
Kalau alurnya kalian gak suka, skip aja ya.
Langit hanya diam sambil menatap putra kecilnya yang asik makan kue di sebelahnya, ia lalu mengangkat tangan dan menyentuh pipi putra kecilnya itu. Afgan yang disentuh pun menoleh dan tersenyum dengan mulut penuh dengan kue kesukaan anaknya itu.
Cklek!
Langit tak peduli siapa yang masuk ke kamarnya.
"Dikta, kau sarapan dulu ya," bujuk Abigail sedangkan Langit tak membawanya melainkan mengusap bibir mungil putranya itu. "Dikta, Lo harus sarapan supaya sembuh," bujuk Abigail lagi namun Langit tak menghiraukannya. "Kalau lo begini terus, Caca bakalan sedih dengan keadaan lo yang demam gini. gimana caranya lo ngurus putra lo nantinya,"
"Gue makan sendiri, kau keluarlah!" ketus Langit berusaha duduk sehingga Abigail meletakkan nampan itu di atas meja lalu keluar dari kamar tersebut.
Pria itu menghela nafas panjang karena ia harus sembuh supaya ia bisa menjaga putra kecilnya tersebut.
Ia menoleh pada Afgan yang merangkak mendekatinya dan mulai duduk dipangkuan nya.
"Mam," jelasnya sehingga Langit menyuapi Afgan yang membuat bocah itu tersenyum sambil menerima suapan dari Langit.
Langit juga ikut sarapan supaya cepat sembuh dari demamnya. walau ia masih terpuruk akibat kehilangan wanita yang dicintainya, ia harus berjuang untuk menjaga putranya supaya tumbuh besar.
1 minggu berlalu,
Kondisi Langit sudah membaik, walau pria itu sama sekali tak pernah mau mengobrol dengan keluarga nya. "Dikta, kamu mau kemana?" tanya Nyonya Reva melihat Langit sudah rapi dengan setelan jas kantor dan dengan Afgan di gendongannya.
Bukannya membalas, Langit langsung pergi tanpa berniat membalas pertanyaan Mamanya itu. Nyonya Reva hanya bisa pasrah dengan perubahan sikap putranya yang begitu dingin sejak di tinggal oleh Caca.
Langit memasuki mobilnya dan langsung duduk tak lupa juga ia memasang sabuk pengaman, sehingga Afgan yang duduk di pangkuannya tak jatuh.
Langit tersenyum saat putra kecilnya berceloteh sambil menggigit jari telunjuk mungilnya. "Senang banget ya, Daddy ajak jalan-jalan," kekeh Langit mengusap kepala putranya itu lembut.
__ADS_1
Tak lama, keduanya sampai di sebuah kantor yang selama ini diurus olah Papanya. Langit menghela nafas lalu mengendong Afgan memasuki kantor yang membuat beberapa wanita kagum melihat Langit begitu tampan ditambah sedang mengendong anak kecil.
"Saya membayar kalian buat bekerja, bukan menatap saya," tutur Langit dengan dinginnya yang membuat semuanya langsung melakukan aktivitas masing-masing tanpa menatap kearah Langit yang sudah pergi dari sana.
Langit lalu mendudukkan putra kecilnya dilantai dan mengeluarkan mainan sekaligus cemilan dari dalam tas kecil yang sempat ia bawa. balita itu tampak tertawa kesenangan melihat bola-bola yang ada dihadapannya dan sesekali merangkak kesana-kemari mengambil bola berwarna tersebut.
Afgan benar-benar tumbuh menjadi balita yang lincah dan ceria, membuat Langit benar-benar bahagia. Ia juga sudah tak berniat untuk mencari wanita sebagai ibu sambung anaknya itu.
Langit lalu menuju mejanya untuk menyelesaikan berkasnya yang menumpuk, kadang ia juga memerhatikan anaknya yang asik bermain bola dan melempar bola itu kesembarangan arah.
"Daddyh!"
Bocah itu merangkak mendekati Langit sambil menggenggam sebuah kue, membuat Langit mengendong Afgan dan mendudukkannya di pangkuannya. Ia langsung saja membuka bungkus kue itu yang membuat Afgan bertepuk tangan senang sekali.
