
Suga tersenyum miring saat berhasil menjadikan Abigail sebagai istrinya, wanita itu tampak menunduk sedari tadi sambil menahan tangis. tapi, ia tak pedulikan itu semua karena tangisan wanita itu akan berhenti kalau sudah lelah sendiri.
"Jangan nangis, gue benci cewe cengeng," ketus Suga beranjak dari duduknya, pemuda itu mendekati lemari untuk mengambil handuk. "Kalau kau berniat kabur, jangan salahkan kalau keluarga lo lenyap,".
setelah mengatakan itu, Suga langsung memasuki kamar mandi membuat tangis Abigail kembali pecah. Ia tak menyangka akan menjadi istri dari muridnya yang terkenal kejam dan dingin, ia ingin kabur tapi ia tak ingin keluarganya kenapa-napa.
Abigail ingin menelpon Langit. namun ia teringat kalau ponselnya berada di Suga, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Abigail meremas kuat perutnya, ini semua gara-gara janin s i a l a n yang tumbuh di perutnya, sesekali Abigail memukul perutnya supaya janin yang di kandungnya hilang.
"Kau!"
Wanita itu menoleh pada Suga yang menatap tajam padanya. "Jangan menyakiti calon anak gue!" bentak Suga mencengkram kuat rahang Abigail. "Hiks saya gak sudi mempunyai janin ini!" isak Abigail menangis yang membuat Suga emosi.
Plak!
Abigail terkapar di tempat tidur akibat tamparan kuat dari Suga, pipinya benar-benar memanas sekali sehingga ia kembali menangis. tak hanya itu, Suga mencengkram kuat rambut Abigail membuat wanita itu kesakitan sekali.
"Kalau kau ingin gue gak kasar, bersikap baiklah! jangan berniat kau mengugurkan calon anak gue!"
Abigail tak membalas, sehingga Suga mengambil tali dan mengikat kedua tangan wanita itu supaya tak menyakiti calon anaknya. "Lepasin saya!" isak Abigail menangis sambil memberontak.
Suga tak memperdulikan tangis wanita itu dan memilih memasangkan rantai di kaki Abigail, ia benar-benar tak suka kalau wanita itu mencelakakan calon anaknya yang tak bersalah itu. Setelah memastikan wanita itu tak memukuli perut lagi, Suga langsung mengambil pakaiannya dan kembali menuju kamar mandi.
'Langit, tolongin aku hiks,' batin Abigail menangis karena tak sanggup hidup bersama Suga yang terkenal kejam dan suka main tangan. andai ia bisa memutar waktu, ia tak akan sudi bertemu dengan Suga sampai kapanpun.
10 menit berlalu...
Suga keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya mengunakan handuk kecil. ia menoleh pada wanita yang baru beberapa jam menjadi istrinya yang sudah tertidur akibat lelah menangis.
Pemuda itu tersenyum tipis lalu menyelimuti tubuh Abigail. Ia juga perlahan membuka ikatan di kedua tangan istrinya itu supaya tak membuat Abigail tertekan, bisa-bisa berpengaruh terhadap kandungannya.
Abigail yang hanya pura-pura tidur tak mampu membuka matanya saat merasakan Suga duduk di sampingnya, ia juga tak menghiraukan wangi tubuh Suga yang membuatnya ingin sekali memeluk pemuda itu. mungkin, ini efek kehamilannya saja.
"Antarkan sarapan ke apartemen saya dan jangan lupakan susu buat wanita hamil rasa coklat. sarapannya harus yang sehat buat Bumil,"
Wanita itu hanya bisa memejamkan mata tanpa berniat bergerak sedikitpun. Suga mematikan ponselnya lalu meletakkannya ke atas meja, ia lalu menoleh pada Abigail yang masih tertidur di dekatnya.
Dengan hati-hati, ia mengusap lembut pipi yang sudah ia tampar tadi. "Kalau kau penurut, saya tak mungkin se-kasar tadi," gumam Suga yang dapat di dengar oleh Abigail, ia lalu mengusap pelan perut rata Abigail dengan lembut.
__ADS_1
Tak lama, Suga berjalan menuju pintu apartemen dan melihat suruhannya membawakan semua pesanannya termasuk buah-buahan. Ia kembali menutup pintu dan berjalan mendekati meja di samping tempat tidur, pemuda itu segera membuatkan susu hangat buat Abigail setelah sarapan nanti.
ia lalu kembali membawa segelas susu dan meletakkannya ke atas meja.
"Bangunlah!" suruh Suga menepuk pipi Abigail, membuat Abigail terpaksa membuka mata supaya pemuda itu tak menyakitinya lagi. "Sarapan yang banyak, kita akan ke rumah saya dan kau tinggal disana juga, bersikaplah seperti tak terjadi apa-apa," ketus Suga saat Abigail beranjak duduk.
