Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
POV Ayu, Merencanakan Sesuatu


__ADS_3

‘’Aku yakin semua rencanaku akan berjalan dengan lancar dan sesuai yang kuinginkan. Lihat aja nanti, Ndre! Kamu belum tahu bagaimana aku sebenarnya. Aku nggak akan tinggal diam atas semua perlakuanmu terhadap sahabatku,’’ bisik hatiku sembari duduk santai ditemani secangkir teh panas.


Ya, sudah beberapa hari ini kubuat rencana dengan bantuan dari orang terdekatku. Aku yakin untuk kali ini rencanaku akan berhasil, dan Andre akan mau bertanggung jawab atas semua yang telah dilakukannya terhadap sahabatku. Aku tersenyum tipis lalu menyeruput secangkir teh yang masih tersisa. Lalu kuraih benda pipih itu.


Berdering.


‘’Assalamua’laikum! Kamu jadi kan melanjutkan rencana kita?’’ tanyaku.


‘’Wa’alaikumussalam! Jadi dong. Kamu jangan khawatir. Kan aku udah janji bakal membantu sampai masalah ini tuntas.’’ suara di seberang sana


‘’Alhamdulillah kalo begitu. Kuharap semuanya berjalan dengan lancar. Dan semuanya udah kamu persiapkan, Dion?’’


‘’Udah. Tapi udah kubilang, aku akan bantu semuanya sampai tuntas. Kamu jangan khawatir, oke? Nanti kuhubungi kembali, kita bareng aja ke sana.’’


‘’Makasih deh, Dion. Kamu memang sepupuku yang paling baik sedunia.’’ aku terkekeh, bergegas menutup telepon.


Ya, Dion adalah sepupuku. Anak dari bibi, sekaligus juga teman sekelasku. Sudah beberapa hari ini dia ikut andil dalam menyusun semua rencanaku. Rasanya aku beruntung punya sepupu seperti Dion. Dan aku merasa tak sabar menjalankan rencanaku kembali. Kuletakkan benda pipih itu di saku-saku. Lalu bergegas ke kamar untuk bersiap-siap. Seketika langkahku terhenti.


‘’Mau ke mana Non?’’ tanya wanita separuh baya itu yang berpakaian seragam.


‘’Ada keperluan, Bi. Bunda mana?’’


‘’Ibu sedang menemani Bapak meeting di luar. Tadi Ibu berpesan supaya Non membantu Bibi menyiapkan makan siang. Biasanya kan Bibi berdua dengan Ibu karena Bibi masih demam makanya Ibu menyuruh berdua dengan Non, tapi kalau Non ada keperluan. Nggak usah aja deh.’’


‘’Tumben Bunda menemani Ayah. Ahh! Gimana ini? Aku juga harus pergi sebentar. Nggak mungkin aku menunda rencanaku ini,’’ batinku masih bergeming.


‘’Non!’’ panggil bibi mampu membuyarkan lamunanku.


‘’Eh, iya, Bi. Gini aja deh. Ayu bantu sebentar aja ya atau kita pesan aja makanan di luar. Gimana, Bi?’’ usulku.


‘’Apa Non yakin?’’ tanya bibi dengan kening mengernyit.


‘’Yakin, Bi. Nanti biar Ayu yang bilang sama Bunda dan Ayah, kalo Ayu ada keperluan di luar.’’ Aku mengangguk secepatnya. Dan berusaha meyakinkan bibi.


‘’Tapi, Bibi nggak usah masak lagi ya. Biar kita pesan aja. Bibi istirahat aja di kamar,’’ tambahku.


Bibi Ningsih, baru sebulan ini bekerja sebagai ART di rumahku. Dan beberapa hari ini dia sedang tak enak badan. Makanya aku dan bunda yang membantu memasak. Biasanya kalau dia dalam keadaan sehat, maka semua tugas rumah begitu cepat dan bagus dikerjakannya. Dan karena hari ini bunda pergi meeting bersama ayah makanya aku yang disuruh menggantikannya, tetapi aku pun harus pergi ke luar untuk menjalankan semua rencanaku. Tak mungkin aku akan mengundurkan dan menggagalkan begitu saja semua rencana yang telah kurancang sebelumnya.


‘’Iya, Non,’’ jawabnya singkat.


‘’Sebentar, Bi.’’ Aku meraih benda pipih dan menekan nomor seseorang.


‘’Assalamua’laikum. Mba, saya mesan sambal yang lengkap dengan nasinya ya. Langsung diantar nanti saya kirimkan alamatnya.’’


