Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#37 Kambuh


__ADS_3

Langit menoleh pada Caca yang memasang bajunya karena Caca habis memandikannya. "Sekarang kita keluar," senyum Caca setelah menyisir rambut dan bergegas menuju luar.


"Kemana anak kecil itu?"


"Sudah dibawa, emangnya kenapa?"


"Gak papa," balas Langit, Caca hanya mengangguk lalu membawa Langit menuju dapur buat sarapan pagi. "Caca, boleh pinjam ponsel buat nelpon Mamaku? aku takut mereka khawatir sekali," jelas Langit membuat Caca terdiam beberapa saat.


"Aku takut Daddy bakalan dilacak, sehingga Daddy di bawa kembali," lirih Caca menunduk yang membuat Langit menggelengkan kepalanya, sehingga Caca menoleh. "Aku gak bakalan bilang sama mereka, aku hanya bilang kalau aku baik-baik saja," jelas Langit jujur sehingga Caca berlari pergi, membuat Langit bingung.


Tak lama, Caca mendekat sambil menyodorkan ponsel yang sengaja ia pinjam pada bodyguard nya. "Pakailah," suruh Caca sehingga Langit mengangguk dan menerima ponsel tersebut, ia juga langsung mengetik nomor Mamanya lalu menelponnya.


{Siapa?}


"Mama, ini Dikta!"


{Astaga, Dikta! kamu dimana sekarang? siapa yang culik kamu?}


"Dikta baik-baik saja kok, Ma. Mama dan Papa baik-baik disana ya, Dikta gak tau sampai kapan Dikta kembali. Orang yang bawa Dikta gak ijinin Dikta pulang,"


Caca hanya mendengus kesal saat mendengar perkataan pria itu, sedangkan Langit hanya bersikap biasa-biasa saja tanpa merasa bersalah pada mantan istrinya itu.


{Dikta, kamu bilang saja kamu dimana sekarang! biar, Mama ataupun Papa yang jemput kamu. Mama takut kamu kenapa-napa disana,}


"Mama, Dikta baik-baik saja. Mama gak usah khawatir okey, Dikta sayang Mama dan Papa,"


Langit langsung mematikan panggilan itu dan memberikan ponselnya pada Caca, sehingga Caca bergegas pergi untuk mengembalikan ponsel tersebut. 'Mama tenang saja, Dikta bakalan pulang setelah sembuh,' batin Langit tersenyum tipis.


Tap!


Tap!.


"Tunggu bentar ya, aku panaskan soupnya dulu,"


Langit hanya mengangguk sambil menopang pipinya ke atas meja untuk tidur, sesekali ia menoleh pada Caca yang sibuk mengaduk soup yang sudah agak dingin tersebut.


Prang!


Caca tersentak kaget lalu menoleh pada Langit yang memegangi kepalanya yang kembali sakit. "Kamu kenapa?" panik Caca memeluk Langit sedangkan Langit hanya diam sambil berusaha menahan rasa sakit di kepalanya tersebut. "Caca, kepala saya sakit," lirih Langit menggenggam erat rambut nya supaya sakit di kepalanya hilang.


Wanita itu langsung mengusap lembut kepala Langit sedangkan pria itu agak tenang sehingga Caca lega. "Bibi, tolong soupnya!" pinta Maid yang kebetulan datang saat mendengar suara kaca pecah.

__ADS_1


"Baik, Non."


Caca lalu menoleh pada Langit yang sudah terisak pelan, sambil memejamkan matanya karena masih pusing. "Daddy bakalan sembuh," jelas Caca mencium puncak kepala Langit lembut, sedangkan pria itu hanya mengangguk sambil memegangi tangan kanan Caca supaya mengusap kepalanya lagi.


Caca lalu melepaskan pelukan tersebut dan membawa Langit ke sebuah ruangan yang sudah mirip dengan ruangan rumah sakit. Ia lalu berusaha membaringkan Langit di brankar dengan susah payah, apalagi Langit tak bisa berdiri sempurna karena lumpuh.


"Daddy disini dulu, Caca panggil Dokter dulu,"


Langit menoleh pada Caca yang berlari pergi mencari Dokter. Tak lama, Langit melihat dua pria berpakaian jas Dokter mendekatinya dengan tergesa-gesa.


"Nona, tahan Tuan saat kami memasangkannya infus,"


Caca hanya mengangguk sehingga ia langsung memeluk Langit, pemuda itu langsung menyembunyikan wajahnya karena kesakitan sekali saat dipasangkan infus ke lengannya. "Sakit banget ya?" tanya Caca mengusap kepala Langit lembut.


