanita berseragam itu.


‘’Benar, Mba. Barusan meninggal dan sudah dibawa ke ruang jenazah.’’ Membuat aku termenung dengan jawaban wanita itu.


‘’Makasih ya, Sus.’’ Aku langsung bergegas ke ruang ICU yang pernah ditempati oleh Andre, tak tahu lagi harus ke mana mencari mama Karni. Aku takut terjadi sesuatu sama mamanya Andre itu.


‘’Mba Monik? Jenazahnya Mas Andre sudah dipindahkan,’’ kata suster Aila yang selama seminggu ini merawat dan menjaga Andre. Membuat aku menoleh dan menghentikan langkah.


‘’Kalo Bu Karni di mana, Sus?’’


Aku bergegas mengikuti langkah suster Aila. Aku mengundurkan niat untuk memasuki ruangan itu. Rasanya aku tak tega melihat mama Karni. Kuputuskan berdiri di ambang pintu.


‘’ANDREEE!!!’’ teriak mama, yang tampak bergegas duduk, namun karena tubuhnya terasa tak berdaya membuat dia kembali terbaring.


‘’Bu, tenang dulu ya.’’ Wanita berseragam itu mendekati mama Karni.


‘’Sa—saya harus ketemu sama anak saya, Sus,’’ katanya lirih dengan suara bergetar.


Mantan mertuaku itu bergegas untuk mencoba kembali duduk, namun tetap saja tak bisa mungkin karena tubuhnya terasa lemas tak berdaya.


‘’Anak saya Andre baik-baik aja kan?’’ Wanita separuh baya itu memegang tangan suster Aila, namun dia hanya terdiam seribu bahasa.


‘’Ma?’’ Aku bergegas memasuki ruangan.


‘’Monik? Di mana Andre? Dia baik-baik aja kan?’’ Keda netranya digenangi air mata, dia menatapku sendu.


‘’A—Andre udah ninggalin kita, Ma.’’ Kata yang sulit untukku ucapkan akhirnya keluar dengan spontan.

__ADS_1


‘’Ma, aku juga nggak menyangka kalo Andre pergi meninggalkan kita secepat ini.’’ Aku langsung memeluk mama dengan erat.


‘’Kita harus kuat ya, Ma. Supaya Andre tenang di alam sana, supaya dia jangan sedih.


Terutama melihat Mama seperti ini.’’ Aku melepaskan pelukan dan tanganku terangkat menyeka buliran air mata wanita yang kuanggap sebagai orangtuaku itu.


‘’Mama nggak punya siapa-siapa lagi, Monik,’’ ungkapknya di sela isakan tangis.


‘’Mama masih punya aku. Aku janji akan selalu ada untuk Mama.’’


‘’Kalo nggak ada kamu. Mama nggak tahu lagi—‘’ Mama Karni menangis sejadi-jadinya lalu menghambur ke pelukanku.


‘’Ya Allah kenapa Kau ambil anakku secepat ini?’’


Di dalam mobil ambulance, Mama Karni memeluk jenazah anaknya dengan deraian air mata. Membuat hatiku terasa pilu, spontan air mata kembali menetes. Tanganku terangkat mengelus punggung mama Karni.


‘’Ma, aku tahu apa yang Mama rasakan. Tapi, nggak baik juga kalo kita menangisi kepergian Andre,’’ kataku lirih. Wanita yang bermata sayu itu menatapku.


‘’Mama seperti mimpi, Monik. Mama nggak pernah menyangka kalo dia akan pergi meninggalkan Mama untuk selamanya,’’ ungkap mama yang nyaris tak terdengar olehku, karena bunyi ambulance yang begitu keras.


‘’Itu karena seseorang yang mencelakai Andre. Kalo nggak, Andre pasti masih bisa sembuh!’’ Membuat aku terkesiap dan langsung menatap mama Karni.


‘’Maksud Mama? Siapa yang mencelakai Andre?’’


‘’Mama juga nggak tahu, Monik. Karena dia menyamar jadi Suster. Awalnya Mama mengira dia adalah Suster Aila, ternyata bukan. Mungkin karena mata Mama yang terasa mengantuk dan baru bangun—‘’


‘’Ya Allah, Ma.’’ Aku sungguh kaget mendengar penjelasan dari mama. Seketika aku teringat dengan ancaman mamanya Nina.


‘’Apa ini ada hubungannya sama Mamanya Nina?’’


Aku menggeleng cepat dan berusaha untuk menepis prasangka buruk itu. Sebelum adanya bukti, aku tak bisa menuduh sembarangan.


‘’Kita fokus dulu ke Andre ya, Ma. Setelah Andre dimakamkan, kita akan cek CCTV rumah sakit. Kita akan selidiki siapa di balik ini semua.’’ Aku kembali mengenggam jemari wanita separuh baya itu.


Aku mematut jenazah Andre yang ditutupi kain putih.


‘’Semoga kamu tenang di sana ya, Ndre. Kamu nggak akan merasakan sakit lagi.’’


Tak berselang lama, ambulance sudah memasuki rumah mewah nan elite. Tampak para warga sudah berkumpul. Aku bergegas turun sambil membantu mama Karni melangkah ke luar. Warga pun membantu mengangkat jenazahnya Andre.


‘’Laa ilahaillallah, laa ilahaillallah.’’ Warga membawanya ke dalam rumah.


‘’Astaghfirullah, Ma!’’ teriakku karena mama Karni pingsan, untung aku cepat bergerak menyambut tubuhnya.

__ADS_1


‘’To—tolong bantu Bu Karni, Pak,’’ kataku pada security mama Karni yang jarang sekali kulihat kehadirannya di rumah sakit. Aku langsung mengikuti langkah lelaki yang tengah memopong tubuh mama Karni itu menuju kamarnya.


Bersambung.


__ADS_2