‘’Wa’alaikumussalam, maksudnya semua jenis sambal gitu, Mba?’’ suara seseorang di seberang sana.


‘’Iya, Mba,’’ sahutku kemudian.


‘’Oke, Mba. Akan kami persiapkan dulu,’’ jawabnya di seberang sana, lalu telpon pun terputus.


Bibi Ningsih tampak heran,’’Banyak banget itu Non.’’

__ADS_1


‘’Nggak kok, Bi. Nanti Bibi antar aja ke tetangga kita ya?’’ Aku tersenyum, sembari memasukkan benda pipih itu ke saku.


Ya, biasanya jika bibi masak sangat banyak maka akan kami bagikan ke tetangga sebelah rumah. Prinsip keluargaku, harus berbagi ke tetangga yang membutuhkan. Karena di dalam rezeki kita terdapat rezeki orang lain di dalamnya, terkadang banyak yang tak diketahui oleh orang-orang, akan hal ini. Dan berbagi pun tak kan membuat kita rugi di dunia bahkan di akhirat, di dunia Allah akan mempermudahkan rezeki dan di akhirat akan dilipatgandakan pahalanya, menjadi tabungan di akhirat kelak jika kita ikhlas.


‘’Dan ini uangnya, Bi.’’ Aku menyodorkan beberapa lembar uang kertas ratusan.


‘’Ini malah kebanyakan, Non,’’ lirih bibi memandangi uang yang baru saja diambilnya.


‘’Nggak apa-apa, Bi. Sisanya ambil aja untuk Bibi ya? Ayu ke kamar dulu mau siap-siap.’’


‘’Ya Allah. Baik banget, Non. Makasih deh. Semoga dapat jodoh yang sholeh dan ganteng.’’ Bibi Ningsih tampak sumringah sembari memandangi uang yang tengah digenggamnya.


‘’Aaamiin. Bibi ada-ada aja.’’ aku menggeleng dan tertawa kecil. Lalu melangkah ke kamar.


Beberapa jam kemudian, aku telah selesai bersiap-siap dan melangkah keluar dari kamar.


‘’Bi, Ayu berangkat dulu. Nanti kalo Bunda dan Ayah datang bilang aja ada keperluan di luar ya, Bi,’’ teriakku karena Bibi tengah berada di belakang.


‘’Iya, Non. Hati-hati bawa mobilnya. Jangan lama ya, Non?’’ sahut bibi dari belakang.


Aku melangkah ke garasi, lalu menaiki mobil dan menghidupkan mesinnya. Seketika benda pipih itu kembali berdering.


‘’Assalamua’laikum. Yu, kamu udah di mana nih? Aku udah menunggu di depan jalan nih, jalan ke rumahku.’’


‘’Wa’alaikumussalam, Dion! Sabar dulu napa. Nih aku mau ke sana. Udah dulu ya, nggak fokus aku nyetir nih.’’ aku memutuskan komunikasi dengan Dion, lalu kembali fokus menyetir.


Ya, aku harus berusaha membantu sahabatku. Walaupun dia hamil di luar nikah, tetapi itu semua adalah ulah Andre, kekasihnya itu. Karena cinta membuat dia buta dan menyerahkan segalanya. Aku teringat ketika aku melarang Monik berpacaran dengan Andre, hingga membuat dia menjauhiku, dia bilang kalau aku iri dengan hubungannya yang begitu romantis.


Beberapa menit kemudian, mobilku sudah sampai di depan jalan yang tak begitu jauh dari rumah Dion. Tampak Dion dan dua orang lelaki berpakaian polisi sudah berdiri menunggu kedatanganku. Aku menepikan mobil. Lalu bergegas turun.


‘’Ihh, lama banget sih, Yu!’’ kesal Dion.


‘’Apaan sih! Namanya juga perempuan. Ya, dandan dulu lah.’’ Aku terkekeh.


‘’Eh, Bapak Dani dan Bapak Tono.’’ Aku menyapa dua orang yang berpakaian polisi itu, beliau hanya mengangguk dan tersenyum ramah. Ini semua pasti rencananya Dion, sebelumnya juga atas usulanku.


‘’Kita langsung berangkat!’’ Dion melirik benda yang melingkar di tangannya itu. Kami bergegas menaiki mobil, kali ini Dion yang menyetir.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil kami memasuki komplek perumahan elite. Kami segera turun dari mobil. Dan bergegas mengetuk pintu rumah yang kelihatan sangat mewah itu. Tak lama kemudian seorang lelaki membukakan pintu dengan wajah kaget.


