Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#12 Nikah


__ADS_3

"Selamat pagi, anak-anak! perkenalkan saya guru kimia baru, nama saya Windri Anita Kumala. kalian bisa panggil saya Buk Anita,"


Semua murid hanya mengangguk karena tak suka melihat penampilan guru itu yang terlalu mencolok. Anita tersenyum sambil meletakkan buku-buku Kimia untuk mengajar.


"Permisi, apakah ada yang namanya Caca Wulandari?"


semuanya sontak menoleh kearah pintu dan melihat tiga orang yang membawa barang-barang, sekaligus boneka beruang besar kesukaan Caca.


"Ada apa ya, Pak?" tanya Anita penasaran sekali.


"Ini, kami disuruh buat ngantar hadiah buat Caca. kata orang itu, dia ingin minta maaf sama Caca." jelas orang itu.


"Ini Caca, Pak! itu pasti hadiah dari kekasihnya kan, Pak?" tanya Vika heboh, membuat Caca menahan malunya.


"Iya, ini dari kekasihnya karena ingin minta maaf," jelas salah satu pria itu memberikan semuanya pada Caca, membuat Caca memeluk erat boneka tersebut karena sangat menyukai boneka tersebut. Orang-orang itu lalu pamit pergi setelah meletakkan dua kardus makanan kesukaan Caca. Caca langsung membuka kardus itu lalu melihat sebuah kado manis yang membuatnya suka sekali.


"Caca, kekasih Lo pasti orangnya tajir banget ya? bisa beli banyak gini," kagum salah satu sahabat Caca. "Iya, orangnya baik banget." senyum Caca.


"Kalian boleh ambil makanan ini, kecuali tumpukan cokelat,"


"Huwa, makasih Caca!" semuanya langsung berhamburan mengambil makanan kecuali coklat yang di hiasi pita tersebut. Anita mendengus kesal karena ia tak pernah diperlakukan romantis tersebut oleh Langit, ia juga iri dengan pasangan salah satu muridnya yang begitu romantis terhadap Caca. ia berharap, kalau Langit akan memperlakukan nya seperti muridnya itu.


Tatapannya teralihkan pada Langit yang mengintip di dekat jendela. 'Langit? kenapa pria itu menoleh pada Caca atau, jangan-jangan wanita kemarin itu adalah Caca?' batin Anita bingung. 'Gue harus pastiin, ini semua!'.


"Abang juga mau?" tawar Caca pada Suga yang duduk di sampingnya. "Gak usah, gue gak suka coklat," jelas Suga sambil membaca buku. Caca hanya mengangguk sambil terus memeluk bonekanya, ia menoleh ke kaca dan melihat Langit yang tersenyum lalu pergi dari sana.


"Jagain boneka Caca, Caca keluar dulu. Buk, Caca izin bentar!"


Caca langsung saja berlari pergi dari sana, yang membuat Anita curiga.


"Abang!"


Caca langsung memeluk Langit yang hendak memasuki ruangan nya, sedangkan Anita yang melihat itu menahan marah. 'gue bakalan buat wanita itu menjauh dari Langit,' batin Anita pergi.


"Caca, kalau ada yang lihat, gimana?" kaget Langit membawa Caca masuk keruangannya. "Abang tau dari mana kalau Caca suka boneka beruang?" tanya Caca penasaran sehingga Langit memikirkan sesuatu, tak mungkin ia mengatakan kalau tau dari Bima.


"Saya tau sendiri," kekeh nya membuat Caca benar-benar senang sekali tanpa melepaskan pelukannya dari Langit. "Udah maafin saya?".


"Caca udah maafin Abang." jelas Caca melepaskan pelukannya yang membuat Langit senang sekali. "Saya bakalan cepat-cepat halalin kamu, kau mau?" tanya Langit mencubit pipi Caca, sehingga wanita itu menoleh pada Langit yang tersenyum padanya.


"Terserah Abang, Caca pengennya bersama Abang terus,"

__ADS_1


"Saya ke ruang kepsek bentar, kau jangan kemana-mana!"


"Siap!"


Langit langsung bergegas menuju ruang kepsek dan melihat Papanya yang sibuk mengotak-atik ponsel, kebetulan sekali suasana ruangan papanya sepi.


"Pa, Dikta mau nikahnya di percepat!"


Bambang yang mendengar itu menoleh karena kaget. "Kenapa cepat sekali? Caca masih sekolah," jelas Tuan Bambang jujur. "Atau, kamu udah gak tahan menghalalkan wanita itu?".


