Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#32 Di Borgol


__ADS_3

Setelah makan malam, Tio langsung membawa adiknya itu menuju kamar untuk beristirahat. namun, Langit menyuruh Tio pergi yang membuat Tio menggeleng. Ia harus satu kamar dengan Langit karena pemuda itu takut kalau adiknya nekat.


"Ku mohon kau keluar, Bang! kalau gue lupa lo lagi. gue bisa melukai Lo," ungkap Langit jujur, membuat Tio iba dengan kondisi adiknya tersebut.


"Baiklah, gue keluar dan lo jangan nekat,"


Langit mengangguk pelan sehingga Tio pergi dari kamar tersebut, Langit melajukan kursi rodanya menuju kaca kamar. ia terdiam menatap langit yang benar-benar hitam tanpa disinari cahaya bintang maupun bulan.


pemuda itu menoleh kearah pohon mangga yang menampilkan sosok yang asik bersenandung sambil menyisir rambut. Langit memegangi kepalanya yang mendadak pusing sekali, ia lalu menoleh pada sebuah tangan yang memijat kepalanya pelan.


"Sudah baikan, Dikta?"


"Kau siapa?"


Marcell terkekeh kecil karena sudah tau kalau sahabatnya itu melupakannya. "Gue Marcell, sahabat hantu lo," ungkap Marcell jujur. yang membuat Langit terdiam beberapa saat.


Drett!


Langit menoleh ke arah meja. "Bisakah kau mengambil ponsel gue?" tanya Langit penasaran sehingga Marcell mencoba mengambil ponsel dan berhasil, ia lalu memberikannya pada Langit yang membuat Langit melirik ponselnya yang menampilkan nama seseorang.


"Caca? siapa Caca?"


Prang!


Benda pipih itu hancur saat Marcell menghempaskan nya. "Kenapa kau menghancurkannya?" tanya Langit penasaran, sehingga Marcell menoleh. "Gue gak ingin lo bertemu dengannya dulu, kau harus sembuh dan ingat! Papa lo juga larang lo buat mengobrol ataupun menemui wanita bernama Caca," jelas Marcell yang membuat Langit terdiam.


Siapa Caca itu?


Kenapa semua melarangnya mendekati wanita bernama Caca?


Apa hubungannya dengan Caca?


Langit hanya bisa mengusap kepalanya yang tak bisa mengontrol ingatannya, ingatannya selalu hilang tiba-tiba, membuatnya kesulitan buat beradaptasi dengan semua keluarganya.


"Kau kenapa, Langit?"

__ADS_1


Pemuda yang duduk di kursi roda itu tak menjawab, hanya saja dia menundukkan kepala sambil memegangi kepala yang begitu sakit sekali.


Tes!


Marcell yang melihat itu benar-benar kaget sekali. "Kau tunggu disini, gue cari bantuan," pinta Marcell berlari menembus pintu kamar dan menuju ruangan tamu, ia menatap orang-orang yang berkumpul sambil menonton.


"Eh!" Angela kaget saat ponselnya melayang sendiri, semua yang ada di sana benar-benar ketakutan sekali sedangkan Marcell berusaha memberikan kode. namun, tak ada yang tau artinya.


Pletak!


"Kepala gue!" pekik Tio saat Marcell membenturkan ponsel itu ke kepala Tio. Tio lalu menoleh pada ponsel istrinya yang menuju kamar Langit. "Kenapa ponsel itu ke kamar adik kamu?" tanya Bambang penasaran sekali.


Tiba-tiba, Tio kembali meringis saat Marcell kembali menjitak kepalanya mengunakan ponsel tersebut. terpaksa Tio mengikuti ponsel itu menuju kamar Langit. Ia bingung saat ponsel itu jatuh tepat di depan pintu, ia lalu membuka pintu untuk memastikan sesuatu di dalam kamar.


"DIKTA!"


Semua yang ada di ruangan langsung bergegas menuju kamar Langit, semuanya kaget melihat Langit tak sadarkan diri dengan darah segar di hidungnya. "Angel, telpon Dokter!" panik Reva sehingga Angel mengangguk, wanita yang lagi hamil besar itu bergegas mengambil ponselnya untuk menelpon Dokter.


