Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#5 Salting


__ADS_3

Caca bergegas menuju kelasnya, wajahnya memerah karena ketauan memeluk Langit oleh Abigail, guru BK nya itu. ia juga sudah mengganti seragamnya mengunakan seragam baru, gak mungkin ia memakai seragam kemarin buat hari ini.


"Caca, kenapa wajah lo memerah?" tanya Vika mendekat membuat Caca menoleh.


"Ca-Caca gak papa kok, ayo masuk sebelum Pa-Pak Langit masuk daripada kita kena hukum," lirih Caca yang kesulitan bilang nama Langit. bagaimana pun ia malu sekali saat ini, ingin sekali ia menghilang dari dunia dan ia juga ingin bisa mempunyai kekuatan waktu sehingga ia memutar kejadian dan tak ingin memeluk Langit kayak semalam. tapi, ia sadar kalau itu hanya hayalan mimpi saja, hiks!


Caca menoleh pada Dewi yang duduk bersama Suga yang membuatnya kesal, ia tak suka wanita itu mendekati Suga karena wanita itu bukanlah wanita baik buat Suga.


"Caca sini! kau akhirnya datang juga," kekeh Suga yang menyadari kedatangan Caca, ia juga lega karena Caca sudah datang sehingga wanita di dekatnya ini bisa menjauh darinya.


"Caca bukan wanita baik," bisik Dewi lalu pergi dari sana yang tak dihiraukan oleh Suga karena ia lebih tau siapa Caca. "Caca kamu kemana semalam dan ..., kenapa wajahmu merah? sakit?" tanya Suga khawatir sambil memegangi kening Caca yang tak panas.


"Caca gak papa kok," senyum Caca lalu menoleh pada Bima yang asik menggoda Vika. walau pemuda itu begitu dingin sama wanita, Bima bakalan jail sama wanita yang sudah dekat dengannya seperti Vika yang berstatus kekasihnya Bima dan Caca yang berstatus sebagai adik angkat Bima.


"Silahkan duduk di bangku masing-masing!"


Semuanya langsung berhamburan menuju bangku masing-masing. karena takut di hukum oleh guru killer tersebut. "Kumpulkan tugas saat pertemuan kita terakhir, karena 2 minggu lagi akan melaksanakan ujian naik kelas," jelas Langit dengan tenangnya walau dalam hati ia juga masih canggung terhadap Caca yang memeluknya tadi pagi.


Ia sudah berusaha melupakannya tapi lagi-lagi ia teringat pelukan hangat dari siswinya itu.


"Ca-Caca mana tugas kamu?" jelas Langit membuat semuanya menoleh pada Caca yang menyembunyikan wajahnya dibalik buku. "Kemarin Caca gak buat, Pak." ungkap Caca yang dipahami oleh Langit karena mereka dua sama-sama dikunci dan ..., Argh! lupakan!


"Dewi, mana tugas kamu?" tanya Langit lagi membuat Dewi menoleh.


"Saya juga gak buat, Pak." cengir Dewi membuat Langit menghela nafas panjang.


"Sekarang jalani hukuman kamu dan berdiri di lapangan sampai jam saya habis," suruh Langit membuat Dewi kaget.


"Kenapa saya aja yang dihukum, Pak? Caca juga gak buat tugas! saya gak terima dong!"


"Caca kemarin ada urusan sama Buk Abigail, sekarang kamu keluar!"


Dewi menggerutu kesal lalu keluar dari ruangan tersebut sehingga beberapa siswa menahan tawa, karena siswi yang populer disekolah bisa dihukum oleh Pak Langit.


"Bapak kenapa kayak canggung gitu? gak kek biasanya, Pak?" tanya salah satu siswa membuat Langit menggeleng pelan. "Kalian buat latihan yang belum siap kemarin," suruh Langit sehingga yang lain hanya mengangguk.


"Caca, kau kenapa?!"


Semuanya menoleh pada Suga yang menahan tubuh Caca supaya tak ambruk. ia langsung mengendong Caca buat ke UKS karena khawatir dengan kesehatan Caca yang begitu pucat.

__ADS_1


"Caca kenapa?" tanya Abigail yang hendak melewati Suga. "Caca mendadak demam, Buk!" jelas Suga sehingga Abigail menoleh pada Langit, membuat Langit merasa ada yang tak beres dengan senyuman wanita itu.


"Pak Langit yang terhormat, siswi anda sedang sakit. bukannya harusnya guru yang antar siswinya ke UKS?" jelas Abigail membuat satu kelas menoleh pada Langit. "Dia saja yang mengantar karena saya sibuk," tolak Langit walau dalam hati ia tak suka ada yang mendekati Caca.


"Langit!"


