Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Kembali Ke Orang Tua


__ADS_3

‘’Ma!’’ Hanya kata itu yang terucap di bibirku, di sela isakan tangis. Mama tampak semakin cemas dan bayiku yang tengah terbangun pun ikut menangis.


‘’Nak, ayo masuk dulu ke dalam. Kasihan bayimu dan malu kalo tetangga ngelihat kita,’’ lirih mama.


Aku mengangguk dan berusaha untuk menyeka buliran air mataku namun tetap saja mengalir terus. Mama mengambil Rafi dari gendonganku lantas membawa ke dalam rumah, aku mengikuti langkah mama yang masih terisak-isak. Rumah baru yang ditempati kedua orang tuaku tampak begitu luas hingga untuk menuju ke ruang keluarga pun beberapa menit baru tiba di sana.


Mama membawa Rafi ke kamar dan aku menghenyak di sofa ruang keluarga. mama melangkah ke tempatku lantas duduk di sampingku. Aku kembali memeluk mama tangisanku kembali pecah.


‘’Ya Allah, ada apa sebenarnya, Nak? Cerita ya, kalo kayak gini Mama nggak akan tahu apa yang terjadi denganmu,’’ lirih mama mengelus punggungku.


‘’Andre men—menceraikanku,’’ ucapku terbata di sela isakan tangis. Sontak membuat mama terperanjat kaget seketika.


‘’Apaa? Kenapa, Nak?’’ Mata mama tampak membulat. Beliau melepaskan pelukan dariku.


‘’Kamu cerita, Nak. Kenapa dia menceraikan kamu?’’ Mama tampak menahan amarahnya.


‘’Ka—katanya dia udah enggak cinta lagi sama aku,’’ sahutku seadanya.


‘’Astaghfirullah ‘al adziim, bukannya dia dulu mencintai kamu. Dasar lelaki! Kenapa malah sekarang dia bilang enggak mencintai kamu.’’


‘’Katanya itu dulu, Ma. Beda dengan sekarang.’’


‘’Ini nggak bisa dibiarkan, kamu udah dibuatnya hamil di luar nikah! Sekarang malah seenaknya dia bicara kayak gitu! Mama harus kasih pelajaran tuh orang!’’ Kali ini mama sungguh marah, tak bisa lagi menahan amarahnya dan bergegas bangkit. Namun, aku menahan mama dengan menarik tangannya.


‘’Ma, Mama mau ke mana? Dia sudah menceraikan aku dan itu udah diucapkannya, Ma. Lagian dia juga udah pergi dari rumahnya.’’


‘’ Jangan kamu halangi Mama. Mama mau ke rumah orang tuanya. Mama mau minta pertanggung jawaban dari orang tuanya, kenapa dia nggak mendidik anaknya dengan baik!’’ Wanita yang melahirkanku Sembilan belas tahun nan lalu itu tampak mukanya memerah. Beliau bergegas melangkah kembali namun aku menghalangi dengan memegang kakinya erat.


‘’Ma, aku mohon. Mama tenang dulu ya.’’


‘’Gimana Mama mau tenang, hah? Kamu diperlakukan kayak gini, orang tua mana yang akan sabar diperlakukan anaknya kayak begini!’’


‘’Ma, aku tahu itu. Tapi, nasi sudah jadi bubur dan Andre nggak akan mungkin rujuk lagi dengan aku karena dia udah mengucapkan talak tiga ke aku. Dan aku capek disakiti terus, Ma.’’


‘’Apa? Talak tiga?’’ Membuat mama terperanjat kaget.


Ya, aku pernah mendengar kalau suami sudah menjatuhkan talak tiga pada istrinya. Maka tak ada lagi kesempatan untuk rujuk, kecuali si wanita menikah dengan lelaki lain terlebih dahulu dan baru bisa rujuk kembali dengan mantan suaminya. Namun, aku belum begitu banyak ilmu pengetahuanku tentang talak ini dan rencananya aku akan bertanya pada ustadz atau orang-orang yang punya ilmu luas tentang talak ini agar aku tak keliru nantinya. Tapi, sejujurnya aku sekarang ingin fokus untuk membesarkan anakku dulu.


‘’Jadi kamu selama ini disakiti oleh laki-laki brengsek itu, kenapa kamu nggak pernah cerita ke Mama, kenapa?’’ Mama kali ini mengguncangkan tubuhku.


