Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#11 Lumer?


__ADS_3

Langit memasuki ruangan guru, membuat Abigail menatap bingung pada sepupunya itu yang terlihat tak bersemangat. Ia ingin bertanya tentang masalah pria itu karena sejak kemarin Abigail tidak di rumah, Abigail sibuk mengurus sesuatu dikantornya sehingga wanita itu tak tau apa-apa.


"Langit, kau kenapa?"


"Gak papa," jawab nya pendek tanpa menatap lawan bicaranya. "Kau dipaksa lagi buat menerima perjodohan itu?" selidik Abigail sehingga Langit menoleh lalu menggeleng pelan.


Cklek!


Keduanya menoleh pada Caca yang memasuki ruangan dengan nafas memburu karena diberitahukan oleh Suga soal Langit yang salah paham. Caca menoleh pada Langit yang mengalihkan pandangannya dari nya, membuat Caca yakin kalau pria tercinta nya itu lagi cemburu tingkat akut.


"Caca, ada apa?" tanya Abigail bingung.


"Caca ada perlu sama dia!" tunjuk Caca pada Langit, wanita itu mendekati Langit yang tak sekalipun menatapnya. Abigail bingung dengan kedekatan mereka karena biasanya Langit bakalan menolak di dekati Caca, kalau bukan ia sendiri yang memaksa.


"Cemburu?" tanya Caca sedangkan Langit gak membalas, pemuda itu begitu tak mood bicara kalau hanya bicara dengan Caca saja, ia ingin butuh penjelasan dari kedua pihak. Caca yang kesal karena tak di acuhkan pun memegangi kedua pipi Langit sehingga pemuda itu menoleh padanya.


Sedangkan Abigail? wanita itu hanya melongo karena tak mengerti dengan situasi sekarang. Ingin pergi tapi ia juga kepo dengan hubungan keduanya.


"Caca sama Suga udah selesaikan masalah, Suga cuman ungkapin perasaan sama Caca dan setelah itu ia tak akan ada beban lagi, saat Caca bersama Bang Langit! gini amat punya guru yang tak mengerti situasi," omel Caca sambil mencubit pipi maupun hidung Langit, Langit yang mendengarnya hanya tersenyum lega.


"Kau tak marah sama saya?"


"Dikit, Caca marah sama Bapak yang seenaknya kemarin," ketus Caca hendak pergi tapi di tarik oleh Langit, membuat wanita itu tersentak di pelukan hangat Langit. "Maaf, saya tak akan mengulanginya lagi sebelum kita sah," jelas Langit jujur yang membuat Caca langsung melepaskan pelukan Langit.


"Jangan peluk-peluk, yang ketiga setan,"


"Owh iya, setannya udah ada di dekat kita," kekeh Langit.


Brak!


"Menghina dengan aestetik, kalian kira saya Setan? walau iya sih, gue yang ketiga di ruangan ini," gumam Abigail memelankan kata belakangnya.


"Caca keluar dulu, mau ajak Vika ama Bima buat cari kecoa dulu, untuk stok," kekeh Caca berlari pergi meninggalkan ruangan Langit. Abigail lalu mendekati Langit karena butuh penjelasan tentang hubungan kedua orang itu.


"Senyum-senyum sendiri, hubungan kalian berdua apaan?"


Langit menoleh pada Abigail. "Kepo amat sih, lu!" sinis Langit hendak beranjak dari kursi tapi ia tahan kan saat melihat pintu kembali terbuka, keduanya menatap sinis pada Anita yang sudah berpakaian guru, sama seperti mereka.


"Langit, siapa wanita itu?" tanya Anita menunjuk kearah Abigail karena selama berpacaran dengan Langit, ia sama sekali tak mengenal Abigail. "Buat apaan lo ikut mengajar disini?" tanya Langit tanpa membalas pertanyaan Anita tersebut.

__ADS_1


"Karena aku ingin kita bersama-sama lagi, aku minta maaf karena udah bohongin kamu waktu itu. aku benar-benar dipaksa Papa buat mendekati Bagas," ungkap Anita yang membuat Langit terdiam.


"Kalau kau berhubungan lagi dengan wanita ini, gue laporin sama Caca," bisik Abigail lalu pergi yang membuat Langit kaget. Ia bergegas mengambil buku-buku buat mengajar, sekaligus membujuk Abigail untuk bilang yang enggak-enggak pada Caca. bisa gawat kalau Caca makin marah padanya.


"Pak, Tunggu!"


Langit menoleh pada Suga yang mendekatinya, yang membuatnya terdiam.


"Pak, saya sudah merelakan dia buat Bapak. tapi, Bapak harus menjaganya kalau Bapak sampai membuatnya menangis, saya gak segan-segan mengambilnya lagi karena kami hanyalah saudara tiri, saya masih berhak menikah dengannya. Saya permisi," jelas Suga pergi dari hadapan Langit.


