
Langit langsung di bawa keruangan UGD karena kondisinya yang benar-benar darurat sekali, ditambah detak jantung Langit yang melemah. Marcell tiba-tiba muncul di samping Aisyah membuat wanita itu kaget.
Marcell menatap tajam kearah Aisyah. "Kalau sahabat gue kenapa-napa, lo bakalan gue teror," tekan Marcell lalu berjalan menembus pintu ruangan tersebut.
"Aisyah, kamu gak papa?"
Aisyah menoleh sambil terisak kecil. "Hiks Kakak, orang yang nyelamatin aku ditabrak hiks," tangis Aisyah memeluk saudara kandungnya, membuat wanita yang di peluk kaget.
"Siapa yang selamatkan kamu?"
"Hiks pria yang ada di ponsel kakak hiks,"
Deg!
Bella yang mendengarnya begitu kaget sekali, ia tak ingin membuat masalah lagi. "Kak, aku takut kalau dia kenapa-napa hiks. teman hantunya marah sama aku," isak Aisyah menangis di pelukan Bella.
"Kamu tenanglah, dia bakalan baik-baik saja dan kita tunggu kedatangan Dokter,"
Aisyah hanya mengangguk pelan sedangkan Bella menoleh kearah pintu UGD yang terbuat dari kaca blur tersebut.
Tak lama, Dokter pun keluar dengan tergesa-gesa membuat kedua wanita itu menoleh padanya. "Dokter, gimana keadaannya?" tanya Bella penasaran yang membuat Dokter menoleh.
"Pasien kekurangan darah O, apa kalian keluarganya?"
Bella maupun Aisyah terdiam karena mereka bukan keluarga Langit.
"Saya Abang kandungnya!"
Semuanya menoleh pada seorang pria yang bergegas mendekat, Tio begitu khawatir dengan adiknya setelah mendapat kabar kalau rumah tangga adiknya di ujung tanduk dan sekarang, adiknya malah tertabrak mobil.
"Kalau begitu ikut saya, anda harus di periksa dulu," jelas Dokter itu sehingga Tio mengangguk dan mengikuti Dokter itu menuju ruangan pemeriksaan. 'Apa aku harus bilang sama pria itu karena kesalahpahaman ini,' batin Bella melirik Tio yang sudah menjauh dari mereka. 'Sepertinya harus,'
*
"Jadi, kau yang mengirim pesan itu?"
Bella hanya mengangguk pelan, Tio gak menyangka semuanya berawal dari pesan ke sasar. "Semuanya berantakan gara-gara pesan kamu! Papa gue jantungan saat mendengar Tuan Gevan menceritakan pesan itu dan mengatakan akan menceraikan Langit dengan Caca. sekarang, Adik gue Cacat!" kesal Tio membuat keduanya menunduk takut.
"Gue minta maaf, gue bakalan cari Caca dan jelaskan semuanya pada dia dan Tuan Gevan,"
"Percuma! semuanya sudah hancur! gue gak sanggup saat Dikta mengetahui semuanya setelah sadar," lirih Tio mengusap wajahnya kasar, membuat Bella benar-benar bersalah. ia tak menyangka akan menjadi perusak rumah tangga orang.
Padahal, ia ingin memberikan kabar pada Kekasihnya atas kehamilannya ini. "Aku akan menyatukan mereka kembali, saya permisi!" pamit Bella menarik tangan Aisyah buat pergi dari sana.
__ADS_1
Tio beranjak duduk di brankar, pemuda itu masih pusing akibat mendonorkan darah buat adiknya itu. Ia mengambil ponselnya dan melihat pesan bertubi-tubi dari Mamanya. "Gue harus bilang apa?" gumam Tio kebingungan.
Langsung saja ia mengangkat panggilan masuk dari Reva, mamanya.
"Ada apa, Ma?"
{Tio, gimana? apa yang dikatakan Dikta? semuanya gak benar, bukan?}
"Itu semua gak benar,"
{Dimana Dikta? Papa mau bicara dengannya sekarang!}
Tio terdiam saat mendengar suara Papanya.
"Di-Dikta lagi istirahat, Pa. kapan-kapan Tio hubungi Papa saat Langit sudah tenang ya"
{Baiklah,}
Tio mematikan ponsel tersebut, ia lalu turun dari Brankar untuk menemui adiknya untuk memastikan sang adik tak kenapa-napa, Tio juga memegangi kepalanya yang kembali pusing sekali.
"Tu-Tuan!"
