
"Pak!"
Bambang yang keluar dari ruang kepsek pun menoleh dan melihat Caca yang mendekat. "Pa, dimana Daddy? Caca pengen ketemu Daddy Langit," pinta Caca memohon, ia tak peduli ditatap bingung oleh beberapa siswa, karena nekat menahan kepsek yang terkenal dingin seperti Guru killer mereka semua.
"Saya tak bisa menjawab dimana keberadaan putra saya, kenapa kau tak mendengarkan penjelasan putra saya sehingga kamu dan sekeluarga pergi yang membuat putra saya putus asa? Saya memang tak berhak ikut campur dengan masakan ini dan saya ..., tak segan-segan memutuskan hubungan kalian," tekan Tuan Bambang lalu pergi.
"Hiks Caca gak mau pisah, Pak! Caca butuh dia hiks!"
Tuan Bambang tak menghiraukan perkataan murid sekaligus menantunya itu, ia hanya memberikan hukuman pada menantu nya itu supaya tak pergi begitu saja saat ada masalah. sekarang, putranya yang menderita karena keegoisan pihak keluarga istri putranya.
Pria paruh baya itu melajukan mobilnya menuju masion milik Tio, karena tak ada yang tau kalau Langit berada di sana dalam pengawasan ketat.
Sesampai di masion, ia melihat putra bungsunya tengah asik menatap langit yang biru tanpa awan tersebut.
Perlahan, ia langsung menyentuh membuat Langit menoleh padanya.
"Dikta, kenapa sendirian disini? udah panas banget cuacanya,"
Bukannya membalas, Langit kembali menatap langit yang cerah tersebut. "Saya sama Marcell, Om," balas Langit tanpa menoleh, membuat hati pria paruh baya itu sakit. walau ia tau kalau ingatan anak nya terganggu, tetap saja ia sakit karena di panggil Om.
Langit menghela nafas panjang sambil menundukkan kepalanya. "Bisakah Om pergi? saya pengen sendiri disini," jelas Langit tanpa menoleh.
"Baiklah, jangan melakukan apapun yang membahayakan keselamatan kamu,"
Tuan Bambang lalu pergi dari sana, meninggalkan Langit yang masih sendiri di bawah pohon. pemuda itu hanya diam sambil mencoba mengerakkan kakinya untuk menyentuh tanah, tetap saja ia kesulitan sekali.
"Daddy! ini Caca!"
Marcell yang asik nongkrong di dahan pohon pun menoleh, ia menatap seorang wanita berpakaian sekolah tengah memanggil Langit.
Bruk!
Langit menoleh dan melihat seorang wanita yang terjatuh di dekatnya karena turun dari pembatas tembok. "Daddy, Caca kangen!" senang Caca memeluk Langit, membuat pria itu langsung mendorong Caca hingga tersungkur.
"Jangan menyentuhku s i a l a n! Argh! kau pergi!" teriak Langit membuat Tio maupun Tuan Bambang keluar.
"Caca, buat apa kau kemari, hah?! adek saya gak bisa di ganggu!" bentak Tio berusaha menenangkan Langit yang kembali memberontak.
"Ca-Caca pengen bersama Daddy lagi," lirih Caca takut saat di bentak oleh Tio.
__ADS_1
"Jangan temui putra saya lagi! kau pergi dari sini!" bentak Tuan Bambang.
"Hiks Caca gak mau! Caca mau bersama suami Caca," tangis Caca memohon.
"Saya tak bisa dan tak mempercayai perkataan kamu lagi, Caca. dan saya katakan sama kamu, kau bukan menantu saya lagi!"
Deg!
Langit yang sudah tenang pun menoleh pada Caca yang menangis. "Caca, saya terpaksa akan menceraikan kamu, maaf." lirih Langit membuat semuanya menoleh pada Langit.
"Daddy, Caca gak mau! Daddy tetap suaminya Caca!"
"Sa-Saya, Langit Dikta Asshaka mengajukan talak pada Clara Wulandari, hari ini kau haram bagiku!"
Deg!
Caca yang mendengar itu menggeleng tak mau, ia tak ingin bercerai dengan suaminya itu. "Caca gak mau, Dad! jangan talak Caca hiks!" tangis Caca hendak menyentuh tangan Langit. tapi, Tio melarangnya yang membuat Caca menangis histeris.
"Carilah pria yang seumuran dengan kamu dan maafkan saya, kalau kita bukan berjodoh lagi," jelas Langit sehingga Tuan Bambang membawa kursi roda Langit. "Tio, tolong antarkan Caca ke keluarganya," pinta Tuan Bambang sehingga Tio mengangguk.
"Ayo, saya antar!" ajak Tio menarik tangan Caca buat menuju ke mobilnya.
15 menit kemudian...
