Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Tak Merestui


__ADS_3

‘’Pa, aku udah janji akan bertanggung jawab atas semua yang udah kulakukan terhadap Monik,’’ ucap Andre lirih yang tengah memandangi pak Ardi.


‘’Apa? Kamu mikir dong, Ndre. Tolong dengarkan kata Papa. Papa nggak setuju kamu menikahi perempuan nggak beres itu!’’ bentaknya sembari menatap Andre dengan tatapan tajam membuat Andre menunduk. Perempuan tak beres? Dasar egois! Bukankah ini semua salah anaknya juga? Kenapa aku sendiri yang disalahkan? Aku dimatanya serba salah. Begitu hinakah aku dimata papanya?


‘’Itu semua gegara Andre juga, Pa,’’ jawab Andre pelan.


‘’Sejak kapan kamu begini? Hah? Kamu akan ikutan dihina dan dicaci maki orang-orang, Ndre. Keluarga kita ini keluarga terpandang!’’ geramnya.


Allah! Kenapa seolah matanya buta, tak melihat kejadian yang sebenarnya. Kenapa dia malah menyalahkan sepihak saja? Jika putranya tak menghamiliku, tak mungkin aku hamil sendiri. Aku menghela napas berat.


‘’Pa. sudahlah! Aku mau beristirahat dulu,’’ kata Andre pelan dan bergegas bangkit, namun papanya menghambat langkah Andre seketika.


‘’Kamu nggak sopan. Orang tua bicara bukannya didengarin, malah pergi begitu saja!’’ kulihat urat nadi lehernya tampak, saking marahnya lelaki paruh baya itu.


‘’Pa, sudah kubilang. Semua ini kesalahanku, aku harus bertanggung jawab,’’ sahut Andre. Dia masih berusaha bersikap sabar terhadap papanya.


‘’Kamu itu keras kepala!’’ bentak lelaki yang berjas hitam itu tanpa memperdulikan alasan anaknya. Seketika bu Karni datang menghampiri, aku hanya mengintip dari balik tembok di lantai atas.


‘’Ka—kamu sudah pulang, Ndre?’’ mata bu Karni berkaca-kaca, lalu bergegas memeluk anaknya. Dan melepaskan pelukan perlahan, Andre hanya terdiam saja.


‘’Papa kenapa ini? Anaknya baru datang, malah dibentak habis-habisan!’’ ketus bu Karni menatap suaminya dengan tatapan tajam.


‘’Aku kesal, Ma. Kamu tahu? Dia akan menikahi perempuan yang nggak tahu diri itu. Aku sudah berjanji untuk menjodohkannya dengan Nina, aku sudah berjanji dengan temanku itu, Ma!’’ pak Ardi yang tak kalah menatap istrinya dengan tatapan tajam.


‘’Apa-apaan sih kamu, Pa. Nggak seharusnya Papa kayak gitu. Seharusnya Papa menyetujuinya menikahi Monik, bukan menikahi wanita lain. Yang benar sajalah!’’ Bu Karni tampak kesal dan membuang pandangannya seketika.


Aku mendengar ucapan wanita itu membuat aku terharu, beliau memperlakukanku layaknya seperti anak kandungnya. Padahal aku bukan siapa-siapanya, aku belum menikah dengan putranya. Ya, walaupun aku tengah mengandung cucunya. Tak seperti perlakuannya ketika pertama kali aku bertamu ke rumahnya. Aku mengira bahwa bu Karni hanya berpura-pura baik saja dan ada niat jahat kepadaku, tetapi semuanya ternyata salah.


‘’Ternyata kamu sama aja keras kepalanya dengan anakmu ini!’’ bentaknya sembari menunjuk Andre yang sedang memijit kepala karena pusing.


‘’Kamu yang keras kepala! Coba deh intropeksi dirimu, udah baik kah?’’


Membuat aku terpenganga. Apa maksud bu Karni berkata demikian?


‘’SUDAAAHHH!’’ teriak Andre seketika. Kali ini kesabaran Andre sudah habis.


‘’Ngapain sih Papa ribut? Mama juga. Aku pusing!’’ dia bergegas melangkah ke kamarnya.


‘’Ndre, Mama buatkan makanan kesukaanmu ya?’’ bujuk bu Karni yang menuruti langkah sang putranya


‘’Nggak, Ma. Aku mau istirahat,’’ tolaknya tanpa menoleh ke belakang.


‘’Tuh kan, semuanya gara-gara Papa.’’ wanita separuh baya itu menghentikan langkahnya dan kembali menghenyak di sofa bewarna keemasan itu.


‘’Gara-gara kamulah, mana ada gara-gara aku. Ngaco kamu!’’ Pak Ardi bergegas meninggalkan bu Karni yang masih menghenyak di sofa dengan tatapan kosong.


‘’Ya Allah. Sejak kehadiranku di sini, keluarga Andre jadi kayak gini,’’ bisik hatiku. Perlahan kumelangkah dengan gontai dari lantai atas dan menghampiri wanita separuh baya yang tengah termenung, aku menghenyak di sampingnya.


