Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#Prolog


__ADS_3

"Selamat Pagi, Pak Langit!"


pria berpakaian dinas sekolah itu pun menoleh sekilas lalu pergi begitu saja membuat wanita yang menyapa tadi begitu kesal. "Aku gak bakalan nyerah begitu saja," tekat Caca yakin. Ia langsung saja bergegas menuju kelasnya dengan langkah santainya.


"Pagi, Caca!" sapa beberapa cowo melintasinya, Caca hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan bergegas menuju kelasnya. "Vika! Pak Langit dingin banget sama aku!" rengek Caca memeluk sahabat kecilnya itu. "Kau benar-benar bodoh! udah tau dia guru yang anti dengan cewe, masih saja kau kejar-kejar," omel Vika karma sudah satu tahun ini sahabatnya mengejar pria yang sama sekali tak merespon perjuangannya.


Ingin sekali ia menukar otak Caca dengan yang baru, supaya wanita ini tak lagi mengejar guru paling killer di sekolahnya ini.


"Wajahmu pucat, Caca!" kaget Vika menyentuh wajah pucat Caca.


"Gue tadi gak sempat sarapan," kekeh nya membuat Vika mendengus kesal. "Kau ini gak boleh telat makan, kalau kamu pingsan lagi gimana?" kesal Vika sambil mengambil sesuatu didalam tasnya, ia selalu membawa beberapa roti karna ia tau sifat Caca yang suka pingsan akibat gak sarapan. "Nih, habiskan!" suruh Vika membuat Caca mengangguk pelan.


Beberapa menit kemudian, jam pertama pun segera berbunyi membuat beberapa siswa bergegas menuju kelas masing-masing termasuk teman sekelas Caca. semuanya tampak tidak mood belajar matematika karna yang mengajar adalah guru killer yang ditakuti sebagian besar murid.


Caca melihat Langit memasuki kelas membuat semuanya diam tak bersuara. "Keluarkan tugas kalian kemarin, saya tak ingin mendengar ada yang gak mengerjakan tugas itu," ketus Langit dingin, membuat semuanya mengeluarkan tugas masing-masing.


'mana tugas gue?' panik Caca mencari tugas matematika yang sudah ia kerjakan semalam. ia ingat kalau tugas matematika sempat ia masukkan kedalam tas. "Mana satu lagi? siapa yang belum kumpulkan?" tanya Langit sambil menghitung semua tugas tersebut.


"Caca, lo bawa tugas kemarin?" tanya Vika beranjak duduk setelah mengumpulkan tugas nya. "Gue udah kerjakan dan gue masukin kedalam tas, tapi sekarang gak ada, gimana dong?" panik Caca membuat Bila kaget.


"Gue gak tau, Ca,"


"Caca Wulandari!"

__ADS_1


Caca sontak menoleh pada Langit yang menatap tajam kearahnya. "Mana tugas kamu? kenapa belum dikumpulkan?" tanya Langit dengan nada dinginnya membuat Caca merinding. "Lu-lupa dibawa, Pak," gagap Caca membuat Langit menatap tajam kearah Caca.


"Keluar dari ruangan saya, saya tak ingin mengajar siswa pemalas!" suruh Langit membuat Caca menoleh. "Pak, saya kan udah jujur. kenapa bapak suruh saya keluar? padahal, saya baru kali ini gak bawa tugas," protes Caca membuat Langit berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Saya sudah membukakan pintu, sekarang keluar!"


suruh Langit membuat Caca mendengus kesal dan bergegas keluar dari kelas, yang membuat semuanya makin takut kalau tak bawa tugas.


"Padahal gue cuman satu kali itu aja gak bawa tugas, untung aja tampan," gerutunya sambil duduk di tangga karna tak ada tempat buat nongkrong. terlebih, semuanya pada belajar.


"Nih, bersihkan lapangan tersebut!"


Caca menoleh pada Langit yang menyodorkan sapu lidi padanya. "Pak Langit yang tampan, Caca gak bisa kepanasan," bujuk Caca membuat Langit menatap sinis. "Dasar manja! lakukan sekarang! saya gak mau tau, kau siapkan hukuman tersebut." suruh Langit menyodorkan sapu ke tangan Caca.


"Terserah saya, laksanakan hukuman!" bentak Langit membuat Caca bungkam, ia langsung saja bergegas menuju lapangan yang sebesar bandara internasional Soekarno-Hatta tersebut. apalagi, cuaca yang sudah mulai panas di pagi ini.


.


Caca menundukkan kepalanya sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya tersebut. wanita manis itu sudah tak sanggup buat mengerjakan hukuman yang melelahkan itu.


Drep!


Caca menoleh pada Bima yang memeluknya. "Astaga, darah!" kaget Bima sedangkan Caca memilih memejamkan mata karna pusing. Bima sontak membawa Caca menuju ruang UKS untuk diperiksa oleh Bidan. ia tak ingin sahabatnya tersebut kenapa-napa, ditambah Caca yang baru keluar dari rumah sakit kemarin.

__ADS_1


selama pemeriksaan, Bima makin khawatir melihat kondisi Caca yang drop lagi. "Buk, Caca gak kenapa-napa, kan?" tanya Bima penasaran.


"Caca gak papa, dia hanya kecapekan saja. kamu jaga Caca disini karna saya ada rapat sebentar,"


"Baik, Buk."


Bima lalu duduk di samping Brankar Caca. "lo dihukum lagi ama guru killer itu ya?" gumam Bima yang tau kalau semua ini karna ada sangkutnya dengan guru killer tersebut. apalagi, sahabatnya itu sering mengejar-ngejar Pak Langit. "Gue ingin lo menemukan cinta yang tulus, bukan mengejar cinta pria yang tak peka itu," lirih Bima menatap Caca yang masih tak sadarkan diri.


***


Caca membuka matanya dan melihat Bima yang asik bermain game disebelahnya. "Pusing," lirih Caca berusaha bangun membuat Bima menoleh. "Syukurlah lo sadar," lega Bima mematikan ponselnya lalu membantu Caca duduk. "Lo dihukum sama Pak Langit?".


"Iya, lagian tugas gue kelupaan bawa. padahal, gue baru kali ini lupa bawa tugas matematika,"


"Makanya, masukkan kedalam tas. udah tau tuh guru galak," sinis Bima membuat Caca tertawa pelan. "Tapi, aku suka samanya," senyum Caca membuat Bima menoleh. "Harusnya lo sadar, tuh guru gak bakalan lo dapatkan. kalau gue jadi lo, ogah banget," ketus Bima dengan entengnya.


"Aku akan coba berjuang, kalau gak dibalas. aku akan menjauh," senyum Caca jujur.


"Mendingan lo mundur dari sekarang aja, gue gak tega lihat lo di bentak dan tak dianggap," jelas Bima pada Caca. "Aku gak boleh nyerah gitu aja, moga aja Pak Langit luluh," balas Caca tersenyum manis.


"Terserah lo aja,"


***

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2