
Satu minggu berlalu, keadaan Langit sudah membaik, sehingga pemuda itu sekarang tampak duduk di balkon hotel sambil menikmati suasana pagi yang cerah. Langit juga menoleh kearah Afgan yang asik bermain dengan Biru, membuat Langit tersenyum tipis.
"Langit, aku mau beli sarapan diluar. mau ikut?"
"Baiklah, ayo!" ajak Langit senang karena bisa keluar dari kamar, ia juga lalu mengendong Afgan yang asik makan kue. "Eh, biar aku saja yang gendong Afgan," cegat Biru membuat Langit menoleh.
"Aku udah baikan kok, lagian kau lagi hamil," senyum Langit yang membuat Biru bingung dengan perubahan Langit, yang awalnya jarang senyum dan sekarang sering tersenyum padanya.
Cup!
"Ayo!"
Deg!
Biru memegangi pipinya yang dicium oleh Langit yang tertawa dan meninggalkan Biru, wanita itu kesal dan bergegas mengejar suaminya tersebut. "Langit! awas aja kamu!" kesal Biru mengejar Langit sedangkan Afgan hanya tertawa saat diajak berlari oleh Papanya.
Langit menghentikan larinya lalu menoleh pada Biru yang mendekat sambil memegangi perut. "Perut kamu gak papa?" tanya Langit khawatir sehingga Biru menoleh. "Langit, kenapa kau memperlakukan aku seperti ini?" tanya Biru yang membuat Langit tersenyum.
"Kau adalah istriku, apa salahnya kalau suami baik sama istri,"
"Tapi kau mencintai Caca dan jangan beri kenyamanan sama aku seperti ini, Langit!"
Pria itu mendadak diam lalu melanjutkan perjalanannya yang diikuti oleh Biru. "Maaf, aku terlalu keras ya?" tanya Biru hati-hati sehingga Langit menoleh. "Gak kok, entah kenapa kau begitu baik dan merawat aku layaknya suami. aku benar-benar sudah nyaman dan ..., hampir melupakan cinta aku sama Caca," lirih Langit jujur, membuat Biru menoleh. "Aku egois ya, aku sudah mulai mencintai kamu dan aku juga mencintai Caca. aku seperti pria yang tak cukup satu wanita,".
"Langit, kau harus mencintai Caca. dia yang selalu ada saat kamu mengalami kesulitan, sedangkan aku hanya pendatang,"
"Aku bingung dengan perasaan ku saat ini," lirih Langit yang membuat Biru terdiam, ia tak suka menjadi perusak hubungan orang tapi ia sekarang sudah menjadi istrinya Langit.
"Langit, kamu gak boleh seperti ini! Caca bersama yang lain sedang melakukan misi buat selamatkan nyawa kamu dan Afgan,"
"Ta-Tapi, aku gak sanggup menahan sesak ini! aku gak sanggup!"
Biru terdiam mendengar isakan kecil Langit, tiba-tiba tatapannya teralih pada satu pria yang gelagat nya sedikit aneh. Ia membulatkan mata saat sebuah pistol ditodong kan pada Langit, ia langsung memeluk Langit erat dan menukar posisinya.
Dor!
Langit bungkam dan melihat Biru ambruk secara perlahan saat sebuah peluru tertancap di bahunya. "Biru!" panik Langit melihat istrinya terkapar di jalan. Langit meminta tolong pada orang-orang untuk menelpon ambulans.
Setelah ambulans datang dan membawa istrinya ke rumah sakit. Afgan tak henti-hentinya menangis melihat Biru yang sudah terbaring tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Daddy!"
Langit menoleh pada Caca yang hendak mendekatinya tapi, ia memilih mengikuti Dokter yang membawa Biru pergi. Caca yang penasaran pun segera mengikuti Langit yang tampak khawatir sekali.
"Daddy, siapa yang sakit?"
"Bisakah kau diam!" kesal Langit membuat Caca terdiam, awalnya ia ingin mengantar abangnya yang terluka ke rumah sakit dan ia tak sengaja melihat Langit berjalan tergesa-gesa bersama Dokter yang membuatnya penasaran.
Cklek!
"Dokter, gimana keadaan istri saya?" tanya Langit saat Dokter itu keluar dari ruangan Biru, Caca yang mendengar itu benar-benar sesak sekali. "Istri anda baik-baik saja, Tuan. syukurlah tembakan tersebut tak begitu dalam dan sekarang pasien belum sadarkan diri," tutur Dokter itu sehingga Langit langsung masuk.
Caca juga ikut masuk kedalam dan melihat Langit yang terisak memegangi tangan Biru, walau ia tau kalau itu adalah istrinya Langit dan sedangkan ia hanyalah mantan Langit.
"Biru, kau harus sadar ya! kau pasti kuat," lirih Langit yang dapat di dengar oleh Caca. Caca lalu keluar dan tak sengaja berpapasan dengan Randi yang hendak masuk keruangan Biru. Ia tak peduli dengan tatapan Randi dan terus saja ia berlari dengan air mata yang terus mengalir.
Ia tak kuasa menahan sesak di dadanya, Caca langsung berlari menuju jembatan yang tak jauh dari rumah sakit tersebut. "Hiks dia pembohong! dia bilang akan menceraikan Biru tapi mereka tetap saja bersama," isak Caca sambil menatap aliran sungai yang begitu deras, ia lalu menoleh ke jalan dan tak menemukan Langit yang mengejarnya.
Apa ia tak berarti lagi sehingga pria itu tak mengejarnya. Ia benar-benar hancur saat ini, ia tak suka melihat orang yang dicintainya begitu lembut pada wanita lain selain dirinya. Caca mengusap wajahnya kasar sambil terus menangis, ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang.
"Caca!"