"Iya-iya," pasrah Langit lalu mengambil alih Caca yang membuat satu kelas melongo dengan tindakan Guru killer mereka yang mau saja menurut pada guru BK baru. Abigail tersenyum melihat Langit yang membawa Caca pergi dari sana, membuat Dewi yang sedang menjalankan hukuman pun menoleh.


"Awas saja kau, Caca. gue bakalan buat lo dibenci satu sekolah," kesal Dewi kesal, ia tak suka melihat orang-orang mendekati Caca.


Langit lalu membaringkan tubuh Caca di brankar lalu mengambil minyak angin untuk wanita itu supaya cepat sadar. 'Langit, lo gak boleh menyukai murid lo sendiri,' batin Langit mengusapkan minyak kayu putih itu di bawah hidung Caca dengan hati-hati.


Perlahan, Caca mulai membuka matanya dan menatap wajah Langit yang tak begitu dekat dengannya, pemuda itu juga terpaku melihat manik hitam Caca.


"Bapak tampan banget, sih?"


Deg!


Wajah Langit mendadak makin memerah yang membuat Caca tertawa. "Bapak bisa salting juga hahaha!" tawa Caca membuat Langit tak bisa berkata-kata lagi. ia juga berdebar-debar mendengar ucapan wanita tersebut yang bilang kalau dirinya tampan.


"Saya keluar dulu, kau istirahatlah!"


"Ada apa, Pa?"


{Caca, bisakah kamu menuruti permintaan Papa satu kali ini?}


"Ma-Maksud Papa?"


{Bisakah kamu pulang dulu, Papa ingin mempertemukan kamu ke keluarga calon suami kamu. Papa tau ini terlalu cepat tapi, ini sudah perintah oleh kakek kamu,}


"Caca gak mau dijodohin, Pa! Caca masih sekolah,"


Deg!


Langit yang dibalik pintu pun kaget mendengar Caca dijodohkan, perasaannya mendadak tak karuan saat mendengar itu.


Langsung saja ia masuk yang membuat Caca menoleh pada Langit yang menatapnya.


"Caca, saya ...,"

__ADS_1


*


"Gimana, Tuan Gevan?" tanya Nyonya Reva penasaran membuat semuanya menoleh pada Tuan Gevan yang meletakkan ponsel keatas meja.


"Dia akan memikirkannya lagi," jelas Tuan Gevan jujur, membuat semuanya terdiam.


"Putra kami juga begitu. mungkin, saat mereka bertemu langsung. mereka bakalan berubah pikiran," kekeh Tuan Bambang sehingga semuanya mengangguk pelan.


***


Suga bersandar di dinding rooftop sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah pucatnya.


"Hendra!"


Suga menoleh pada Dewi yang mendekat membuatnya begitu kesal sekali. "Ngapain kau kesini?" tanya Suga kesal.


"Ini tempat biasa aku duduk, kau menyukai Caca?"


mendengar nama Caca, Suga pun menoleh pada Dewi. "Kenapa kau tanya seperti itu?" ketus Suga menoleh pada Dewi.


"Aku takut saja kau terbuai dengan wajah lugunya. padahal, dia itu jahat!"


"memangnya kau tau detail Caca?" selidik Suga penasaran, membuat Dewi mengangguk pelan.


"Aku pernah bertemu dengannya di club malam, saat aku ke minimarket,"


Suga yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, walau ia jauh dengan Caca. ia lebih tau siapa Caca sebenarnya karena sudah diberitahu oleh Mamanya. Caca wanita yang tak suka hal-hal nakal seperti itu.


"Club?"


Dewi kembali mengangguk karena merasa kalau Suga mempercayainya saat ini. "Iya, dia juga pernah disewa paman aku buat satu hari. dia benar-benar bukan wanita baik-baik," jelas Dewi membuat Suga pura-pura percaya.


Wanita itu tak tau saja sifat Mamanya yang selalu menjaga anak tirinya seperti Caca. Mamanya selaku melarang Caca kemana-mana saat hampir mangrib dan selalu memeriksa kegadisan Caca sekali sebulan untuk berjaga-jaga. tak mungkin, Caca bisa bebas dari pengawasan Mamanya.


Ngomong-ngomong, Suga adalah saudara tiri Caca dan anak kandung dari Rianti. ia juga lebih percaya pada Caca yang selalu jujur padanya daripada orang asing seperti Dewi.


"Kau sudah berkata jujur?" tanya Suga lagi.


"Iya, aku sudah jujur. makanya aku bilang sama kamu supaya kamu tak dibodohi oleh Caca," senyum Dewi. "Makasih informasinya, gue ke kelas dulu," ketus Suga lalu pergi dari sana, yang membuat Dewi tersenyum penuh kemenangan karena sudah membodohi Suga.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2