"Ada apa, ini?"
"Maaf, Om, Tante. saya mewakili adik saya untuk mengantarkan Caca ke keluarganya kembali, karena Caca tak ada hubungan apa-apa lagi dengan adik saya," jelas Tio dengan hati-hati supaya tak terjadi salah paham.
"Maksud kamu?"
"Hiks Caca di talak oleh suaminya Caca hiks!" tangis Caca membuat semuanya kaget kecuali Tio.
"Kenapa di talak?" Tuan Gevan begitu penasaran sekali.
"Adik saya melakukan talak untuk kebahagiaan putri Om, saya permisi dulu. semoga kau menemukan jodoh yang baik, Clara," jelas Tio lalu pergi dari sana.
Disisi lain,
Marcell tampak berusaha menenangkan Langit yang kembali mengamuk. "Kau harus tenang, jangan mengamuk seperti ini!" pinta Marcell yang kewalahan menangkap barang-barang yang dilemparkan oleh Langit.
__ADS_1
Hantu Amerika itu langsung menahan tangan Langit sekuat tenaga, yang membuat Langit kesakitan sekali. "Tenang, kau harus Tenang dan jangan pikirkan apa-apa. kau sudah melakukan hal benar, kau sudah benar menyuruh wanita itu mencari kebahagiaannya sendiri. kau bakalan bahagia juga," jelas Marcell mencoba menenangkan pikiran Langit.
dan benar saja, pemuda itu mulai tenang dan tidak lagi memberontak seperti tadi.
"Lepaskan!"
Marcell melepaskan genggamannya sehingga Langit mengusap tangannya yang sakit. "Kau harus tenang dan jangan memikirkan apapun kecuali memikirkan kesembuhan lo," jelas Marcell yang membuat Langit terdiam. "Kau harus melupakannya,"
Langit mengangguk kecil lalu menoleh kearah pintu kamar yang terbuka. "Dikta, mau Mama suapin?" tawar Reva membuat Langit terdiam.
"Dikta takut sakiti Mama, ingatan Dikta bermasalah,"
"Mama bakalan hati-hati kok, apalagi kamu juga dijaga sama sahabat hantu kamu," jelas Nyonya Reva duduk di tepi tempat tidur sedangkan Langit duduk di kursi rodanya.
"Gue bakalan jagain," jelas Marcell sehingga Langit mulai minum yang di bantu oleh Mamanya.
"Makan yang banyak biar sembuh," senyum Nyonya Reva sehingga Langit mengangguk pelan.
"Reva, Tio dan Angel ingin ke rumah sakit karena Angel sebentar lagi akan lahiran. gimana dengan Dikta?" tanya Tuan Bambang yang masuk.
Nyonya Reva menoleh pada Langit yang terdiam. "Memangnya ada yang mampu jaga Dikta, Pa? Dikta gak bisa mengendalikan tindakan Dikta," jelas Langit yang akhirnya membuka suara, membuat pasangan itu terdiam.
"Papa akan cari yang mampu jaga kamu, dia harus kuat mental juga," jelas Tuan Bambang sedangkan Langit terdiam, membuat Nyonya Reva takut sekali.
"Kau kenapa? Ingatan lo terganggu lagi?" tanya Marcell khawatir, membuat Langit memegangi kepalanya yang kembali sakit.
"Kalian keluarlah!" suruh Langit, sedangkan Marcell langsung mengambil piring yang membuat pasangan itu takut dan bergegas pergi. "Lo harus tenang dan pikirkan keselamatan orang-orang, anggap di kamar ini banyak anak kecil sehingga lo gak berniat membuat keributan," bujuk Marcell, sehingga Langit mengangguk pelan.
***
Cklek!
Nyonya Reva membuka pintu kamar putranya dan melihat Langit yang sudah tertidur lelap di tempat tidur. wanita itu mendadak takut melihat buku yang melayang di sofa dan sesekali lembaran buku itu berpindah, seperti seseorang yang sedang membaca buku.
Ia tau, kalau itu adalah teman ghaib putranya yang tak menganggu sama sekali.
"Dikta, kamu harus cepat sembuh ya," lirih Nyonya Reva mengusap kepala Langit.
Marcell yang asik membaca buku hanya diam melihat wanita paruh baya itu tengah menangis, mengusap kepala sahabatnya. Ia juga sedikit iri dengan Langit yang masih mempunyai orang tua dan berbeda dengannya, ia tak bisa menemukan orang tua kandungnya sejak kecelakaan dulu.
__ADS_1
Ditambah ia juga tak bisa melihat kekasihnya yang sekarang entah dimana. walau dirinya menderita, ia juga bersyukur memiliki sahabat seperti Langit yang terkenal dingin dan kadang jail padanya.
Bersambung...