
Langit kembali mengamuk yang membuat Nyonya Reva kesulitan buat menjaga putranya. Langit terus saja meraung tiba-tiba sedangkan Marcell langsung menahan tangan Langit untuk tidak memberontak.
"Langit, ingat pesan gue! anggap semuanya adalah anak kecil!" bujuk Marcell sedangkan Langit terus saja memberontak supaya di lepaskan dari borgol tersebut.
Perlahan, Langit mulai tenang kembali sehingga Nyonya Reva mendekati Langit. "Dikta, kamu harus tenang ya," bujuk Nyonya Reva sehingga Langit menoleh pada Mamanya. "Dikta udah gak sanggup seperti ini, Ma. gak sanggup lagi," lirih Langit terisak kecil.
"Reva, kita harus membawa Dikta keluar kota buat pemulihannya,"
Semuanya menoleh pada Tuan Bambang yang mendekat, sehingga Nyonya Reva setuju. ia ingin putra bungsunya kembali sehat, berapun biayanya pengobatannya. ia tetap bakalan bayar supaya anaknya sembuh.
"Kamu harus ikut Papa pergi ya, biar kondisi kamu pulih," bujuk Tuan Bambang sehingga Langit mengangguk.
"Papa ikat saja tubuh Dikta, biar Dikta gak memberontak lagi," pinta Langit sehingga pria itu mengangguk dan langsung melepaskan borgolnya supaya Langit gak lupa dengannya lagi, kalau pria itu lupa sudah di pastikan Langit bakalan ngamuk lagi.
"Cepat bawa koper yang sudah Mas siapkan, kita berangkat sekarang dan soal Tio, dia sudah tau niat kita buat berangkat," jelas Tuan Bambang sehingga istrinya langsung pergi dari kamar, sedangkan pria itu langsung membantu Langit buat duduk di kursi roda.
"Lo bakalan sembuh, Teman," senyum Marcell lalu menghilang saat Langit sudah pergi, ia juga ingin ikut dengan sahabatnya itu karena ia juga berniat menjaga Langit supaya ada teman bicara buat disana.
Langit hanya diam saat orang-orang membawanya ke sebuah tempat, ia menatap sebuah helikopter yang sudah bersiap berangkat membawa mereka pergi.
Beberapa pria juga mulai mengangkat tubuhnya untuk memasuki helikopter tersebut, begitu juga dengan Mama dan Papa nya yang ikut naik.
Perlahan, Langit memejamkan matanya karena takut saat lepas landas. sedangkan Nyonya Reva langsung mengusap pundak Langit, supaya Langit tak ketakutan lagi.
berjam-jam berlalu...,
Semuanya tampak sibuk menyambut kedatangan keluarga Langit di sebuah lapangan besar, di sana juga terdapat sebuah ambulans untuk membawa Langit ke rumah sakit langsung.
Tiba-tiba suara helikopter terdengar sehingga mereka menoleh ke langit yang di penuhi bintang, langsung saja mereka bergegas membuka pintu ambulans dan ada juga yang memegang sebuah tongkat bercahaya untuk memberikan kode tempat helikopter tersebut mendarat.
Setelah helikopter tersebut mendarat, para petugas langsung membantu Langit turun dari helikopter dan membawanya ke dalam ambulance.
"Selamat datang di Belgia, Tuan dan Nyonya," sambut mereka saat melihat pasangan itu turun, keduanya hanya membalasnya dengan anggukan kecil dan segera menyusul anaknya mengunakan mobil yang juga terparkir di sebelah ambulans.
Ambulance tersebut langsung meninggalkan lokasi lapangan untuk menuju rumah sakit, sedangkan Langit hanya diam di atas brankar karena mengantuk sekali.
pemuda itu juga tak memperdulikan obrolan para petugas itu, ia benar-benar tak mood buat bangun dan yang ia inginkan hanya sembuh dari penyakit yang di deritanya saat ini.
__ADS_1
Ia sudah capek harus menghadapi ingatan nya yang berulah tiba-tiba dan apalagi ia tak bisa mengontrol semua tindakannya akibat kerusakan syaraf otot otaknya. Langit hanya bisa berdoa dalam hati, supaya ia mendapatkan kesembuhan dari penyakitnya.
Tak lama, ia mulai membuka mata dan melihat rumah sakit yang begitu mewah sekali. beberapa wartawan juga mulai berdesakan karena mereka mengetahui mafia sepertinya di rawat di rumah sakit. Langit hanya bisa mengalihkan pandangannya, tanpa berniat menjawab pertanyaan orang-orang tersebut.
Ia juga menatap berbagai macam hantu yang cukup menyeramkan, beberapa hantu tampak menghilang karena tak sanggup berhadapan dengannya yang memiliki penjaga yang cukup kuat. penjaga nya adalah sosok nenek bungkuk, membuat semua hantu tak berani menganggu nya.
"Banyak yang menyeramkan ya,"
Langit melirik kearah Marcell yang berjalan di sebelahnya. sesampai di ruangan, kedua tangan Langit langsung di ikat supaya tak memberontak secara tiba-tiba lagi. sedangkan Marcell memilih duduk di sofa karena ingin menjaganya yang akan di rawat di ruangan khusus seperti sekarang.
