
Langit membaringkan tubuhnya di kasur setelah menidurkan putra kecilnya yang menangis karena kepergian Biru. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan dari Caca yang membuatnya tersenyum senang, belum sempat ia balas. sebuah panggilan video dari wanita itu masuk yang membuat Langit benar-benar senang dan segera mengangkatnya, lalu beranjak duduk.
Ia menatap wajah Caca dilayar ponselnya, wanita itu tampak mengobrol dengan seseorang, entah dengan siapa.
"Caca,"
"Ada apa, Daddy? kangen ya?"
Langit mengangguk yang membuat Caca tertawa di sebrang sana.
"Aku masih kangen sama kamu dan kau malah pergi disaat aku masih membutuhkan kamu," kesal Langit membuat Caca menoleh sambil terkekeh kecil.
"Maafin aku Daddy, aku harus menemui pria itu dulu karena masih ada urusan beberapa hal. nanti malam aku bakalan pulang," jelas Caca yang membuat Langit cemberut.
"Kenapa gak sekarang aja?! malam itu nunggunya lama," kesal Langit membaringkan tubuhnya.
"Ututu, Daddy jangan ngambek! nanti malam aku bakalan pulang kok,"
"Awas gak pulang,"
"Aku bakalan pulang kok, dimana Afgan?"
Langit langsung mengarahkan kamera kearah Afgan yang sudah tertidur lelap sambil memeluk guling.
"Dia nangis karena pengen ketemu Mamanya, ayo pulang sekarang!" pinta Langit memohon dan melihat Caca yang tampak melihat sekeliling, seakan mencari seseorang.
"Sayang, kau sudah lama menunggu?"
Tut!
Langit bungkam saat Caca memutuskan panggilan secara sepihak, ia tau kalau wanita itu menjalankan misi tetap saja ia begitu sakit mendengar pria lain memanggil sayang pada Caca.
Tin!
Langit melihat sebuah pesan dari sekretaris nya sehingga Langit bergegas mengambil tas dan mengisi beberapa pakaian buatnya sekaligus Afgan, ia harus keluar kota buat beberapa hari ini untuk mengurus kantor.
Setelah semuanya selesai, Langit mengendong Afgan dengan hati-hati lalu bergegas pergi tanpa pamit pada Mamanya, ia tak ingin meninggalkan Afgan di sini karena Afgan harus ikut dengannya.
Langit langsung memasuki sebuah mobil yang terparkir di gerbang masionnya. "Kita ke toko susu dulu," jelas Langit pada Randi. "Baik, Tuan," balas Randi melajukan mobil itu meninggalkan masion sedangkan Langit mengeluarkan ponselnya di yang sudah lowbat karena belum diisi semalam.
Disisi lain, Caca tampak memakan makanannya bersama pria yang umurnya hampir sama dengan Langit. "Apa wajah kamu masih sakit?" tanya pria itu khawatir sehingga Caca menoleh.
"Dikit, ini semua gara-gara istri kamu itu," jelas Caca cemberut yang membuat Zain tertawa pelan.
"Maafin sikap istri aku, dia memang begitu. gimana, sebagai permintaan maaf. Aku bakalan belikan apapun yang kamu mau,"
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya, Sayang!"
Caca senang menjalankan misi ini buat dekati Zain, sejak ia dekat dengan Zain demi misi. ia selalu dibelikan benda-benda mahal yang membuat Caca senang. ini mah, gak boleh nolak rezeki. Huhuy!
Soal cinta, cintanya sudah di isi oleh Daddynya seorang dan tak bakalan ada yang bisa memasukinya kecuali Daddy Langit.
Setelah makan, Caca mengandeng tangan pria itu meninggalkan restauran. wanita itu harus bersikap biasa-biasa saja supaya tak dicurigai oleh Zain, bisa gawat kalau ketauan kalau dirinya begitu tak ikhlas mengandeng lengan Zain.
Keduanya lalu memasuki sebuah mobil mewah dan tak lama mobil mereka menjauh, Suga maupun Tio langsung bergegas melajukan mobil mengikuti mobil milik Zain dari belakang.
Langit tak sengaja melihat kesebuah mobil mewah yang berhenti di samping mobilnya, ia hanya diam melihat Caca yang menyandarkan kepala dibahu pria itu karena mobil yang di kendarai oleh mereka adalah mobil tanpa atap, sehingga Langit bisa melihatnya.
Langit lalu mengalihkan pandangannya dari mobil yang berhenti di samping mobilnya, walau ia tau itu hanya menjalankan misi tetap saja ia sakit hati melihat pemandangan itu. Ia lalu menoleh pada Afgan yang tertidur di pelukannya saat ini.
