Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#8 Kematian Tragis Dewi


__ADS_3

Tak lama, Langit menghentikan laju mobilnya di sebuah gerbang rumah bertingkat dua tersebut.


"Makasih ya, Bang. udah antar aku," senyum Caca membuka pintu mobil.


"Caca, kau bisa membatalkan perjodohan itu, kan?" tanya Langit hati-hati, membuat Caca terdiam lalu mengangguk yang membuat Langit senang.


Cup!


"Bye-bye, Abang ganteng!"


Ckelk!


Langit membeku lalu menyentuh pipi kirinya yang dicium oleh Caca barusan. "Kenapa gue berdebar-debar gini ya? gak kayak saat gue bersama Anita dulu," gumam Langit lalu melajukan mobilnya meninggalkan lokasi tersebut.


Disisi lain, Caca tersenyum karena bisa mencium pipi kekasihnya.


"Ekhem!"


Caca menoleh pada beberapa orang yang tengah asik mengobrol. "Caca, mendekatlah! ini Mama calon suamimu!" jelas Tuan Gevan yang membuat Caca mendekat.


"Wah, anak kalian cantik banget! cocok banget buat Dikta," senyum wanita bernama Reva itu, membuat Caca bungkam.


"Maaf, Tante. Caca udah punya kekasih, Caca mencintainya," jelas Caca jujur, membuat semuanya menoleh apalagi Suga yang tersedak minum jus tomat.


"Kapan kau punya kekasih? kenapa gak bilang sama aku? atau, kau berusaha menghindar dari perjodohan ini?" tanya Suga bertubi-tubi yang membuat Caca menoleh pada Suga.


"Caca benar-benar punya kekasih, orangnya lebih dewasa dan mampu jaga Caca!" cemberutnya membuat Rianti mendekati anak nya itu.


"Siapa kekasih kamu itu?"


"Rahasia, Caca gak mau bilang karena Caca baru tadi jadiannya," senyum Caca membuat Tuan Gevan menahan marah.


"Caca, Papa mau kamu menerima perjodohan ini! Papa gak mau tau! kalau kamu menolak, jangan sebut saya papa kamu lagi!" tekan Tuan Gevan beranjak pergi dari sana sehingga Caca terdiam saat papanya berani membentaknya dan ini pertama kalinya ia dibentak.


"Caca, anak Tante orangnya baik kok. Tante mohon, kamu menjadi menantu Tante," bujuk Reva memohon sehingga Caca menggeleng pelan.


"Caca gak bisa, Tan. Caca mencintai kekasih Caca!" jelas Caca menahan tangis.


"Ca, lebih baik kamu menerima nya dari pada kamu gak di anggap oleh Papa kamu," bujuk Suga membuat Caca terdiam lalu berdiri.

__ADS_1


"Caca butuh waktu, permisi!" pamit Caca bergegas menuju kamarnya sambil menangis. Caca melempar tasnya ke kasur lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Langit.


{Ada apa, Ca? gimana?}


"Abang hiks, Papa ancam aku hiks"


[Ancam gimana?]


"Kalau Caca nolak, Caca gak bakalan dianggap sebagai anak lagi hiks. Caca gak mau dijodohin gini,"


Hening.


"Abang masih disana, kan?"


[Ca, kamu berjuang dulu dan jelasin sama Papa kamu. kalau ada waktu saya akan ke rumah kamu, saya yang akan jelasin sama beliau. say-Saya juga gak mau kau dijodohin dengan orang lain,]


"Ta-Tapi ...,"


[Caca, saya matiin dulu karena Papa saya memanggil,]


"Baiklah,"


*


Langit menatap ponselnya dan meletakkannya keatas meja kerjanya. Ia lalu bergegas menemui Papanya yang sedari tadi memanggil namanya.


"Papa gak mau tau, kamu harus menerima perjodohan ini!"


"Pa, aku gak mau menerima perjodohan ini! kenapa harus aku yang dijodohkan seperti ini?"


Plak!


Langit memegangi pipinya yang memanas akibat tamparan kuat dari sang Papa.


"Papa ingin menjalin persahabatan lebih akrab dengan teman Papa, kamu menurut saja!" bentak Tuan Bambang tajam.


"Aku gak mau, Pa! aku mencintai seseorang!" jelas Langit yang membuat langkah Abigail terhenti lalu menoleh pada Langit.


"Kau mencintai siapa? apa itu muridmu?" goda Abigail membuat Langit menatap tajam kearah Abigail. "Bukan urusan kau!" ketus Langit yang membuat Abigail menahan kesal lalu pergi menuju dapur.

__ADS_1


"Papa gak mau tau, kamu harus menerimanya atau Papa hentikan semua fasilitas kamu?" ancam Tuan Bambang yang membuat Langit menoleh.


"Bentar!"


Langit menuju kamar lalu membawa semua barang-barang yang dibelikan oleh Papanya. "Ini semua ATM, kunci mobil dan kunci motor aku. aku sudah memberikan semua fasilitas Papa, aku akan keluar dari rumah ini!" jelas Langit membuat Tuan Bambang begitu kaget dengan tindakan Langit.


Ia tak menyangka kalau putra bungsunya itu rela kehilangan segala fasilitas demi wanita yang dicintainya.


"Dikta, tunggu!"


Langit dan Tuan Bambang menoleh pada wanita paruh baya yang masuk dengan tergesa-gesa bersama seorang pria yang tampak berlalu begitu saja melewati mereka.


"Ma, aku gak mau disuruh menerima perjodohan ini. aku mau keluar dari rumah ini,"


"Gak boleh! Mama gak mau kamu keluar dari rumah ini. Kamu mau Mama nekat?"


Deg!


Langit yang mendengar itu benar-benar kaget sekali, ia tak ingin Mamanya nekat. "Aku butuh waktu," pasrah Langit menuju kamar abangnya untuk meminta saran, hanya abangnya lah yang bisa memberikannya solusi.


***


Keesokan paginya, semuanya benar-benar heboh melihat potongan tubuh yang di tempel di Mading sekolah. Potongan itu benar-benar menyeramkan dengan sebuah ukiran di perut mayat itu. mereka juga mendapati sebuah kertas yang menempel di kepala orang yang digantung di dekat Mading.


 


kalian semua akan bernasib sama, kalau kalian menyakitinya


"Seram amat, siapa yang bunuh Dewi seperti ini?" tanya salah satu siswi.


"Atau, ini perbuatan Suga, si murid baru itu? dia kan kejam banget saat jedotin kepala Dewi ke dinding," timpal yang lain.


"Gak mungkin lah, Suga aja nginap rumah gue semalaman sampai kamu begadang main game," jelas beberapa siswa sehingga semuanya makin bingung.


"Siapa yang lakuin ini?"


Semuanya menoleh pada Suga yang baru datang. "Gak tau, pagi-pagi sudah ada mayat si Dewi," jelas salah satu siswi.


"Gue berterima kasih buat siapa yang membunuh Dewi, sehingga gak ada yang nyakiti Caca lagi," kekeh Suga senang.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2