Tio menoleh pada wanita yang menahan tubuhnya. "Tuan harusnya istirahat," peringat suster itu sehingga Tio terdiam. "Saya ingin keruangan adik saya," jelas Tio sehingga Suster itu membantu Tio menuju ruangan Langit.
"Baik, Syifa!"
Suster bernama Syifa itu lalu membawa Tio, sesampai di ruangan sana. Tio melihat Langit yang sudah sadar dari masa kritisnya, pemuda itu juga menoleh padanya.
"Dikta, lo udah gak papa?" tanya Tio sedangkan Langit hanya diam lalu mengangguk pelan.
"Lo cepat-cepat sehat, biar kau bisa segera pulang,"
"Abang kenapa pucat gitu?" tanya Langit dengan suara pelannya, ia begitu bingung melihat abangnya yang pucat sekali. "Efek donor darah buat lo," kekeh Tio lalu duduk di brankar yang di akan beberapa suster.
"Maaf,"
"Gak papa, lo adalah saudara kandung gue,"
Langit tersenyum tipis lalu menoleh pada kedua kakinya yang di perban. "Gue dah cacat ya?" tanya Langit membuat Tio terdiam beberapa saat.
"Lo bisa sembuh kok," bohongnya karena ia tak tega kalau Langit tau, kalau dia sudah tak ada kesempatan buat berjalan lagi dan tak hanya itu, Langit juga mengalami kerusakan syaraf otak. dia tak akan bisa mengontrol semua tindakan nya, yang awalnya di kendalikan oleh otaknya. ditambah, Langit tak akan bisa mengontrol semua perasaanya.
Langit terdiam, ia juga sudah pasrah dengan kehidupannya sekarang dan ia juga gak bisa kembali seperti dulu. Tio yang melihat adiknya sedih hanya bisa diam, ia juga harus waspada dengan adiknya yang bisa nekat.
__ADS_1
Disisi lain, Bella tampak mengotak-atik ponselnya sambil menunggu seseorang.
"Maaf, apa anda yang bernama Bella?"
Bella menoleh pada pria paruh baya, ia langsung berdiri lalu menyuruh pria itu duduk dan tak pula juga, ia tersenyum pada wanita muda di samping pria itu. "Iya, saya sendiri." senyum Bella membuat kedua orang itu mengangguk pelan.
"Apakah kamu benar-benar hamil anak putra saya?" tanya pria itu penasaran sehingga Bella mengangguk. "Bapak tenang saja, saya tak akan mempermasalahkan soal kandungan saya padanya. saya sudah tak sudi menikah dengan nya, karena sudah banyak korban karena ulahnya." jelas Bella santai.
"Kak, Kakak bisa menikah dengan Abang aku. Kami gak mau semuanya tersebar sehingga nama keluarga kami tercoreng," jelas wanita itu kesal.
"Aku tak peduli, ini semua kesalahan nya karena membius saya dan tunggu saja wanita lainnya akan ke rumah anda," jelas Bella lalu pamit pergi.
"S i a l a n! kalau begini perusahaan kita hancur dan semuanya gara-gara Edwar," kesal pria itu.
***
Berbulan-bulan kemudian,
Tio mendorong kursi roda Langit menuju rumahnya. "Ini adik kamu, Mas?" tanya seorang wanita hamil mendekat sehingga Tio mengangguk, sedangkan Langit tak menghiraukannya.
"Siapkan sarapan buat Dikta,"
"Baik," balas wanita itu bergegas ke dapur.
Tio lalu mendorong kursi roda milik Langit menuju dapur. "Masakannya mau apaan?" tanya wanita itu penasaran yang membuat Langit menoleh sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya.
"Jangan pakai udang ataupun tomat," jelas Tio karena Langit sangat jarang mengeluarkan suaranya sejak dirumah sakit, pemuda itu bakalan ngomong saat ada perlu saja.
"Baik, Mas. owh iya, aku pengen minta beliin martabak, boleh?"
"Baiklah, tolong jaga Dikta sebentar dan kamu harus hati-hati terhadap Dikta,"
"Baik, Mas."
Tio langsung pergi sehingga Langit menoleh pada Abangnya yang pergi. suasana di dapur itu mendadak sunyi karena tak ada obrolan.
"Eh, Ka-Kamu mau kemana?"
Langit menoleh pada tangan wanita itu menyentuh kursi rodanya, ia langsung mendorong wanita tersebut hingga jatuh. membuat para maid panik dan membantu wanita itu, Langit langsung pergi dari sana karena tak suka berdekatan dengan wanita asing.
Bersambung...
kak mohon add aku dong😁
__ADS_1