Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#53 Dua Istri


__ADS_3

"Caca!"


Caca yang mendengar suara keras dari Langit pun menoleh sedangkan Biru menghela nafas lega karena tak jadi kehabisan nafas, Langit benar-benar tak menyangka dengan tindakan nekat wanita yang dicintainya itu.


"Caca, kalau Biru meninggal karena kehabisan nafas gimana? kau mau tanggung jawab!" sentak Langit membuat Caca menunduk menahan tangisnya. "Harusnya Caca lebih baik tewas waktu itu dan gak bakalan ketemu Daddy lagi," isak Caca membuat Langit bungkam. "Caca membatalkan permintaan Caca tadi, lebih baik Caca nikah sama orang lain saja,".


Wanita itu langsung pergi. "Langit kejar dia!" suruh Biru sehingga Langit langsung mengejar Caca dan melihat wanita itu menangis.


"Caca tunggu!"


Langit langsung menahan tangan Caca yang membuat wanita itu menoleh padanya. "Caca dengarin saya dulu, kamu tetap menjadi istriku," jelas Langit membuat Caca menggeleng tak mau.


"Caca gak mau, Daddy pasti akan membela wanita mur4han itu!"


"Caca!" bentak Langit membuat Caca menoleh pada Langit yang lagi-lagi membentaknya. "Daddy berubah! Caca benci Daddy hiks!" tangis Caca sehingga Langit langsung memeluk Caca erat. "Caca dengarkan saya dulu, saya memang mencintai Biru tapi hanya sedikit. saya tak mau menceraikannya karena dia udah menolong nyawa aku, dia merelakan dirinya tertembak demi aku. Caca, aku mohon terima Biru sebagai kakak madumu nanti. dia sakit kanker otak stadium akhir, aku ingin membuatnya bahagia," jelas Langit melepaskan pelukannya sehingga Caca menoleh.


"Saat kalian menjadi istriku nanti, aku tak akan membedakan kalian dan aku mohon, terima kehadiran Biru. dia lagi hamil dan berjuang buat bertahan sampai anaknya lahir,".


"Dad-Daddy serius?"


"Daddy serius, karena itu Daddy mempertahankannya karena ingin membuatnya bahagia sebelum kepergiannya,"


Caca terdiam saat mengetahui keadaan Biru yang parah. "Baiklah, Caca bakalan anggap dia sebagai Kakak aku sendiri," senyum Caca, walau ia masih kesal tetap saja ia tak ingin wanita yang berstatus istri Langit kehilangan nyawanya dalam keadaan sedih.


"Makasih, ayo keruangan nya,"


Caca mengangguk sambil mengusap air matanya yang mengalir tadi. keduanya langsung menuju ruangan Biru sedangkan Afgan pergi bersama Randi buat membeli makanan untuk Afgan.


"Maafin aku ya,"


Biru menoleh lalu tersenyum. "Gak papa kok," senyum Biru membuat Caca langsung memeluk Biru sambil menangis. "Caca merasa jahat sama Kak Biru hiks, Caca udah hampir bikin Kakak kehabisan nafas." isak Caca membuat Biru mulai memeluk Caca pelan.


"Jangan nangis lagi dan kamu juga harus hargai perasaan Langit. kamu tau, waktu Langit melihat kamu berduaan dengan pria lain. dia benar-benar frustasi hingga mabuk berat, sampe demam tinggi," jelas Biru sehingga Caca melepaskan pelukannya dari Biru dan menatap kearah Langit yang mengalihkan pandangannya.


"Ututu, udah pandai mabuk ya," omel Caca menarik telinga pria itu yang membuat Langit meringis kesakitan sekali.

__ADS_1


"Sayang, hentikan tarikan kamu pada telingaku," ringis Langit yang membuat Caca maupun Biru tertawa pelan dengan sikap Langit kesal.


"Nah, kalau akrab gini kan bagus." kekeh Langit sehingga Caca tersenyum.


"Daddy, dua hari setelah kita menikah. Kita bertiga harus satu kamar," pinta Air membuat Biru kaget apalagi Langit. "Kenapa kalian kaget? biar adil bukan atau ..., Daddy belum pernah nyentuh Kak Biru makanya gugup?" tanya Caca membuat Langit terdiam beberapa saat. "Belum sih," jawab Langit jujur dengan wajah memerahnya. "Sekedar cuman cium pipinya aja, itu pun baru tiga kali,".


