Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#24 Terungkap


__ADS_3

1 tahun berlalu...


Langit tersenyum puas saat mengetahui dimana Abigail tinggal, pemuda itu langsung memasuki pekarangan masion yang cukup mewah. langsung saja ia menekan bel masion itu, membuat pintu tersebut terbuka oleh seseorang.


"Ada perlu apa, Tuan?"


"Saya mau menjemput Abigail, mana dia?"


"Nyonya ada di kamar, Tuan," gagap maid itu sehingga Langit mengangguk kecil. "Suruh dia menyiapkan barang-barang dan temui saya di mobil, bilang kalau Hendra sudah koma 1 tahun ini karena memikirkan nya," titah Langit membuat Maid itu mengangguk dan meminta izin buat menemui Abigail.


Sedangkan Langit langsung menuju mobil suruhannya untuk menunggu Abigail. Tak lama, Langit menoleh pada Abigail yang berjalan tergesa-gesa sambil mengendong bayi dan sebuah koper besar.


Cklek!


"Bayi siapa itu?" tanya Langit penasaran sehingga Abigail menoleh. "An-Anu, kapan-kapan gue jelasin," jelas Abigail duduk di samping Langit, pemuda itu menoleh pada bayi mungil yang wajahnya sangatlah mirip dengan Suga. "Hendra kenapa koma, Langit?".


Walau ia membenci suaminya itu, ia sangatlah khawatir saat mendengar kalau Suga koma satu tahun. "Hendra tiba-tiba drop saat mencari lo dan satu bulan lo hilang tanpa kabar, Hendra masuk rumah sakit. kondisinya benar-benar kritis dan hampir nyawa nya melayang," jelas Langit sehingga Abigail merasa bersalah sekali, ia menoleh pada putranya yang tertidur lelap di gendongannya.


"Sekarang jelaskan anak siapa itu?"


Wanita itu sontak bungkam. "I-ini anak Hendra dan aku kabur karena dia kasar sekaligus main tangan," lirih Abigail yang membuat Langit kaget.


"Anak Hendra? apa dia melukai kamu?" kaget Langit yang tersulit emosi.


Abigail memperlihatkan lengannya yang masih menampilkan nama Suhendra. "S i a l a n tuh orang," emosi Langit yang membuat Abigail menoleh. "Lo jangan marahi dia, dia itu sebenarnya baik dan pengertian. hanya saja gue yang terlalu bandel hiks walau dia dingin dan kasar, dia juga sabar menghadapi gue yang lagi ngidam," isak Abigail membuat Langit mengusap kasar wajahnya. Pria itu tak bisa apa-apa, harusnya ia menjaga Abigail karena orang tua wanita itu memintanya menjaga Abigail dengan baik.


Tapi sekarang, ia benar-benar tak bisa menjaga sepupu perempuannya. "Kenapa lo bisa hamil anak dia?" tanya Langit penasaran yang membuat Abigail terdiam.

__ADS_1


"Hiks waktu itu gue kehabisan bensin di dekat jalan sepi, gue gak sengaja menemukan Hendra membu/nuh orang hiks terus gue di perko/sa,"


"Satu bulan setelah kejadian itu, Gue baru sadar kalau Hendra adalah pelakunya dan dia meminta gue menjadi istrinya secara private karena ia masih sekolah dan butuh waktu buat jelasin masalah ini," isak Abigail lagi yang membuat Langit benar-benar pusing dengan masalah yang menimpa sepupunya itu.


Disisi lain, Caca tampak menemani Suga yang baru saja sadar dari komanya. pemuda itu tampak hanya diam tanpa mau di ajak bicara olehnya.


"Abang, Abang kenapa mikirin Buk Abigail?"


Suga tak membalasnya karena pemuda itu sibuk menatap kaca balkon yang menampilkan suasana mendung di pagi hari ini. Caca menghela nafas karena sudah 2 hari suaminya tak kunjung pulang dari luar negeri buat menjemput Abigail.


