
Dua tahun kemudian.
‘’Sayang, mandi dulu ya. Nanti kita tempat Nenek,’’ kataku pada Rafi yang tengah asyik bermain.
Dia berhenti bermain lalu menoleh ke arahku. Ya, sudah setahun lebih kini usia anak semata wayangku. Alhamdulillah dia sehat dan sangat aktif.
Tak berselang lama, aku telah selesai memandikan anak semata wayangku. Dia kugendong dengan berbalut handuk. Lalu langsung kubawa ke tempat tidur dan membaringkannya. Dia tampak tertawa kecil, membuat aku makin gemas saja.
‘’Ma,’’ katanya yang membuat aku bergegas mengecup pipi tembem si kecil.
‘’Ih, anak sayang Mama ini.’’ Dia tertawa kecil hingga nampak giginya yang baru tumbuh.
Kuambil minyak kayu putih, lalu mengoleskan ke perut, punggung, tangan, dan kakinya. Dia tampak enteng sekali sambil bertepuk riang.
‘’Bi, nanti kalo Ibu nanya bilang aku ke rumah Neneknya Rafi,’’ kataku pada wanita separuh baya yang berkerudung itu.
Ya, dia adalah ART di rumahku. Namanya bibi Ida, dia sudah setahun bekerja di sini. Karena aku merasa repot mengurus rumah dan anakku. Tugas si bibi hanya mencuci pakaian, memasak, dan beberes. Kalau mengurus Rafi tetap menjadi tugasku sebagai orangtuanya, terkadang juga mama atau papa yang mengurus cucu beliau.
‘’Iya, Non.’’
‘’Seperti biasa Bibi siapkan makan siang ya. Nanti Ibu pulang.’’
‘’Baik, Non,’’ sahutnya ramah.
Aku bergegas menggendong Rafi yang sudah berpakaian rapi. Kuambil tas yang sudah kuisi dengan beberapa helai pakaian anakku. Walaupun pakaian Rafi ada juga di rumah neneknya, tapi aku tetap membawa pakaiannya.
Aku bergegas melangkah ke teras, nampak sopir pribadiku itu tengah duduk di kursi. Beliau sudah setahun juga bekerja di sini. Itu atas saran dari mama Karni, agar mudah pergi ke sana- ke mari. Apalagi aku juga punya mobil sendiri yang dibelikan oleh papa, hadiah ulang tahunku. Kalau aku yang menyetir, tak mungkin. Karena aku selalu bawa si kecil.
‘’Eh, Non Monik. Mau ke tempat Bu Karni ya.’’
Karena melihatku yang tengah menghampirinya, lelaki yang biasa kupanggil dengan pak Sopo itu langsung menoleh ke arahku.
‘’Iya, Pak Sopo. Kita jalan sekarang.’’
‘’Baik, Non,’’ sahutnya yang bergegas melangkah ke garasi.
Pintu mobil langsung dibukakan oleh pak Sopo, sopir pribadiku.
‘’Makasih, Pak.’’ Lelaki paruh baya itu menyahut dengan anggukan lalu tersenyum. Langsung aku menaiki si roda empat dengan hati-hati.
***
Tak berselang lama sedanku sudah memasuki pekarangan rumah nan mewah, yang sering kukunjungi. Bahkan sering aku menginap di sini. Agar neneknya Rafi tak kesepian. Tentu atas izin kedua orangtuaku. Beliau pun mengerti kalau mama Karni itu butuh teman dan begitu juga dengan anakku yang harus sering ke tempat neneknya agar dia tahu kelak jika besar. Kalau rumah ini adalah rumah papanya, rumah neneknya.
Langsung aku turun, seperti biasa dibukakan mobil oleh sang sopir pribadi.
‘’Nanti kalo Non pulang atau mau ke mana, telpon Bapak saja ya.’’
‘’Oke, Pak. Kalo gitu aku masuk dulu ya.’’ Yang disahut dengan anggukan oleh si bapak Sopo. Aku langsung melangkah.
‘’Eh, ada si kecil. Baru datang yah,’’ sapa security muda lagi tampan pada anakku yang tengah digendong.
