Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#38 Sosok Anak Kecil


__ADS_3

Siang harinya, Caca membantu Langit duduk sehingga pria itu langsung bersandar di brankar.


"Caca, saya bosan disini," lirih Langit jujur yang membuat Caca menoleh pada pria tersebut.


"Bosan kenapa? kau keluar dari sini?"


Langit hanya mengangguk yang membuat Caca lalu membantu Langit buat menuju kursi rodanya, dengan susah payah, akhirnya Caca berhasil mendudukkan Langit di kursi roda dan membawa pria itu keluar dari ruangan.


"Caca, saya ingin berusaha berdiri,"


"Baiklah, biar Caca bantu,"


Caca langsung berusaha memegangi tubuh Langit, sedangkan pria itu berusaha berdiri walau kesusahan sekali. ia bertekad akan sembuh dari lumpuhnya karena bosan duduk di kursi roda tersebut.


Pria itu kembali terduduk sehingga Langit kesal sekali karena tak bisa berdiri sempurna. "Caca, apa aku bakalan bisa berjalan lagi?" tanya Langit menunduk sehingga Caca berjongkok di hadapan Langit.


"Daddy bakalan bisa berjalan lagi, Daddy harus semangat," senyum Caca mencubit kedua pipi Langit, membuat pria itu mengangguk lalu tersenyum manis. "Sekarang, Daddy harus sarapan ya,".


Caca langsung mendorong kursi roda Langit menuju ruang makan, Langit benar-benar kagum melihat banyak sekali makanan yang tertata rapi di atas meja. Langit menoleh pada Caca yang membantunya buat duduk di kursi karena tak mungkin Langit duduk di kursi roda dengan meja yang cukup tinggi.


"Kamu terbebani?"


"Gak kok, Dad. malahan Caca suka membantu Daddy," senyum Caca mengambil sarapan buat pria idamannya itu, sedangkan Langit hanya tersenyum menatap Caca yang mengambilkannya sarapan. Ia lalu menyantap makanannya karena begitu lapar sekali saat ini.


"Apa kamu yang memasak ini semua?"


"Iya, gak enak ya?"


"Bukan begitu, masakan kamu benar-benar enak sekali. kamu memang pintar memasak,"


"Argh! Caca malu di puji Daddy!" kekeh Caca yang membuat Langit tersenyum lalu kembali memakan sarapannya lagi, sesekali pria itu mengambil sosis yang ada di piring yang dibuatkan khusus buatnya.


"Kenapa kamu goreng sosisnya sedikit?"


"Sosisnya habis, nanti mau aku beli lagi, Dad."


"Beli yang banyak, soalnya enak banget!"


"Baiklah," balas Caca sambil memakan sarapannya tersebut lalu mengambil sayur.

__ADS_1


"Caca, saat kau melakukannya pada aku. kau sudah minum obat, kan?"


"Kenapa Daddy nanya begitu?"


"Aku tak ingin kamu hamil dulu di saat aku masih seperti ini,"


"Tenanglah, Dad. Caca pakai KB karena pengen aja pasang," kekeh Caca yang membuat Langit menoleh. "Dalam jangka waktu berapa lama?" selidik Langit penasaran sekali.


"Enam bulan," balas Caca dengan entengnya sedangkan Langit terdiam karena bingung. 'Emang bisa sampai 6 bulan?' batin Langit sambil mengunyah makanannya tersebut.


Setelah selesai sarapan, Caca langsung membawa Langit menuju ruang tamu dan memberikan Langit toples yang berisi kripik pedas, membuat Langit langsung membukanya walau tangannya masih sakit akibat ingus s i a l a n tersebut.


Ia lalu memakannya dan menonton film yang diputarkan oleh Caca, tatapannya teralih pada sosok anak kecil yang asik bermain kesana-kemari, Langit bisa merasakan hawa positif dari kedua anak kecil tersebut.


Tiba-tiba sosok bocah itu mendekatinya lalu memeluk kedua kakinya, membuat Langit kebingungan sekali.


"Awh, lepaskan pelukan kalian!"