Wajah Langit memerah lalu mengangguk pelan. "Dikta pengen peluk dia terus karena gemesin, makanya Dikta mau nikahi dia secara Private," jelas Langit jujur, supaya Papanya itu mau menuruti kemauannya.


"Baiklah, nanti Papa tanyakan pada Orang tuanya Caca. kalau bisa, nanti sore kalian menikah!"


Deg!


Akhirnya nikah!


"Beneran, Pa? Dikta mau!"


"Sekarang kau pergi mengajar siswa kelas 1,"


Langit kembali menemui Caca dan wanita itu tampak sibuk mengecek ponsel.


"Caca,"


Caca menoleh yang membuat Langit bingung melihat mata wanita itu berkaca-kaca. "Kamu kenapa?".


"Hiks ada yang ancam Caca hiks, Caca takut!" tangis Caca memeluk Langit, membuat pria itu mengambil ponsel Caca yang sudah tegak tersebut. 'Kau lihat saja nanti, Anita.' batin Langit menahan marah, ia tak suka ada yang meneror wanita nya.


"Kamu tenang saja karena nanti sore kita nikah," senyum Langit menghapus air mata Caca.


"Hiks Caca senang karena ada yang bakal Caca peluk lagi, soalnya Caca suka tidur di peluk," isak Caca jujur.


"Dulu siapa yang peluk kamu tidur?"


"Suga, waktu kami masih 1 SMP dan Suga ikut kakeknya ke Belanda sehingga Caca di peluk oleh Tante-Mama," jelas Caca jujur. "Sekarang jangan nangis lagi, kau kembalilah ke kelas," suruh Langit sehingga Caca mengangguk dan pergi dari sana.


*


"Caca, saya minta kamu jauhi Langit!"

__ADS_1


Caca yang hendak ke kantin pun menoleh pada Anita yang menahan tangannya. "Caca gak bakalan jauhin Bang Langit! harusnya Buk Anita yang jauhin calon suami Caca," kesal Caca memberontak karena cengkraman Anita sangatlah kuat.


"Anita, lepaskan dia!"


Kedua wanita itu menoleh pada Langit yang mendekat. "Abang, Caca juga dibilang wanita gak benar terus dibilang j a l a n g," isak Caca supaya Langit marah pada Anita.


Plak!


Caca menoleh pada Anita yang ditampar kuat oleh Langit, sedangkan Suga, Bima maupun Vika kaget dengan tindakan Langit.


"Langit, itu semua bohong! Ak-Aku gak bilang gitu," ringis Anita memegangi pipinya yang memanas akibat tamparan kuat dari Langit.


"Saya gak peduli, kalau kau berani mengatainya lagi! kau berurusan dengan saya!" tekan Langit tajam sedangkan Caca mengejek Anita di belakang tubuh Langit. "Kau jahat sekali," bisik Vika sehingga Caca tersenyum.


"Vika, bawa Caca pergi dari sini!"


"Baik, Pak!"


***


16:21


"Sah?"


"Sah!"


Vika begitu heboh saat mengatakan kata sah atas pernikahan Caca dengan guru killernya, ia tak menyangka kalau sahabatnya itu menikah muda karena keinginan Langit.


Semuanya tersenyum atas pernikahan yang diadakan secara private, karena Langit tak ingin istrinya kenapa-napa kalau ia mengatakan pernikahan secara publik. Ia tak hanya menginginkan memeluk wanita itu, ia juga ingin melindunginya disaat malam juga.


Apalagi kedatangan Anita yang sudah mulai meneror wanitanya. Langit mencium kening Caca setelah penukaran Cincin sehingga semuanya bertepuk tangan.


Yang menghadiri acara sederhana ini hanya beberapa kerabat dekat dan sekaligus beberapa warga sebagai saksi atas pernikahan mereka supaya tak terjadi salah paham. saat ia nginap di rumah Caca nantinya.


Tak lama, beberapa tamu mulai meninggalkan acara setelah bersalaman dengan pengantin baru tersebut.


"Caca, gue lapar banget nih! gue numpang makan ya," kekeh Vika sehingga Bima langsung menjitak kepala kekasihnya itu.


"Yasudah, ayo makan bersama," ajak Rianti sehingga semuanya mengangguk.


Bersambung...,

__ADS_1


__ADS_2