Seketika anakku tertawa hingga menampakkan giginya yang baru tumbuh. Ya, anakku itu mudah ketawa, apalagi kalau asisten mama Karni yang menyapa. Dia pasti tertawa. Apalagi security mama ini, lelaki muda yang usianya lebih tua dua tahun dariku. Dia sudah setahun bekerja sebagai security di sini. Security yang bekerja di sini sebelumnya sudah mengundurkan diri, karena orangtuanya yang sakit parah di kampung. Begitu kata mama Karni yang bercerita padaku.
‘’Iya, Om. Nenek ada di dalam kan?’’ Aku mewakili. Namun, aku tak melemparkan senyuman.
‘’Ada kok. Neneknya ada di dalam,’’ sahutnya sambil tersenyum.
‘’Ya udah kalo gitu aku dan Rafi masuk dulu ya.’’ Dia tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Tak ingin berlama-lama bicara dengannya, aku bergegas memasuki rumah mama Karni. Tak nyaman rasanya aku menatap lelaki itu. Apalagi tatapannya sangat berbeda padaku, dia selalu melemparkan senyuman yang berbeda padaku. Mungkin mama Karni benar, lelaki itu menyukaiku. Bahkan sejak awal dia bekerja di sini.
Beberapa hari nan lalu, neneknya Rafi itu mengatakan kalau securitynya jatuh hati padaku. Aku bukan ilfeel dengan pekerjaannya, apapun pekerjaan asalkan halal. Aku orangnya tak memandang jabatan. Tapi, rasa trauma itu masih membekas. Aku hanya ingin membesarkan dan mendidik anakku.
‘’Assalamua’laikum.’’
‘’Wa’alaikumsalam. Eh, cucu Nenek udah datang ya, Sayang.’’
Seketika mama Karni bergegas menghampiri kami dan langsung menggendong cucunya. Membuat Rafi tertawa kecil dan memegang pipi neneknya.
‘’Tadi Mama beliin mainan buat si Dedek,’’ kata wanita separuh baya itu sambil memandang ke arahku.
‘’Ya Allah, Ma. Kan mainannya udah banyak,’’ keluhku kemudian.
Ya, neneknya selalu saja membelikan mainan yang begitu banyak untuk cucunya. Padahal mainan yang dibelikan kemarin-kemarin masih layak dipakai, masih bagus-bagus. Di rumahku pun banyak mainan juga, itu oma dan opanya yang beli.
‘’Nggak apa-apa. Itu mainan kan belum ada sama si Dedek.’’
***
‘’Assalamua’laikum.’’ Aku yang tengah memberikan ASI pada si kecil seketika mama mengangkat telepon. Membuat aku beralih menatap mama Karni.
‘’Apa? Pelakunya udah tertangkap, Pak?’’ Membuat aku merasa lega.
Karena sudah setahun lebih mama Karni membayar orang untuk menangkap pelaku yang mencelakai alamarhum Andre hingga meregang nyawa namun tak kunjung ditemukan. Karena wanita itu kabur melarikan diri ke Bandung, menurut cerita yang kudengar dari mama Karni. Ya, pelakunya itu adalah mamanya Nina. Ternyata sesuai dengan dugaanku sebelumnya.
‘’Baik, Pak. Terima kasih banyak atas kerja samanya.’’ Sepertinya mama menyudahi pembicaraan.
‘’Ma? Alhamdulillah akhirnya ketangkap juga,’’ kataku lirih sambil menatap wanita separuh baya.
‘’Iya, Monik. Mama lega rasanya. Wanita itu harus menerima balasan atas apa yang dilakukannya pada Andre.’’
***
‘’Ma,’’ kata si kecilku sambil menoleh ke arahku.
‘’Iya, Sayang. Dedek mau ke makam Papa ya, Nak.’’ Dia mengangguk dan tersenyum.
Aku tahu dia belum tahu apa-apa tentang sang papa yang meninggal dunia. Kelak jika dia besar, aku akan menceritakan bahwa papanya sudah meninggal.
Karena angin yang berhembus memasuki celah kaca, membuat anakku tertidur di pangkuanku. Kuusap dengan pelan pucuk kepalanya. Untuk menghilangkan rasa gundah, aku memilih untuk berselancaran di aplikasi hijau itu.
