
Setelah makan selesai, Langit langsung mengendong istrinya itu menuju ruang tamu untuk bersantai-santai. "Daddy, kenapa tadi Daddy pucat sekali?" tanya Caca membuat Langit menoleh sambil tersenyum. "Daddy gak papa kok, cuman gak enak badan saja," jawabnya membuat Caca mengangguk pelan.
Langit memejamkan matanya, ia benar-benar kaget melihat sosok menyeramkan di ruang makan tadi. sejak ia tinggal disini, ia tak pernah melihat sosok menyeramkan yang membuatnya lega dan tadi, ia malah melihat sosok menyeramkan di pojok ruangan.
Ia juga tak sanggup menyaingi aura negatif dari sosok tersebut, membuatnya kehilangan tenaga. "Caca, kalau kau sudah tamat sekolah. kita pindah kerumah baru kita ya," pinta Langit kembali membuka matanya, membuat Caca menoleh pada sang suami.
"Daddy, Caca masih nyaman tinggal disini,"
"Caca, kita sudah nikah. lebih baik kita tinggal di rumah sendiri,"
"Baiklah, Caca ikuti Daddy aja," pasrah Caca, membuat Langit tersenyum lalu mengusap kepala istri kecilnya itu lembut.
Lagi-lagi Langit merasakan hawa kuat dari lehernya, ia merasakan sosok itu tak suka akan kehadirannya saat ini. Langit menoleh pada Marcell yang menatap tajam kearah nya.
"Langit, lo tinggalkan rumah ini! Sosok itu marah karena kehadiran lo satu tahun ini!" ungkap Marcell lalu menghilang.
"Caca, kita pindah sekarang saja!"
"Ha? kenapa?"
"Daddy mohon, ayo kita pindah dari sini!"
"Da...,"
tak ingin berlama-lama, Langit langsung mengendong istrinya itu menuju lantai atas.
"Caca gak mau, Dad! Caca mau disini!" tolak Caca membuat Langit menoleh. "Caca, saya tak aman disini, kamu ikut sama saya ya," bujuk Langit sambil memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper.
"Apa Daddy mau ketemuan sama wanita?"
Langit menoleh pada Caca. "Caca, kenapa kamu suka sekali menuduh saya seperti ini?" tanya Langit kesal. "Daddy selingkuhan?" tanya Caca menatap tajam kearah Langit, membuat Langit mengusap kasar wajahnya.
"Caca, saya ingin pindah dari sini karena saya tak aman. saya bukan tipe pria yang suka ganti wanita," jelas Langit lembut supaya istri kecilnya itu mengerti.
"Daddy bohong! rumah Caca aman dan kenapa wanita itu panggil Daddy sayang? Caca tau saat Daddy sedang mandi tadi pagi!"
"Caca, kamu salah paham dia it...,"
"Caca benci Daddy! Daddy khianati Caca hiks!"
"Sayang say...,"
Plak!
Langit memegangi pipinya yang di tampar kuat oleh sang istri, sedangkan Caca memilih pergi yang membuat Langit terdiam. ia juga mengusap sudut bibirnya yang memerah, ia masih tak menyangka kalau istrinya itu begitu kasar menamparnya.
__ADS_1
Langit menghela nafas kasar lalu menarik kopernya keluar dari kamar.
"Langit kesini kamu!"
Langit mendekati mertuanya yang terlihat begitu marah sekali. Ia lalu menoleh pada Caca yang menangis di pelukan Rianti.
"Kau menduakan putri saya hah?" bentak Tuan Gevan yang membuat Langit menoleh pada Papa mertuanya itu. "Bukan, Pa. Caca salah paham," jelas Langit.
"Hiks tadi Caca lihat pesannya pakai sayang hiks terus hamil hiks,"
Bugh!
Langit hampir saja oleng saat dibogem oleh Tuan Gevan, ia hanya bisa diam karena ia tak salah disini. "Sekarang jauhi putri saya! pergi dari rumah saya!" bentak Tuan Gevan menunjuk kearah pintu, Langit melirik kearah Caca yang menangis.
Langit langsung pergi dari sana karena situasi tak memungkinkan buatnya bertahan, apalagi sosok itu menatapnya marah sekali. Langit memasuki mobil dan bergegas pergi dari sana, ia butuh sendiri untuk saat ini dan soal hubungannya dengan sang istri, ia akan bicara dengan Abigail supaya wanita itu menjelaskannya pada Papa mertuanya kalau semuanya ini salah paham.
Tak lama, ia pun sampai di sebuah apartemen yang dulu sering ia datangi sebelum nikah. sesampai dikamar, ia langsung membaringkan tubuhnya yang mendadak capek sekali.