Aku mengangguk pelan,’’Aku nggak mau Mama dan Papa kepikiran masalah rumah tanggaku.’’


‘’Ya Allah, Nak. Nggak kayak gitu juga. Sudah seharusnya kamu cerita ke Mama sama Papa, bukan memendam sendiri masalahmu.’’ Mama tampak marasa kecewa. Buliran air mata membasahi pipinya yang mulai keriput.


‘’Ma’af, Ma. Ma’af, tapi aku takut jadi beban pikiran sama Mama dan Papa.’’ Aku meraih tangan mama dan memegang jemarinya.


‘’Sayang, itu nggak alasan kalo menurut Mama. Bagaimana pun juga Mama dan Papa tetap harus tahu masalahmu, nggak mungkin kamu menanggung sendiri apalagi di usiamu yang sangat muda berumah tangga.’’ Mama menatapku sendu dan menyeka buliran air mataku.


‘’Iya, Ma. Ma’afkan aku,’’ lirihku.


’’Lain kali kamu jangan memandam masalahmu sendiri ya, Nak.’’ Aku membalas dengan anggukan.


‘’Ma, soal Andre menceraikan aku. Aku akan berusaha untuk menerimanya.’’ Akhirnya kata-kata yang sulit untuk terucap keluar dengan spontan. Mama tampak heran menatapku.


‘’Bukannya kamu mencintainya?’’ tanya mama seketika dan menelusuri wajahku.


‘’Cinta akan pudar ketika sering disakiti, Ma. ‘’ Jawabanku mampu membuat mama termangu.


‘’Kamu memang benar, Nak. Ini adalah yang terbaik untukmu. Lelaki kayak Andre nggak pantas untuk diperjuangkan. Dan kamu berhak untuk bahagia.’’ Mama tampak bernapas lega dan memberi penguat untukku. Ya, beliau tampak mulai tenang sekarang.


‘’Iya, Ma. Dan juga mungkin ini semua adalah balasan untukku, aku yang begitu mudah mencicipi kemanisan yang bersifat sesaat saja dan begitu mudah termakan rayuan syetan.’’


‘’Alhamdulillah, sekarang kamu mulai sadar, Nak. Ma’afkan Mama yang lalai dalam mendidikmu, ma’afkan Mama dan Papa yang sibuk bekerja dibandingkan mendidikmu.’’ Suara mama kali ini bergetar hebat dan air matanya kembali menetes di pipi yang mulai berkerut itu. Aku menggeleng secepatnya.

__ADS_1


‘’Nggak, Ma. Mama dan Papa nggak salah kok, malahan di waktu yang begitu sibuk selalu menyempatkan diri untuk menasehati dan mengajarkan aku hal-hal baik, akulah yang nggak mendengarkan nasihat Papa dan Mama. Aku yang terlalu keras kepala.’’ Tanganku terangkat menyeka buliran air mata mama.


‘’Ma’afkan aku, Ma. Aku banyak dosa sama Mama dan Papa,’’ lirihku kembali. Buliran air mata tak henti-hentinya berjatuhan di pipiku.


‘’Mama dan Papa sudah mema’afkanmu, bahkan sebelum kamu minta ma’af. Monik belum terlambat bertobat kok, Allah Maha Pengampun tetapi jangan diulangi lagi dosa yang sudah dibuat.’’


‘’Alhamdulillah, makasih banyak, Ma. Bantu dan bimbing aku agar bisa menjadi lebih baik lagi ya.’’ Seketika ada rasa lega muncul di hati ini. Mama mengangguk lantas tersenyum.


‘’Sama-sama, Mama akan bimbing kamu semampu Mama.’’


‘’Kamu harus tetap kuat, tabah, dan tetap semangat ya, Sayang. Apalagi sekarang kamu sudah punya Rafi. Jaga, sayangi dia dan didik dia dengan baik. Mama akan membantu mendidik dan menjaga Rafi.’’


‘’In syaa Allah, Ma. Makasih banyak sekali lagi, aku beruntung banget punya Mama dan Papa. Ma’afkan aku yang belum bisa membahagiakan Mama dan Papa.’’