Sudah lama aku mengacuhkan grup kelas di aplikasi, aku memutuskan untuk mengarsipkannya sejak aku putus sekolah hingga sekarang. Tak terasa sudah setahun lebih berlalu. Sepertinya tak apa, jika aku memutuskan untuk melihat grup-grup semasa sekolah dulu.
Rasanya begitu rindu masa sekolah dengan kawan-kawan. Kubuka grup namanya dua belas IPS the best. Begitu banyak pesan yang bertumpuk dan ada jugaa voice not. Mataku tertuju pada beberapa pesan.
‘’Monik itu sakit atau gimana? Kok lama banget nggak masuk sekolah ya?’’
‘’Ntahlah. Yang pasti Ayu bilang, kalo Monik itu sakit. Tapi dia nggak pernah cerita tuh ke kita.’’
‘’Nah, bener. Atau kita lihat aja sama-sama ke rumahnya. Biar kita tahu gimana kondisinya. Bagaimana, Guys?’’
‘’Monik udah dibawa pergi berobat ke luar negri sama kedua orangtuanya.’’
‘’Aduh! Kenapa nggak bilang ke kita sih, Yu. Kan kita bisa membesuk Monik sebelum dia berangkat. Kamu mah.’’
Pesan ini pasti ketika aku baru-baru hamil. Ketika aku baru merasa mual, terus Monik datang menghampiriku ke rumah. Hingga memaksaku untuk membawa berobat ke rumah sakit. Pada akhirnya, Ayu sendiri yang mengetahui kehamilanku lewat dokter yang memeriksa. Dia adalah orang yang pertama kali mengetahui kehamilanku.
Ya Allah, waktu itu aku sungguh hancur-sehancurnya. Tak tahu harus bicara apa lagi ke sahabatku itu. Aku merasa hina dan tak pantas jika dia bersahabat denganku, tetapi di luar dugaanku. Ayu bahkan orang satu-satunya yang selalu mensupportku, di saat aku terpuruk sekalipun.
__ADS_1
Betapa beruntungnya aku punya sahabat seperti Ayu, yang aku acuhkan dulu semasa aku jadi kekasihnya almarhum Andre. Ya, kini Ayu sudah kuliah di Universitas ternama dan tentu itu kampus impiannya selama ini. Aku tahu soal itu, karena aku yang bertanya pada sahabatku. Aku yakin dia enggan memberitahuku karena tak mau jika aku nanti malah bersedih hati. Ayu dan teman-teman pada kuliah, sementara aku menggendong anak.
Aku punya anak bukan pada waktunya. Seusia aku masih berkecimpung di pendidikan. Itu semua karena kesalahanku, karena kebodohanku. Akibatnya aku yang menanggung, membuat aku putus sekolah dan tak bisa melanjutkan pendidikan seperti temanku yang lainnya. Banyak juga yang menjauhiku karena tahu bahwa aku hamil di luar nikah.
Hingga kini, orang masih mengatakan hal yang sama. Pandangan orang padaku tetap tak kan berubah. Tapi bagiku tak apa. Walaupun aku kini sudah berubah total dan hijrah, hanya Allah yang tahu segalanya tentang aku.
‘’Ah, ternyata Monik hamil di luar nikah, Guys.’’
‘’Apa?!’’
‘’Kamu nggak bercanda kan Alisya?’’
‘’Atau kamu memburuk-burukkan Monik kali. Kan kamu sakit hati sama dia. Apalagi Monik yang berhasil mengambil hati Andre. Ayo ngaku!’’
‘’Iya tuh. Jangan ngomong sembarangan, Sya. Loh nggak takut dosa apa.’’
‘’Bilang aja karena kamu iri dan cemburu berat.’’
‘’Ih, parah banget loh, Sya.’’
‘’Aduh! Guys, nggak mungkin aku bohong. Aku akui aku benci sama si Monik. Tapi aku nggak sejahat itu kali. Walaupun aku ini kayak gini. Aku masih punya hati kali.’’
‘’Monik itu beneran hamil. Makanya dia nggak mau lagi sekolah. Jangan tanyakan dari mana aku dapat info ini.’’
‘’Ya Allah!’’ Aku menggeleng dan mengelus dada yang terasa sesak. Tak sanggup lagi aku melanjutkan untuk membaca isi pesan itu. Segera kututup aplikasi hijau.
