Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#14 Video Lama


__ADS_3

Langit lalu membaringkan Caca yang sudah tertidur lelap karena kekenyangan, wanita itu juga tak henti-hentinya menggenggam erat tangan Langit, sehingga pemuda itu kesulitan buat mengambil baju.


"Caca, lepasin tangannya dulu ya," bujuk Langit lembut sambil melepaskan genggaman Caca pada lengannya. bukannya terlepas, wanita itu malah terisak yang membuat Langit khawatir sekali. "Aku bercanda kok, pegang saja,".


Ia harus ekstra sabar menjaga istrinya yang sedang sakit. bagaimanapun, sudah tanggung jawabnya untuk menjaga sang istri, baik Duka maupun Suka.


Langit duduk di samping Caca lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Deg!


Lagi-lagi, Langit menoleh pada Caca yang ber-bantal di pangkuannya. pemuda itu risi saat kepala wanita itu berada di pahanya, ia merasa harus kuat iman saat bersama istrinya itu.


perlahan, ia menggeser kepala sang istri untuk tidak mengenai pusaka mautnya. kalau bangun, gimana coba? istri lagi sakit, eh! si anu malah bangun.


otak! kenapa lu m3s/um mulu!


Ia kembali mengusap wajahnya kasar, ia tak bisa berpikir jernih kalau sudah bersama sang istri.


Tin!


Langit melirik sebuah pesan yang masuk dari Abigail, langsung saja ia menelpon Abigail untuk minta tolong soal Caca.


{Ada apa?}


"Bantuin gue, Caca demam! nanti gue kasih bonus!"


{Gue kesana sekarang, awas gak kasih bonus,}


"Iya,"


Langit memutuskan panggilan, ia juga sedikit kesal karena Abigail pasti mau ia suruh kalau ia kasih bonus berupa uang ataupun makanan. Tapi, gak papa lah! supaya ada yang jagain istrinya yang lagi demam.


Setelah memastikan istrinya tertidur pulas, Langit hati-hati bangkit dan segera mengambil baju sekaligus jaketnya. Pemuda itu juga berjalan hati-hati menuju pintu supaya Caca tak bangun karena ulahnya yang berisik. Ia berjalan menuruni tangga untuk menunggu kedatangan Abigail.


"Kau bolos, Suga?"


Suga menoleh pada Langit yang menatap nya tajam, Suga hanya mengangguk pelan lalu bergegas ke kamar. 'Untung gue suruh Abigail buat datang, gue kurang yakin kalau Suga yang jagain Caca selagi gue pergi,' batin Langit lalu berjalan menuju pintu.


Tak lama, Abigail pun datang dengan mobil mewahnya. "Titip Caca sekaligus jagain Caca dari Suga," pinta Langit merebut kunci mobil Abigail lalu masuk kedalam mobil tanpa izin.


"Kita berjumpa lagi, Buk Abigail!"


Abigail menoleh pada Suga yang berdiri di dekat pintu, entah kenapa ia pernah bertemu dengan Suga sebelumnya. ia berusaha mengingat dan ya! Pemuda bermata sipit itu pernah membu/nuh orang di waktu saat ia pulang.


"Minggir, saya mau masuk!"


"No! gimana tawaran saya malam itu? atau, Saya bilang sama keluarga Anda?"

__ADS_1


Deg!


Abigail menggeleng pelan, kalau Suga menceritakan semuanya. sudah pasti bisa membuat Bibinya jantungan. "Jangan nekat, Suga. lupakan masalah itu!" kesal Abigail membuat Suga terkekeh pelan.


"Lupakan? Ibuk kira semudah itu melupakannya? Jan...,"


"Ekhem!"


Suga melepaskan cengkeramannya dari lengan Abigail, keduanya menoleh pada Tuan Gevan yang datang. "Suga, jaga perkataan kamu dengan guru kamu!" peringat Tuan Gevan tegas. pemuda itu menghela nafas lalu mengangguk pelan. "Buk Abigail, ada apa ke rumah saya?"


"Saya mau jagain Caca yang lagi demam, tadi Langit titipin Caca sama saya karena Langit ada utusan mendadak," senyum Abigail sedangkan Suga hanya menatap tajam kearah Abigail, membuat Abigail menahan takut.


"Ya ampun, anak itu!" panik Tuan Gevan langsung bergegas menuju kamar putri kandungnya, walau sesibuk apapun kerjaannya. ia tak akan tenang kalau mendengar putri kandungnya sakit.


"Saya bakalan kasih waktu 2 bulan, kalau Ibuk gak mau. semuanya bakalan tau," ketus Suga membuat Abigail terdiam beberapa saat. 'Gue harus cari cara supaya gue gak terikat gini,' batin Abigail mencari ide.


*


Brukh!


"Awh!"


Langit menatap Anita yang kesakitan karena terjatuh dari kursi yabg ia tendang, terlebih kedua tangan Anita terikat kebelakang.


"Gue udah memperingati lo, Anita! jangan mengusik kehidupan gue lagi! gue itu jijik melihat wajah lo!" tekan Langit mencengkeram kuat rahang Anita, membuat wanita itu meringis sambil menoleh pada Langit.


