Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Bayiku Rewel


__ADS_3

Sedari tadi bayiku rewel. Dikasih ASI tak mau, digendong juga tak mau, sudah kupoles juga dengan minyak kayu putih perutnya, dan diperiksa bedongnya tak basah sedikit pun. Aku sungguh cemas memandangi bayiku yang terus saja menangis tanpa henti-hentinya sedari tadi. Aku pun tak tahu apa yang dia mau.


‘’Sayang, diem ya, Nak. Mama nggak tahu apa yang kamu inginkan, udah Mama kasih ASI tapi kamu masih saja menangis,’’ lirihku menggendongnya sambil berdiri membawa turun dari ranjang.


Tapi tetap saja bayiku tak bisa diam. Atau karena pikiranku yang berkecamuk dan melayang memikirkan papanya?


‘’Monik, kenapa Rafi nangis terus?’’ suara yang tak asing lagi bagiku terdengar dari luar sana.


‘’Enggak tahu nih, Bi. Udah aku kasih ASI dan digendong juga, tapi tetap aja menangis,’’ sahutku yang masih menggendong bayiku.


Seketika pintu berderit dan terbuka.


‘’Ma’af Bibi langsung aja masuk, Bibi cemas dengan Rafi.’’ Dia bergegas menghampiriku.


‘’Nggak apa-apa, Bi.’’


‘’Ulaala! Sayang, diem ya Nak,’’ bujukku.


‘’Udah dikasih minyak kayu putih perutnya, Monik? Siapa tahu dia masuk angina.’’


‘’Udah, Bi. Bahkan udah tiga kali aku kasih.’’


‘’Coba sini Bibi yang gendong.’’ Aku memberikan bayiku kepada bibi.


Bibi seketika heran,’’Nah, ini dia bisa diam. Monik banyak pikiran kali.’’ Bibi menatapku. Dalam hati aku juga membenarkan ucapan bibi.


Aku mengangguk,’’Iya, Bi,’’ sahutku singkat dan menunduk.


‘’Anak kecil itu tahu apa yang dirasakan oleh Mamanya, kalo Mamanya banyak pikiran dia akan menangis saja,’’ jelasnya yang masih menggendong bayiku.


Bibi kembali menatapku,’’Ada masalah apa, Monik? Mas Andre buat ulah lagi?’’


Aku mengangguk secepatnya,’’Dia berubah lagi, Bi. Sering membentakku dan sampai sekarang juga belum pulang padahal hari udah sesore ini, biasanya dia selalu pulang cepat,’’ ucapku dengan nada bergetar.


‘’Ya Allah, Mas Andre kenapa kayak gitu ya. Kalian sebelumnya bertengkar?’’ Bibi menggeleng dan kembali bertanya.


‘’Nggak tahu, Bi. Dia marah-marah nggak jelas, awalnya cuman aku mau minta beliin skincare. Aku kira nggak akan kayak gini, aku mau memberanikan diri untuk meminta dibelikan karena kulihat dia udah berubah menjadi baik, Bi. Tapi ternyata begini,’’ jelasku panjang lebar. Dadaku terasa sangat sesak dan tangisanku seketika pecah.


‘’Astaghfirullah, Monik. Kamu yang sabar ya, do’akan selalu Mas Andre agar menjadi orang baik lagi. Bibi merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi nggak boleh terlalu dipikirkan.’’ Bibi memberiku senyum penguat.


‘’Lihatlah Rafi, apa Monik nggak kasihan dengannya? Kalo kamu terus saja kepikiran macam-macam akan berdampak pada Rafi.’’ Bibi memperlihatkan bayiku yang sudah terlelap, lalu berlanjut menatapku dengan tatapan sendu.


‘’Iya. Bibi benar banget. Makasih banyak ya, Bi.’’ aku menghapus air mataku berulang dengan kasar. Kuhembuskan napas pelan.


‘’Sama-sama, Monik. Kalo gitu biar Rafi ditidurkan di kamar Bibi aja ya, tenangkan dirimu dulu. Kebetulan Bibi udah selesai kerja.’’


Tanpa pikir lagi aku segera mengangguk,’’Sekali lagi makasih banyak, Bi.’’ aku mendekati bibi dan meraih punggung tangannya untuk takdzim, wanita itu membalasnya dengan mengelus punggungku pelan.


‘’Monik pasti kuat, Bibi yakin kamu adalah wanita kuat.’’ Bibi memberikan kekuatan kepadaku yang tengah rapuh. Aku merasakan sedikit lega di hati ini mendengar kata penguat dari beliau.


‘’Ta—tapi, apa nggak apa-apa, Bi?’’


Bibi menggeleng lalu tersenyum,‘’Nggak apa-apa, nanti kalo Bu Karni pulang biar Bibi yang bilang.’’ Seketika aku merasakan lega. Lalu mengangguk.


