Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#41 Kak Tia


__ADS_3

"Daddy, Bangun!"


Langit menggeliat kecil lalu membuka matanya, ia menatap Caca yang tersenyum padanya. membuat Langit mengalihkan pandangannya dari Caca. 'Masih ngambek,' batin Caca menatap Langit yang masih berbaring di lantai.


"Daddy bangun! nanti kita jalan-jalan," ajak Caca membuat Langit beranjak duduk lalu mengangguk pelan. Langsung saja Caca membantu Langit buat berdiri dan duduk di kursi buat sarapan pagi.


"Makan yang banyak, biar cepat sembuhnya!" senyum Caca mengambilkannya sarapan, membuat Langit menatap sayuran sekaligus daging ayam buat nya. "Nanti beneran jalan-jalan ya!" pinta Langit sehingga Caca mengangguk pelan, membuat Langit senang sekali.


Pemuda itu langsung menyantap makanannya dengan lahap, ia ingin sekali jalan-jalan di kota ini karena bosan di masion terus. bagaimanapun, ia butuh hiburan ke luar yang membuat bosannya hilang. Sedangkan Caca bergegas ke kamar buat mengambil jaket buat Langit nanti dijalan.


Langit menoleh pada Caca yang mendekat sambil membawa jaket buatnya dan lalu memasang ketubuhnya.


10 menit kemudian...


Langit tampak sibuk menatap jalanan yang begitu ramai sekali. "Caca, kita ke pantai aja ya," pinta Langit sehingga Caca mengangguk sambil mengusap kepala Langit lembut.


Langit kembali menoleh kearah menoleh kearah kaca mobil, ia benar-benar kagum melihat pemandangan kota yang begitu indah sekali. 'Bukannya itu Kak Tia?' batin Langit menoleh ke belakangnya, ia menatap wanita itu sedang asik melajukan motor. 'Gak mungkin kalau Kak Tia masih hidup, Kak Tia sudah meninggal 2 tahun yang lalu,' batin Langit.


"Awh,"


"Daddy kenapa?" panik Caca memeluk Langit yang meringis sambil memegangi kepalanya yang mendadak sakit sekali. "Kepalaku sakit sekali," lirih Langit menahan tangis.


"Daddy mikirin apa? Daddy harusnya gak boleh pikirkan apapun supaya kepala Daddy gak sakit lagi." jelas Caca mengusap kepala Langit lembut, membuat Langit memejamkan mata buat menahan sakit di kepalanya.


"Ak-Aku lihat Kak Tia disana tadi, dia masih hidup!"


"Tia siapa?"


"Kembaran Bang Tio, semuanya bilang kalau Kak Tia sudah meninggal dan tadi, aku melihatnya!"

__ADS_1


"Mungkin Daddy salah lihat," jelas Caca mempererat pelukannya, sehingga Langit terdiam karena mungkin saja ia terlalu merindukan Kakak yang selalu menyayangi nya.


Sesampai di pantai, Caca langsung memakai topengnya dan membantu Langit buat turun dari mobilnya. "Wah, pantainya bagus banget!" kagum Langit sehingga Caca menggandeng tangan Langit buat jalan-jalan.


"KAK TIA!"


Wanita yang di panggil pun menoleh dan melihat seorang pria yang berusaha berlari mendekatinya. Ia sontak hendak berlari tapi ia malah mendengar suara jatuh, wanita itu kembali berbalik dan melihat Langit terjatuh.


"Langit," lirihnya dan langsung berlari mendekati Langit yang terduduk. Langit menoleh dan melihat wanita yang selama ini ia rindukan.


"Kakak!" tangis Langit memeluk erat Kakaknya tersebut. "Kamu kenapa bisa disini?" tanya Tia membalas pelukan adik kesayangannya tersebut. "Hiks Kakak kenapa pergi tanpa pamit pada Langit? Langit capek cari Kakak waktu itu," jelas Langit jujur, membuat Tia terdiam.


