
2 tahun berlalu...
"Astaga, Daddy! kenapa rambut putraku diikat!"
Langit yang asik mengikat rambut anaknya pun menoleh pada Caca yang mendekat, sedangkan bocah berumur hampir 1 tahun itu malah tertawa melihat Mamanya memarahi Langit.
"Rambutnya panjang, yaudah aku ikat saja," jawab Langit dengan entengnya lalu mengendong putranya tersebut. membuat bocah itu makin tertawa saat di gendong oleh Daddynya.
"Udah kayak cewek aja, baby-nya," kesal Caca sehingga Langit mengusap kepala putranya itu lembut. "Gak kayak cewe kok," balas Langit dengan entengnya, membuat Caca menghela nafas panjang dengan sifat Langit yang keras kepala. "Ayo berangkat, kita ke tempat Mama dan Papa sekarang untuk meminta restu" senyum Langit berusaha berdiri sambil mengendong putranya itu.
"Ayo!" ajak Caca sehingga Langit tersenyum lalu menarik koper yang sudah disiapkan tersebut. Langit sudah pulih seperti biasanya karena di dukung oleh Caca yang selalu menyemangati nya buat sembuh.
Mereka juga sudah sampai di Indonesia dua hari yang lalu, kini keduanya berjalan menuju masion keluarga Langit. Sesampai di masion,
"MAMA, PAPA!"
Orang-orang yang duduk di ruang tamu menoleh dan kaget melihat kedatangan Langit. "Dikta!" senang Reva bergegas memeluk putra bungsunya itu erat, semuanya benar-benar bahagia atas kedatangan Langit.
"Ini anak siapa?" tanya Tuan Bambang sehingga Reva melepaskan pelukannya dan melihat bocah mengemaskan di gendongan Langit. "Anaknya Dikta," senyum Langit membuat semuanya kaget.
"Anak kamu dengan siapa?" kaget Tio.
"Dengan Ca ..., Caca mana?" bingungnya karena tak mendapati Caca yang di dekatnya.
Disisi lain, Caca terus saja batuk di balik tembok. "Caca harus kuat demi Daddy dan putra kecilku," lirih Caca mengusap darah yang keluar dari mulutnya. setelah tenang, Caca lalu bergegas masuk seolah-olah tak terjadi apa-apa padanya.
"Caca kamu dari mana?" tanya Langit sehingga semuanya menoleh pada Caca yang mendekat. "Tadi perbaiki sepatu aku," bohongnya supaya Langit tak curiga.
"Jadi, ini anak kamu dengan Caca?" tanya Tuan Bambang sehingga Langit mengangguk.
"Dikta mau rujuk dengan Caca lagi, Dikta mau nikahi Caca lagi!"
"Gak bisa!"
Langit terdiam saat Mama dan Papanya menolak permintaannya tersebut. "Dikta, lo jangan gila kek gini! lo udah talak Caca," kesal Tio membuat Langit terdiam begitu juga dengan Caca. "Pokoknya Dikta bakalan nikahi Caca, Dikta ingin bersama Caca," jelas Langit membuat Tuan Bambang menggeleng.
__ADS_1
"Dikta, dia sudah haram buat kamu! Papa gak setuju kamu menikahi dia!" sentak Tuan Bambang, Langit hendak protes tapi di tahan oleh Caca.
"Om, Caca tau kalau Om menolak Caca buat jadi istri Daddy lagi. tapi, izinkan Caca tinggal 1 minggu disini untuk selalu bersama Daddy dan putra kami," pinta Caca memohon.
"Caca, bukannya kami menolak kamu buat tinggal disini. kamu bukanlah menantu di keluarga ini, ditambah kamu bukan istri Dikta lagi," jelas Nyonya Reva lembut yang membuat Caca terdiam.
"Mama, Dikta udah gak peduli apa itu Haram. Dikta mau nikahi Caca," jelas Langit membuat Caca menoleh pada Langit.
"Daddy, jangan bersikap keras kepala di hadapan orang tua Daddy. Caca mau pamit ke tempat Caca dan Caca bakalan kemari suatu saat, kita bakalan bersama dengan putra kita. Caca mencintai Daddy," senyum Caca mencium pipi Langit dan putranya. 'Jadilah anak yang baik dan penurut,' batin Caca lalu pamit pergi pada semuanya.