‘’Bu, ma’afkan aku. Gegara kehadiranku di sini keluarga Ibu jadi kayak gini,’’ lirihku sembari memegang jemari bu Karni.


‘’Monik, kamu jangan kayak gitu. Kamu nggak salah kok. Jangan bicara kayak gini lagi, ya?’’ Bu Karni menatapku dengan tatapan iba, lalu mengelus puncak kepalaku yang tengah dibalut kerudung.


‘’Ta—tapi itu kenyataan, Bu. Semua itu gegara aku,’’ lirihku dengan suara bergetar.

__ADS_1


Ya, semua itu karena kehadiranku di sini. Selama aku di sini, tak pernah aku mendengar perlakuan atau ucapan baik yang keluar dari mulut lelaki itu baik ke istrinya ataupun ke anaknya. Setiap kali menatapku, hanya ada kebencian di sorot matanya. Sebegitu hinakah diriku di matanya?


Beliau menggeleng secepatnya.


‘’Hussh! Jangan bilang kayak gitu. Kamu harus mendapatkan hakmu.’’


‘’Anakmu ini butuh Ayah.’’ Beliau mengelus perutku yang tampak makin membesar. Aku mengangguk perlahan.


‘’Apa kamu merasa tertekan tinggal di sini? Tolong katakan, Monik!’’ tanya bu Karni pelan dan memegang jemariku.


‘’Nggak kok, Bu,’’ sahutku. Padahal aku memang sangat tertekan. Terlebih tatkala aku dibentak habis-habisan oleh suaminya.


‘’Jangan bohongi Ibu. Kamu pasti merasa tertekan, jujurlah!’’ Beliau memandangi wajahku dan menerka-nerka, membuatku menunduk seketika.


‘’Iya, Bu,’’ jawabku pelan sembari mengangguk perlahan, aku menunduk seketika.


‘’Ya Allah! Kenapa kamu nggak bilang sama Ibu? Kamu nggak boleh banyak pikiran, apalagi sampai tertekan.’’ Ibu Karni menatapku dengan tatapan iba.


‘’Ya sudah, istirahatlah dulu ke kamarmu! Nanti Ibu pikirkan soal tempat tinggalmu sementara.’’


‘’Iya, Bu. Aku istirahat dulu ke kamar,’’ pamitku bergegas bangkit.


‘’Nanti Ibu suruh Bibi mengantarkan makanan untukmu, ya?’’ Aku hanya mengangguk dan melangkah ke kamar. Setibanya di kamar, kututup pintu, lalu membaringkan tubuhku ke ranjang.


‘’Ya Allah, benar saja. Sebenarnya jiwaku memang tertekan sekali berada di sini. Betapa susahnya ya jika kedua orang tua udah benci dan mengusirku,’’ bisik hatiku sembari menatap langit-langit kamar. Aku menghela napas perlahan, sesaat kemudian benda pipih itu berdering. Perlahan kubangkit, lalu meraihnya. Ada pesan di aplikasi hijau, siapa? Kulihat dan kutelusuri, ternyata sahabatku.


‘’Assalamua’laikum, Monik. Gimana? Gimana sikap Andre sama kamu?’’ tulis Ayu di aplikasi hijau itu.


‘’Wa’alaikumussalam, Yu. Nggak gimana-gimana kok, dia tadi bertanya berapa bulan usia kandunganku. Aku malas menjawabnya dan dia menatapku, aku risih, Yu. Muak sekali dengan perlakuannya itu, memandangnya aja membuatku ingin muntah,’’ balasku bercerita ke Ayu.


Memandangi mukanya aja membuatku ingin muntah. Di satu sisi aku membenarkan ucapan Ayu dalam hati. Ya, anakku juga butuh seorang ayah dan aku tak boleh egois sebenarnya.


‘’Tapi aku bosan, aku muak sama dia, Yu,’’ balasku singkat.


‘’Nggak boleh gitu, kamu kan mau menikah dengannya. Aku yakin dia akan bertanggung jawab sepenuhnya, makanya kamu nggak boleh kayak gitu ya. Pikirkan juga anak yang berada di kandunganmu. Jangan egois.’’


‘’Aku akan coba untuk menghilangkan rasa benciku ini. Iya, Yu. Kamu benar, seharusnya aku juga memikirkan bayi yang ada di rahimku ini. Nggak mungkin dia lahir tanpa seorang Ayah. Tapi, Pak Ardi nggak setuju jika aku menikah dengan anaknya, Yu.’’ balasku apa adanya.


‘’Kamu pasti bisa menghilangkan rasa benci itu. Apa? Pak Ardi nggak setuju? Aku nggak habis pikir deh sama isi kepalanya. Kok teganya dia kayak gitu.’’


‘’Iya, Yu. Setelah kudengar alasannya, dia mau menikahkan anaknya dengan perempuan yang bernama Nina. Dan sepertinya juga karena aku yang hamil di luar nikah,’’ balasku kembali dengan emot sedih.


‘’ Gila benar tuh orang tua ya. Dia bilang kayak gitu? Bukannya ini semua juga salah anaknya kan? Kenapa egois bangat tuh Bapak tua ya,’’ upat Ayu di pesan.


