Kemanisan Sesaat

Kemanisan Sesaat
Selingkuh?


__ADS_3

‘’Bi, Bibi tahu ke mana Pak Ardi?’’ aku menghampiri bibi ke dapur. Tampak dia tengah beberes dan memberhentikan pekerjaannya seketika.


‘’Emang kenapa, Monik?’’ tanya bibi Ningsih kembali tanpa menjawab pertanyaanku.


‘’Selama aku di sini aku nggak ada ngelihat beliau, Bi. Dan di hari pernikahanku juga nggak hadir,’’ jelasku. Ya, hingga sekarang selalu terpikir olehku. Ke mana sebenarnya papa mertuaku itu?


‘’Itulah. Sehari sebelum Monik ke sini ada pertengkaran hebat.’’


‘’Apa, Bi? Maksud Bibi, Ibu dan Pak Ardi bertengkar?’’ sontak membuat kukaget seketika. Tapi kenapa mama tampak terlihat baik-baik saja selama ini.


Wanita separuh baya itu mengangguk secepatnya.


‘’Kenapa, Bi? Gara-gara aku?’’


‘’Iya kayaknya, Monik. Tapi ada masalah yang lebih besar lagi.’’


Aku semakin penasaran dan kaget mendengar penjelasan dari bibi kali ini.


‘’Apalagi itu, Bi?’’


‘’Monik, ikut ke kamar Bibi ya,’’ ajaknya sembari bergegas melangkah. Tanpa berpikir lagi aku mengikuti langkah bibi. Dibukanya dengan pelan pintu kamarnya.


‘’Ayuk masuk, Monik,’’ lirihnya pelan. Aku memasuki kamarnya tanpa berpikir lagi.


‘’Duduk sini.’’ Dia menepuk kasur empuknya.


‘’Bibi takut kedengaran sama Bu Karni, jadi ma’af kalo Bibi bawa ke sini. Pasti Monik bingung tadi kan?’’


Aku mengangguk.


‘’Iya, Bi. Aku paham kok, nggak apa-apa, Bi.’’


‘’Masalah besar apa itu, Bi?’’ tanyaku kembali.


‘’Pak Ardi ketahuan selingkuh.’'


‘’Apa? Se—selingkuh?’’ aku benar-benar terperanjat seketika, kubungkam mulut dengan telapak tanganku.


‘’Huush! Jangan keras suaranya, Monik. Nanti malah Bibi kena marah lagi,’’ kata bibi sembari meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


‘’Aduh! Ma’af, Bi. Habisnya aku kaget, jadi beneran Pak Ardi selingkuh? Bibi tahu dari mana? Mana mungkin deh, Bi. Atau Bibi salah kali.’’


‘’Bibi nggak salah kok, Monik. Bibi sendiri mendengar pertengkaran Bapak sama Ibu. Kata Ibu, sudah cukup kau membohongiku dan bermain api di belakangku, sekarang juga pergi! Bu Karni mengusir Bapak,’’ celoteh dan penjelesan dari bibi sembari mempraktikkannya, yang tadi wajahku sedih dan kaget, kini bibi membuatku tertawa kecil.


‘’Ahh, Bibi bisa aja. Emang kayak gitu gaya bicara Bu Karni?’’ tanyaku sembari terkekeh.


‘’Enggak juga sih, Neng. Tapi, Bibi serius nih.’’


‘’Kasihan banget beliau ya, Bi,’’ kataku lirih.


‘’ Trus kira-kira gara-gara aku juga nggak, Bi?’’


‘’Maksud, Monik? Gara-gara Andre menikahi Monik gitu?’’ tanya bibi kembali. Aku mengangguk secepatnya.


‘’Mungkin sih.’’


‘’Ya Allah, kasihan Mama. Aku juga ngerasa bersalah sama beliau,’’ batinku.


‘’Ya udah, Bi. Makasih banyak ya, Bi. Aku ke kamar dulu.’’


‘’Sama-sama, Monik. Jangan katakan kalo Bibi yang memberitahumu, Bibi takut nanti Bu Karni marah lagi dan nanti malah memecat Bibi.’’


‘’Tenang aja, Bi. Aku nggak akan bocorin kok. Ya udah ya, Bi. Aku ke kamar dulu,’’ kataku sembari tersenyum, lalu bangkit.