"Abang, Abang gak kangen sama Caca? owh iya, kemarin Papa sama Tante-Mama bawain hadiah buat Abang karena tadi subuh pergi buat ngurus perusahaan mereka, mereka sering banget kesini baut jenguk Abang," jelas Caca sambil memperlihatkan tumpukan hadiah sekaligus bunga buat Suga. lagi-lagi pemuda itu tak menghiraukan perkataan Caca sehingga wanita itu pasrah sekali.


Ia begitu kesulitan buat mengajak Abang nya itu bicara sedari sadar sejak jam enam pagi dan sekarang sudah menunjukkan pukul sembilan.


"Abang pengen ketemu sama Buk Abigail ya?"


Suga tau, ia tak boleh dekat-dekat dengan Caca karena tak ingin ada rasa lagi terhadap adik tirinya itu. Ia juga tak ingin menjadi ketiga di hubungan adiknya tersebut.


*


Sudah seharian ini abangnya itu tak mau bicara yang membuat Caca begitu sedih, saat sarapan pun pemuda itu tak banyak mau mengeluarkan sepatah kata pun padanya.


Ckelk!


Caca menoleh dan melihat suaminya berserta Abigail mendekat. "Daddy hiks Caca kangen!" tangis Caca langsung memeluk Langit, membuat Langit terkekeh kecil dan langsung mengendong istri kecilnya ala koala.


Abigail mendekati Suga dan memegangi tangan pemuda itu. perlahan, Suga menoleh pada Abigail yang membuat Suga menangis karena bisa melihat istrinya itu. "Maafin aku," lirih Abigail membuat Suga mulia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Abigail pelan. "Maaf," lirih Suga membuat Abigail tersenyum.

__ADS_1


Wanita itu lalu meletakkan bayi mungil itu di dada Suga, membuat pemuda itu menoleh kearah bayi kecil itu. "Anak kamu," jelas Abigail membuat Suga kembali mengangkat tangannya dan memeluk bayi mungil tersebut.


"Makasih," isak Suga pelan.


Sedangkan Langit dan Caca hanya diam karena terharu melihat Suga yang begitu senang memeluk bayi tersebut.


"Daddy, ayo bikin dedek!"


"Kau masih sekolah!" kesal Langit menjitak kepala istri kecilnya itu pelan. 'Awas saja nanti di rumah, Caca bikin Daddy takluk pada Caca,' batin Caca yang kesal karena pengen rasain malper seperti suami-istri lainnya. masa, udah satu tahun lebih menikah tetap saja gak di sentuh.


'Nanti Caca bikin Daddy terang/sang terus Caca gak pedulikan, biar tau rasa,' batin Caca lagi.


***


Suga tak henti-hentinya mengusap pipi putra kecilnya, walau ia masih lemah sekali karena sudah satu tahun koma. pemuda itu masih saja belum tidur karena ingin bermain dengan si kecil.


"Abang, Caca boleh gendong dedeknya, gak? Caca pengen punya Dedek tapi suami gak ada peka-peka nya sedikitpun," jelas Caca yang membuat Langit menoleh. Suga menggeleng tanpa melepaskan pelukannya dari putra kecilnya.


"Ya, kagak di bolehin," kesal Caca sambil duduk di lantai, membuat Langit maupun Abigail tertawa kecil dengan tingkah Caca.


"Udah punya suami gak pekaan, punya Abang pelit banget. lengkap sudah!" kesal Caca membuat Langit tertawa.


"Saya pria peka ya!"


Caca langsung menoleh pada suaminya itu. "Daddy bohong! Caca bilang bedak habis, Daddy gak peka kalau Caca kasih kode buat di beliin. apalagi Caca minta beli roti Jepang, Daddy malah beli roti tawar buat makan," sinis Caca yang membuat wajah Langit memerah karena malu mengingat ia membelikan roti Jepang buat istrinya.


Benar-benar memalukan sekali!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2