Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#44 Marcell Kembali


__ADS_3

Afgan mulai membuka matanya dan mengusap matanya yang benar-benar perih, balita itu menoleh pada Daddynya yang tertidur sambil memeluk tubuhnya. Bocah itu menatap sekelilingnya nya karena tak menemukan Mamanya.


"Mamma," celotehnya membuat Langit terbangun saat putra kecilnya sudah terbangun dari tidurnya sambil mengerakkan kedua tangannya dan tak lupa mengerakkan kedua kaki mungilnya.


"Putranya Daddy udah bangun aja," senyum Langit mencium pipi putranya yang membuat Afgan tertawa girang saat mendapatkan ciuman dari sang Daddy. "Mamma," ucap Afgan sambil menoleh kesuatu tempat, membuat Langit ikut menoleh dan tidak melihat siapa-siapa.


"Afgan kangen sama Mama ya? kapan-kapan Daddy ajak ketempat Mama ya, soalnya Afgan masih kecil buat kesana," senyum Langit berusaha menahan tangisnya, pria itu beranjak duduk lalu hati-hati mengendong putranya tersebut. "Afgan mandi dulu ya,".


Langit langsung membawa putranya itu untuk mandi siang, karena anaknya itu pasti lapar sekali karena belum makan siang. setelah mandi dan mengganti pakaian putra kecilnya, ia lalu membawa Afgan ke lantai bawah dan melihat Abigail yang asik bermain dengan anaknya.


"Dikta, Mama dan Papa pamit keluar negri buat antar Bang Tio. kau gak papa berdua di masion ini?" tanya Abigail sehingga Langit menoleh sekilas lalu kembali berjalan menuju dapur.


"Kau harus sabar dengan sikapnya," bujuk Suga mengendong anaknya sehingga Abigail mengangguk pelan. "Ayo pulang,".


Abigail lalu mengikuti suaminya itu buat pulang sedangkan Langit hanya menghela nafas pendek, ia begitu itu melihat pasangan yang lengkap dan sangat berbeda dengannya yang sekarang menjadi duda beranak satu yang masih kecil.


Walau ia sudah tak memiliki istri, ia tak akan menyerah buat membesarkan putra kecilnya ini. Langit menghela nafas panjang sambil membuatkan sarapan buat putra kecilnya yang sudah lapar tersebut.


"Gue kembali!"


Langit melirik kearah Marcell yang baru muncul setelah sekian abad menghilang. "Eh, anak siapa ini?" tanya Marcell hendak menyentuh Afgan tapi tak bisa. "Anak gue," jawab Langit dingin membuat Marcell bingung sekali, apa ia pergi terlalu lama sehingga tak tau apa-apa saat ini.


Marcell lalu menyentuh pundak Langit dan melihat semua kenangan Langit yang sempat ia tinggalkan. tiba-tiba ia tersentak kaget saat tak sengaja melihat kesedihan sahabatnya itu.


"Ja-jadi Caca?"

__ADS_1


"Udah meninggal," potong Langit membuat Marcell terdiam dan melihat Langit yang sibuk menyuapi Afgan yang tampak begitu tenang saat sedang disuapi oleh Langit. "Gue harap lo ikhlaskan kepergian Caca," lirih Marcell membuat Langit terdiam beberapa saat.


"Andai gue tau penyakit ganas Caca. mungkin gue udah menyuruhnya buat kemoterapi, dia benar-benar wanita jahat dan menyembunyikan penyakitnya dari gue lalu bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa," lirih Langit membuat Marcell menoleh.


"Mungkin dia gak ingin lo bersedih,"


"Tetap saja gue bakalan sedih kalau ditinggal mendadak seperti ini, gue sebenarnya gak ikhlas kepergian orang yang gue sayang tapi, gue gak mungkin egois sehingga Caca gak bakalan tenang. Gue berharap bisa melihat Caca seperti gue melihat lo, tetap saja gue gak bisa melihat arwah wanita gue,"


Marcell menghela nafas pendek, ia juga bingung harus menjawab ucapan sahabatnya itu. "Lo hanya bisa melihat arwah yang gak tenang dan sedangkan istri lo udah tenang disana karena tugasnya selesai menjaga Lo dan memberikan lo anak yang mengemaskan seperti balita ini," jelas Marcell yang membuat Langit menoleh pada Afgan yang asik mengunyah pelan bubur nya itu. "Lo harus kuat buat jalani hari tanpa Caca, sekarang lo gak sendiri karena sudah ada anak lo yang harus lo rawat,".