‘’Makasih, Monik. Nanti Bibi bawain jus buatmu ya.’’ Aku mengangguk dan melangkah ke luar dari kamarnya menuju kamarku yang berada di lantai dua.


‘’Eh, bukannya pintu tadi kututup. Siapa ya?’’ aku bergegas memasuki kamar yang terbuka lebar pintunya.

__ADS_1


‘’Mama? Aku kirain siapa tadi, Ma.’’ Membuat aku kaget dan menghampiri mama yang tengah menimang bayiku.


‘’Eh, Monik. Ma’af deh, Mama nggak bilang dulu masuk ke kamarmu. Habisnya tadi Mama denger Rafi bangun dan menangis, makanya Mama masuk aja,’’ jelas mertuaku itu panjang lebar.


Aku tersenyum,’’Nggak apa-apa kok, Ma. Malahan aku berterima kasih banyak ke Mama udah membujuk Rafi.’’


‘’Kamu mah, kan Rafi cucu Mama,’’ sahutnya tertawa kecil.


‘’Iya deh, Ma. Sini Rafinya biar sama aku aja.’’ aku mangambil bayiku dari pangkuan mama.


‘’Pelan-pelan dong, Sayang.’’


‘’Oh iya, Andre udah dapat kerjaan? Apa dia nggak bilang sama kamu? Katanya dia mau nyari kerjaan,’’ kata mama Karni seketika yang membuatku tercengang, kuletakkan Rafi di pangkuanku.


Sejenak berpikir, aku harus jawab apa ke mama mertua. Jangankan untuk bicara soal pekerjaan, bicara yang lain saja dia tidak ada. Malah sering membentakku dan apalagi dia selalu tidur di kamarnya, nanti tatkala shubuh datang baru dia bergegas pindah ke kamarku.


‘’U—dah kok, Ma. Tapi kayaknya belum dapat kerjaan deh Andrenya,’’ sahutku gegalapan.


‘’Kamu jangan bohongin Mama. Walaupun Mama ini mertuamu, tetapi Mama udah menganggap kamu sebagai anak kandung Mama sendiri. Tolong jujurlah, Monik. Jangan bohongin Mama. Apa Andre nggak cerita ke kamu?’’ Mama menatapku.


‘’Atau dia selalu menyakitimu?’’


‘’Allah, pertanyaan Mama mampu membuat jantungku sesak. Apa yang harus kujawab? Apa aku jujur saja ya? Bagaimana ini,’’ batinku.


‘’Monik! Jawab, Nak!’’


‘’A—Andre memperlakukanku dengan baik kok, Ma,’’ sahutku secepatnya.


Ya, aku takut mama kepikiran lagi. Apalagi mama habis bertengkar hebat dengan suaminya. Aku tak mau membebani mertuaku lagi. Biarlah masalah rumah tanggaku aku yang menyimpan sendiri. Ini semua juga ulahku, mungkin ini balasan dari Tuhan untukku.


‘’Syukurlah kalo begitu, Mama takut aja kalo Andre menyakitimu. Kalo iya, bilang aja ke Mama. Biar Mama yang memarahinya. Jangan dipendam sendir ya, Nak.’’ Mama memegangi jemari dan menatapku.


‘’Iya. Makasih banget ya, Ma.’’


‘’Alhamdulillah aku mendapatkan Mama mertua yang begitu baik, tetapi lain halnya dengan suamiku. Ya, suamiku nggak seperti dulu saat kami pacaran. Bahkan dia sering membentakku dan tidur pun dia di kamarnya, lalu ketika shubuh berpura-pura tidur di kamarku. Allah!’’ batinku sembari menundukkan kepala, kutakut jika wajahku ditelusuri oleh mama Karni.


‘’Tunggu, Ma!''


Mama memberhentikan langkahnya ,’’Iya, ada apa, Nak?’’


‘’Ma’af, Ma. Kok sejak aku di sini Papa nggak kelihatan ya. Papa ke mana, Ma?’’ aku memberanikan diri untuk berpura bertanya dan seolah aku tak tahu mengenai masalah yang tengah ditimpa oleh mama mertua. Sesaat wajahnya tampak sendu dan kembali menghenyak di sofa.