"Caca, saya minta maaf sudah berbicara dengan nada tinggi sama kamu," lirih Langit mendekati Caca, sedangkan Caca hanya diam tanpa berniat menatap Langit.
"Caca sesak lihat Daddy peduli sama dia, Caca gak suka!"
Langit menoleh pada Caca. "Bukan kamu saja yang sesak, saya juga! kau mendekati pria itu layaknya kekasih beneran. saat saya mengancam kamu buat menjauhi dia, kau masih saja bersikap mesra dengannya. Afgan walau masih kecil, dia melihat kamu yang bermesraan dengan pria lain! kau tak memikirkan perasaan saya, kalau kau drama buat dekati dia silahkan! kenapa harus bersikap romantis begitu?" jelas Langit panjang lebar.
"Dan dua hari yang lalu, kau menikah dengannya! kalau kau sudah tak mencintai saya katakan saja! dan jangan membuat saya tersiksa seperti ini, saya tak sanggup menahannya. saya tak peduli kalau kamu mengatakan saya adalah pria brengs3k. sekarang, jauhi saya!"
Caca menoleh pada Langit yang hendak berbalik, tapi wanita itu langsung memeluk Langit erat sambil menangis. "Hiks Caca sangat mencintai Daddy, Caca bakalan akhiri semuanya demi Daddy. kami semua sudah mendapatkan semuanya sehingga kita bisa bersama," isak Caca yang membuat Langit terdiam beberapa saat.
"Kalau kau mencintai aku, terimalah kehadiran kakak madumu," jelas Langit membuat Caca melepaskan pelukannya dan menatap Langit tak percaya. "Daddy, Daddy itu hanya milik aku seorang dan aku gak mau berbagi suami!" jelas Caca menangis sehingga Langit berbalik menatap wanita tersebut.
"Saya juga tak bisa menceraikan Biru, kalau kamu gak mau menerima Biru yasudah. Saya permisi," jelas Langit pergi dari sana, Caca terduduk di trotoar karena tak sanggup menopang tubuhnya yang mendadak lemas sekali.
"Daddy jahat hiks," isak Caca menangis.
Langit berjalan memasuki rumah sakit. "Tuan, kau serius dengan keputusan anda?" tanya Randi sehingga Langit menoleh pada bawahannya itu.
__ADS_1
"Saya serius dan soal penyakit itu..., rahasiakan dulu," peringat Langit membuat Randi tertunduk.
"Tapi, Tuan. Tuan sangat mencintai Nona Caca dan... saya bisa mengurus adik saya," jelas Randi jujur. "Sekarang saya suaminya adik kamu dan dia adalah tanggung jawab saya," jelas Langit lalu bergegas menuju ruangan Biru.
***
Caca memasuki ruangan rawat Biru sehingga Langit menoleh sekilas pada Caca. "Baiklah, Caca bakalan jadi istri kedua Daddy!" jelas Caca sehingga Biru menoleh pada Caca.
"Kalau terpaksa gak usah," jelas Langit kembali menyuapi Biru buat sarapan.
"Langit, mendingan kamu ceraikan aku saja dan menikahlah dengan Caca," suruh Biru membuat Langit menoleh.
"Saya tak akan menceraikan kamu dan kamu tetap istri saya," tekan Langit sehingga Biru terdiam dan menoleh pada Caca yang menatap tajam kearah nya.
"Caca, gak terpaksa dengan syarat. Daddy harus terus bersama Caca daripada wanita itu,"
Langit yang mendengar itu begitu diam, belum sempat ia membalas perkataan Caca. tiba-tiba pintu ruangan terbuka. "Tuan, bisakah kita bicara di ruangan saya sebentar?" tanya Dokter itu sehingga Langit mengangguk pelan. Langit mengusap kepala Biru lembut lalu pergi dari ruangan tersebut.
"Kau harus cerai sama Daddy atau lo yang gue bunuh, hah?!" bentak Caca mencengkram kuat lengan Biru sehingga wanita yang terbaring itu kesakitan sekali. "Sa-Saya sudah memintanya tapi Langit selalu menolak," ringis Biru kesakitan.
"Nona hentikan!" panik Randi menahan tangan Caca sedangkan Afgan berada di gendongan Randi. Caca mendengus kesal. 'Awas aja kau setelah ini,' batin Caca menatap tajam kearah Biru yang masih kesakitan.
*
"Ada apa ya, Dok?"
"Tuan, penyakit istri anda sudah stadium akhir dan saya tak bisa memprediksi kapan istri anda bisa bertahan," tutur Dokter itu sehingga Langit terdiam. "Apa istri saya bisa bertahan sampai anaknya lahir, Dok?" tanya Langit penasaran.
"Saya tak bisa memastikannya dan saya meminta anda buat menjaga istri anda dengan baik, jangan sampai membuat istri Anda depresi yang membuatnya drop, itu bisa berakibat fatal,"
"Baik, Dok. saya akan menjaga nya dan saya minta jangan memberitahukan penyakit ini padanya saya takut dia kepikiran terus,"
"Baik, Tuan."
'Aku harus menjaga Biru hingga wanita itu lahiran, aku harus bertanggungjawab karena dia sudah menyelamatkan gue dari penembakan tadi. gue harus buat dia bahagia terus hingga ajal menjemputnya dan gue akan merawat anaknya nanti,' batin Langit lalu keluar dari ruangan tersebut buat menemui Biru maupun Caca.
'Caca, maafin saya kalau saya akan bersikap peduli pada Biru nantinya. setelah semuanya berakhir, saya akan memperlakukan kamu sebagai ratuku,' batin Langit.
Bersambung......
__ADS_1
Bentar lagi ini cerita mau tamat,tinggal 2 part lagi. ☺