‘’Ya udah, Bibi bawa Rafi ke kamar dulu ya. Jangan cemas, Bibi jaga baik-baik kok kayak anak Bibi sendiri.’’ Bibi tersenyum padaku.


‘’Kamu tenangkan dirimu dulu ya dan jangan lupa selalu istighfar, ingat Allah agar hatimu tenang,’’ imbuh bibi kemudian. Aku kembali membalas dengan anggukan. Sedangkan beliau melangkah keluar dari kamar sembari menggendong bayiku. Aku kembali menghenyak di ranjang.


‘’Bibi bener, mungkin karena pikiranku yang nggak menentu membuat bayiku rewel,’’ lirihku.


Aku bangkit kembali menghampiri frenzeer dan meraih segelas minuman. Kuteguk pelan. Dan kembali meletakkan gelas kosong ke tempatnya. Aku melangkah dengan perlahan menuju sofa dan menghenyak di sana.


‘’Bagaimana aku nggak kepikiran coba, sedari pagi Andre keluar sampai sekarang nggak pulang-pulang,’’ gumamku lirih.


Kupandangi benda melingkar di dinding menunjukkan pukul 17.00, biasanya Andre selalu pulang dan menemuiku terlebih dahulu seberapa pun sibuknya dia, sekarang? Penyakitnya kumat lagi. Aku tak tahu apa yang ada dipikiran Andre. Kubaringkan tubuh sejenak ke sofa. Mungkin tubuhku perlu beristirahat sejenak, apalagi sejak tadi pagi bayiku rewel. Aku pun terlelap.


Suara ketukan pintu di luar sana membuatku membuka mata yang terasa sulit untuk dibuka.


‘’Bibi, masuk aja. Pintu nggak aku kunci kok,’’ sahutku dengan khas suara bangun tidur dan masih berbaring di sofa.


Pintu seketika berderit.


‘’Monik, gimana? Pikirannya udah tenangkan? Ini Rafi kayaknya haus deh,’’ kata bibi menghampiriku.


Dengan pelan aku duduk,’’Alhamdulillah udah kok. Makasih banyak ya, Bi.’’

__ADS_1


‘’Syukurlah, sama-sama. Bibi senang kok main dengan Rafi,’’ sahutnya sambil tersenyum.


‘’Ya udah, sini, Bi.’’ aku mengambil bayiku dari gendongan wanita separuh baya itu.


‘’Kalo ada apa-apa, atau Monik butuh bantuan panggil Bibi aja ya. Kalo malas ke bawah, kan nomor handphone Bibi ada sama kamu, tinggal tekan aja langsung terhubung deh,’’ katanya tertawa kecil. Aku mengangguk.


‘’Bibi ke bawah dulu dan jangan banyak pikiran lagi ya, Monik. Kasihan Rafinya,’’ imbuhnya kembali yang bangkit, aku kembali membalas dengan anggukan. Bibi berlalu pergi dari kamarku dan menutup pintu. Kutatap wajah mungil nan memerah itu dan kukecup keningnya.


‘’Mama sayang sama Rafi,’’ lirihku.


Aku bergegas memberikan ASI kepadanya.


Beberapa jam kemudian, bayiku sudah kembali tertidur pulas. Aku hanya mondar-mandir sembari menatap benda yang melingkar di dinding itu setiap pergantian jarumnya.


‘’Andre, kamu di mana sih? Kenapa nggak pulang jugak, udah jam 20.00 nih. Setidaknya kamu kasih kabar ke aku kalo kamu emang lembur kerja.’’ Aku masih mondar-mandir di ruang kamar sembari terus memandangi benda yang melingkar itu.


Ya, setidaknya Andre memberi kabar kepadaku jika dia benaran harus lembur kerja di kantor malam ini, agar aku tak mencemaskannya seperti ini. Tapi, apakah dia benaran berubah kembali?


‘’Atau jangan-jangan dia kembali berselingkuh dengan wanita pelakor itu?’’ aku kembali menghenyak keras di sofa. Kali ini pikiranku tak tenang. Amarahku sungguh berada di ubun-ubun. Ingin rasanya aku meluapkan semua amarahku ini.


‘’Aku harus tenang, aku nggak mau berimbas lagi ke bayiku. Kasihan dia.’’ Aku kembali mengingatkan diri sendiri. Kuhembuskan napas pelan agar sedikit lega dan hilang rasa amarah di dada.


‘’Oh iya, Mama ke mana ya? Seharian nggak ada Mama, biasanya Mama selalu ke kamarku untuk bermain bersama bayiku. Mama pergi ke mana? Tumben lama banget.’’


Biasanya Mama selalu menampakkan batang hidungnya, selalu menghampiri cucunya ke kamarku.