‘’A—ada apa ini?’’ tanya Bagas dengan tenggorokan tercekat.


‘’Andre mana?’’ tanya Dion to the point dengan nada suara naik dan tak menjawab menggubris pertanyaan Bagas.


‘’Apa maksud loh? Andre nggak ada di sini!’’ ketusnya dengan gelagapan.


‘’Kamu jangan bohong! Katakan di mana Andre, atau kamu yang akan dipenjarakan!’’ ancam Dion.


‘’Ja—jangan dong. Sebentar-sebentar gue panggilkan.’’ Dia bergegas ke dalam rumah.


Sesaat kemudian..

__ADS_1


‘’Apaan sih loh, mau ngapain pake memegang tangan gue segala—’’ pembicarannya terhenti seketika memandangi aku, Dion dan dua orang polisi yang berdiri di ambang pintu.


‘’A—apa maksudnya ini?’’ tanya Andre gelagap, tampak keringat sebesar biji jagung sudah menetes di wajahnya.


‘’Anda kami tangkap, karena terbukti mempe*kosa Monik!’’ ketus pak polisi.


‘’Dan ini buktinya.’’ Dia menyodorkan benda pipih itu ke Andre yang sudah tayang sebuah video, terlihat di sana semua yang dilakukan olehnya di hotel seketika itu.


Ya, semua itu atas rencanaku dan Dion. Untung saja ada dua camera CCTV di kamar hotel itu, Andre ternyata tak tahu dan dia hanya merusak satu CCTV saja, hingga satu lagi ketinggalan dan terekam semua kelakuan bejad Andre di sana, walaupun sebelumnya pihak hotel tak memberi izin untuk memberikan dan memperlihatkan camera CCTV, dengan alasan katanya mereka tak mungkin membeberkan kisah suami istri yang tengah bercinta.


Ya, ternyata pihak hotel sudah dibohongi oleh Andre, mereka mengatakan kalau Andre dan Monik adalah sepasang suami istri. Sungguh keterlaluan si Andre! Bisa-bisanya dia membohongi pihak hotel. Dan untung aku punya seribu cara agar bisa mendapatkan bukti itu, tentu atas bantuan sepupuku juga.


‘’Kok bisa? Padahal udah—‘’ teriaknya dengan tampang pucat pasi.


‘’I—itu bukan aku!’’ teriaknya kembali. Aku tersenyum sinis.


‘’Kamu ngaku aja deh, Ndre! Kamu nggak bisa ngelak lagi. Atau kamu mau membekam di penjara atau—’’ aku kembali tersenyum sinis.


‘’Ngaku aja deh, Ndre! Gue capek menampung loh di sini!’’ ketus Bagas.


‘’Gu-gue memang pelakunya dan gue mau bertanggung jawab, tapi kalian jangan mencobloskan gue ke penjara! Gue nggak mau di penjara.’’ Akhirnya nih orang mengaku.


‘’Dengan perjanjian, anda mau bertanggung jawab! Kalau nggak tanggung akibatnya!’’ ancam pak Polisi.


‘’Oke, saya akan bertanggung jawab. Saya akan pulang ke rumah.’’ katanya pelan, bicara dengan lelaki berseragam itu membuat dia merendahkan suaranya.


‘’Akhirnya kata-kata yang kuingankan keluar dari mulut Andre keluar juga,’’ batinku tersenyum sinis.


‘’Apa perlu kami antar?’’ tanya kedua lelaki yang berseragam itu.


‘’Nggak, nggak perlu. Saya bisa sendiri!’’ kesalnya dan bergegas melangkah keluar dari pekarangan rumah Bagas.


‘’Woii! Apa loh nggak mau ucapin terima kasih dulu sama gue nih!’’ teriak Bagas.


‘’Tahu ah! Terserah loh aja deh. Gue mau pulang!’’


‘’Barang-barang loh nggak dibawa nih, gue buang aja ya!’’ teriak Bagas kembali. Membuat aku tertawa kecil.


‘’Terserah!’’ sahutnya kesal dan tak menoleh sedikit pun.


Kami terkekeh dan saling pandang satu sama lainnya.


Bersambung.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Oh iya, jika ada yang komen dan menantikan lanjutan ceritanya akan aku usahakan update 2 bab setiap harinya, tapi dengan syarat harus komen dan membaca setiap kali aku update ya. Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.


See you next time!❤


Instagram: n_nikhe

__ADS_1


__ADS_2