
Entah kenapa sepulang dari maraton, anak semata wayangku rewel. Dikasih ASI tak mau, diayun pun tak mau. Padahal badannya juga tak panas dan pikiranku pun baik-baik saja, tak melayang ke mana-mana. Tapi apa yang membuat dia rewel?
‘’Monik, si Dedek kenapa? Kok nggak berhenti menangis?’’ Mama yang baru pulang arisan langsung menghampiriku ke dalam kamar.
‘’Nggak tahu nih, Ma. Malahan sejak tadi dia nggak mau diem. Udah aku kasih ASI dan aku coba membujuknya. Tapi tetep aja nggak bisa diem si Dedeknya,’’ sahutku yang masih menggendong bayiku, dia menangis histeris. Membuat aku semakin pusing.
‘’Atau mungkin perutnya sakit?’’ Mama bergegas meraih minyak kayu putih yang terletak di nakas.
‘’Biar si Dedek sama Mama aja.’’
Tanpa pikir lagi aku bergegas memberikan Rafi pada neneknya, karena tanganku juga terasa penat sekali dikarenakan menggendongnya terlalu lama. Mana tahu tangisannya berhenti jika sudah di pelukan mama. Beliau bergegas menidurkannya dan mengoleskan minyak kayu putih pada bagian perut, punggung, dan badannya. Namun, ternyata dia masih tak kunjung berhenti menangis.
‘’Bagaimana ini, Ma?’’ tanyaku dengan suara bergetar, aku semakin pusing dibuatnya.
Aku tak tahu apa yang dirasakan oleh bayiku. Mama tampak membawanya bangkit dan menggendong ke luar dari kamar. Aku termenung di kamar, bunyi ponsel mampu membuyarkan lamunanku.
Bergegas kuambil benda canggih itu. Di layarnya tertera nama kontak seseorang.
Mama Karni?
Tanpa berpikir lagi aku langsung mengangkat.
‘’Mo—Monik, Papanya Rafi…’’ Mama Karni langsung bicara tanpa mengucap salam. Terdengar isakan tangis olehku, membuat aku merasa khawatir.
‘’A—Andre kenapa, Ma?’’
‘’A—Andre kecelakaan, Nak.’’
Jleb! Astaghfirullah! Aku membungkam mulutku. Terasa ada yang runtuh kali ini.
‘’Ya Allah, Ma!’’
Aku terduduk lemas di lantai, tanpa sadar benda canggihku terlepas dari tangan begitu saja. Saking kagetnya mendengar kabar yang barusan aku dengar dari mantan mertuaku. Ya, sejujurnya dulu aku membenci lelaki itu yang membuat hidupku berantakan seperti ini. Tapi seiring berjalan waktu aku mulai belajar untuk menerima ini semua dengan ikhlas dan biar bagaimana pun lelaki itu adalah ayah kandung anakku, Rafi. Ah, aku baru ingat.
__ADS_1
Bukankah tadi pagi tatkala aku maraton aku melihat sosoknya yang mengendarai motor sport bersama wanita yang berpakaian selutut sambil merangkul erat pinggang Andre. Kapan ya waktunya dia kecelakaan? Atau tatkala tadi tengah bersama wanita itu?
‘’Ya Allah, Ndre! Kamu memang lelaki yang pernah menggoreskan luka di hatiku. Tapi, bagaimana pun juga kamu adalah Ayah kandung dari bayiku. Nggak ada yang namanya mantan Ayah,’’ lirihku di sela isakan tangis. Aku mengusap muka berkali-kali.
‘’Nak? Kamu kenapa?’’
Suara mama mampu membuat aku tersadar dari lamunan panjang. Mataku tertuju pada wanita yang melahirkanku sembilan belas tahun nan lalu. Dengan cepat aku menyeka buliran air mata yang masih membasahi pipi.
‘’Monik? Jangan terlalu dipikirkan, Nak.’’ Mama tampak melangkah menuju ke arahku dan duduk di sampingku.
‘’Rafi Alhamdulillah udah tidur di kamar Mama.’’ Seketika ada rasa sedikit lega di hati, namun kali ini aku terpikir papanya. Bagaimana keadaannya sekarang? Kenapa mama Karni memangis histeris begitu?
‘’Alhamdulillah,’’ lirihku, namun air mata kembali menetes di pipi. Membuat tangan mama terangkat menyeka buliran air mataku.
‘’Nak, kamu kenapa nangis lagi? Apa yang kamu pikirkan?’’ Mama menatapku lebih dalam. Aku tak bisa rasanya menutupi semua ini dari mama. Kuhela napas pelan guna menghalau rasa yang begitu sesak di dada.
‘’Pa—Papanya Rafi, Ma,’’ lirihku dengan suara bergetar hebat.
‘’Andre? Kenapa dia?’’
‘’Kamu tahu dari mana?’’
‘’Mama Karni barusan yang menghubungi aku. Ma, aku pengen tahu keadaannya Andre.’’
‘’Kamu masih peduli sama lelaki itu? Dia udah membuat hidupmu hancur, Nak!’’ Suara mama terdengar meninggi dan di sorot matanya seperti terdapat menyimpan kebencian di sana.
