Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#26 Pesan Misterius


__ADS_3

Pagi harinya, Langit terbangun dari tidurnya dan kaget saat menyadari kalau mereka tak pakai apapun, ia berusaha mengingat kejadian semalam. 'Kenapa gue mendadak ganas semalam? apa gue beneran minum jus yang terkena obat?' batin Langit bingung, ia lalu menoleh pada Caca yang tidur di pelukannya.


Ia benar-benar khawatir, apalagi Caca masih kelas 3 dan belum lulus.


"Hiks sakit,"


Langit menoleh pada Caca yang terisak kecil. "Ma-Maafin aku ya," panik Langit memeluk tubuh mungil istrinya. "Hiks Dad-Daddy kasar hiks," tangis Caca yang bikin Langit benar-benar panik karena ia juga bersalah karena melakukannya kasar tapi, itu bukan kehendaknya karena tubuhnya tak bisa ia kendalikan semalam.


"Sayang, maafin aku! aku gak tau kalau aku nekat seperti ini, aku obati ya,"


"Hiks iya,"


Langit beranjak bangun dan mencari sesuatu di laci meja, ia tak tega melihat istrinya kesakitan karena ulahnya semalam. 'Gue harus lihat minuman semalam, pasti minuman itu ada obatnya,' batin Langit yakin.


"Kamu aku mandiin dulu ya, nanti di obati," bujuk Langit sehingga Caca mengangguk dan mengalungkan tangannya di leher Langit, membuat pemuda itu langsung mengendong istri mungilnya menuju kamar mandi.


*


Setelah mandi pagi, Langit langsung mengendong Caca menuju ruang makan untuk sarapan pagi. ia lalu mendudukkan sang istri di kursi lalu bergegas membuatkan nasi goreng buat Caca.


"Daddy, Caca mau ke sekolah!"


"Gak boleh, beberapa hari ini kamu gak usah sekolah dulu. kamu juga gak bisa jalan, bisa-bisa teman sekolah kamu curiga," jelas Langit tanpa menoleh yang membuat Caca kesal, ia lalu berjalan hati-hati menuju kulkas untuk mengambil jus kemarin.


"Sayang, jangan minum jus itu!" panik Langit saat Caca meminum jus tersebut, ia tak ingin kejadian semalam terulang lagi.


"Caca haus, Daddy kenapa?"


Langit terdiam saat minuman itu sudah tinggal setengah. tapi, ia juga bingung karena istrinya tak bereaksi sepertinya semalam.

__ADS_1


"Caca, kamu gak kepanasan?"


"Enggak, biasa-biasa saja," balas Caca lalu duduk kembali sehingga Langit menggaruk tengkuknya yang tak gatal. kalau minuman itu biasa-biasa saja, kenapa semalam ia menggila seperti meminum obat perang/sang. Ia begitu bingung dengan kejadian saat ia minum minuman kesukaannya itu.


Langit lalu kembali membuatkan sarapan buat istrinya itu, sedangkan Caca lega karena Langit tak mencurigainya. 'Kayaknya Caca terlalu banyak buang obatnya deh, ampe Caca gak bisa jalan gini,' batin Caca sambil mengetuk-ngetuk kepalanya pelan.


Tak lama, sarapan sudah siap sehingga Langit langsung meletakan satu piring nasi goreng kehadapan Caca. "Wangi banget, Caca suka!" senyum Caca sehingga Langit terkekeh.


"Habiskan sarapan kamu,"


"Baik, Daddy tampan!"


Wajah Langit mendadak memerah saat mendengar Caca menyebutnya tampan, entah kenapa ia selalu baper kalau wanita itu menggodanya. walau perkataan itu biasa-biasa saja, tetap saja ia baper.


"Kami pulang!"


Caca menoleh. "Papa dan Tante-Mama sudah pulang!" senang Caca hendak bangkit tapi wanita itu lupa karena masih sakit sehingga Tuan Gevan langsung memeluk Caca yang hampir jatuh, Langit benar-benar lega karena istrinya tak jatuh.


"Leher kamu kenapa merah-merah gitu?" selidik Rianti penasaran sehingga Caca memegangi lehernya, sedangkan Langit menahan rasa malunya saat ini. "Kau gak tau saja," sinis Tuan Gevan membuat Rianti tertawa saat sadar saat menyadari rambut putrinya yang basah apalagi menantunya.


"Wah, hawa-hawa mau dapat cucu nih," kekeh Rianti membuat Langit menunduk karena tak sanggup di goda seperti itu.


"Kami datang!"


Semuanya menoleh pada Abigail yang mendorong kursi roda Suga, Tuan Gevan maupun Rianti bingung melihat Suga mengendong bayi mungil. "Hendra itu anak siapa?" tanya Rianti penasaran sambil mendekati, Suga menoleh pada putranya yang tertidur lelap.


"Anak aku dan Buk Abigail, Ma," lirih Suga membuat pasangan itu kaget sekali. "Maafin Hendra yang menyembunyikan ini semua dari kalian, Hendra mengaku telah menodai Buk Abigail dan Hendra juga sudah menikahi Buk Abigail secar private. Hendra minta maaf," lirih Suga menunduk.


Plak!

__ADS_1


"Papa!" kesal Caca sedangkan Suga menahan sakit di pipinya akibat tamparan dari Papa sambungnya. Abigail langsung memeluk suaminya karena kasihan.


"Papa mendidik kamu jadi lelaki yang baik, bukan menodai wanita hingga hamil, Suhendra!" tekan Tuan Gevan yang membuat Suga hanya diam.


"Om, jangan kasar sama suami saya. saya juga sudah menerima Hendra sebagai suami saya," jelas Abigail jujur, sambil mengusap lembut pipi Suga yang terkena tamparan kuat dari Tuan Gevan.


"Pa, saya juga setuju dengan keputusan Hendra yang menikahi sepupu saya. dia sudah mau bertanggungjawab," jelas Langit membuat Tuan Gevan mengusap wajahnya kasar.


"Maafkan Papa, Papa hanya terbawa emosi,"


Suga menoleh. "Gak papa kok, Pa," senyum Suga lemah.


"Boleh Mama gendong cucu, Mama?" tanya Rianti sehingga Suga mengangguk dan memberikan putra kecilnya itu, membuat Rianti begitu senang karena menjadi seorang Nenek.


***


Tin!


Caca yang asik bermain dengan keponakannya pun mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan dari nomor asing.


jauhi dikta atau kamu yang akan aku bunuh!


Caca langsung memberikan ponsel itu pada suaminya yang asik ngemil, membuat Langit bingung dan menerima ponsel tersebut.


Pria itu tampak begitu kesal karena ada saja yang mengancam istri kecilnya.


"Jangan hiraukan pesan seperti itu ya, biarkan saja dia bosan," senyum Langit mengusap kepala istrinya, Caca hanya mengangguk pelan dan kembali bermain dengan baby Alno.


"Daddy, Alno nya mengemaskan ya! Caca pengen punya anak seperti Alno,"

__ADS_1


"Kalau rezeki pasti ada," senyum Langit sehingga Caca senang. 'Moga gak ada yang tumbuh, masa nanti Bayi ngurus Bayi,' batin Langit ngeri membayangkan Caca yang barbar mengurus anaknya nanti.


Bersambung...


__ADS_2