Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#3 M u r a h a n


__ADS_3

Pagi-pagi, Caca sudah rapi dengan seragam Pramuka nya karena hari ini adalah hari Rabu. gadis manis itu juga terlihat begitu bersemangat untuk sekolah menemui si pujaan hatinya.


"Selamat pagi, Pak Langit! Bapak kenapa blokir nomor Caca?" tanya Caca mendekati Langit yang baru keluar dari mobil. pemuda itu tak membalas melainkan membukakan pintu yang menampilkan seorang wanita yang juga berpakaian guru, membuat Caca bungkam.


"Sekolah tempat kau mengajar begitu besar juga," kagum wanita itu menatap gedung.


"Iya," balas Langit pendek lalu menarik tangan wanita itu buat pergi dari sana, tanpa menghiraukan tatapan bingung Caca. "Siapa wanita itu?" gumam Caca bingung.


"Selamat pagi, Caca!" sapa Vika tapi yang disapa hanya menunduk, membuat Vika penasaran sekali.


"Kau kenapa, Ca?".


"Vika, apa aku begitu jelek sekali? kenapa Pak Langit gak mau melirik aku dan tadi, dia bersama wanita berpakaian guru juga," lirih Caca menangis membuat Vika iba sekali. "Ca, mendingan kau fokus belajar dan jangan perjuangan gak ada untungnya buat lo! cowo banyak disekolah ini, jangan jadi pengemis cinta terus, Caca!" kesal Vika yang benar-benar bingung dengan sikap sahabatnya itu.


Ia tau, perjuangan sahabatnya selalu sia-sia selama 1 tahun ini karena tak direspon sedikitpun oleh orang yang disukai. rasanya begitu sakit sekali, entah terbuat dari apa hati sahabatnya satu ini.


"Kau harus menyerah, Caca! gue gak suka gara-gara lo ngincar guru kayak dia, kau sering lupa sarapan pagi demi menyapanya."


"Aku akan coba satu kali lagi, kalau tetap gak direspon. aku akan menyerah," senyum Caca sehingga Vika hanya mengangguk pasrah dengan sahabatnya itu, percuma ia menahan Caca karena wanita itu memiliki sifat keras kepala.


Keduanya langsung menuju kelas dan melihat beberapa siswi yang tengah tertawa.


"Kalian apakan meja milik Caca, hah?" kesal Vika saat menyadari meja sahabatnya penuh dengan sampah.


"Itu memang cocok buat sahabat lo itu dan lebih parahnya, dia wanita m u r a h a n yang di tolak guru, tapi tetap saja mengejar cintanya," tawa Dewi membuat Caca kesal.


Plak!


"Kau itu yang m u r a h a n!"


"Cie ngerasa cewek m u r a h a n," ejek Dewi sehingga para sahabat wanita itu tertawa melihat Caca yang marah.


Brukh!


"Awh," ringis Dewi kesakitan.


"Caca! temui saya di ruangan saya!"


Semuanya sontak menoleh pada Langit yang sebenarnya hendak memanggil Vika. Caca mendengus kesal lalu mengikuti guru itu sedangkan Dewi tersenyum miring karena sudah mengetahui kedatangan guru tersebut.

__ADS_1


Sesampai di ruangan Langit, Caca menatap wanita yang bersama Langit tadi yang membuatnya benar-benar kesal sekali.


"Ada masalah apa?" tanya wanita itu menyuruh Caca duduk dihadapannya. Caca tak membalasnya karena tak mood melihat kedua orang yang dihadapannya saat ini.


"Caca jawab! dia guru BK baru," ketus Langit dingin.


"Dewi yang mulai duluan, meja Caca di kasih sampah dan Caca dibilang wanita m u r a h a n," ketus Caca dingin.


"Tapi, gak seharusnya kamu membalasnya dengan kekasaran seperti tadi!" jelas Langit sehingga guru bernama Abigail mengangguk setuju dengan ucapan Langit barusan.


"Terus saja bela wanita itu, Caca selalu salah dimata kalian semua!" ketus Caca dingin.


"Caca, jaga ucapan kalau berbicara dengan guru, hargai perasaan guru yang kamu ajak bicara," jelas Abigail lembut.


"Buat apaan menghargai perasaan orang, orang lain saja tak menghargai perasaan Caca." ketus Caca membuat Langit menoleh, pria itu tau kalau dirinya yang disindir oleh Caca. "Caca panas disini, Caca pamit keluar,".