Pemuda tersebut langsung memberikan nasi bungkus dan juga memberikan piring sebagai alas supaya tak tumpah.
*
Abigail memasuki rumah Suga sendiri, sedangkan pemuda itu akan menyusul nanti karena memastikan kalau ia tak kabur.
"Eh, lo ngapain kesini?" tanya Langit membuka pintu utama.
"Gue nginap disini ya, gue gak ada teman dirumah," bohongnya membuat Langit bingung.
"Bukannya ada Mama dan Papa, ini kenapa?" tanya Langit menyentuh pipi Abigail yang sudut bibirnya sudah memar akibat tamparan Suga tadi. "Gak papa kok," senyum Abigail menjauhkan tangan Langit dari pipinya yang masih ngilu.
"Abigail, lo bisa ngomong sama gue. lo ada masalah apa?'
Abigail terdiam beberapa saat, ia ingin bilang semuanya tapi takut dengan ancaman Suga sebelum berangkat kesini.
Keduanya menoleh pada Suga yang mendekat. "Bisakah berdiri jangan di dekat pintu?" ketus Suga sehingga Langit membawa Abigail menuju ruang tamu untuk duduk.
"Daddy!"
Belum sempat Langit bertanya, sebuah panggilan membuat Langit menoleh kearah tangga dan melihat istri kecilnya yang sudah terisak kecil. tingkah wanita itu sudah seperti wanita hamil saja, makin lama makin aneh.
"Abigail, mendingan kamu istirahat di kamar sana. gue ke atas dulu,"
Abigail mengangguk walau ia masih tak mau di tinggal oleh Langit. Suga yang berdiri tak jauh pun mendekati Abigail. "Jangan sekali-kali kau bicarakan padanya," jelas Suga membuat Abigail menoleh pada Suga yang berdiri di dekatnya.
Wanita itu pengen sekali memeluk dan mencium wangi tubuh Suga, ia ingin menahan perasaan ini tapi, ia tau kalau ini permintaan anaknya yang membuatnya benar-benar bingung sekali. ia juga gak mau memeluk pria kasar seperti Suga yang selalu seenaknya.
Drep!
Suga menoleh pada Abigail yang memeluknya erat, wanita itu juga menyembunyikan wajahnya di dada Suga. keduanya sama tinggi, yang membedakan hanya umur saja.
__ADS_1
"Ngapain peluk?"
"I-ini per-permintaan janin ini," gagap Abigail membuat Suga mulai membalas pelukan wanita itu. "Ayo ke kamar, kalau disini bisa ketauan," jelas Suga lalu membawa wanita itu ke kamar tamu supaya keluarganya tak melihatnya berpelukan dengan Abigail.
Suga lalu duduk di tepi tempat tidur dan menarik tangan wanita itu untuk duduk dipangkuan nya. Abigail hanya menurut, lalu kembali memeluk tubuh Suga sambil menghirup wangi maskulin dari suaminya itu.
"Istirahatlah," ketus Suga sehingga Abigail memejamkan mata tanpa berniat melepaskan pelukannya, Suga hanya terdiam menatap Abigail yang sudah memejamkan mata di pangkuannya saat ini.
***
"Jangan panggil Daddy di depan orang lain, malu!" kesal Langit mendudukkan Caca di pangkuannya.
"Lah? kenapa? gak suka ya?"
Langit menghela nafas panjang dengan sikap istrinya yang tiba-tiba cengeng seperti ini, entah kenapa dengan istrinya itu.
"Kita kerumah sakit hari ini ya, mungkin saja kau lagi hamil,"
Pletak!
Langit meringis saat mendapatkan jitakan maut dari sang istri. "Caca ini masih gadis, mana bisa hamil!" omelnya membuat Langit menoleh. "Tapi jangan galak amat," kesal nya mengusap kepalanya yang kena jitak.
"Siapa suruh ngatain Caca hamil," cemberutnya mengalihkan pandangan dari Langit, membuat pemuda itu serba salah dihadapan Caca yang lagi demam tersebut.
"Salah aku apaan lagi, Sayang?"
"Salah semuanya!" ketus Caca beranjak buat tidur, membuat Langit mengusap dada sabar dengan kelakuan istrinya itu, ia tak bisa berbuat apa-apa kalau melihat istrinya yang sudah ngambek padanya. "Caca mau nikah satu kali lagi, boleh?".
Deg!
"Pertanyaan konyol apaan itu?" kesal Langit menoleh pada Caca yang sudah tertawa.
"Daddy lucu hahaha!"
Sabar Langit! Sabar!
Nih, anak buang boleh kagak?
__ADS_1
Bersambung ...
Beberapa part khusus Suga dan Abigail nanti,