
Langit membuka matanya dan langsung beranjak duduk karena sempat tertidur, ia menatap ke lantai dan tidak menemukan putra kecilnya tersebut yang membuatnya benar-benar panik sekali.
"Afgan, kamu dimana?" panik Langit mencari anaknya yang entah kemana, ia takut kalau putranya hilang karena kecerobohan nya sendiri.
"Daddy!"
Langit menoleh dan melihat putranya yang digendong oleh maid, membuat Langit berlari mendekat dan mengambil alih putra kecilnya itu. "Daddy panik saat tak melihatmu," jelas Langit mencium wajah putranya itu yang membuat Afgan tertawa senang dan menyandarkan kepalanya di dada Daddynya tersebut.
Ia lalu membawa putranya itu menuju ruang tamu sehingga Afgan menoleh pada Langit. "Jangan ngilang lagi ya, Daddy takut kehilangan kamu. cukup saja Daddy udah kehilangan Mama kamu," jelas Langit mengusap pipi chubby Afgan, membuat bocah itu tertawa.
Langit lalu mengeluarkan ponsel dan melihat tanggal hari ini, ia terdiam karena besok adalah hari ulang tahun anaknya yang hendak memasuki umur sebelas bulan.
Harusnya besok adalah hari bahagia untuk merayakan penambahan umur putranya bersama Caca. namun, sekarang ia tak bisa berkumpul lagi karena wanita nya sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. ia berharap, anaknya tumbuh menjadi anak yang baik dan tak kekurangan sedikitpun kasih sayang darinya.
"Mammah,"
Pria itu menoleh pada Afgan yang menghisap jari sambil berceloteh menyebut Mama, membuat Langit hanya bisa menahan tangis, karena tak sanggup melihat anaknya yang ditinggal mati oleh Mamanya disaat Afgan berumur kecil dan belum mengerti apa-apa.
Afgan menoleh pada Langit lalu memberontak untuk duduk di lantai, sehingga Langit menurunkannya. Bocah itu pun langsung bergegas merangkak menuju keranjang yang berisi mainan.
Langit hanya diam menatap putranya itu memainkan beberapa bola karet, yang membuat Langit tersenyum tipis melihat anaknya yang benar-benar aktif sekali. langsung saja ia mendekat dan duduk di samping Afgan, membuat Afgan menoleh lalu memberikan bola pada Daddynya itu.
*
Keesokan harinya, Langit mengendong anak nya memasuki kantor yang membuat beberapa karyawan wanita kagum dengan Afgan yang benar-benar imut sekali.
"Anak Bos tampan banget, sih?"
"Gak ada bedanya sama ketampanan bapaknya,"
"Pengen daftar jadi Mamanya Bayi itu, tapi nyadar karena bukan tipe pak Langit!"
Langit yang mendengarnya hanya berlalu saja sedangkan Afgan asik menghisap jari.
__ADS_1
"Mamma,"
Langit yang baru memasuki lift pun menoleh pada putranya mengulurkan kedua tangan kearah wanita yang sama sekali tak Langit kenal. Ia menahan tangan mungil anaknya karena tak suka kalau anaknya menyebut Mama pada wanita lain.
"Mama hiks!"
"Kenapa nangis?" tanya Langit mengusap air mata putranya itu, membuat wanita di sebelah Langit menoleh. "Boleh aku mengendongnya, Tuan?" tanya wanita itu membuat Langit menggeleng. "Gak usah," ketus Langit lalu pergi setelah lift terbuka. "Mama hiks," tangis Afgan memberontak di gendongan Daddynya itu.
"Dia pria dingin sekali, padahal aku cuman nawar buat tenangin anaknya saja," gumam wanita itu lalu pergi menuju salah satu ruangan di kantor tersebut.
Disisi lain, Langit kesusahan menenangkan anaknya yang menangis. "Afgan, itu bukan Mama kamu," bujuk Langit mencoba mengangkat tubuh putranya itu, tetap saja bocah itu menangis memberontak yang membuat Langit menyesal ke kantor kalau ujung-ujungnya seperti ini.
Cklek!
Langit menoleh pada orang yang masuk saja. "Ada apa nih, Langit?" tanya Fikri yang merupakan teman kecil Langit.
"Gak tau, anak gue tiba-tiba nangis gini," jelas Langit membuat Fikri mendekati Afgan yang masih menangis. "Afgan kenapa? bilang sama Paman mu ini," kekeh Fikri yang membuat Afgan menoleh. "Hiks Mamma hiks!" tangis Afgan membuat Langit langsung mengendong anaknya itu.
