Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#17 Tertekan


__ADS_3

Tok!


Tok!


"Abigail! bangun! waktunya sarapan!"


Suga membuka matanya karena begitu terganggu sekali, ia lalu menoleh pada Abigail yang sudah tertidur di pelukannya. ia hendak beranjak dari kasur tapi wanita itu malah menahan tubuhnya lagi, membuat Suga menatap kearah Abigail yang masih memejamkan mata.


Wanita itu tak memperbolehkan nya beranjak pergi, sehingga Suga terpaksa melepaskan pelukan wanita itu kasar. membuat Abigail menoleh pada Suga yang memakai kembali bajunya karena tadi Abigail meminta pemuda itu membuka baju.


"Kau keluarlah, saya lewat jendela dan jangan berniat memukul perut!" ketus Suga lalu berjalan menuju jendela dan pergi dari kamar tersebut. Abigail tersadar kalau sejak tadi ia tertidur di pelukan pria yang amat ia benci tersebut, apalagi janin yang ada di perutnya saat ini.


Ia sangat tak terima kalau benih dari Suga tumbuh di rahimnya. tapi, ia harus bersabar sampai janin ini lahir. ia bisa pergi tanpa berniat membawa anak s i a l a n nya itu.


"Bentar!" Abigail langsung membuka pintu kamar dan melihat Langit yang menatapnya dingin sekaligus kesal karena di bangunin tak menyahut. Pemuda itu langsung bergegas pergi sebelum istrinya kembali ngambek padanya. Wanita itu bergegas menuju toilet karena perutnya benar-benar terasa campur aduk, ia tau kalau ini gejala efek hamil muda.


Disisi lain, Suga mendekati meja makan karena ia juga sedikit lapar sekali. "Bang, Papa dan Mama kemana?" tanya Suga pada Langit yang menyuapi Caca sarapan.


"Tadi siang mereka bilang mau ke luar kota buat beberapa hari karena ada kendala, sehingga mereka gak sempat pamit sama kalian," jelas Langit jujur lalu kembali menyuapi Caca yang begitu manja sekali.


Tap!


Tap!


Semuanya menoleh pada Abigail yang duduk di samping Langit, ia juga tak berani menatap kearah Suga yang menatapnya tajam seakan-akan menyuruhnya duduk di samping Suga. "Kenapa kau pucat sekali, Abigail?" selidik Langit penasaran sehingga Caca menoleh pada Abigail yang duduk di samping suaminya itu.


"Cuman gak enak badan saja," kekeh Abigail membuat Langit mengangguk paham lalu kembali menyuapi Caca. "Awh,".


Abigail menoleh pada Suga yang sengaja menendang kakinya cukup kuat. "Kau kenapa?" tanya Langit lagi sehingga Abigail menggeleng lalu pindah duduk di samping Suga, Langit begitu bingung dengan tingkah sepupunya itu yang terlihat ..., Tertekan.


Suga mengambil sarapan buat Abigail dan memberikannya pada Abigail yang membuat wanita itu terdiam, ia tak menyukai sayur bayam ataupun soup berbau kentang. "Makan," bisik Suga sehingga Abigail menggeleng. "Kau mau saya bersikap kasar?".


Abigail sontak langsung memegang sendok untuk sarapan yang membuat Suga menatap sekilas padanya. Lagi-lagi Abigail menutup mulutnya karena tak tahan mencium bau kentang, wanita itu langsung berlari ke kamar yang membuat semuanya menoleh pada Abigail.

__ADS_1


Suga bersikap biasa-biasa saja, ia lalu beranjak berdiri. "Kau mau kemana?" tanya Caca penasaran sehingga Suga menoleh. "Keluar, ada urusan," balas Suga berjalan santai meninggalkan pasangan itu.


Disisi lain, Abigail mendadak muntah di wastafel. wanita itu benar-benar begitu lemas sekali, padahal sebelumnya ia tak mual separah ini dan ia juga bisa bersikap layaknya tak hamil.


Drep!


Abigail menoleh pada Suga yang menahan tubuhnya supaya tak jatuh, ia hendak menolak di peluk Suga. namun, kondisinya begitu lemas buat berdiri sehingga ia hanya bisa pasrah. Pemuda itu langsung mengendong Abigail menuju kasur dan mendudukkan Abigail di kasur.