‘’Aku nggak habis pikir semuanya, Yu. Nggak mungkin salahku sendiri kan? Pak Ardi memang sangat egois,’’ balasku kemudian, seketika terdengar bunyi ketukan pintu di luar sana.


‘’Assalamua’laikum, Monik! Boleh Bibi masuk?’’


‘’Wa’alaikumussalam, Bi. Silakan masuk! Nggak dikunci kok,’’ jawabku sembari meletakkan kembali benda pipih itu di nakas.


‘’Ini Bibi bawa nasi, sambal dan cemilan sehat untukmu. Agar bayi di rahimmu itu sehat.’’ Bibi berjalan dengan tergopoh-gopoh membawa nampan yang berisi makanan dan cemilan.


‘’Iya, Bi. Makasih banyak, ya?’’ Aku meraih nampan itu dan meletakkannya di nakas.

__ADS_1


‘’Sama-sama, Monik.’’ Seketika beliau melangkah ke luar, tapi langkahnya terhenti.


‘’Monik, boleh Bibi bertanya?’’ tanya bibi dengan wajah sedikit ragu sembari menoleh.


‘’Iya, Bi. Tentu saja boleh,’’ sahutku sembari tersenyum memandangi bibi yang menghentikan langkahnya.


‘’Benaran nih, Monik?’’ tanyanya kembali, aku mengangguk dan tersenyum.


‘’Ma’af sebelumnya. Bibi sebelumnya nggak pernah bertanya, tetapi Bibi selalu kepikiran gitu. Apa benar Monik sedang hamil anaknya Mas Andre? Ma’af sekali lagi ya,’’ lirihnya sembari menelungkupkan tangan di dadanya.


‘’Nggak apa-apa, Bi. Benar,’’ Aku mengangguk perlahan.


Seketika bibi itu kaget dan menutup mulutnya,’’Allah! Ternyata benar, Mas Andre yang Bibi anggap baik dan sopan bisa begitu,’’ lirihnya pelan.


‘’Trus, dia mau bertanggung jawab kan, Monik?’’ tanyanya kembali.


‘’Awalnya enggak, Bi. Membuat aku memutuskan memberitahu Mamanya, tapi beliau nggak terima dan nggak percaya katanya aku salah orang, tetapi akhirnya beliau percaya karena aku sudah memperlihatkan buktinya yaitu fotoku yang tengah romantis dengan anaknya, sampai akhirnya aku berada di sini. Sedangkan Andre kabur ke rumah temannya dan nggak pulang-pulang lagi ke sini. Baru hari ini dia kembali lagi ke rumahnya, Bi,’’ jelasku panjang lebar. Tampak bibi antusias mendengarkan semua penjelasanku.


‘’Ya Allah! Nggak nyangka Bibi dengan semua ini. Tapi Bibi harap Mas Andre mau bertanggung jawab sepenuhnya ya, Monik. Apalagi sebentar lagi Monik akan melahirkan. Nggak mungkin anaknya lahir tanpa seorang Ayah,’’ lirih bibi menatapku sendu.


‘’Ta—tapi kenapa semua ini bisa terjadi?’’


‘’Ceritanya panjang, Bi,’’ sahutku dan menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Andre.


‘’Astaghfirullah ‘al adziim!’’ Bibi istighfar dan menutup mulutnya.


‘’Tapi, Monik nggak terlambat kok untuk bertaubat. Allah Maha Pengampun. Asalkan kita benar-benar bertaubat dan berjanji tak kan mengulangi lagi,’’ nasihatnya.


‘’Iya, Bi. Makasih. Tolong bantu aku untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.’’


‘’Sama-sama, Monik. Bibi pun masih belajar, Monik bisa belajar dengan Bu Karni. Walau beliau terlihat kayak gitu, sebenarnya beliau taat beribadah loh,’’ ucapnya dengan tersenyum lebar.


‘’Apa? Bibi benaran kan, Bi?’’ aku kaget dan heran. Bagaimana bisa seorang bu Karni taat beribadah? Teringat olehku pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, dia mengusirku dan berlagak sombong. Ternyata seseorang yang seperti itu belum tentu dia jauh dari Tuhannya. Ya, ternyata kita tak bisa menilai orang dari covernya saja.


‘’Iya. Coba aja Monik lihat sendiri. Pagi-pagi sekitaran pukul 09.00 coba lihat beliau, pasti pergi berwudhu’ ke kamar mandi untuk melaksanakan sholat dhuha, sering kayak gitu. Monik sendiri aja yang nggak pernah lihat.’’


‘’Iya deh, Bi. Besok akan aku lihat secara diam-diam.’’ aku tertawa kecil.


‘’Nah iya, Monik. Agar kamu percaya.’’


‘’Ya sudah, Bibi mau ke dapur dulu. Banyak yang harus Bibi kerjakan.’’


‘’Jika kamu butuh apa-apa, panggil aja Bibi ya.’’ Bibi bergegas melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti.


‘’Iya, Bi.’’


Bersambung…


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya. Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.


See you next time!❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2