'Gue gak bakalan biarkan Caca diambil olehnya, apapun yang sudah gue miliki gak bakalan gue berikan,' batin Langit tersenyum miring.


Disisi lain, Caca maupun Vika bersama Bima tampak sibuk mencari kecoa di gudang sekolah. "Caca, buat apaan sih kita cariin Kecoa?" tanya Bima sambil mencari kecoa. "Buat naikin guru baru gatal," jelas Caca dengan entengnya sehingga Vika maupun Bima menoleh.


"Maksudmu, Buk Anita yang ngajar Kimia?" tanya Vika sehingga Caca mengangguk pelan.


"Caca bakalan jailin dia kalau berani dekati Pak Langit," jelasnya dengan entengnya.


"Caca, lo bisa gak berhenti ngejar-ngejar tuh guru, lo itu udah ditolak berkali-kal..." perkataan Vika terhenti saat Caca memperlihatkan wallpaper ponsel yang memperlihatkan Caca yang makan berdua bersama Langit. Langit juga tampak tersenyum kearah kamer.


"Pak Langit udah milik Caca, gak boleh dimilik orang lain lagi," senyumnya membuat kedua pasangan itu kaget.


"Lo gak panas," gumam Bima menyentuh kening Caca.


"Baiklah, asal lo traktir makan kami nanti dikantin," jelas Vika sehingga Caca mengangguk pasrah.


Drett!


Caca menoleh pada layar ponselnya yang membuat kedua sahabatnya penasaran. "Keraskan volume nya dikit," pinta Bima sehingga Caca menerima panggilan dari Yayang nya itu.


{Caca, kamu bisa ke kelas sekarang? saya mau bicara sebentar,}


"Caca sibuk!"


{Kau masih marah sama saya? Saya minta maaf,}


Vika dan Bima tak menyangka kalau guru yang terkenal killer bisa berbicara lembut pada Caca, apalagi mendengar guru mereka minta maaf pada Caca. benar-benar kejadian langka sekali.


"Caca matiin bentar ya,"

__ADS_1


{Jangan! saya mau kau memaafkan saya,}


Caca menoleh pada sahabatnya yang menyuruhnya untuk diam, supaya bisa mengerjai Langit.


"HUWA, BIMA LUMER!" pekik Caca sambil melempar ponselnya karena tangannya yang di penuh kecoak yang merayap banyak ke tangannya, tanpa menghiraukan ponselnya yang tiba-tiba mati akibat membentur lantai dengan kuat. "Huwa, menjijikkan sekali!" kaget Vika ketakutan.


Bima langsung mengambil kecoa itu dari tangan Caca dan memasukkan nya kedalam kotak lagi supaya tak kabur. ditambah, mereka sudah capek-capek cari hewan menjijikkan itu.


*


"Lumer? apaan yang lumer? kenapa Caca sebut nama Bima?" gumam Langit menatap panggilan yang terputus secara sepihak.


"Ada apa?"


Langit menoleh pada Abigail yang duduk di sampingnya, karena posisi mereka berada di kantor untuk menenangkan diri dari Anita.


"Caca bilang Bima lumer," ungkap Langit yang membuat Abigail bingung.


"Atau jangan-jangan Caca berhubungan dengan Bima sehi ...,"


"Gue cari Caca dulu!" panik Langit yang membuat Abigail terkekeh dengan sepupunya itu, ia yakin kalau Langit mikir aneh-aneh dengan ungkapan Caca.


***


Brak!


Ketiga siswa itu menoleh pada Langit yang mendobrak pintu, pemuda itu sempat bertanya keberadaan Caca pada salah satu siswa dengan alasan ingin membicarakan sesuatu hal yang penting.


"Bang Langit kenapa?" tanya Caca bingung yang membuat Langit menoleh pada Bima dan Vika yang mendekat sambil memegangi kotak yang berisi kecoa. "An-Anu, tadi saya dengar kamu teriak makanya saya kesini," gagap Langit yang sudah berprasangka buruk pada wanitanya.


Otak oh otak!


"Cie, Bapak khawatir banget sampai dobrak pintu gudang segala," ejek Vika yang membuat Langit salah tingkah dihadapan muridnya ini. "Bima, Vika! ayo kita ke kelas," ajak Caca tapi ditahan oleh Langit.


"Caca, kau masih marah? saya benar-benar khilaf kemarin,"


"Caca masih marah sama Abang," cemberutnya sambil menarik tangan Vika buat pergi dari sana.


"Pak, saya kasih saran buat bujuk Caca dengan cemilan banyak khususnya makanan Coklat. dia pasti maafin Bapak," kekeh Bima lalu ikut pergi. "Jangan lupa boneka Beruang cokelat!".

__ADS_1


"Gue coba aja deh," gumamnya mengeluarkan ponselnya lalu menelpon seseorang buat membelikan sesuatu buat Caca supaya mau memaafkan nya.


Bersambung ....


__ADS_2