Caca menoleh pada Langit yang kesakitan dan sesekali mengulurkan tangan seperti mendorong seseorang. "Daddy kenapa?" tanya Caca panik sedangkan Langit menangis karena kedua kakinya kesakitan saat di sentuh kedua sosok itu.


"Hiks lepaskan!"


"Daddy kenapa?"


"Siapa yang peluk kaki, Daddy?" tanya Caca penasaran sehingga Langit menggeleng lalu menatap sekelilingnya dan melihat kedua bocah itu tersenyum lalu pergi menghilang. "Udah gak sakit?".


"Ud-udah,"


Langit langsung memeluk Caca karena masih takut kalau sosok itu tiba-tiba memeluk kakinya, ia juga merasakan sakit yang luar biasa terhadap kakinya tersebut, seakan rasanya mau patah.


*


Langit tampak berusaha berdiri sambil berdiri tanpa di ketahui oleh Caca yang sibuk mencuci pakaian.


Brukh!


Lagi-lagi Langit terduduk karena tak sanggup buat berdiri. "Ayolah! gue ingin berjalan," kesalnya berusaha menggapai tiang tempat tidur dan berusaha buat bangkit, ia benar-benar senang saat sudah mulai bisa berdiri walau kedua kakinya masih terasa sakit.


Cklek!

__ADS_1


Langit menoleh pada Caca yang masuk. "Astaga, Daddy bisa berdiri!" senang Caca lalu bergegas menyambut tubuh Langit yang hampir jatuh.


"Aku sedikit lagi bisa," senyum Langit sehingga Caca mengangguk pelan yang membuat Langit senang sekali.


"Ayo coba angkat kakinya,"


Langit langsung menoleh kebawah dan berusaha mengangkat sebelah kakinya. "Gak bisa, Caca aku mau duduk," pinta Langit yang membuat Caca langsung mendudukkan Langit di tempat tidur.


"Nih, aku bawain cemilan supaya Daddy gak bosan,"


Pria itu lalu menerima cemilan yang diberikan oleh Caca, ia begitu senang karena cemilan itu adalah cemilan kesukaannya waktu sekolah dulu. "Kamu beli ini dimana?" tanya Langit sambil memakan cemilannya tersebut.


"Diwarung depan, Daddy suka?"


Langit hanya mengangguk sambil memakan cemilannya itu dengan lahap. "Nanti Caca beliin lagi, Daddy disini dulu soalnya Caca mau jemur pakaian dulu," jelas Caca sehingga Langit mengangguk pelan.


Langit benar-benar senang karena Caca membawakannya cemilan yang cukup banyak sehingga ia tak bosan duduk sendiri di tempat tidur, ia juga berusaha mengambil remote di atas meja lalu menghidupkan televisi untuk menonton.


***


Caca tampak sibuk menjemur pakaiannya berserta Langit, karena cuaca hari ini benar-benar terik dan cocok buat menjemur pakaian yang sudah ia cuci tadi.


Ia juga sesekali menoleh kearah anak-anak yang asik bermain tak jauh darinya.


Setelah selesai menjemur pakaian, Caca langsung menuju pohon jeruk yang berbuah lebat. ia berniat akan membuatkan jus untuk Langit nanti, sehingga ia langsung mengambil cukup banyak buah jeruk manis tersebut.


"Selamat siang, Clara!"


Caca menoleh pada tetangganya. "Pagi juga, Kak." senyum Caca membuat wanita itu menoleh kearah pakaian yang di jemur oleh Caca.


"Caca, kenapa ada pakaian pria? bukannya kamu tinggal sendiri 3 minggu ini?"


"Owh ini, kemarin Caca jemput suami Caca," jelas Caca tersenyum sehingga wanita itu mengangguk paham. "Caca kedalam dulu ya,".


Caca bergegas memasuki rumahnya itu dan..,


Prang!


Caca sontak menjatuhkan baskom yang ia pegang tersebut saat kaget melihat pemandangan di hadapannya.

__ADS_1


"Daddy!"


Bersambung...


__ADS_2