"Kalau Daddy minta hak, harus keduanya dipakai," jawab Caca yang membuat Langit bertambah kaget. "Satu aja capek, malah minta dua sekaligus," kesal Langit yang membuat Caca tertawa dan memeluk Langit.


"Caca sayang dan cinta sama Daddy, besok nikah!" pinta Caca yang membuat Langit mengangguk pelan.


"Iya, besok kita nikah disini," jelas Langit sehingga Caca tersenyum senang.


"Awas aja Daddy gak adil sama kami,".


"Daddy bakalan adil kok," senyum Langit sehingga Caca senang.


*


Keesokan harinya, Biru menatap suaminya yang menikah dengan Caca. ia hanya tersenyum melihat pasangan tersebut sudah sah menjadi suami istri.


"Dikta, setelah ini kamu harus adil terhadap kedua istri kamu. walau Mama gak menyukai Biru, Mama bakalan berusaha menerima dia menjadi menantu Mama," jelas Nyonya Reva sehingga Langit menganggukkan kepalanya.


"Tenang saja, Ma. Dikta bakalan adil pada mereka berdua kok," senyum Langit.


"Sekarang Afgan dapat dua Mama sekaligus. satu pendiam dan yang satu lagi kek ulat cabe," kekeh Suga yang mengendong Afgan yang asik memakan kue. "Wah, ngajak kelahi nih!" kesal Caca membuat semuanya tertawa.


"Langit, boleh aku minta tolong?"


"Apaan?"


"Beliin aku mangga muda, aku pengen rujak mangga muda," pinta Biru.


"Baiklah, ayo sayang kita beliin mangga muda!" ajak Langit mengendong Caca ala karung beras.


"Woi! turunin Caca Dad! Mama! putri cantik mu ini dikira karung!" pekik Caca memukul punggung Langit, yang lain hanya terkekeh kecil melihat pasangan pengantin baru tersebut.

__ADS_1


"Sayang jangan teriak, dikira aku beneran culik kamu," kesal Langit sehingga Caca memanyunkan bibirnya kesal dengan suaminya itu. walau ia kesal, ia begitu bahagia karena bisa bersama orang yang ia cintai tersebut. "Sayang, kenapa badan kamu berat gini? padahal, tubuh kamu mungil,".


"Karena Caca banyak makan, makanya berat!" sinis Caca yang membuat Langit terkekeh pelan. "Jangan marah, nanti cantiknya hilang gimana?" tanya Langit lalu mengendong Caca ala koala. "Bodo amat," ketus Caca yang membuat Langit terkekeh kecil.


***


1 minggu berlalu...


Langit menatap malas kearah kedua istrinya yang sibuk memasak buatnya. padahal, makanan sudah banyak diatas meja saat ia. Ia juga bersyukur kalau kedua istrinya itu akur gak seperti di novel-novel yang pernah ia baca.


"Masih lama memasaknya?"


"Masih, Dad!" balas keduanya serempak dan setelah itu keduanya sama-sama tertawa bahagia.


Langit yang udah kelaparan pun langsung mengambil sarapan karena sudah tak peduli larangan Caca untuk makan bersama-sama, perutnya harus diisi dulu soal hukuman bodo amat.


"Kenapa Daddy sarapan duluan!" kesal Caca saat melihat Langit asik memakan sarapannya dengan lahap dan sesekali menyuapi Afgan.


"Lapar banget, Dad butuh makan yang banyak karena semalam kehabisan tenaga gara-gara melayani kalian berdua," ketus Langit membuat kedua wanita itu tertawa geli mendengarnya.


"Wah, enak tuh dapat dua,"


Hukk!


Hukk!


Biru langsung memberikan segelas air minum pada suaminya. "Ih, Abang buat Daddy kaget aja," kesal Caca yang membuat Tio tertawa kecil melihat penderitaan adiknya itu. "Napa ketawa? lucu?" kesal Langit membuat Tio menahan tawanya saat ini.


"Sanggup punya istri dua?"


"Sanggup, punya istri lima aja sanggup!" balas Langit dengan entengnya.


"Ekhem!"


Langit menoleh pada kedua istrinya yang sudah memegang spatula dan sebuah sapu. "Eh, ralat! udah cukup dua kok. gak nambah lagi," cicit Langit ketakutan melihat barang-barang andalan istrinya itu. "Rasain," tawa Tio mengejek adiknya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2