‘’Atau jangan-jangan?’’ aku bergegas meraih benda pipih dan menekan nomor kontak bibi.


Berdering


‘’Mudahan Bibi belum tidur,’’ lirihku pelan.


‘’Assalamua’alaikum. Monik, kok belum tidur?’’


‘’Wa’alaikumussalam, aku belum bisa tidur aja, Bi.’’


‘’Pasti kamu banyak pikiran ya. Nggak boleh gitu, kasihan bayinya.’’


‘’Ada yang perlu Bibi bantu?’’


‘’Oh, Bu Karni itu pergi tadi pagi katanya ada keperluan, Monik. Mungkin udah pulang kali, masa jam segini belum pulang.’’


‘’Ada keperluan?’’


‘’Iya, Monik. Begitu kata Bu Karni, sarapan aja nggak sempet saking buru-burunya.’’


“’Ya Allah, Mama ke mana ya? Aku takut kalo Mama ketemuan sama Papa, apalagi Papa kelakuannya segila itu,’’ gumamku merasa cemas.


‘’Monik?’’


‘’Eh, iya, Bi. Boleh nggak, aku minta tolong cek keberadaan Bu Karni ke kamarnya. Aku khawatir banget, Bi,’’ lirihku.


‘’Siap, Monik. Bibi cek dulu ya.’’


‘’Iya, Bi.’’ seketika bibi langsung menutup telepon. Aku meletakkan kembali benda pipih.


“Semoga Mama ada di kamarnya dan dalam keadaan baik-baik saja,’’ lirihku pelan dan kembali menghenyak di ranjang menunggu kabar selanjutnya dari bibi. Aku berusaha menepis semua prasangka buruk yang menghantui pikiranku.


Tak berselang lama. Benda pipih itu kembali berdering. Kuraih dan ternyata bibi.


‘’Gimana, Bi?’’


‘’Ada kok, Monik. Tadi Bibi ketuk pintunya, ternyata belum tidur. Bu Karni baru pulang katanya.’’


‘’Hah? Baru pulang? Habis dari mana Mama?’’ gumamku.


‘’Ta—tapi, Bu Karni baik-baik aja kan, Bi?’’


‘’Alhamdulillah, beliau dalam keadaan baik saja. Bibi yang lihat sendiri, Monik jangan khawatir ya.’’


‘’Alhamdulillah, kalo gitu, Bi,’’ ucapku bernapas lega.


‘’Iya, Monik. Istirahatlah, kan kamu sudah tahu keadaan Bu Karni. Nanti Rafi kebangun malah kamu nggak bisa tidur lagi.’’


Aku hanya terdiam saja. Bibi benar. Tetapi sekarang yang jadi buah pikiran olehku adalah Andre, sedari tadi pagi ke luar sampai sekarang tak kunjung kembali ke rumah. Aku sangat mengkhawatirkannya.

__ADS_1


‘’Monik?’’


‘’Mas Andre udah pulang kan?’’


‘’Itulah yang kupikirkan sejak tadi, Bi.’’


‘’Ya Allah, semoga Mas Andre baik-baik saja dan segera pulang malam ini. Do’akan saja Mas Andre ya, Monik. Jangan terlalu dipikirkan, nanti Rafi malah rewel lagi.’’


‘’Aamiin. Iya, Bi. Makasih banyak. Bibi istirahatlah. Assalamua’alaikum.’’ aku bergegas menutup kembali sambungan telepon.


Kembali meletakkan benda pipih itu. Kupandangi benda melingkar di dinding itu menunjukkan pukul 21.20. Ternyata baru tadi siang aku menyuap nasi pantas aja perutku terasa keroncongan. Aku terasa malas untuk melangkahkan kaki ke bawah. Apa minta tolong ke bibi saja ya? Kubergegas kembali meraih benda pipih.


‘’Iya, Monik?’’


‘’Ya Allah, ma’af banget ya, Bi. Aku nganggu Bibi lagi.’’


‘’Nggak apa-apa, kan Bibi udah bilang jika butuh apapun segera hubungi Bibi.’’


‘’Iya, Bi. Perutku tiba-tiba laper banget. Aku minta tolong untuk ngantarin makan ke atas ya, Bi.’’


‘’Siap, Monik. Menunya ditukar nggak nih? Supaya kamu nggak bosen.’’


Sejenak aku berpikir.


‘’Nasi goreng aja deh, Bi. Telurnya dadar tapi nggak usah terlalu mateng. Dan jusnya terserah Bibi aja.’’


‘’Oke, siap. Bibi bikini dulu ya, nggak lama kok.’’


‘’Oke, makasih, Bi.’’