Ya, dalam hati aku juga membenarkan ucapan mama. Namun di sisi lain, bagaimana pun juga lelaki itu tetap ayah dari bayiku. Walaupun dia meninggalkan luka yang mendalam di hati, tapi sekarang aku berpikir kalau aku harus belajar untuk menerima semua ini. Aku harus belajar untuk ikhlas dan menghilangkan rasa benci yang ada di diriku. Aku harus belajar jadi insan yang pema’af.
Bukankah Allah saja Maha Pema’af? Sedangkan aku yang hanya ciptaan-Nya tak mudah bagiku untuk mema’afkan. Sungguh aku malu pada Sang Pencipta, karena aku tak mudah mema’afkan. Apalagi dosa di masa laluku begitu besar. Astaghfirullah!
‘’Ma, dia memang lelaki yang membuat hidupku hancur. Tapi, bukankah ini juga atas kesalahanku sendiri? Andai saja aku bisa menjaga diriku sendiri, mungkin nggak bakalan kayak gini akhirnya.’’
‘’Luka di hatiku memang begitu dalam, Ma. Tapi, setelah aku pikir. Aku harus berdamai dengan diriku. Aku harus bisa menyembuhkan luka ini, dengan cara belajar untuk mengikhlas semua apa yang terjadi di hidupku dan termasuk mema’afkan lelaki yang pernah menoreskan luka di hatiku. Walaupun begitu sulit, Ma,’’ lanjutku sambil meraih jemari mama.
__ADS_1
‘’Tolong izinin aku untuk melihat keadaan Papa anakku, Ma. Ini demi Rafi ya. Aku mohon,’’ kataku karena mama yang tak bicara sepatah katapun menyahut ucapanku.
Hanya air matanya yang kini bicara. Aku tahu, sungguh begitu sakit hati mama karena lelaki itu hidup anaknya jadi hancur. Aku bergegas berlutut di kaki mama dengan air mata yang terus membanjiri pipi.
‘’Oke, Mama akan izinin kamu. Ini demi cucu Mama.’’ Wanita yang telah melahirkanku itu bergegas membantuku untuk bangkit.
Aku menghela napas dengan lega. Kuseka air mataku yang sejak tadi berjatuhan. Netra mama kemudian tertuju pada ponsel yang masih tergeletak di lantai, beliau meraihnya dan meletakkan di tempat tidurku.
‘’Tapi, Mama akan temenin kamu. Kita tunggu Papamu pulang dari kantor dulu ya. Biar Rafi ada yang jagain.’’ Mama benar juga. Rafi tak mungkin aku bawa ke rumah sakit. Biar papa yang menjaga anakku.
‘’Makasih banyak ya, Ma. Tapi Papa kan pulangnya kesorean.’’
‘’Sayang, kamu tenang dulu ya. Kita nggak ada pilihan lain, selain menunggu Papamu. Nggak mungkin kita tinggalin Rafi sendirian kan? Nggak mungkin juga kita bawa dia ke rumah sakit.’’
‘’Bagaimana kalo aku aja yang pergi sendirian ke rumah sakit, Ma? Boleh ya,’’ kataku dengan wajah memelas.
‘’Nggak bisa. Keadaan kamu itu belum pulih total, Nak. Mama nggak mau kamu kenapa-napa.’’
‘’Kamu istirahatlah sekarang. Mumpung si Dedek lagi terlelap. Mama juga mau istirahat,’’ lanjut mama yang aku sahut dengan anggukan. Wanitaku itu bergegas melangkah dan menutup pintu kamar seketika. Aku menghela napas pelan. Entah kenapa hatiku begitu tak tenang sekarang, sebelum aku memastikan keadaan ayah dari anakku itu.
‘’Semoga aja Papa memberi izin untuk melihat Andre ke rumah sakit. Karena aku tahu betul bagaimana Papa. Apalagi sekarang statusku bukan lagi sebagai istrinya,’’ gumamku lirih sambil menggigit bibir bawah.
Mumpung anakku sudah terlelap di kamar omanya. Bagaimana kalau aku istirahat dulu. Tubuh dan pikiranku ini butuh istirahat. Bergegas kubaringkan tubuh ke tempat tidur, kucoba memejamkan mata yang begitu enggan untuk terpejam. Seketika benda pipih berbunyi.
‘’Assalamua’alaikum, Monik. Apa kamu udah dapat kabar dari Bu Karni? Andre kecelakaan dan sampe sekarang belum sadarkan diri, dia sekarang di rumah sakit Medina.’’
Bersambung..
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.
Ma’af Readers, kalo aku lama banget ngegantung kalian, aku sering nggak update. Itu karena aku kehabisan paket. Maklumlah aku Penulis Pemula. Juga nggak mungkin aku minta ke orangtua. Dan mau minta ke suami pun, eh belum punya suami. heheh. Jadi makanya kalian support terus aku ya, biar aku bisa beli paket dari penghasilan menulis. Terima kasih banyak untuk kalian yang sampe sekarang masih membaca novelku ini, semoga sehat selalu, murah rezeki, dan selalu dalam penjagaan-Nya. Aaamiin Ya Robbal ‘aalamiin.
See you next time.❤❤
__ADS_1
Instagram: n_nikhe