
Pagi harinya, Caca sudah sampai di sekolah sedangkan Langit nanti bakalan nyusul karena gak ingin yang lain curiga padanya.
"Sahabat manis gue! gimana semalam?" selidik Vika penasaran sehingga Caca menoleh pada sahabatnya. "Biasa-biasa saja, tadi gara-gara lihat perut Abang yang kotak-kotak itu. kepala Caca kejedot pintu kamar karena gak fokus buat lari," lapor Caca memperlihatkan jidatnya yang memerah membuat Vika tertawa.
"Lagian buat apaan lari? kalau gue jadi lo, udah gue cubit tuh perut kotak-kotak,"
"Caca kan gak pernah lihat tubuh cowo, malulah!"
"Sama suami sendiri gas aja lah," tawa Vika yang membuat Caca mendengus kesal lalu menarik tangan sahabatnya itu menuju kelas. keduanya lalu berjalan menuju lorong kelasnya.
Bug!
Vika ambruk tak sadarkan diri akibat pukulan kuat oleh seseorang. Caca menoleh dan sontak orang itu langsung membius Caca lalu membawanya pergi dari sana.
"Vika!"
Langit yang baru datang sontak mendekati Vika yang sudah tak sadarkan diri. "Vika!" panik Bima yang baru datang dan segera mendekati Vika yang terkapar di lantai. Langit mengeluarkan minyak kayu putih dan mengoleskannya di bawah hidung Vika.
Perlahan, wanita itu mulai sadar dari pingsan nya. "Vika, lo kenapa?" tanya Bima panik sedangkan Langit tak menemukan istrinya yang berada entah dimana. "Ca-Caca," lirih Vika menunjuk kearah depan karena sebelum ia benar-benar pingsan, ia menatap seseorang membawa sahabatnya pergi.
"Caca dimana?" tanya Langit panik sekali.
"Ca-Caca dibawa oleh Buk Anita dan seorang pria kearah sana," lirih Vika sehingga Langit langsung bergegas mencari keberadaan istrinya, ia tak ingin Anita berbuat nekat pada istri kecilnya.
Langit memegangi kepalanya yang mendadak pusing. perlahan, tatapannya mendadak begitu tajam sekali. "Saya akan membasmi kau, Anita," smirk Langit menatap sekelilingnya untuk mencari keberadaan Caca yang entah kemana.
"Langit!"
Langit menoleh pada Abigail yang mendekatinya.
"Kau kenapa?"
"Istri gue diculik oleh Anita,"
"S i a l a n, tuh orang! gue bakalan bantu lo," jelas Abigail sehingga Langit mengangguk dan mencari keberadaan istrinya yang dibawa entah kemana.
"Lepaskan saya! Tolong! Caca mau diperko...,"
Langit langsung berlari menuju asal suara yang diikuti oleh Abigail yang mengeluarkan pistolnya, untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
"ANITA! LEPASIN ISTRI GUE!"
Caca yang terikat di sebuah pohon menoleh, wanita itu tampak berantakan dengan seragam yang sudah robek akibat perbuatan pria bermasker itu. Anita menodongkan pistol pada Caca yang membuat Langit benar-benar kaget sekali.
"Wanita ini harus musnah," smirk Anita.
"Ja-Jangan lo apa-apain istri gue, gue mohon!" panik Langit.
Bug!
Bug!
Langit maupun Abigail kaget saat Suga menghajar kedua orang itu dari belakang. "Payah," ketus Suga mematahkan tangan pria itu. "Nih, mereka!" jelas Suga lalu pergi dari sana, ia hanya menolong Caca karena tadi sempat mendengar suara Caca minta tolong.
"Abigail, kau suruh orang buat bawa kedua orang itu. Gue mau antar Caca pulang dulu," jelas Langit mengendong Caca yang sudah menangis karena benar-benar ketakutan sekali.
Disisi lain, Suga tersenyum tipis kearah Abigail yang menelpon seseorang. "Cantik, kau incaran saya. Abigail," smirk Suga yang tertarik dengan sikap guru cantik itu saat pertama kali ia bertemu. walau ia tak mendapatkan Caca, ia masih bisa mendapatkan Abigail. Ia juga ingat siapa Abigail, dia adalah kakak kelasnya dulu waktu sekolah dasar.