‘’Mama udah mengusir Papamu,’’ sahutnya to the point.


‘’Apa? Tapi, kenapa, Ma?’’


‘’Kamu tahu apa yang dilakukannya? Dia udah membohongi Mama dan ternyata dia udah lama berselingkuh di belakang Mama,’’ sahutnya kesal, buliran air mata lolos di wajah senjanya itu.


‘’Ya Allah, Ma,’’ lirihku dan meletakkan Rafi di ranjang. Kuhampiri mama ke sofa dan duduk di sampingnya.


‘’Mama pasti kuat dan aku akan selalu ada untuk Mama, apapun keputusan Mama aku akan setuju,’’ lirihku pelan dan memegangi jemari mama, memberi kekuatan untuknya. Beliau menyeka air matanya dan menatapku.


‘’Makasih banyak ya, Sayang. Mama rasanya udah nggak bisa lagi menerima Papamu. Biarkan dia hidup bersama selingkuhannya, lagian juga dia nggak suka kalo Mama memilihmu untuk jadi menantu Mama.’’ Berkali-kali dia mengusap air matanya dengan kasar.


‘’Sama-sama, Ma. Ma’afkan aku ya. Mama pasti kuat dan bisa melewati semua ini. Kami akan selalu ada di samping Mama, jangan sungkan-sungkan cerita apapun ke aku ya, Ma.’’ Aku mengenggam jemari mama, memberikan kekuatan ke beliau. Mama mengangguk, buliran air matanya terus saja mengalir dan kuusap perlahan dengan tanganku.


‘’Mama adalah orang yang kuat, Mama pasti bisa.’’


‘’Dan jangan berlarut dalam kesedihan, Ma. Nanti kesehatan Mama malah terganggu. Aku nggak mau Mama kenapa-napa.’’ Aku memeluk mama mertua yang sudah kuanggap seperti mama kandungku itu. Beliau mengangguk.


‘’Makasih ya, Nak. Ternyata kamu begitu baik, nggak salah lagi jika Mama menyetujui kamu menikah dengan putra Mama dan betapa bodohnya kalo Andre menyia-nyiakan wanita sebaik kamu,’’ lirih wanita berkerudung lebar itu dan melepas pelukan dariku. Aku hanya tersenyum tipis memandangi beliau.


‘’Mama takut aja nanti kalo sikap Papa menurun ke Andre, Mama nggak mau kamu merasakan apa yang Mama rasakan. Dan yang Mama inginkan adalah rumah tangga kalian tetap utuh hingga maut memisahkan,’’ kata mama pelan dan menatap bola mataku.


Seketika Kumenunduk, tak mampu membalas tatapan mama karena di mataku hanya tersimpan dusta. Ya, aku mendustai mertuaku padahal Andre selalu membentakku dan jauh sekali berubahnya, tak seperti kami berpacaran dulu. Aku tak ingin saja menambah beban pikiran mama, masalah yang dipikul oleh mertuaku itu sangat besar dan aku tak mau menambahnya lagi.


‘’Monik, coba lihat Mama. Jangan sungkan cerita ke Mama, jangan kamu memendam masalahmu sendiri. Jika ada masalah, cerita ke Mama ya.’’

__ADS_1


Aku mengangguk dan mencoba untuk tetap tersenyum, seolah-olah aku sedang baik-baik saja.


‘’Ya udah, Mama mau ke kamar dulu. Kalo Monik butuh apa pun bilang aja ke Bibi ya.’’ Mama mertua menyeka air matanya yang sedari tadi masih mengalir begitu saja dan bangkit seketika.


‘’Iya, Ma. Mama istirahatlah dan jangan banyak pikiran ya.’’ Beliau mengangguk dan bergegas keluar dari kamarku, melangkah menuju kamarnya.


Kututup kembali pintu yang masih terbuka dan kembali menghenyak di ranjang.


‘’Ya Allah, kasihan banget Mama. Pantas aja udah beberapa hari nggak kelihatan batang hidung Papa. Dan aku takut kalo kelakuan Papa akan menurun ke suamiku, seperti yang Mama katakana tadi,’’ lirihku pelan.