‘’Sama-sama, Sayang. Senyum dulu dong, dari tadi menangis terus.’’ Mama mengangguk dan tampak menyeka buliran air matanya lantas tersenyum kepadaku. Aku menyeka buliran air mataku dan mencoba untuk tersenyum.


‘’Nah, gitu dong, Sayang.’’ Mama kembali merangkulku.


‘’Kamu istirahat dulu ya, Rafi udah tertidur kok di kamar.’’


‘’Iya, Ma. Papa ke mana ya? Kok dari tadi aku nggak ngelihat Papa. Ah, aku sampe lupa nanyain Papa.’’


‘’Papa kerja seperti biasanya. Kamu harus istirahat dulu, pasti capek kan?’’ Aku mengangguk.


‘’Aku istirahat dulu ya, Ma.’’


Mama membalas dengan anggukan lantas tersenyum. Perlahan aku melangkah menuju kamar dan membawa koperku yang sejak tadi kubiarkan terletak saja. Sudah dua kamar yang kubuka namun tak ditemukan Rafi tertidur di sana. Kubuka kembali kamar paling ujung. Nah, ternyata di sana bayiku ditidurkan oleh mama.


Ya, maklumlah aku baru saja menginjakkan kaki di rumah ini. Apalagi kamarnya begitu banyak. Aku bergegas memasuki kamar dan menutupnya. Kuletakkan koper. Tampak bayiku masih terlelap tidur. Kubaringkan tubuh yang terasa penat. Seketika benda pipihku berdering.


‘’Di mana bunyinya ya?’’ Aku bergegas duduk dan mencari di mana sumber bunyinya.


‘’Oh iya, aku sampe lupa. Kan tadi aku letakkan di saku-saku koper.’’ Aku menepuk kening pelan dan bergegas membuka resleting koper bagian luarnya.


Kupandangi layar ponselku yang tertulis ‘’Mama Mertua’’ di sana. Ya, sekarang beliau bukan mama mertuaku lagi. Hatiku sedih menatap nama kontak yang kutuliskan beberapa bulan yang lalu. Aku bergegas menghidupkan paket data dan membuka aplikasi hijau itu. Kupandangi beberapa pesan yang masuk.


‘’Mama Karni lagi? Foto? Foto apa?’’ Aku bergegas membuka pesan dari mama Karni. Alangkah kagetnya aku memandanginya.


‘’Surat warisan dari Mama untuk bayiku? Aku pun kurang mengerti mengenai warisan ini.’’ Mataku melotot dan mulutku terpenganga dibuatnya. Di sana menyatakan kalau mama memberikan warisannya separuh untuk cucunya. Ya Allah, Alhamdulillah. Tapi ini sungguh banyak sekali. Uang yang baru dikasih mama Karni saja belum kupakai sepersen pun dan itu jumlahnya juga cukup banyak.


‘’Assalamua’alaikum. Ma’af pesan Mama baru aku baca. Mama beneran mau ngasih sebanyak itu? Mama juga lebih butuh biaya, Ma.’’ tulisku di aplikasi hijau dan mengirimkan ke mama. Tampak centang berwarna hitam bergaris dua, tak berselang lama berubah berwarna biru pertanda mama sudah meread pesanku.


‘’Wa’alaikumussalam, Monik. Nggak apa-apa. Mama beneran, Mama udah memikirkan matang-matang sebelumnya. Kamu jangan khawatir ya, Nak. Alhamdulillah Mama banyak rezeki diberikan oleh Allah. Kamu malahan yang butuh biaya banyak apalagi kamu punya Rafi, itu udah jadi tanggung jawab Mama karena Andre pasti nggak akan bertanggung jawab. Mama mohon diterima ya dan itu juga bisa buat tabungan untuk Rafi nantinya.’’ Aku sungguh terharu membaca balasan pesan dari mama Karni, seketika membuat aku meneteskan air mata.


‘’Ya Allah, Alhamdulillah kalo begitu, Ma. Makasih banyak, Mama baik banget dan semoga Allah membalas semua kebaikan Mama. Aku sayang banget sama Mama. Sehat selalu ya.’’


‘’Sama-sama, Sayang. Mama senang bisa membantu cucu Mama dan juga kamu, aamiin. Semoga kamu sehat selalu juga ya. Mama juga sangat menyayangimu. Ya udah, Mama istirahat dulu ya. Assalamua’alaikum.’’ Aku menyeka buliran air mataku dengan perlahan.