"Jangan bandel ya, Daddy lagi kerja," bujuk Langit mencium puncak kepala Afgan yang asik makan kue, walau tak mengerti maksud Daddynya. Balita itu hanya menoleh sambil tersenyum membuat Langit gemes dengan anaknya itu.
Tok!
Tok!
Cklek!
Langit menoleh pada wanita yang masuk dengan penampilan meresahkan. "Permisi, Pak. saya ingin melamar kerjaan disini," jelas wanita itu sehingga Langit beranjak berdiri lalu mendudukkan putranya di lantai. "Saya keluar sebentar dan titip Afgan," jelas Langit bergegas keluar dari ruangan tersebut.
"Astaga, atasan gue tampan banget. gue harus mendapatkannya," kekeh wanita itu menoleh pada anak kecil yang juga menatapnya. "Wah, mengemaskan nya," gumam wanita itu mendekati bocah itu, Afgan lalu mendekati wanita itu dan berusaha berdiri memegangi tangan wanita itu.
"Bocah ini mengemaskan banget," kekeh wanita itu menoel-noel pipi Afgan.
Huweekk!
__ADS_1
"What!" pekik wanita itu mendorong Afgan hingga jatuh, membuat bocah itu menangis karena kesakitan. "Bocah s i a l a n! pake acara muntah segala di baju gua," kesal wanita itu.
Cklek!
"Kau apakan anak saya?" tanya Langit bergegas mendekati Afgan yang menangis keras.
"Dia muntahin saat, Pak! mana baju saya mahal," kesal wanita itu membuat Langit marah saat menyadari wanita itu membuat putranya menangis, ia mengeluarkan uangnya dan melemparnya ke tubuh wanita itu.
"Saya ganti dan kau saya tolak!" bentak Langit lalu bergegas menuju toilet untuk membersihkan mulut putranya yang terkena muntah. "Jangan nangis ya, Maafin Daddy ninggalin kamu," jelas Langit menghapus air mata Afgan. entah kenapa, ia juga ikut menangis melihat anaknya yang menangis tersedu-sedu.
Ia tak suka kalau anaknya dibuat menangis seperti ini. "Berhentilah menangis, Daddy sedih melihat kamu menangis," lirih Langit memeluk putranya itu erat dan tak lupa mencium pipi chubby putranya tersebut.
Setelah agak tenang, Langit membawa anaknya itu keluar dari toilet dan mendudukkan nya di lantai, lalu memberikannya mainan lagi.
5 jam berlalu...
Langit menoleh pada Afgan yang sudah tertidur lelap di lantai karena lelah bermain, langsung saja ia membereskan semua berkasnya dan bergegas memasukkan semua mainan anaknya kedalam tas. Setelah itu, ia langsung mengendong putranya itu pergi dari ruangan karena anaknya bakalan nyaman tidur di masion.
***
Sebuah mobil mewah terhenti di halaman masion dan terlihat Langit yang mengendong Afgan yang sudah tertidur lelap di gendongannya.
"Gimana urusan kantornya, Dikta?" tanya Tuan Bambang tapi tak dibalas oleh Langit dan sehingga Tuan Bambang pasrah dengan sikap dingin putranya itu. Setelah masuk ke kamar, ia yakin kalau putranya itu tak akan keluar lagi kecuali saat sarapan saja.
Langit lalu membaringkan Afgan dengan hati-hati di kasur supaya putranya itu tak terganggu olehnya. Ia tak ingin balita mungil itu menangis karena terganggu olehnya.
Ia juga membuka sepatu mungil yang masih melekat di kaki Afgan dan meletakkannya ke tempat biasa. setelah itu ia langsung mengganti pakaian anaknya supaya Afgan bisa tertidur lebih nyenyak.
"Eh, kebangun ya," kekeh Langit menepuk lengan kiri Afgan, membuat balita itu menoleh lalu beranjak duduk. "Num," pinta bocah itu sehingga ia langsung bergegas mengambil botol susu yang ada di dalam tas dan memberikan pada anaknya tersebut.
__ADS_1
Perlahan, Afgan kembali berbaring sambil memegangi botol susunya. Langit langsung saja menepuk lengan Afgan lembut supaya balita tersebut kembali tertidur lelap lagi. "Ayo tidur, Daddy temani," senyum Langit membuat Afgan mulai memejamkan matanya untuk melanjutkan tidurnya.
Bersambung...