Caca langsung pergi dari ruangan itu karena tak sanggup melihat guru baru itu menoleh pada Langit sambil tersenyum.


"Caca!"


Caca menoleh dan melihat pemuda yang tersenyum padanya. "Suga!" senang Caca berlari dan memeluk Suga erat. "Kenapa gak bilang kamu disini? bukannya kamu di Belanda?".


*


Caca memasuki kelasnya dan melihat mejanya yang sudah bersih kembali. "Meja lo udah kinclong lagi," kekeh Vika membuat Caca tersenyum. "Makasih ya, Vika. lo teman terbaik gue," senyum Caca memeluk sahabatnya itu.


"Tentu dong," balas Vika terkekeh kecil.


"Silahkan semuanya duduk! kalian semua kedatangan teman baru!"


Semuanya langsung menuju bangku masing-masing sedangkan Vika duduk di sebelah Bima. 'Astaga, tampan banget!' batin Dewi melihat kedatangan seorang pria berkulit pucat dengan tatapan tajam seperti Elang.


"Silahkan perkenalkan diri kamu," suruh guru itu sehingga Suga mengangguk pelan.


"Kenalkan nama gue Suhendra Gading. kalian bisa panggil gue Hendra dan gue pindahan dari Belanda," jelas Suga dengan dinginnya, membuat semua siswi kagum dengan suara berat Suga.


"Suga, kamu silahkan pilih duduk di samping Dewi atau disamping Caca,"


Suga menoleh pada dua wanita yang ditunjuk wali kelas tersebut. "Kamu duduk samping aku saja," pinta Dewi tersenyum manis. Suga tak menghiraukannya dan memilih duduk di samping Caca sehingga Dewi benar-benar kesal.

__ADS_1


'Gue bakalan buat pria itu jijik dengan kau, Caca. gue gak bakalan biarkan lo bahagia,' batin Dewi tersenyum tipis.


***


Setelah jam pelajaran selesai, Suga dan Caca langsung keluar dari kelas. "Ca, aku ke toilet bentar ya. jangan kemana-mana," jelas Suga bergegas pergi dari sana.


"Pak Langit, tunggu!"


Caca langsung mencegat guru yang ia idolakan satu tahun ini. "Ada apa? saya ada urusan," ketus Langit dingin. "Bapak kapan mau membalas cinta aku? apa bapak gak mencintai Caca?" tanya Caca penasaran sekali.


"Caca, saya gak mencintai kamu! berhentilah mengejar-ngejar saya, kau mau dicap sebagai wanita m u r a h a n?" tekan Langit.


"Huft, Bapak sama saja. selalu menganggap aku wanita m u r a h a n, padahal aku kayak gini karena mencintai Bapak."


"Tolong berhenti mengejar saya,"


Caca menoleh menatap Langit. "Caca bakalan berhenti mengejar bapak, makasih sudah mengatakan saya m u r a h a n. aku tak akan mencintai Bapak lagi dan aku akan membenci yang namanya laki-laki!" tangis Caca berlari pergi dari hadapan Langit, yang membuat Guru itu bungkam mendengar penuturan Caca barusan.


Entah kenapa, ia merasakan hal aneh saat wanita itu mengatakan hal tersebut.


Caca menangis sambil duduk di bawah pohon, membuat Suga yang baru keluar dari toilet pun menatap bingung. Ia langsung berlari mendekati Caca yang menangis.


"Caca, kau kenapa menangis?"


Caca langsung memeluk Suga sambil menangis. "Kenapa orang-orang selalu menganggap aku


m u r a h a n?" tangis Caca membuat Suga bingung dengan maksud Caca.


"Siapa yang bilang kamu gitu?"


"Guru yang aku sukai," isak Caca jujur.


"Ca, kalau begitu kamu jangan mengejar orang yang gak mau membalas perasaan kamu itu. cowok banyak di dunia ini bukan guru itu saja," lirih Suga menenangkan Caca.


"Aku pengen menjauhi guru itu. tapi, aku benar-benar begitu mencintainya." isak Caca menangis. "Aku akan buat kamu melupakannya," senyum Suga sehingga Caca mengangguk pelan. "Ayo ke kantin,".


Caca hanya mengangguk lalu mengikuti pemuda itu menuju kantin.


***

__ADS_1


__ADS_2