‘’Iya, Ma. Wa’alaikumussalam.’’ Aku kembali meletakkan benda pipih di nakas.


Aku membaringkan tubuh kembali. Tak berselang lama benda pipih kembali berdering. Dengan pelan aku bangkit dan meraihnya. Kutatap layar ponsel.


‘’Ayu? Ya Allah, aku sampe lupa ngasih kabar ke Ayu.’’ Aku menepuk kening pelan. Ya, pasti Ayu tengah mencemaskanku karena tak memberi kabar padanya.


‘’Assalamua’alaikum, Yu.’’


‘’Wa’alaikumussalam, Monik. Udah lama nggak ada kabarmu. Kamu apa kabar?’’


‘’Eh, iya, Yu. Alhamdulillah, kabarku baik dan sehat. Kamu gimana? Sehat-sehat aja kan? Ayah sama Bunda?’’


‘’Syukurlah kalo gitu, aku Alhamdulillah baik dan sehat juga. Ayah sama Bunda Alhamdulillah sehat. Oh ya, Rafi gimana? Sehat kan?’’


‘’Alhamdulillah, Yu. Rafi juga sehat.’’

__ADS_1


‘’Aku seneng mendengarnya. Ma’af aku belum bisa main ke rumah Mertuamu. Oh ya, Andre gimana? Dia nggak kasar lagi sama kamu kan?’’


Jleb! Ya Allah. Aku tak mampu lagi berucap. Sesaat aku hanya terdiam saja. Apa yang harus kujawab ya? Apa aku ceritakan saja pada Ayu?


‘’Ya, Ayu berhak tahu semuanya. Dia adalah sahabatku, biar aku juga lega,’’ gumamku seketika.


Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Ayu hingga membuat dia kaget.


‘’Ya Allah, astaghfirullah ‘al adziim. Kenapa kamu nggak bilang dan nggak cerita ke aku, Monik. Kenapa baru sekarang? Andre sungguh keterlaluan!’’ Terdengar suara Ayu kesal di seberang sana.


‘’Ma’af, Yu. Aku segan dan malu rasanya, udah sering ngerepotin kamu. Dan mungkin ini yang terbaik untukku,’’ jawabku lirih.


‘’Ya Allah, kamu kayak nggak kenal aku aja. Kita udah lama bersahabat, kok kamu malah bilang kayak gitu?’’


‘’Kamu benar, Monik. Mungkin ini yang terbaik untukmu. Lelaki kayak Andre nggak sepatutnya bisa dipertahankan, yang ada kamu akan tersakiti terus dan makan hati dibuatnya,’’ imbuh Ayu di seberang sana.


‘’Kamu pasti kuat dan bisa melewati ini semua. Aku yakin itu dan kamu belum terlambat untuk bertobat. Anggap ini ujian, teguran, dan balasan atas semua yang kamu lakukan. Allah menegurmu agar kamu kembali ke jalan-Nya.’’


‘’Mudahan aku kuat dan bisa melewati ini semua, Yu. Kamu bener banget, Allah menegurku dengan cara-Nya. Dan aku nggak pernah peka atas teguran yang selama ini diberikan oleh Allah. Bantu aku agar bisa berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.’’


‘’Aamiin Ya Robbal ‘aalamiin. Kamu pasti bisa, semangat selalu ya. Aku akan bantu semampuku.’’


‘’Oh ya, Pak Ardi kena tangkap, apa kamu udah tahu beritanya?’’ tanya Ayu seketika.


‘’Iya, Yu. Aku ngelihatnya di TV, entah kenapa aku kepengen nonton hari itu dan aku kaget memandangi Papa Ardi yang sedang ditangkap polisi karena punya hutang 2 Millyar.’’


‘’Oh ya? Kalo aku diceritain sama Ayah, Ayah tahu itu karena temen kantor Ayah cerita dan beritanya itu udah tersebar ke mana-mana. Kok sebanyak itu hutangnya ya? Apa untuk selingkuhannya kali ya.’’ Membuatku terheran dengan ucapan Ayu barusan. Berarti beritanya sudah tersebar ke mana-mana.


‘’Ya Allah, udah banyak yang tahu berarti ya, Yu. Selingkuhan? Dari mana kamu tahu, Yu?’’