‘’Nggak, semoga aja yang kutakutkan nggak akan terjadi.’’ Aku berusaha untuk menepis semua ketakutan yang hadir di pikiranku.


Seketika bayiku terbangun, bergegas kuhampiri.


‘’Udah bangun ya, Sayang? Saatnya kita mandi yuk!’’


Kugendong ke kamar kecil dan memandikannya dengan lambat, karena aku takut jika tanganku mengenai tali pusarnya yang belum lepas. Ya, aku berani memandikan bayi karena tante Sisi yang mengajarkan ini semua. Dari beliaulah aku belajar mulai dari memandikan bayi, memasang popok, memasang baju, memasang bedung, dan membasuh pantatnya.


Beberapa menit kemudian, aku telah selesai memandikan bayiku. Kubawa kembali ke ranjang dan membaringkannya yang diselimuti oleh handuk kecil. Kuolesi dengan minyak kayu putih seluruh tubuhnya dan menaburkan bedak my baby. Kupasangkan popok dan gurita, lalu membedungnya.


‘’Alhamdulillah, udah ganteng nih Rafi Mama,’’ lirihku sembari mengecup keningnya.


‘’Mau minum ASI lagi ya, Sayang.’’ Aku bergegas menyusui bayiku.


Beberapa menit kemudian, bayiku sudah kenyang dan kembali kubaringkan di ranjang. Seketika pintu diketuk dari luar.


‘’Monik, nggak tidurkan? Boleh Bibi masuk?’’


‘’Nggak, Bi. Silakan masuk, Bi. Pintu nggak dikunci kok,’’ sahutku dari dalam.


Pintu berderit dan terbuka. Tampak wanita separuh baya itu sudah membawa nampan yang kuperkirakan adalah makan siang untukku.


‘’Ma’af ya, Monik. Telat nih Bibi membawakannya, Bibi kira kamu akan makan siang di bawah,’’ katanya sembari meletakkan nampan di nakas.


‘’Nggak apa-apa, Bi. Aku lagi malas makan aja. Dan mau ke bawah pun malas,’’ sahutku seadanya.


‘’Jangan gitu dong, Monik. Kasihan si Dedek kalo kamu nggak makan, ASI-nya jadi kering nanti dan gimana kalo kamu sakit. Dipaksain makan yah, Monik.’’


‘’Ada sambal rendang kesukaanmu, ada sayur kelor supaya ASI banyak, dan ada jus alpukat juga loh,’’ imbuh bibi sembari menunjuk nampan yang tergeletak di nakas.


‘’Iya. Makasih banyak loh, Bi. Aku akan maksain untuk makan kok.’’


Bibi hanya mengangguk dan tersenyum khas miliknya.


‘’Oh ya, Bibi udah makan siang nih?’’ tanyaku yang tengah mengeluarkan makanan dari nampan.


‘’Udah kok, Monik. Kalo gitu Bibi melanjutkan pekerjaan lagi ya, ntar biar Bibi yang membereskan kembali.’’ Aku mengangguk dan tersenyum, beliau bergegas melangkah keluar dari kamarku.


Kutatap makanan yang tadi diantarkan oleh bibi, seleraku tak ada sedikit pun. Kenapa ya? Tapi aku harus makan demi bayiku. Gegasku memaksakan untuk menyuap nasi. Seketika benda pipih berdering tanda pesan masuk. Perlahan aku melangkah dan meraih benda pipih yang tergeletak di ranjang itu.


‘’Nomer baru? Siapa?’’ hatiku bertanya. Dan tanpa pikir lagi kubuka pesannya. Membuat aku terperanjat kaget dan dadaku sesak seketika.


‘’A—Andre? Dia sedang bersama Nina?’’ hatiku sangat teriris memandangi foto yang dikirimkan oleh nomor baru ini.


Ya, terlihat Andre dan Nina tengah makan siang di sebuah restorant. Tampak berbeda ekspresi lelaki yang sudah berstatus sebagai suamiku itu, tak seperti ekspresinya yang selalu membentakku tatkala berada di rumah.


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk ikutin dan baca terus ya.


Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Semoga saja ada yang suka sama novel recehku ini, agar aku lebih semangat lagi untuk menulis.


See you next time!❤


Instagram: n_nikhe

__ADS_1


__ADS_2