Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#48 Biru Di Culik!


__ADS_3

"Makanannya sudah siap!"


Langit yang asik bercanda dengan putranya pun mengendong Afgan menuju meja makan, diatas meja sudah terhidang dengan berbagai macam masakan yang begitu menggugah selera tapi tak berlaku buat Langit.


Baginya, itu adalah makanan sederhana dan pastinya masakan Caca lebih baik dan enak dari masakan Biru, terlihat saja sebelum dimakan.


"Mamma!"


Biru tersenyum lalu mengambil alih Afgan sedangkan Langit membiarkannya saja tanpa berniat berkata-kata. "Bibi, buatkan saya mie rebus," pinta Langit, entah kenapa ia tak mood buat memakan masakan tersebut. walau tak ada racun, tetap saja ia tak mood buat menyantap masakan tersebut.


"Langit, aku sudah bikin banyak sarapan kenapa minta mie rebus?"


"Bukan urusan kau," ketus Langit dingin.


"Ta-Tapi kau bakalan sakit kalau makan mie terus,"


"Terus, apa peduli kau? saya yang sakit bukan lo," sinis Langit dingin sambil menatap salah satu maid yang membuatkan sarapan buat Langit. "Dan satu lagi, kau hanya istri kontrak dan hanya mengutus Afgan, bukan saya!".


"Ba-Baikkah,"


Biru lalu menyuapi Afgan sarapan yang membuat Afgan langsung menerima suapan tersebut.


Tin!


Biru mengeluarkan ponselnya dan melihat nomor itu mengiriminya pesan yang membuatnya penasaran.


' jauhi priaku atau kau yang kubunuh! '


"Ehm, Langit! kau kenal dengan nomor ini?"


Langit yang hendak mengeluarkan ponsel pun menoleh dan menerima ponsel itu. 'Ini bukannya nomor yang ngirim pesan gaje sama gue?' batin Langit bingung sekali.


Tin!


Lagi-lagi Langit melihat pesan yang masuk.


' kalau kau berani menyentuh langit maupun afgan, kau yang akan saya buat menderita setelah kepulangan saya! '


Langit menelpon nomor tersebut karena penasaran sekali, ia menatap panggilannya tersambung langsung.


{Apa? kau mau protes?}


Deg!

__ADS_1


Langit yang amat mengenal suara itu mendadak bungkam, jantungnya seakan berhenti berdetak saat ini.


"Ca-Caca, in-ini kamu?"


Tut!


Pria itu menatap layar ponsel tersebut yang dimatikan secara sepihak, ia ingin menelpon nomor itu lagi dan tak aktif lagi sehingga Langit mengeluarkan ponselnya untuk menelpon nomor tadi, ia ingin memastikan kalau itu ada suara Caca.


Tetap saja nomor yang ia telpon tak aktif sedikitpun, membuatnya benar-benar kesal sekali.


"Dikta, ini Mam..,"


"Mama, Apa Caca masih hidup? tadi Dikta dengar suaranya," potong Langit berbalik sambil memperlihatkan pesan yang masuk ke ponselnya. Nyonya Reva terdiam lalu terkekeh kecil, "Dikta, orang yang udah meninggal gak mungkin kembali lagi," jelas Nyonya Reva membuat air mata Langit mengalir.


"Mama, Dikta jelas-jelas mendengar suara Caca. Dikta harus mencari Caca, Caca pasti sembunyi dari Langit, bukan?"


"Dikta sadar! Caca udh gak ada, kamu mungkin kecapekan saja!" jelas Nyonya Reva kesal.


"Enggak, Ma! Caca masih hidup dan tadi Langit mendengar suaranya!" jelas Langit sehingga Nyonya Reva memeluk putranya itu. "Dikta tenang, kamu harus tenang!" bujuk Nyonya Reva sehingga Langit terdiam.


"Dikta benar-benar merindukan Caca, Dikta sangat mencintainya hiks!" tangis Langit di pelukan Nyonya Reva.


'Dia begitu tulus mencintai wanita yang difoto itu,' batin Biru yang sempat melihat foto suaminya bersama seorang wanita yang sudah meninggal tersebut. membuatnya benar-benar iri tapi ia tak bisa apa-apa, ia sekarang jadi istri kontrak karena ia butuh uang buat jajan karena gajinya cukup terbilang besar.


"Sabar ya, suatu saat kalian bertemu," senyum Nyonya Reva sehingga Langit mengangguk pelan. Ia benar-benar sangat mencintai istrinya daripada wanita lain. walau sekarang ia memiliki istri, ia sama sekali gak menyukai wanita bernama Biru tersebut.


Nyonya Reva benar-benar gak menyukai cucu kesayangan nya di gendong oleh wanita yang berstatus sebagai istri putranya itu, ia sudah mengetahuinya dari Suga karena Langit sudah menikah.


Wanita paruh baya itu langsung menuju kamar dan mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Caca seca6r diam-diam.