Langit hanya mengangguk kecil dan kembali menyuapi anak nya itu lagi.


"Tinggalkan gue sendiri, gue pengen berdua dengan anak gue saja dan gak butuh ada orang lain,"


"Baiklah, lo jangan nekat!"


"Daddy bakalan jagain kamu hingga tumbuh besar dan gak akan kekurangan kasih sayang sedikitpun," senyum Langit kembali menyuapi Afgan lagi, sehingga Balita itu menurut dan memakan bubur tersebut.


Sesekali Afgan tampak berceloteh membuat Langit tersenyum tipis saat melihat pipi anaknya yang mengemaskan sekali.


Setelah sarapan, Langit langsung membawa anaknya keluar dari masion untuk bermain di taman di samping masion yang membuat balita itu bahagia sekali sambil menatap keatas karena melihat banyak buah jambu berwarna merah segar.


Langit lalu menggelarkan tikar dan mendudukkan anaknya itu di sana sehingga Afgan langsung merangkak mendekati Langit yang duduk. "Ututu, pengen duduk di pangkuan Daddy ya," kekeh Langit mendudukkan Afgan di pangkuannya.


'Caca, andai kamu masih ada. mungkin aku sudah senang sekali melihat kamu tertawa bersama anak kita,' batin Langit melihat Afgan yang memainkan jarinya mengunakan jari mungilnya tersebut.

__ADS_1


"Jangan gigit tangan Daddy!"


Afgan menoleh dengan tatapan polosnya lalu tertawa kecil membuat Langit geleng-geleng. "Daddy lagi marah malah ketawa," kesal Langit sehingga Afgan tertawa walau bocah itu tak paham dengan perkataan Daddynya itu, Afgan tertawa hanya melihat wajah kesal Langit.


Membuat Afgan berusaha berdiri yang dibantu oleh Langit. "Mau belajar berjalan ya?" kekeh Langit membuat bocah itu kembali tertawa dan berusaha mengangkat kaki nya buat mendekati Daddynya tersebut.


"Semangat, nanti Daddy beliin mainan yang banyak buat Afgan," jelas Langit hati-hati melepaskan genggaman putranya itu, belum sempat terlepas. Langit langsung memeluk anaknya yang hampir jatuh akibat belum bisa menyeimbangkan tubuhnya tersebut. Sama sepertinya saat mulai berusaha berjalan.


***


Langit memasuki masion menuju ruang, pria itu mendudukkan putranya di karpet sehingga Afgan bergegas merangkak menuju tumpukan mainan yang dibelikan oleh neneknya dua hari yang lalu.


Sedangkan Langit mengeluarkan ponselnya untuk membuka beberapa aplikasi untuk memastikan tak ada pesan penting yang masuk. ia lalu berjalan menuju lemari kaca dan mengambil ponsel milik Caca yang membuatnya tersenyum.


Ia hampir saja melupakan ponsel milik istrinya yang ia simpan kemarin. Ia kembali duduk di sofa dan mengotak-atik ponsel wanita nya untuk melampiaskan rindunya tersebut, Langit menatap banyak sekali foto istrinya termasuk foto dirinya yang tengah tertidur lelap.


Tatapannya teralih kesebuah video yang menampilkan ia berusaha berjalan.


"Lihat itu, pria bandel yang keras kepala. disuruh tidur malah jalan terus tanpa menghiraukan kondisi. walau bandel, Caca mencintainya!"


Langit hanya tersenyum tipis mendengar suara istrinya tersebut. Ia lalu melirik kearah Afgan yang asik bermain bola karet dan sesekali menggigit gemes bola tersebut.


"Jangan digigit bolanya!"


Afgan menoleh kearah Langit sehingga bocah itu membuang bola itu dan bergegas menuju tumpukan mainan tersebut, sedangkan Langit kembali mengotak-atik ponsel milik wanita yang dicintainya tersebut untuk memeriksa semuanya.

__ADS_1


Walau ia sudah memeriksa semua aplikasi Caca, tetap saja ia kembali memeriksanya lagi sambil berbaring di sofa.


Bersambung...


__ADS_2