‘’Iya, Monik. Ayah cerita kalo Pak Ardi itu ternyata punya selingkuhan dan itu udah ketahuan sama istrinya, makanya istri Pak Ardi secepatnya merebut perusahaan itu dari tangan suaminya.’’ Membuat mulutku terpenganga. Aku yang tinggal di sana saja tak banyak tahu menahu soal itu. Lah, Ayu yang jauh saja bisa tahu?


‘’Ya Allah, iya, Yu. Tapi untung saja Mama bisa merebutnya kembali,’’ jawabku bernapas lega.


‘’Alhamdulillah iya, Monik. Nah, pantes aja Andre kayak gitu sifatnya. Ternyata sifat Pak Ardi yang menurun,’’ ucapnya kembali.


‘’Iya, Yu. Kamu bener banget.’’


‘’Nggak apa-apa, sudah seharusnya kamu melepaskan dia. Dan jangan ulangi kesalahan yang sama, jangan ulangi dosa yang sama. Berniatlah untuk berubah menjadi lebih baik lagi dan didiklah Rafi dengan baik. Aku yakin kamu pasti bisa.’’


Membuat aku merenung sejenak. Ya, ucapan Ayu mampu membuatku merenung. Mampu menerobos relung hatiku ini, hatiku semakin kuat dan tergerak untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Inikah yang dinamakan hidayah?


‘’Makasih banyak, Yu. In syaa Allah, bantu do’akan aku ya. Ya Allah, aku memang beruntung banget punya sahabat sebaikmu, sahabat yang selalu mengajakku pada jalan-Nya. Ma’afkan aku yang nggak mendengarkan nasihatmu dulu, aku bener menyesali perbuatanku,’’ lirihku tanpa kusadari buliran air mata kembali menetes.


Ya, dahulu aku tak begitu dekat dengan Ayu karena dia dulu pernah melarangku untuk pacaran dan selalu mengingatkan aku ke hal-hal baik. Ternyata yang dikatakan Ayu benar adanya dan yang dicemaskan Ayu benar terjadi pada diriku. Ternyata inilah yang dinamakan sahabat sebenarnya, sahabat sejati until jannah. Sekarang aku baru merasakan, aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Ayu yang jarang didapatkan oleh orang lain. Seharusnya aku sangat beruntung punya sahabat seperti Ayu.


‘’Sama-sama, Monik. In syaa Allah aku bantu dengan do’a juga ya. Nggak apa-apa kok, Monik. Seharusnya aku yang salah, aku yang nggak terlalu merhatiin kamu hingga begini jadinya. Ma’afkan aku ya.’’


Ya Allah, apa? Ayu masih saja merasa bersalah? Padahal dia selalu mengingatkan aku, selalu menasehatiku. Aku saja yang keras kepala dan tak mau mendengarkan nasihatnya, hatiku yang keras dan sulit menerima kebenaran. Ayu sungguh baik sekali dan dia memiliki hati yang mulia. Aku tak pernah menemukan insan sebaik dan sesholehah dia ini. Semoga dia mendapatkan pasangan yang sholeh dan baik seperti dia nantinya.


‘’Ya Allah, aku yang minta ma’af banget. Aku yang keras kepala dan nggak mau mendengarkan nasihat kamu,’’ lirihku merasa bersalah. Terdengar olehku suara ayahnya Ayu memanggil di seberang sana.


‘’Pokoknya aku pun yang lalai dalam mengingatkanmu, aku nggak terlalu merhatiin kamu. Buktinya terjadi hal yang nggak diinginkan. Oh ya, udah dulu ya, Monik. Ma’af, Ayah memanggilku. Tetap kuat dan semangat ya. Assalamua’laikum.’’ Sambungan telepon pun terputus. Ponselku masih kupegang di tangan, seketika aku merenung kali ini lebih lama.


Bersambung..


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.


Terima kasih banyak buat Readers yang masih setia membaca novel ‘’Kemanisan Sesaat’’ walaupun Author sering nggak update, tapi kalian tetap menunggu lanjutan ceritanya. Ya, itu karena Author yang sering sakit akhir-akhir ini.


**Dan sekarang Alhamdulillah udah lumayan membaik berkat do’a kalian. Mohon supportnya ya dengan cara like, vote, komen dan share. Dan juga ikutin cerita ini sampe ending. Oke, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


See you next time**.❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2