Langit lalu melirik tangannya yang sudah di pasangkan infus oleh Dokter itu, membuatnya benar-benar lega sekali.


"Caca keluar dulu ya, Dad. Daddy tenang saja disini," senyum Caca lalu pergi sehingga Langit menoleh pada Caca yang keluar dari ruangan tersebut.


1 jam kemudian...


"Gimana, Dok? apa syaraf otaknya bisa di sembuhkan?" tanya Caca penasaran.


"Bisa, Nona. saat saya periksa tadi, beberapa syaraf otak Tuan sudah mulai membaik dan hanya perlu banyak beban pikiran. Tuan juga harus banyak istirahat," jelas Dokter itu sehingga Caca menghela nafas lega.


"Kalau soal kaki, saya belum bisa memastikan Tuan bisa berjalan atau enggak. kita doakan saya kalau Tuan bisa berjalan, kalau suatu saat Tuan ingin belajar Jalan, Nona harus menyemangatinya," jelas Dokter spesialis tulang.


"Baiklah, saya akan menemaninya belajar berjalan, mati saya antar," senyum Caca sehingga kedua Dokter itu mengangguk dan mengikuti Caca untuk keluar dari masion yang mewah itu, masion ini adalah milik mendiang Kakeknya dan hanya ia sendiri yang tau masion ini.


Setelah itu, Caca langsung mengambil sarapan buat Langit.


Cklek!


Langit pun menoleh pada Caca yang mendorong sebuah meja. "Daddy sarapan dulu ya," bujuk Caca lalu menekan sesuatu di samping brankar sehingga brankar bagian kepala lebih tinggi.


"Sakit,"


Wanita itu menoleh pada Langit yang mengangkat sebelah tangannya yang baru di pasang infus. "Sabar, nanti bakalan gak sakit kok," senyum Caca lalu meniup tangan Langit, membuat Langit terkekeh kecil.


Caca lalu menoleh yang membuat tawa Langit berhenti. "Kenapa gak ketawa lagi?" tanya Caca sehingga Langit menggeleng pelan, membuat Caca menggelitik pinggang Langit, membuat pemuda itu tertawa kegelian.


"Haha jangan lakuin itu hahaha!"

__ADS_1


"Caca geli sekali hahaha,"


Langit berusaha menahan tangan wanita itu sehingga Caca menghentikan aktivitas nya, sehingga Langit lega sekali."Daddy makin mengemaskan kalau sudah ketawa," kekeh Caca mencium pipi Langit. Pria itu hanya tersenyum tipis. "Sekarang aku suapin, buka mulutnya!".


Langit hanya menurut lalu meminum air yang disodorkan oleh Caca, setelah itu ia lalu menerima suapan dari Caca.


***


Sekarang, Caca tengah asik berbaring di sofa sambil memainkan ponsel milik nya, wanita itu benar-benar asik memainkan game horor kesukaan. SELENDRINA2.


walau permainan nya suka jumpscar, ia sudah terbiasa karena sering kali menamatkan permainan tersebut. Sesekali ia menoleh pada Langit yang masih tertidur lelap di brankar, karena kekenyangan sekali.


Dret!


Caca menoleh ke layar ponselnya dan melihat nomor Abigal, langsung saja ia mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa, Kak?"


{Gimana? Gimana keadaan Langit?}


"Daddy udah mulai sembuh kok, cuman banyak istirahat supaya sakit di kepalanya gak timbul,"


{Syukurlah kalau begitu, ingat! jangan menerima nomor asing ke ponselmu, aku takut orang berpura-pura sebagai sahabat kamu untuk mengetahui posisi kalian,}


"Baik, Kak!"


{Baiklah, aku matiin dulu sebelum Hendra curiga,}


Tut!


Panggilan pun selesai sehingga Caca kembali melanjutkan game-nya lagi. Ia sedikit lagi hampir menemukan 2 buku dan setelah itu ia akan keluar dari labirin kamar tersebut.


Sesekali Caca mengumpat kesal saat sebuah sosok muncul tiba-tiba saat ia berbalik, sosok itu tak begitu menyeramkan baginya. Kalau sosok di dunia nyata, jangan di tanya lagi. Caca bakalan pingsan duluan sebelum sosok hantunya datang.


"Caca,"


Caca sontak menoleh pada Daddynya yang sudah terbangun. "Ada apa, Dad?" tanya Caca mendekati Langit yang menatapnya.


"Haus,"


Wanita itu langsung mengambil gelas berserta sedotan sehingga Langit meminumnya pelan. "Daddy tidur lagi ya," bujuk Caca sehingga Langit mengangguk pelan dan kembali memejamkan matanya buat tidur.

__ADS_1


Bersambung...,


__ADS_2