{Ada apa, Ma? Daddy nangis ya? Caca gak tau kalau yang angkat adalah Daddy,}


"Kamu ganti nomor ponsel dan teror wanita itu lagi, Mama gak mau putra bungsu Mama menikah dengan wanita yang tak ada cantik-cantik nya itu. Mama juga takut kalau Cucu Mama dekat dengannya,"


{Baik, Ma. Caca punya cara sendiri buat teror wanita itu dan Mama jaga Daddy ya. semua musuh udah datang,}


"Kamu hati-hati,"


Panggilan pun selesai yang membuat Nyonya Reva lega sekali, tanpa di sadari olehnya. Marcell mendengar semuanya. "Ternyata Caca masih hidup, baguslah kalau begitu," senyum Marcell menghilang dari ruangan tersebut.


***


Sore harinya, Biru tampak asik bermain dengan Afgan di taman di samping masion. Tatapan wanita itu terhenti saat melihat seseorang yang menatapnya tak jauh dari mereka.

__ADS_1


'Orang itu? gak mungkin, Langit bilang kalau Mama kandung Afgan sudah meninggal,' batin Biru kebingungan sekali.


Bugh!


Bruak!


Biru ambruk tak sadarkan diri, Caca langsung mendekat untuk membantu Suga membawa Biru pergi dari sana. Sebelum itu, ia menoleh pada Afgan yang masih duduk memperhatikan mereka dengan wajah polosnya. "Mama akan kembali setelah menuntaskan misi ini," lirih Caca memeluk putranya dan tak lupa mencium seluruh wajah Afgan.


"Cepat," pinta Suga sehingga Caca langsung membawa Biru pergi dari sana.


"Mamma!" teriak Afgan menangis saat melihat Biru yang dimasukkan kedalam mobil, bocah itu belum tau kalau yang berpakaian hitam itu adalah Mama kandungnya.


Mendengar anaknya menangis, Langit berlari keluar dan melihat putranya yang merangkak kearah gerbang. "Afgan!" panik Langit mengendong putranya yang sudah menangis tersedu-sedu. Langit menatap sekelilingnya dan tidak menemukan Biru.


"Wanita itu kemana sih? gak becus jaga anak gue," gumam Langit menahan marahnya dan membawa putranya kedalam masion.


"Cucu Mama kenapa?" tanya Nyonya Reva pura-pura khawatir, karena sebenarnya ia sudah melihat penculikan tersebut dari balok jendela kamarnya. "Biru benar-benar gak becus jaga Afgan, Ma!" kesal Langit sambil menenangkan putranya yang masih menangis.


"Mamma," isak Afgan menunjuk kearah pintu.


'Lihat saja wanita itu kalau datang kesini,' batin Langit menahan marahnya. Ia begitu marah saat melihat anaknya dibiarkan begitu saja, kalau ia tak keluar. sudah pasti anaknya keluar dari gerbang masion.


Disisi lain.


"Udah puas menculiknya?" tanya Suga sambil melajukan mobilnya tersebut.


"Belum, kita tinggalin saja dia di ujung jalan dan kita balik ke masion tadi buat melihat wanita ini dimarahi oleh Daddy. Aku gak sabar melihat wanita ini di bentak habis-habisan karena meninggalkan Afgan sendiri," kekeh Caca.


"Ide bagus, aku bakalan telpon mantan Mama mertua kami supaya bisa merekam kemarahan Langit nanti," jelas Suga sehingga Caca menganggukkan kepalanya.


Tak lama, Suga menghentikan laju mobilnya sehingga Caca bergegas mengeluarkan Biru yang pingsan tersebut. Caca tersenyum puas lalu meninggalkan Biru yang terkapar sendiri ditepi jalan yang begitu sepi sekali.


Setelah lama pingsan, Biru membuka matanya dan menatap jalanan yang begitu sepi sekali. "Astaga, Afgan!" panik Biru berusaha berdiri.


"Hei, Biru!"


Biru menoleh pada pria bermotor yang mendekat. "Melihatnya beberapa hari ini, aku lihat kau melupakan tujuan kita?" sinis pria itu membuat Biru terdiam. "Aku mencintai Langit, aku tak jadi membunuhnya," jelas Biru dengan entengnya.


Plak!


Wanita itu meringis saat sebuah tamparan kuat mendarat di pipi nya. "Bodoh! kau bukannya berniat membunuhnya karena membunuh tunangan kamu?! aku juga berniat membunuhnya juga! aku tau, kau bertahan karena ingin bilang kalau janin diperutmu itu adalah anak Langit ya?" ejek pria itu sinis. "Gue pergi dulu dan gue harap lo dekati Langit lagi,".


Biru terdiam sambil memegangi perutnya yang masih rata, awalnya ia ke kantor buat mendekati Langit untuk membunuhnya tapi, perlahan ia mencintai Langit walau pria itu dingin padanya.

__ADS_1


"Aku harus pulang," gumam Biru langsung memberhentikan angkot dan pergi dari sana buat pulang.


Bersambung...


__ADS_2