***
Tak berselang lama, mobilku sudah memasuki tempat pemakaman. Aku langsung turun dengan hati-hati, lalu melangkahkan kaki menuju pemakaman papanya Rafi sambil menggendong si kecil.
‘’Hati-hati, Non,’’ kata pak Sopo yang aku sahut dengan anggukan.
‘’Assalamua’laikum, Ndre. Aku datang bersama anak kita.’’
‘’Sayang, ini makamnya Papa,’’ kataku sambil menatap anak semata wayangku.
‘’Pa-pa,’’ katanya dengan terbata.
‘’Ma’afkan aku yang selama setahun ini nggak pernah lagi pergi ke sini. Tapi, do’aku selalu melangit untukmu. Agar kamu tenang di alam sana. Walaupun kita udah bercerai, tetapi kamu adalah Papa dari anakku. Anak kita.’’
‘’Lihatlah, Ndre. Anak kita tumbuh dengan baik dan sehat. Itu karena Papa dan Mamaku yang menjaga dia dengan baik.’’ Aku beralih menatap putraku di pangkuan. Tak terasa buliran air mata menetes begitu saja.
‘’Kelak kalo dia besar, aku akan menceritakan bahwa kamu adalah Papa kandungnya.’’
Ya, biar bagaimana pun juga Andre tetaplah ayah kandung anakku. Makin ke sini, aku semakin mengikhlaskan semua yang terjadi pada diriku. Semua yang terjadi di hidupku itu semua balasan dari perbuatanku. Kalau saja aku tak menerima cintanya Andre. Ini semua tak kan terjadi.
Aku tak pandai menjaga kehormatanku, menjaga kesucian diriku. Dengan mudah aku memberikannya pada lelaki yang belum halal untukku. Aku terbuai dengan rayuannya, mataku buta karena cinta sesaat. Aku berbuka bukan pada waktunya. Kemanisan yang aku rasakan ternyata bersifat sesaat. Yang ternyata pahitnya seumur hidup.
Kuharap Allah mengampuni atas semua dosa-dosa yang sudah kuperbuat. Kini aku hanya ingin fokus membesarkan dan mendidik anak semata wayangku. Aku lebih nyaman sendiri sambil memperbanyak ibadah kepada Allah.
‘’Pacaran yang sungguh nikmat dan diridhoi oleh Allah itu adalah pacaran setelah menikah. Jangan terkesima dan terbuai dengan kemanisan sesaat yang disukai oleh syetan, syetan itu ingin berteman denganmu di neraka makanya dia berusaha dengan seribu cara untuk membujuk dan merayumu agar terjatuh kepada kemaksiatan. Tahanlah diri dari kemanisan yang bersifat sesaat walau terasa sulit, jaga dirimu untuk kekasih halalmu esok. Dan kau akan merasakan nanti bagaimana rasanya keindahan cinta yang halal, kemanisan yang bukan bersifat sesaat tetapi selamanya hingga dunia dan akhirat.’’
TAMAT
Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin, akhirnya novel ‘’Kemanisan Sesaat’’ telah tamat. Semoga kita selalu mempertimbangkan apa yang hendak kita lakukan dan berpikirlah sebelum berbuat, jangan lakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah. Terima kasih banyak kepada Readers setia yang selalu support, membaca dan mengikuti kisah ‘’Monik dan Andre’’ walau terkadang Author slow update dikarenakan paket tak ada dan dikarenakan sakit juga, tetapi malah ada yang setia menunggu.
Author merasa terharu dan sekaligus senang karena kalian begitu sabar menunggu lanjutannya. Dan ma’af kalau terdapat kekurangan di novel ini. Maklum, Author belum sepenuhnya ahli dalam bidang kepenulisan. Harus banyak belajar lagi.
Terima kasih banyak sekali lagi atas supportnya, sehat selalu buat semuanya, semoga setiap langkah selalu diridhoi oleh Allah, dimudahkan segala urusan, mengalir terus rezekinya, dan jazakumullahu khairan.
__ADS_1
Sampai jumpa di novel Author selanjutnya. Dan coba baca juga novel yang berjudul ‘’Kuserahkan Suamiku Kepada pelakor’’ sudah tayang sampai episode 68.