Kakak kelas yang cukup populer.
Suga mengeluarkan ponselnya lalu menelpon Papanya.
{Ada apa, Hendra?}
{Baiklah,}
Panggilan pun terputus sehingga Suga tersenyum miring lalu pergi dari sana. disisi lain, beberapa siswa maupun guru menatap bingung pada Langit yang membawa salah satu siswi menuju parkiran mobil.
"Caca, jangan nangis okey! kamu sudah aman," bujuk Langit mengusap air mata Caca, sedangkan wanita itu tetap menangis yang membuat Langit makin panik. Ia lalu bergegas menuju bangku kemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.
"Caca, jangan nangis lagi," bujuk Langit menggenggam erat tangan istri kecilnya itu, ia tak sanggup melihat wanitanya menangis saat ini. Langit menarik Caca sehingga wanita itu bersandar di bahunya, ia juga mengusap lembut pipi Caca sambil fokus mengendarai mobilnya supaya tak menabrak orang.
Sesampai di masion,
Langit lalu membaringkan istrinya di kasur, ia menatap Caca yang sudah tertidur lelap karena lelah menangis. "Saya akan buat orang itu menderita," jelas Langit mengusap kepala Caca dan mengecup singkat keningnya.
Langit langsung bergegas menuju lemari buat mencari pakaian ganti buat Istrinya dan menukarkannya, walau ia sudah boleh melihat tubuh Caca. tetap saja ia ragu sekaligus malu, membuatnya mengalihkan pandangannya buat membuka setiap kancing seragam istri kecilnya.
Ia benar-benar harus bersabar hingga Caca tamat sekolah. setelah mengganti pakaian istrinya, ia lalu ikut berbaring di sebelah Caca dan memeluk Caca supaya wanita itu gak ketakutan lagi.
__ADS_1
Deg!
Jantung Langit langsung berdetak kencang saat Caca berbalik membalas pelukannya, sehingga posisi mereka sangatlah dekat. Langit hanya bisa bungkam menatap wajah putih Caca yang begitu natural tanpa polesan makeup sedikitpun.
'Kalau gue gini terus, bisa jantungan gue,' batin Langit dengan wajah memerah saat Caca mencari kenyamanan di tubuhnya. 'jantung, jangan berdetak cepatlah! malu gue,'.
Jujur, ini pertama kalinya ia bertingkah seperti orang bodoh kalau bersama Caca. saat ia bersama Anita, ia tak pernah merasakan debaran jantung sekencang ini dan ia tak pernah salting dihadapan Anita.
Apakah ini yang namanya debaran cinta?
Bantu jawab!
***
Langit tampak sibuk berperang dengan alat-alat dapur untuk membuat sarapan buat istrinya, entah kenapa wanitanya mendadak demam panas.
"Abang,"
"Caca, kamu ngapain keluar kamar?" tanya Langit langsung mengendong tubuh mungil sang istri, membuat Caca langsung mengalungkan tangannya ke leher Langit.
"Pengen peluk Abang," lirih Caca sambil memejamkan mata, Langit hanya pasrah lalu mengambil piring untuk meletakkan masakannya.
"Caca, kamu duduk dulu ya, biar saya suapin,"
"Gak mau hiks! Caca mau peluk abang!"
"Tapi, jangan nangis," pasrah Langit lalu duduk sehingga Caca berada di pangkuannya, wanita itu juga tak mau melepaskan pelukan dari lehernya.
"Sekarang minum dulu,".
Langit menyodorkan gelas yang berisi air sehingga wanita itu mulai meminumnya. setelah itu, langsung saja ia menyuapi Caca sarapan sehingga gadis mungil itu menurut tanpa berniat membuka matanya.
"Abang, Caca pengen muntah!"
Huweekk!
Belum sempat Langit membalas. pemuda itu menoleh kearah bajunya yang terkena muntah Caca, membuat Langit pasrah. 'Untung cinta,' batin Langit lalu membuka bajunya itu sehingga ia bertel/anjang dada.
Langit kembali menyodorkan air minum pada Caca sehingga Caca menurut. wanita itu benar-benar lemas sekarang.
__ADS_1
"Kalau muntah lagi, bilang ya! biar saya ambilkan kresek," jelas Langit sehingga Caca mengangguk lemah.
Bersambung......