Tak beberapa lama, mobil milik Langit pun mulai meninggalkan jalanan itu karena sudah lampu hijau. Langit menoleh kearah mobil silver yang berbelok kearah kanan, ia hanya menghela nafas pendek dan kembali mengeluarkan ponselnya untuk mematikan total ponselnya.
"Randi, adik kamu sudah pulang, kan?"
"Sudah, Tuan. ada apa?"
"Gak papa, takutnya dia pergi keluar kota atau keluar negeri. soalnya saya butuh tanda tangan nya saat menanda tangani kontrak yang sudah berakhir," jawab Langit jujur.
"Adik saya gak kemana-mana kok, Tuan."
Sesampai di sebuah hotel, Langit langsung membaringkan tubuh putranya supaya tidur nyenyak. Langit meletakkan ponselnya ke atas meja sehingga ponselnya itu langsung mengisi daya secara otomatis.
Langit mengusap matanya yang tiba-tiba berat sekali, langsung saja ia berbaring di sebelah putranya untuk tidur. Langit memeluk tubuh Afgan dan perlahan memejamkan mata.
*
"Gimana, Ca?"
Caca lalu mendekati Suga sambil membawa banyak sekali paperbag, sedangkan Zain sudah pulang karena istrinya menelpon.
"Caca gak dapat satu informasi pun, sepertinya dia akan bertemu seseorang nanti malam karena Caca sempat nguping obrolannya dengan seseorang," ungkap Caca jujur, membuat Tio yakin kalau Zain merencanakan sesuatu untuk melenyapkan adiknya.
"Kit-"
Perkataan Tio terhenti saat ponselnya berbunyi sehingga ia mengeluarkan ponselnya dan melihat panggilan dari mamanya.
"Ada apa, Ma?"
{.....}
__ADS_1
Deg!
Tio yang mendengar itu kaget sekaligus khawatir sehingga Suga maupun Caca bingung.
"Ada apa?" tanya Suga saat Tio selesai menelpon.
"Dikta tiba-tiba hilang dan Mama juga gak tau kemana Dikta pergi, sekaligus beberapa bodyguard sudah dikerahkan mencari Dikta," jelas Tio membuat dua orang itu kaget sekali.
"Terus, Afgan?"
"Afgan juga gak ada, Mama juga bilang kalau pakaian Dikta maupun Afgan juga tinggal sedikit dilemari kamar," jelas Tio jujur yang membuat Caca benar-benar syok sekali. "Kita harus cari Daddy, bahaya kalau Daddy pergi kek gini," jelas Caca bergegas pergi yang diikuti oleh Tio maupun Suga.
***
Langit mulai membuka matanya dan melihat putranya yang sudah duduk di tubuh Langit. Ia menoleh pada jam yang sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Astaga, kamu belum makan siang!" panik Langit langsung menghidupkan ponselnya untuk menelpon Randi supaya membelikan sarapan buat mereka. Baru saja ponselnya hidup, Langit menatap banyak sekali pesan maupun panggilan tak terjawab dari Caca maupun yang lain.
"Caca, maafkan saya. saya menjauh dulu setelah misi kalian selesai, saya akan pulang karena saya tak sanggup melihat drama kamu dengan pria lain, saya benar-benar sakit melihatnya walau saya tau kalau itu hanya untuk sementara," gumam Langit yang kembali sesak mengingat Caca begitu romantis dengan pria lain.
Langit mengotak-atik ponselnya lalu mengirimkannya pada Randi. setelah itu ia meletakkan ponselnya keatas meja lagi.
"Afgan cuci wajah dulu ya," senyum Langit mengendong putranya itu menuju kamar mandi.
20 menit kemudian...
Tok!
Tok!
Tok!
Langit berjalan menuju pintu dan membukanya. "Ini sarapannya, Tuan," tutur Randi sehingga Langit menerima sarapannya itu.
"Sarapan kau sudah, kan?"
"Udah, Tuan."
"Yasudah, owh iya! jangan beritahu siapapun kalau kita berada di kota ini!"
"Baik, Tuan,"
"Pergilah!" suruh Langit sehingga Randi mengangguk lalu pergi menuju kamarnya di kamar sebelah. Ia lalu menutup pintu dan mendekati Afgan yang asik mencoret-coret buku usang yang sengaja Langit bawa supaya putranya tak bosan.
"Waktunya sarapan,"
__ADS_1
Afgan menoleh pada Papanya yang merebut buku sekaligus penanya. Ia menoleh kearah gelas yang disodorkan oleh Langit ke mulutnya, langsung saja ia meminumnya yang membuat Langit tersenyum dan menyuapi Afgan.
Bersambung...