Kembali kuletakkan benda pipih. Dan kutatap bayi yang tengah terlelap tidur. Raut wajahnya pas sekali mirip Andre. Apa anakku akan kehilangan kasih sayang papanya? Seharusnya seusia anakku sedang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kuelus kepala mungilnya dan menatap sendu.


‘’Mama akan mendidik kamu dengan baik, walaupun dulunya Mama bukan orang baik,’’ gumamku.


Sesaat kemudian..


‘’Monik!"


‘’Iya, Bi. Langsung masuk aja, pintu belum aku kunci kok.’’ Seketika pintu berderit dan terbuka. Tampak bibi tengah membawa nampan yang kukira berisi makanan untukku.


‘’Nasi goreng ala Bibi udah siap disantap nih.’’ Bibi tertawa pelan dan meletakkan di nakas.


‘’Makasih banyak ya, Bi. Udah mau direpotkan.’’


‘’Sama-sama, itu mah udah jadi tugas Bibi,’’ sahutnya tersenyum.


‘’Ya udah, Bibi ke bawah dulu ya. Langsung makan ya Monik, ntar kalo udah dingin nggak enak loh.’’ Aku mengangguk.


Bibi bergegas melangkah kembali dan menutup pintu pelan. Aku bangkit dan memaksakan agar bisa menyantap nasi goreng, walau selera tak ada sedikit pun. Ya, ini demi bayiku. Jika aku tak makan sedikit pun maka air ASI akan berkurang, kasihan bayiku. Kupaksakan menyuap nasi goreng dan menelannya dengan air. Sesaat kemudian, nasi goreng pun akhirnya tandas tak bersisa. Kubereskan seketika. Dan kembali menghenyak di ranjang. Kutatap benda yang melingkar di dinding itu.


‘’Pukul 22.00? Tapi sampe sekarang suamiku belum pulang.’’


Aku khawatir dengannya, apa salahnya dia menghubungiku terlebih dahulu. Ini tidak, sedari pagi tadi dia keluar dari rumah tak satu pun pesan yang kuterima darinya. Apa dia benar berubah kembali? Mengapa dahulunya mulutnya begitu manis, kata rayuan dan gombalannya setiap waktu terucap oleh bibirnya itu sewaktu aku dengan dia jadi kekasih tak halal. Aku sungguh lelah dengan semua ini. Begitu banyak ujian yang datang bertubi-tubi padaku.


‘’Ya Allah, aku ingin kembali ke jalan-Mu.’’


Bagaimana jika kuhubungi saja? Aku bergegas meraih benda pipih itu dan menekan nomor kontak Andre, tetapi nihil. Nomornya tak aktif. Aku benar tak habis pikir, ke mana sebenarnya dia? Kuhempaskan benda pipih ke kasur dan mengacak-ngacak rambutku frustasi.


‘’Ndre, kamu sebenarnya di mana sih? Kenapa nggak pulang-pulang.’’


Mataku terasa mengantuk, tetapi pikiranku melayang entah ke mana. Bagaimana bisa aku tidur jika seperti ini? Bagaimana mataku bisa terpejam jika dalam keadaan seperti ini? Tapi aku harus istirahat mumpung bayiku masih terlelap, jadi kesempatan besar untukku beristirahat. Nanti dia malah terbangun membuat aku tak bisa lagi untuk istirahat dan pasti aku akan begadang menemani bayiku. Ya, tubuh dan pikiranku butuh istirahat, aku tak mau jika nanti malah drop karena tak ada waktu untuk istirahatku. Aku harus memaksakan diri, bergegas aku merebahkan tubuh ke ranjang dan memaksakan mata untuk terpejam.


Aku kembali terbangun. Kuraba ranjang di sebelahku.


‘’Ya Allah, suamiku belum juga pulang?’’


Kupaksakan membuka mata untuk mengecek keberadaannya. Ternyata benar, hanya ada bayiku yang tengah terlelap. Allah, kenapa sampai sekarang dia tak kunjung pulang? Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja di sana? Atau dia tengah bersama wanita lain? Kupandangi benda melingkar di dinding. Sontak membuat aku terperanjat. Hatiku semakin tak enak dibuatnya. Ada apa ini? Kenapa hatiku terasa begini? Apa yang terjadi dengan suamiku di luar sana? Ya Allah, tolonglah aku hamba-Mu yang banyak dosa ini.


‘’Pukul 00.08? Apa aku salah lihat karena baru bangun tidur?’’ Aku mengusap bola mata dengan pelan dan terus memandangi benda yang melingkar itu, tetapi tetap saja jarum jam itu tak berubah sedikit pun.


‘’Kenapa kamu nggak pulang-pulang, Ndre. Aku dan anakmu menunggu di sini. Tolong berikan aku kabarmu,’’ kataku dengan suara bergetar, buliran air mata seketika menetes.


Bersambung.


Instagram: n_nikhe❤

__ADS_1


__ADS_2