Wanita itu menahan tangis karena harus berpisah dengan anak dan mantan suaminya yang amat ia cintai. Ia hanya pasrah karena ini adalah takdir di hubungan mereka, mereka tak akan bersama lagi.
Caca menghentikan sebuah angkot untuk menuju masion Mama dan Papanya. sesampai di sana, ia langsung bergegas memasuki masion dan melihat Suga yang asik bermain dengan bocah perempuan bersama Abigail.
Brukh!
"Caca!" kaget Abigail yang melihat Caca ambruk.
"Mama, Papa! Caca udah pulang!" teriak Suga sambil mendekati Caca yang sudah lemas sekali.
Caca menoleh pada Suga yang memeluknya. "Ca-Caca pergi sama Daddy, Ca-Caca juga sudah memberikan Daddy putra yang mengemaskan," lirih Caca tersenyum.
"Caca," panik Nyonya Rianti mendekat sehingga Caca menoleh pada Mamanya.
Hukk!
Semuanya kaget melihat Caca batuk berdarah. "Mama, Caca udah berikan Cucu buat kalian. Caca sudah berikan putra Caca pada Daddy, biarlah Daddy merawat Cucu kalian," lirih Caca membuat semuanya kaget. "Apa dia yang merebut hak asuh anak kamu?" tanya Suga penasaran.
"Bukan, Caca yang menitipkan pada Daddy. Caca ingin putra Ca-Caca dewasa bersama Daddynya," lirih Caca tersenyum.
"Papa ambil mobil dulu, Hendra gendong Caca. kita bawa dia kerumah sakit sekarang," jelas Tuan Gevan sehingga Suga mengendong Caca yang sudah lemas sekali.
1 jam berlalu...
Semuanya tampak khawatir dengan kondisi Caca yang drop, begitu juga dengan Langit yang di hubungi oleh Abigail tadi.
__ADS_1
Cklek!
"Dokter, gimana keadaan Putri saya?" tanya Tuan Gevan penasaran yang membuat Dokter itu menghela nafas pendek.
"Maaf, saya tak bisa menyelamatkan nyawa putri anda. Kanker yang dideritanya sudah benar-benar ganas sekali."
Deg!
Semuanya kaget mendengar penuturan Dokter itu apalagi Langit yang mengendong putra kecilnya yang asik menghisap jari mungilnya.
"Dokter bohong, kan? Caca pasti membohongi kita semua," kekeh Langit langsung masuk kedalam ruangan tersebut, begitu juga dengan yang lain.
Langit membuka penutup wajah Caca dan memperlihatkan wajah yang sudah pucat sekali.
Semuanya menangis melihat Caca yang sudah tak bernyawa lagi.
"Caca, kamu pasti pura-pura meninggal, bukan? kamu pasti bohongi aku, kan? Caca bangun! kamu janji bakalan merawat Afgan hingga dewasa bersama," tangis Langit sedangkan Afgan kecil hanya menatap bingung pada Mamanya yang memejamkan mata.
"Mamma!" celoteh Afgan menunjuk kearah Mamanya.
"Sayang, bangun! jangan bohongin Daddy, mereka cuman bercanda pada kita, mereka ingin kita bersama," isak Langit menangis sambil menggenggam erat tangan wanitanya itu. semuanya bakalan sia-sia karena tak ada reaksi dari Caca yang terbaring kaku.
***
Sore harinya, Langit menatap kosong kearah makam wanita yang amat ia cintai itu. Sedangkan Afgan berada di gendongan Tuan Gevan.
"Hiks kenapa kau menyembunyikan penyakit kamu itu, Sayang! kamu selalu menyemangati aku buat sembuh dan sedangkan kamu malah menyerah begitu saja," tangis Langit menangis membuat yang lain menahan tangis melihat keterpurukan Langit.
"Caca, maafin Mama sudah menolak permintaan terakhir kamu," isak Nyonya Reva menyesal karena gak membiarkan Caca tinggal bersama Langit di masa terakhirnya.
Brukh!
"Dikta!" panik semuanya saat Langit ambruk tak sadarkan diri karena tak sanggup menahan semuanya. "Hendra, bawakan mobil!" panik Nyonya Rianti sehingga Suga bergegas pergi mengambil mobil.
"Badannya panas sekali," kaget Abigail menyentuh kening Langit.
__ADS_1
Bersambung...