"Dikta, kamu sadarlah!" panik Bambang sedangkan Tio membaringkan Langit di tempat tidur dan membersihkan darah yang keluar dari hidung Langit.


*


Pagi harinya, Tio mendorong kursi roda Langit menuju taman samping masionnya. adiknya itu harus mendapatkan sinar matahari pagi supaya cepat sembuh. Tio benar-benar sedih melihat Langit yang hanya diam tak bersuara karena semalam drop.


Pemuda itu hanya diam dengan tatapan kosong, semuanya juga sulit mengajak Langit buat berbicara.


Deg!


Tio kaget saat kursi roda Langit berjalan sendiri, seakan di dorong oleh seseorang yang tak kasat mata. disisi lain, Marcell menghentikan dorongannya di dekat kebun bunga kesukaan Langit. "Kau duduk di sini saja, biar lebih banyak dapat cahaya pagi," kekeh Marcell lalu menoleh pada Tio yang tampak mencari tali atau sesuatu yang menarik kursi roda adiknya itu.


"Lihat Abang lo! dikira ada tali di kursi roda lo,"


Langit menoleh pada Abangnya yang tampak kebingungan sekali. "Kenapa bisa jalan sendiri? padahal, gak ada talinya," gumam Tio menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Langit tak menghiraukan perkataan abangnya itu dan memilih menatap bunga-bunga tersebut. Ia benar-benar sudah pasrah akan kehidupannya yang sekarang. Cacat, tak bisa mengontrol pikiran dan ia juga tak bisa mengingat apapun dalam jarak waktu dekat.

__ADS_1


"Bang, antar gue kerumah sakit! gue gak pantas disini,"


"Lo ngomong apaan, sih? gue gak bakalan bawa lo kerumah sakit jiwa! Lo bakalan sembuh!" kesal Tio karena Langit selalu meminta di antarkan ke rumah sakit.


"Gue lebih baik disana dan gak bakalan buat orang terluka, disana gue bakalan di jaga dengan ketat," kekeh Langit yang sudah putus asa. "Jangan ngomong seperti itu, Dikta! gue bisa jagain lo!" jelas Marcell membuat Langit menoleh.


"Lo gak bakalan bisa jaga gue, Marcell!"


Tio yang bungkam menatap bingung pada adiknya yang ngomong dengan seseorang yang entah siapa. Ia hanya diam menatap Langit yang bicara dengan makhluk yang tak bisa di lihat nya.


Tio hanya memaklumi karena adiknya itu bisa melihat apa yang tak bisa dilihat orang lain.


***


Prang!


Suara pecahan tersebut terdengar begitu jelas sekali, Tio yang kebetulan tak bekerja pun langsung menuju kamar sang adik. Suasana kama sudah benar-benar hancur sekali, ia juga melihat sebuah selimut melilit tubuh Langit yang memberontak.


"Langit, kendalikan pikiran lo!" pinta Tio yang membuat Langit menggeleng dan terus saja memberontak.


Brak!


Tio kaget saat Langit jatuh, ia juga melihat kepala Langit tak membentur apapun karena di tahan oleh sesuatu.


"Langit, lo harus tenang!" pinta Marcell yang menahan kepala sahabatnya itu.


Perlahan, pandangan Langit mendadak kabur dan setelah itu mendadak gelap. Tio yang menyadarinya langsung membawa Langit ke tempat tidur.


Cklek!


"Mas, ada apa ini? kenapa berantakan gini? buat aku gemes buat bersihinnya," jelas Angel jujur, wanita itu sangatlah suka kebersihan sehingga ia paling gemes melihat sesuatu yang kotor. "Dikta tiba-tiba ngamuk, kamu juga harus hati-hati setelah ini!" peringat Dikta memasang borgol di kedua tangan Langit dan tak lupa juga dengan kedua kakinya.


"Aku kasihan lihat dia di rantai seperti itu,"


"Mas juga kasihan. tapi, ini hanya sementara saat Dikta di kamar saja. Mas juga bakalan lepasin rantainya saat Dikta bosan di kamar," jelas Tio menyelimuti tubuh Langit.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2