"Gue lakuin ini karena gue mencintai lo, Langit! gue gak terima kalau bocah ingusan itu menjadi istri lo!"


Plak!


"Gue yakin, kau hanya butuh pelampiasan saja, bukan? kau sebenarnya tak mencintai Caca! Kau itu cuman mau hindari gue saja, kan?!" kesal Anita saat dua orang suruhan Langit membetulkan kursi yang diduduki Anita.


"Lo benar, Caca hanya pelampiasan saja. tapi, itu dulu! sekarang gue mencintainya. gue lebih bahagia bersamanya daripada lo!" bentak Langit tajam yang membuat Anita terkekeh kecil.


"Lo lupa? wanita yang pernah lo bun/uh?"


Langit terdiam beberapa saat.


"Itu adalah Bundanya istri lo! gue yakin, berlakunya waktu. semuanya bakalan tau kalau pelakunya adalah lo!" tawa Anita membuat Langit tersentak. "Kau tenang saja, gue udah selipkan sesuatu pada Caca. kalau gue gak dapatin lo, kau juga gak bakalan dapatkan wanita itu,"


"Apa yang kau selipkan?! katakan!" bentak Langit mencengkram kuat rahang Anita.


"Gue gak bakalan kasih tau,"


Plak!


Lagi-lagi Langit mendaratkan tamparan kuat pada Anita. "Kecelakaan itu bukan gara-gara gue! Kecelakaan itu murni dari lo! lo yang sabotase mobil wanita itu!" bentak Langit yakin.

__ADS_1


"Benarkah? semua bukti mengarah pada lo, Langit!"


Langit mengacak rambutnya kasar, ia bingung harus berkata apa kalau istri maupun mertuanya tau. apalagi, semuanya ini bukan kesalahannya.


"B u n u h wanita itu!" suruh Langit sehingga beberapa orang itu langsung menembak kearah Anita secara bertubi-tubi. "Bereskan itu semua dan jangan sampai meninggalkan jejak!".


"Baik, Tuan."


Langit langsung pergi dari sana, ia harus mencari benda yang dibilang Anita barusan. ia yakin, wanita itu menyelipkan sesuatu di dalam tas ataupun seragam sekolah istrinya. ia harus cari itu sebelum terjadi masalah.


Sesampai di rumah istrinya, Langit langsung menuju kamar dan melihat Caca mengobrol dengan Abigail. kedua wanita itu menatap bingung pada Langit yang mencari sesuatu di dalam tas Caca.


"Abang cari apaan?"


"Apa ada yang sesuatu yang janggal kamu temui, Ca?" tanya Langit penasaran sehingga Caca menggeleng.


"Emangnya lo kenapa? jujur saja sama kami, biar kami bantu," jelas Abigail membuat Langit mengusap kasar wajahnya.


"Anita menuduh gue yang membuat Bundanya Caca kecelakaan,"


Deg!


Caca yang mendengar itu begitu kaget sekali. "Caca, kamu jangan salah paham dulu ya! aku akan cari bukti dulu, supaya orang yang membunuh Bunda kamu tertangkap," jelas Langit menggenggam tangan istrinya.


"Gue pernah dikirim seseorang sebuah video, bentar!"


Abigail langsung mengotak-atik ponselnya lalu memperlihatkan sebuah video dua orang yang melakukan sesuatu di mobil milik Bundanya Caca.


"Kenapa kau mendapatkan ini?"


"Gak tau, dia menyuruh buat menyimpan bukti ini supaya tak jadi kesalahpahaman dan gue juga gak tau siapa yang ngirim,"


Caca yang melihat itu menangis, membuat Langit menoleh. "Ca, jangan nangis! kita bakalan tangkap orang yang membunuh Bunda kamu, okey!" bujuk Langit mengusap air mata istrinya. Caca hanya mengangguk pelan karena ia tak terima kalau Bundanya di celakai oleh orang.


***


Langit tampak asik mengotak-atik ponsel sedangkan Caca hanya diam di pangkuan Langit sambil menyandarkan kepalanya yang pusing ke dada suaminya.


"Sekarang tidurlah," bujuk Langit mengusap pipi Caca yang membuat Caca menggeleng. Wanita itu begitu kesulitan tidur, kalau orang lain sakit bakalan mudah tidur sedangkan kalau ia yang sakit, ia bakalan susah tidur. Aneh memang!


Langit mematikan ponselnya lalu mengendong Caca buat menuju mobil, membuat wanita itu bingung. "Mau kemana?" lirih Caca menatap Langit yang mendudukkannya di bangku samping bangku kemudi. pemuda itu juga menekan sesuatu sehingga Bangku yang di duduki Caca bergerak, sehingga wanita itu bisa bersandar dengan nyaman.


"Jalan-jalan, supaya kamu tertidur," senyum Langit setelah memasang sabuk pengaman di tubuh istri mungilnya itu, ia langsung bergegas menuju bangku kemudi dan menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya.


Wanita itu menatap kejalan yang begitu ramai sekali, sedangkan Langit menoleh pada Caca yang hanya diam sejak tadi. "Mau beli sesuatu?" tawar Langit tersenyum.


"Pengen rujak mangga muda,"

__ADS_1


"Ha?!"


Bersambung ...,


__ADS_2