Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#46 Istri Kontrak


__ADS_3

Cklek!


Langit yang mengajak anaknya bicara pun menoleh pada wanita yang baru datang, membuat Afgan tersenyum melihat wanita itu.


"Ada apa ya?"


"Saya ingin meminta bantuan sama anda, saya ingin kau merawat putra tunggal saya dan tak hanya itu, bisakah kau menikah dengan saya," jelas Langit dengan dinginnya yang membuat wanita bernama Biru itu kaget sekali.


"Aku gak mau, kalau merawat anak kamu saya bisa dan soal menikah, saya gak mau!" tolak Biru membuat Langit menghela nafas.


"Saya sudah memikirkannya sejak tadi, gak mungkin kalau kau merawat putra saya hingga malam dan kau pulang malam itu juga. kau di cap wanita gak baik, apalagi kau sampai nginap di masion saya. saya menikah dengan kamu hanya nikah kontrak sampai 2 tahun. saya akan membayar kamu setelah kontrak kita selesai," jelas Langit yang membuat Biru terdiam beberapa saat.


"Baiklah, saya minta semua perjanjiannya," pinta Biru sehingga Badai mengeluarkan sebuah kertas yang sempat ia tulis tadi dan memberikannya pada Biru. Biru langsung membacanya dengan teliti.


Isi perjanjian.



Tidak boleh memasuki ruangan pribadi seperti kamar ataupun ruangan kerja.


Tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing.


Dll.



Biru yang membacanya hanya bisa menelan Saliva dengan susah payah, menjadi istri kontrak amat sulit tapi ia juga mendapatkan gaji yang cukup besar nantinya. "Gimana? setuju?" tanya Langit sehingga Biru mengangguk.


"Aku setuju,"


"Tanda tangani," suruh Langit memberikan bolpoin sehingga Biru menerimanya sedangkan Langit menoleh pada Afgan yang terus saja menatap kearah Biru. "Nih," balas Biru sehingga Langit menerimanya dan meletakkannya kedalam tas.


"Kita ketemu lagi, tampan!" senyum Biru membuat Afgan tersenyum dan menggenggam jari telunjuk Biru. "Mamma," lirih Afgan sedangkan Langit hanya diam karena ia sebenarnya tak suka saat anaknya menyebut Mama pada wanita lain. tapi, ia juga terpaksa karena tak ingin anaknya menangis hingga demam seperti ini.


Biru lalu mengendong Afgan dengan hati-hati, membuat Afgan senang lalu menyandarkan kepalanya di dada Biru. "Cepat sembuh ya," senyum Biru mengusap lembut punggung Afgan yang membuat bocah itu tersenyum bahagia.


Langit hanya menahan senyumnya melihat Afgan yang tertawa bahagia bersama wanita asing tersebut.


*


1 minggu berlalu.

__ADS_1


Afgan tampak berceloteh ria sambil memakan kue yang dibelikan oleh Daddynya tadi. Biru lalu mendudukkan Afgan di lantai ruang tamu sehingga Afgan bergegas merangkak kearah Langit. Langit langsung mendudukkan Afgan di pangkuannya, membuat Afgan tertawa sambil menyandarkan kepalanya di dada Daddynya sambil memakan kue tersebut.


"Buatlah sarapan buat Afgan, sekaligus jus saya," suruh Langit sehingga Biru hanya pasrah dan bergegas menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk Afgan. Langit sudah menikahi Biru saat ulang tahun anaknya dirumah sakit, ia ingin putranya melihat pernikahan di ulang tahun nya.


"Afgan, Nenek datang!"


Afgan menoleh pada Nyonya Reva yang sudah pulang membuat Afgan menoleh begitu juga dengan Langit yang menatap dingin. "Ini Nenek bawakan mainan buat cucu kesayangan Nenek," kekeh Nenek sehingga Langit menurunkan anaknya membuat Afgan merangkak mendekati Neneknya yang mengeluarkan mainan.


"Nih!"


Semuanya menoleh pada Biru yang memberikan minuman pada Langit. "Mamma," senang Afgan merangkak mendekati Biru. "Ututu, bahagianya," kekeh Biru mengendong Afgan.


"Dikta, dia siapa?" tanya Tuan Bambang sehingga Langit menoleh sekilas lalu mengeluarkan ponsel. "Dikta, dengarin Papa ngomong!".


Prang!


"Papa bisa diam gak, sih? Dikta lagi gak mood bicara sekarang! jangan campuri urusan Dikta lagi!" jelas Langit pergi setelah menghempaskan minuman yang belum sempat ia minum.


Nyonya Reva maupun suaminya hanya bungkam dengan sikap Langit yang sudah jauh berbeda dari biasanya. "Eh, biar Biru saja yang bersihin Tante," pinta Biru menahan tangan Nyonya Reva yang hendak membersihkan pecahan kaca tersebut.


"Afgan duduk tenang dulu ya, Mama mau bersihin ini dulu," jelas Biru mendudukkan Afgan di sofa sehingga bocah itu terdiam dan melihat Mamanya yang memunguti pecahan kaca tersebut.