"Gue gak butuh Mama sambung buat anak gue, Mamanya hanyalah Caca saja," ketus Langit membuat Fikri menghela nafas panjang. "Lo ingin anak lo nangis kek gitu terus?" tanya Fikri yang membuat Langit menoleh pada anaknya. "Mamma hiks," isak Afgan terus saja memberontak kesal.
"Mamanya Afgan baru saja meninggal dan gue gak mau dekati wanita lagi," jelas Langit dingin membuat Fikri kesal dengan sikap keras kepala sahabatnya itu. "Lo hanya menjadikan istri buat mengurus anak lo, kalau lo gak menyukainya. gak usah," jelas Fikri membuat Langit terdiam.
"Mendingan lo keluar dari ruangan gue, gue gak butuh ide lo itu,"
"Yasudah, gue harap anak lo gak kekurangan kasih sayang dari sosok seorang Mama,"
Langit menoleh pada Fikri yang sudah pergi dari ruangannya, ia lalu menoleh pada Afgan yang mulai tenang di gendongannya membuat Langit begitu lega sekali dan mengusap kepala putranya itu.
"Jangan menangis lagi," bujuk Langit mencium kening putranya itu dan menuju bangkunya dengan Afgan yang masih berada di gendongan nya. sesekali ia bersenandung supaya putranya itu mulai tertidur.
Setelah anaknya tertidur pulas, Langit lalu berjalan menuju karpet dan membaringkan anaknya secara hati-hati supaya tak terbangun, tak lupa juga ia mengambil bantal dan sebuah selimut buat menutupi tubuh mungil Afgan.
Ia lalu kembali menuju kursinya untuk melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk tersebut. Sesekali ia juga menoleh pada putranya untuk memastikan anaknya itu baik-baik saja ditinggal.
__ADS_1
***
"Mamma hiks!"
Langit yang kerja pun bergegas mendekati putranya yang menangis. "Astaga, badan kamu kenapa panas begini?" panik Langit menyentuh kening putranya yang sudah berkeringat, tadi ia mengira kalau keringat di kening anaknya adalah efek tidur.
Langsung saja Langit mengendong putranya yang masih memejamkan mata, ia langsung berlari keluar dari ruangan dan menyuruh Fikri untuk menyelesaikan berkasnya. Langit benar-benar panik saat anaknya demam seperti ini.
Sesampai di rumah sakit yang tak jauh dari kantor, Afgan langsung dibawa keruang pemeriksaan yang diikuti oleh Langit karena khawatir terhadap putranya itu.
Ia juga bertambah sedih melihat sang Dokter memasangkan infus di lengan putranya tersebut. "Dokter, anak saya kenapa?" tanya Langit khawatir. "Anak anda cuman demam tinggi saja dan Anak bapak harus dirawat disini supaya saya bisa periksa keadaannya, ditambah ia masih kecil dan butuh pemeriksaan tiap saat," jelas Dokter itu sehingga Langit mengangguk pelan.
Dokter itu lalu pergi setelah pamit pada Langit.
"Kenapa jagoan Daddy sakit begini?" lirih Langit mengusap kepala putranya itu lembut.
Bocah itu tak merespon karena diberi obat penenang oleh Dokter karena tak ingin membuat Afgan kesakitan saat dipasangkan infus di lengan kecilnya. "Kamu benar-benar ingin punya Mama ya? Daddy bakalan lakuin apapun supaya putra Daddy gak nangis lagi," senyum Langit mencium pipi putranya yang masih tertidur akibat obat.
Langit mengeluarkan ponselnya dan menelpon Fikri.
{Ada apa lagi?}
"Cari informasi wanita bernama Biru, kalau gak salah dia masuk keruangan Randi,"
{Owh, itu adalah adiknya Randi dan wanita itu anak lulusan universitas terbaik, dia jomblo karena tak mau memilih pasangan sembarangan, kenapa nanya?}
"Suruh dia datang ke rumah sakit *** saya mau bicara dengannya,"
{Baiklah,}
Panggilan pun selesai, Langit menghela nafas karena mengetahui kalau Biru adalah adik dari orang kepercayaan nya dikantor. Otomatis ia sedikit lega saat wanita itu akan menjaga putranya nanti. 'Maafin aku, Sayang. aku lakuin ini supaya anak kita gak kekurangan kasih sayang dari sosok Mama dan gak lebih, aku tetap mencintai kamu sampai kapanpun,' batin Langit menoleh pada Afgan yang terbaring lemas.
Bersambung...
__ADS_1