"Kakak waktu itu hamil diluar nikah dan diusir oleh Papa, saat ingin kembali buat bilang kalau aku sudah menikah. tetap saja mereka tak mau menerima kehadiran aku lagi, sehingga aku gak pulang kesana," jelas Tia jujur, wanita itu lalu menoleh pada wanita bertopeng yang mendekati mereka.


Caca langsung membantu Langit berdiri sehingga Langit langsung memeluk Caca karena hampir oleng. "Kakiku sakit sekali," ringis Langit membuat Caca menoleh dan membawa Langit menuju bangku pantai. "Kaki kamu kenapa, Dek?" tanya Tia penasaran sekali.


"MAMA!"


mereka pun menoleh pada anak kecil yang berada di gendongan seorang pria. "Anak Mama udah datang," senyum Tia mengambil alih anaknya itu sehingga Langit menoleh pada anak kecil tersebut. "Langit, ini anaknya Kakak," senyum Tia memperlihatkan anak yang berada di pangkuannya, membuat Langit terdiam beberapa saat.


Langit menyentuh pipi anak kecil itu. "Aku pengen punya anak seperti itu," pinta Langit menyentuh tangan Caca, membuat Caca menoleh pada anak kecil tersebut. "Sabar," balas Caca duduk di samping Langit, membuat Langit memeluk Caca erat.


"Langit, dia siapa?"


"Rahasia," balas Langit tersenyum membuat Tia kebingungan sekali. "Aku pengen anak imut seperti dia ya," pinta Langit menatap Caca sehingga Caca mengangguk sambil mencubit gemes pipi Langit.


2 jam kemudian...


Kini semuanya tampak asik makan di sebuah restauran sedangkan Caca tak berniat makan di hadapan semuanya, bisa-bisa ia ketauan kalau ia yang menculik Langit. Ia juga takut kalau ada suruhan Tio buat melacak keberadaan Langit.

__ADS_1


Sedangkan Langit tampak sibuk menyantap makanan yang disuapkan oleh Caca. "Sekarang, kamu masih suka lupa ingat dengan keadaan?" tanya Tia penasaran membuat Langit menoleh.


"Enggak lagi, Kak. mungkin udah sembuh," jawab Langit sambil mengunyah makanannya yang disiapkan oleh Caca. "Syukurlah kalau begitu," senyum Caca sehingga Langit terkekeh kecil dan kembali menerima suapan dari Caca lagi.


"Aku udah kenyang," tolak Langit sehingga Caca memberikan air minum buat Langit, sehingga Langit langsung meminumnya karena haus sekali.


***


Langit tampak berjalan dengan susah payah menuruni tangga untuk mencari istrinya yang entah kemana. setelah berhasil menuruni tangga, pemuda itu langsung menuju dapur dan melihat Caca yang asik sarapan sendiri.


"Caca!"


"Eh, Daddy kenapa bangun? mimpi buruk lagi?" tanya Caca saat Langit memeluk lehernya. "Pengen dipeluk," pinta Langit sehingga Caca tertawa kecil.


"Aku sarapan dulu, soalnya tadi gak sempat sarapan hehe," cengir Caca kembali menyantap sarapannya sehingga Langit melepaskan pelukannya dan duduk di sebelah Caca.


"Suapin juga,"


Caca langsung menyuapi Langit, membuat pria tersebut senang dan mengunyah makanannya.


"Lapar lagi ya," kekeh Caca sehingga Langit mengangguk sambil menerima suapan lagi. "Pakai sayur," pinta Langit dan langsung saja Caca mengambil beberapa sendok sayur buat Langit makan.


"Caca, kapan-kapan kita ke tempat Kak Tia ya,"


"Iya-iya," pasrah Caca sambil memakan sarapannya, membuat Langit senang sekali karena bisa bermain dengan anak kakaknya itu. Ia sangat menyukai keponakannya yang memiliki pipi chubby dan kemerahan, ingin sekali ia mengigit pipi sang keponakan menggemaskan nya itu.


Tadi saja ia sempat mencubit pipi bocah itu, membuat bocah tersebut menangis karena ulahnya. untung saja ia tak kena omel kecuali pipinya dicubit oleh Caca. sakit sekali!


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2