"Kamu sebenarnya siapa?" tanya Tuan Bambang penasaran sehingga Biru menoleh.


"Mamma, mam," pinta Afgan sehingga Biru membawa Afgan ke dapur sedangkan orang tua Langit begitu bingung dengan kehadiran Biru, ditambah Afgan menyebut Mama pada wanita tersebut.


Disisi lain, Langit memegangi foto dirinya bersama Caca saat ia sudah mulai bisa berjalan dan tak hanya itu, terlihat Caca yang mengendong Afgan yang begitu tampan memakai jas ala kantoran.


"Sayang, aku kangen sekali sama kamu. kenapa kamu ninggalin aku bersama Afgan, aku gak sanggup ditinggal seperti ini," isak Langit menangis sambil mengusap foto wanita yang amat ia cintai. "Andai kamu hidup kembali, aku benar-benar bahagia sekali tapi itu semua mustahil,"


Tok!


Tok!


"Langit, ini aku!"


Langit mengusap air matanya lalu membuka pintu kamar dan melihat Biru. "Anu, Afgan pup boleh minta baju dan perlengkapannya gak? soalnya aku mau mandiin Afgan dulu sebelum sarapan," jelas Biru hati-hati.


"Masuklah," suruh Langit sehingga Biru masuk sambil mengendong Afgan yang asik menghisap jempol. "Tuh kamar mandi, saya ambil pakaian Afgan," ketus Langit melempar handuk pada Biru sehingga Afgan tertawa saat melihat handuk itu menutupi wajah Biru. "Malah ketawa," kekeh Biru membuat Afgan tertawa lagi.


Biru langsung menuju kamar mandi untuk memandikan Afgan. Sedangkan Langit tersenyum tipis saat melihat anaknya sudah mulai tertawa, ia benar-benar tak ingin melihat anaknya menangis.

__ADS_1


Tak lama, Langit menoleh pada Biru yang mengendong putranya yang sudah selesai mandi. Bocah itu begitu senang sekali saat Biru memasang minyak telon ke tubuhnya.


"Saya mau ke kantor hari ini dan mungkin saya pulang malam. Jangan berani menyentuh barang-barang di kamar ini. setelah siap, kau keluar dan jangan masuk kekamar saya lagi," ketus Langit lalu pergi dari kamar itu dengan tergesa-gesa.


Sedangkan Biru tak peduli karena ia hanya bekerja buat ngurus Afgan saja, setelah kontrak berakhir ia bakalan diceraikan dan bebas.


***


Malam harinya, Biru tampak kesulitan menidurkan Afgan yang terus saja menoleh kearah jalan. Bocah itu selalu menangis karena tak menemukan Daddynya.


Tin!


Afgan menoleh pada mobil yang memasuki masion dan tak lama, Langit keluar yang membuat Afgan senang.


"Kenapa kau mengajaknya keluar, ha? ini sudah larut?!" sentak Langit membuat Biru sedikit takut.


"Afgan gak mau tidur, dia terus saja menangis dan meminta keluar buat tungguin kamu," lirih Biru sehingga Langit menoleh pada putra kecilnya yang mengulurkan kedua tangan mungilnya pada nya. Langit mengambil alih putranya lalu ke dalam yang diikuti oleh Biru yang menutup pintu.


"Kau tidur di kamar sebelah," jelas Langit yang sampai di lantai atas.


"Baiklah," balas Biru lalu memasuki kamar yang membuat Afgan menoleh.


"Mamma hiks! Mamma!" tangis Afgan yang membuat Langit bingung. "Ada apa?" tanya Langit bingung. "Mamma!" isak Afgan menunjuk kearah kamar yang dimasuki oleh Biru. 'S i a l, gak mungkin gue masuk ke kamar cewe itu,' batin Langit kesal.


Langit menghela nafas kasar lalu berjalan menuju kamar Biru dan mengetuknya, tak lama wanita itu langsung membuka pintu tersebut.


"Ada apa lagi?" tanya Biru penasaran.


"Mamma hiks,"


Biru langsung mengambil alih Afgan sehingga bocah itu menggapai baju Langit. "Afgan, Daddy tidur di kamar sebelah ya, kamu tidur sama Mama aja," bujuk Langit lembut. "Hiks Dad hiks," isak Afgan lagi yang membuat Langit kasihan.


"Baiklah, tapi jangan nangis," bujuk Langit laku menyuruh Biru masuk.


Biru lalu membaringkan Afgan di tengah dan berbaring di sebelah Afgan, sedangkan Langit benar-benar tak ingin tidur bersama wanita lain kecuali Caca. "Hiks Daddyh!" isak Afgan yang membuat Langit mendekat dan terpaksa berbaring di sebelah putranya itu.


"Jangan nangis lagi, Daddy disini," senyum Langit mengusap air mata putranya itu. Afgan memejamkan mata saat Biru menyelimuti tubuhnya. 'Kalau bukan permintaan anak gue, ogah gue tidur sama orang asing,' batin Langit kesal.


"Daddy, kemarilah!"


Deg!

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2