Langit mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan yang sempat di baca istrinya itu. Ia mendadak bungkam saat nomor itu kembali mengiriminya pesan yang membuat Langit kesal.
Ia langsung membalas pesan tersebut.
makasih, gara-gara anda rumah tangga saya hancur!
Ia langsung mematikan ponselnya tanpa berniat menunggu balasan dari nomor tersebut, ia benar-benar sakit hati karena pesan salah alamat tersebut.
Ia ingin marah pada istrinya yang laporin pesan itu pada Tuan Gevan. tapi ia tau, wanita itu terlalu lugu untuk masalah ini sehingga Istrinya melaporkan masalah itu pada Tuan Gevan, tanpa mendengarkan penjelasannya.
"Kau baik-baik saja?"
Langit tak membalas perkataan Marcell, pria itu hanya diam sambil memejamkan matanya. "Apa salah gue sampai arwah itu marah secara tiba-tiba?" lirih Langit kesal, membuat Marcell terdiam.
"Gue juga gak tau, mungkin ada sesuatu yang lo rusakin atau lo kotorin," jelas Marcell yang membuat Langit terdiam memikirkan sesuatu, ia benar-benar tak ingat apa yang ia perbuat selama ini.
Tin!
Dengan malas, pemuda itu kembali mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan dari Suga.
Hendra: Kau benar-benar keterlaluan, kenapa kau duakan adik saya? seharusnya saya tak setuju pernikahan kalian!
Anda:kalian semua salah paham
Belum sempat mengirim pesan berikutnya, nomornya mendadak di blokir oleh Suga yang membuat Langit frustasi. "Kau harus sabar, Langit! kalian bakalan berbaikan dan gak bakalan sampai ke pengadilan," jelas Marcell membuat Langit beranjak duduk.
"Kalau sampai kesalahpahaman ini mengakibatkan perceraian, gue gak segan-segan membunvh siapapun orang yang akan mendekati Caca," gumam Langit sedangkan Marcell hanya diam.
__ADS_1
*
Hari-hari berlalu..
Langit mendadak putus asa saat menyadari keluar istrinya sudah pergi entah kemana. pemuda itu tak bisa menemukan kemana istrinya pergi yang membuatnya sedih sekali. Ia sudah bertanya pada Abigail, namun wanita itu tak mau memberitahu nya karena sudah di ancam oleh Tuan Gevan.
"Caca, kau hanya salah paham," lirih Langit terduduk di lantai.
"Kau jangan putus asa seperti ini, Langit! kau pasti bisa mencari Caca!"
"Gue sudah mencari kemanapun, tetap tak gue temukan, lo bisa mencari istri gue?"
Marcell terdiam lalu menggeleng. "Gue gak ada ikatan batin," jawab Marcell jujur, ia hanya bisa mendatangi orang yang dekat dengannya saja. ia bukanlah hantu yang bisa kemana-mana.
Disisi lain, Seorang wanita cantik berjalan tergesa-gesa untuk menemui bawahannya.
"Kalian sudah menemukan pria itu?"
"Belum, Nyonya."
Wanita itu mengusap wajahnya frustasi. "Kalau rumah tangga mereka berujung perceraian, gimana? ini semua salah saya yang salah angka," kesal wanita itu karena tak ingin membuat rumah tangga orang hancur gara-gara nya. Ia ingin menelpon nomor itu tapi tak aktif sama sekali saat orang itu membalas pesannya.
"Kalian harus cari istrinya, saya ingin menjelaskan padanya!"
"Baik, Nyonya! kami permisi!"
'Aku harus menyatukan mereka lagi,' batin wanita itu bergegas pergi.
***
Sore harinya, Langit berjalan di sekitar apartemen buat mengusir rasa bosannya. ia juga penasaran kemana istrinya pergi.
"Hei! Awas!"
Langit berlari dan mendorong wanita itu sehingga dirinyalah yang tertabrak oleh mobil yang melaju kencang. Wanita itu meringis kesakitan sekali, ia lalu berusaha bangkit dan mendekati pria yang sudah berlumuran darah.
"Ma-Mas, kau gak papa?" gagap wanita itu khawatir sekali, ia ingin menyentuh pria itu tapi takut sekali dengan darah.
"Pak! Telpon ambulans!" teriak wanita berhijab itu pada salah satu warga yang mendekat.
Langit berusaha untuk sadar. tapi, pemuda itu tak bisa karena nafasnya yang mulai sesak dan gak beraturan lagi.
"Mas, kau harus bertahan!"
"Sa-Saya tak san-sanggup lagih," lirih Langit dan perlahan-lahan kesadarannya mulai menghilang yang membuat wanita itu makin panik dan berusaha mengajak pria itu bicara padanya.
__ADS_1
Bersambung...