"Mendingan kau tidur! biar besok lebih segar,"
"Cerewet," sinis Langit memejamkan mata untuk melanjutkan tidurnya.
*
Pagi harinya, Langit menoleh pada beberapa perawat yang membawakan nya sarapan pagi.
"Tuan sarapan dulu ya," senyum salah satu perawat itu sehingga Langit mengangguk kecil. Perawat itu langsung menyuapi Langit sarapan sedangkan Langit hanya memilih diam karena lapar sekali.
Cklek!
"Gimana keadaan kamu, Dikta?" tanya Tuan Bambang lembut.
"Udah sedikit baikan kok, Pa." balas Langit jujur sehingga Tuan Bambang lega karena ada sedikit perubahan dari anaknya, ia juga mendengar kalau tadi malam Langit tak lagi memberontak.
karena biasanya Langit akan memberontak saat tengah malam. anaknya benar-benar mulai sehat, walau hanya perubahan sedikit.
"Apa kamu baik-baik saja semalam atau .., ada yang menganggu tidurmu?"
"Gak ada kok, Ma. makhluk ghaib nya juga gak ada yang berani dekati Dikta," kekeh Langit sehingga Nyonya Reva tertawa kecil.
"Ya, karena kau jahil sekali dengan mereka. layaknya menjaili manusia," sinis Tuan Bambang yang membuat Langit tertawa pelan, entah kenapa ia sangat menyukai menjaili hantu daripada manusia. karena itu beberapa hantu takut dengannya, karena harga diri mereka ternistai oleh Langit.
Tak lama, pintu ruangan kembali terbuka sehingga Langit menoleh pada wanita itu.
"Dikta, ini adalah perawat yang akan menjaga kamu. Papa sengaja memilihnya karena dia yang dapat Papa percayai disini," jelas Tuan Bambang membuat Langit terdiam, lagi-lagi ingatannya kembali bermasalah yang membuatnya kesakitan sekali.
__ADS_1
"Papa, Dikta kesakitan lagi!" panik Nyonya Reva sehingga wanita itu mendekat lalu mencoba memijat kepala Langit, membuat pemuda itu menoleh pada wanita itu.
"Anda harus tenang, Tuan!"
Pasangan suami-istri itu benar-benar lega saat Langit mulai tenang, walau pemuda itu selalu menatap kearah perawat pribadinya. Langit lalu menoleh pada Mamanya yang memijat kakinya pelan, membuat pemuda itu benar-benar terdiam tanpa memberontak lagi.
"Tenang ya, gak ada yang jahat disini," senyum Nyonya Reva sehingga Langit kembali menoleh pada wanita yang memijat kepalanya.
***
"Dasar wanita gila! aku bukan pria bodoh!"
Langit benar-benar kesal dengan perawat yang menemaninya itu sedangkan wanita bernama Alya itu malah tertawa. "Tuan benar-benar bodoh, mana ada saya bisa jadi dukun," tawa Alya membuat wajah Langit memerah menahan kesalnya.
"Mendingan kau pergi sana, jangan ajak aku bicara lagi!"
"Emang gak takut kalau saya tinggalin, nanti Tuan di temani hantu,"
Pemuda itu kembali menoleh pada Alya. "Aku gak takut hantu, lebih seram wajah kamu yang pucat kek vampir itu," sinis Langit kesal.
Di luar ruangan.
"Lihat, Mas! Dikta sudah mulai banyak bicara," jelas Nyonya Reva menatap putranya yang asik berkelahi dengan perawat tersebut.
"Syukurlah kalau begitu, semoga Dikta bisa sembuh saat Alya mengajak Dikta bicara," kekeh Tuan Bambang sehingga wanita di sampingnya itu mengangguk.
"Alya bodoh! jangan mencubit aku!" kesal Langit membuat Alya tertawa kecil lalu kembali mencubit pipi Langit lagi, pemuda itu berusaha menyelamatkan pipinya dari perawat tersebut. "Alya bodoh! jangan mencubit pipi saya terus! sakit!".
"Saya akan terus cubit pipinya Tuan. kalau Tuan tidak berhenti menyebut saya bodoh,"
"Alya bodoh! Alya setan! berhentilah mencubit pipi aku, aku gak menyukainya!" kesal Langit menatap tajam kearah Alya, sedangkan wanita itu kembali mencubit pipi Langit.
"Argh! Mama, Papa! Dikta gak mau perawat bodoh ini!" teriak Langit supaya Mama dan Papanya cepat kembali dari luar, karena keduanya pamit membeli makanan.
Disisi lain, pasangan itu hanya menahan tawa melihat Langit yang kesal saat di cubit oleh Alya.
"Hentikan, bodoh! pipi aku sakit!"
__ADS_1
Alya lalu menghentikan cubitannya sehingga Langit lega karena pipinya tak di cubit lagi oleh wanita bodoh di sampingnya, ia ingin mengusap pipinya tapi kedua tangannya masih terikat yang membuatnya pasrah.
Bersambung...