"Berhentilah bersikap peduli sama saya, Hendra. kau sudah menikahi saya dan sekarang, jangan pedulikan saya! saya mohon!"


Pemuda bermata hitam itu menoleh pada Abigail, ia begitu tak suka mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Abigail barusan.


"Mendingan kau diam!" tekan Suga sehingga Abigail menangis.


"Hiks saya membenci kamu, Hendra! termasuk janin ini!"


Plak!


Suga tak bisa menahan marahnya saat ini, ia tak bisa bersikap lembut terhadap Abigail, wanita yang kini berstatus istrinya. kecuali saat bersama keluarga maupun sama Caca. Abigail hanya terisak sambil memegangi pipinya yang memanas akibat tamparan kuat dari Suga.


"Bisakah kau menjadi penurut, ha? kalau kau bersikap baik-baik, gue gak bakalan kasar!" tekan Suga mencengkram kuat rahang Abigail, membuat wanita itu benar-benar kesakitan sekali.


"Le-Lepas," lirih Abigail kesakitan sekali.


"Gue akan melepaskan lo, lo harus gue hukum!" smirk Suga langsung mengambil sesuatu di dalam laci meja. Abigail sontak kaget melihat sebuah pisau tajam yang diambil oleh Suga.


"Bu-Buat apaan itu?"


Suga terkekeh kecil laku menarik tangan kanan Abigail. "Diamlah, ini memang sedikit sakit buat kamu,".


Srek!


"Argh! sakit!" teriak Abigail memberontak sedangkan Suga tak peduli dengan teriakan Abigail karena kamar ini sudah ia sadap sebelum menemui Abigail di kamar mandi.

__ADS_1


Abigail menangis saat rasa sakit di lengan kanannya, darah segar juga mulai mengalir deras ditangannya sedangkan pemuda itu tak memperdulikannya dan asik mengukir namanya di tangan Abigail.


Tak lama,


"Sudah selesai,"


Pemuda itu tersenyum puas saat melihat nama Suhendra di lengan istrinya itu. "Kau milikku, Abigail," smirk Suga menatap Abigail yang sudah tak sadarkan diri akibat tak sanggup menahan sakit. Ia langsung mengambil kotak obat buat mengobati luka istrinya itu, supaya gak kehabisan darah karenanya.


"Kalau kau penurut, kau gak bakalan menderita," sinis Suga setelah mengobati luka Abigail, pemuda itu juga mencium lembut kening Abigail lalu pergi dari sana supaya Abigail bisa beristirahat.


***


Setelah beberapa jam pingsan, Abigail terbangun dari pingsannya. ia menoleh pada lengannya yang sudah di perban oleh Suga tadi. Ia melirik kearah jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, membuatnya langsung beranjak duduk. "Sakit," lirih Abigail memegangi tangannya yang benar-benar sakit sekali.


"Gue sepertinya harus kabur sebelum Hendra pulang," gumam Abigail bergegas pergi.


Disisi lain.


"Argh! sakit!"


"Bang/sat kau, Hendra!"


Teriakan itu terdengar jelas di sebuah gudang terbengkalai, Suga tersenyum sinis pada mangsanya itu.


"Nikmat, bukan?" tanya Suga sambil menekan kembali pisau yang di tancapkan di lengan pemuda itu, orang yang pernah mencelakakan nya dua bulan yang lalu.


Sebenarnya, Suga sudah lama tiba di Indonesia sekitar 6 bulan yang lalu. ia sengaja baru pulang ke rumah orang tuanya karena ia butuh senang-senang karena bosan dengan tugas yang begitu berat di Belanda.


"Anj/ing! lepasin gue!" bentak Afdhal memberontak tapi Suga tak menghiraukannya dan malah mencabut kasar pisau itu yang membuat Afdhal kesakitan.


Jleb!


Suga tersenyum tipis saat pria itu tewas dengan pisau yang menancap tepat di jantungnya. "Cukup menarik permainan hari ini, selamat tinggal, pecun/dang!" tawa Suga lalu menguyur tubuh Afdhal mengunakan bensin lalu membakarnya supaya tak ada jejak sedikitpun.

__ADS_1


Ia lalu meninggalkan lokasi tersebut, sebelum ada yang melihatnya.


Bersambung ....


__ADS_2