Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#15 Panggilan Daddy Buat Langit


__ADS_3

"Itu pilihan Ibuk,"


Abigail terdiam mendengar perkataan Suga barusan, sekarang keduanya berada di sebuah taman yang cukup sepi. sehingga gak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Suga, saya sudah bilang! saya gak mau! saya sudah punya tunangan!"


Suga langsung mencengkram kuat rahang Abigail, membuat wanita itu kesakitan sambil menatap wajah Suga yang sudah memerah menahan marah.


"Apa Ibuk kita saya ini bod*h? Ibuk jangan berbohong sama saya, bagaimana pun, Ibuk sed..."


Abigail langsung mendorong tubuh Suga, matanya sudah berkaca-kaca dengan sikap kasar Suga barusan. "Saya gak mau! biar saya yang menyelesaikan masalah ini dan kau ..., kau gak berhak atas janin ini!" bentak Abigail yang sebenarnya mengandung anak muridnya itu. itu semua karena 1 bulan yang lalu, sebelum ia mengenal Suga.


Ia mengingat jelas saat Suga menariknya kasar saat mengetahui Suga melakukan pembu/nuhan. saat itu juga ia kehilangan harta yang ia jaga untuk suaminya dan tadi, ia baru ingat kalau pelakunya adalah Suga.


"Saya berhak! atas janin itu, saya memang sempat lupa dengan kejadian waktu itu. tapi, saya ingin bertanggungjawab!" jelas Suga emosi, pemuda itu sudah menunjukkan sikap kasar maupun sifat pemarahnya.


"Saya gak mau! permisi!"


Abigail hendak pergi tapi cepat ditahan oleh Suga. "Kau gak semudah itu pergi, Abigail. walau gue muda 2 tahun dari lo, lo bakalan tetap jadi milik gue," tekan Suga menggenggam erat tangan Abigail sehingga wanita itu meringis kesakitan.


Brukh!


"Awh," ringis Suga terduduk saat Abigail menendang bawahannya, ia menoleh pada Abigail yang berlari meninggalkannya. "Berhenti atau kau kehilangan semua anggota keluarga lo! gue tau, siapa keluarga kandung lo!".


Abigail menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Suga yang kesulitan berdiri, akibat tendangannya tadi. "Ja-Jangan apa-apakan orang tua saya," panik Abigail sehingga Suga tersenyum sinis.


"Menikahlah dengan saya atau keluarga kau yang menderita. tapi tenang saja, pernikahan kita dilakukan secara diam-diam," jelas Suga dengan entengnya sehingga Abigail menggeleng. "Saya butuh wali dan beberapa saksi," pinta Abigail yang pasrah sehingga Suga mengangguk.


"Ide bagus, kita menikah hari ini dan gak ada penolakan!".


Deg!

__ADS_1


Abigail gak bisa berkata-kata lagi, wanita itu hanya pasrah di bawa Suga entah kemana yang membuatnya menahan tangis. ia menyesal melewati jalan itu dan sekarang, ia terikat di lingkaran si pembu/nuh berantai berdarah dingin seperti Suga.


Disisi lain,


"Caca, jangan paksa saya makan ginian! kenapa kau tiba-tiba menyuruh saya makan ginian?" jerit Langit kesal saat Caca menyodorkan mangga muda padanya. "Pengen Abang makan ginian," senyum Caca membuat Langit menatap tajam kearah Caca kesal.


"Cie, kencan nih ye!"


Kedua nya menoleh pada Vika yang mendekat. "Gak kencan kok," jelas Caca sedangkan Langit menutup mulutnya saat Caca menyodorkan rujak mangga muda, melihatnya saja ia sudah ngilu. apalagi memakannya. "Abang ayo makan!".


"Gak mau! itu asam," tolak Langit menutupi mulutnya sambil menjauhi mangga muda itu.


"Ca, lo napa beli mangga muda gitu? ngidam?" tanya Vika bingung, sehingga Caca menoleh dengan wajah kesalnya. "Caca gak ngidam! Caca masih gadis ya!" cemberutnya sambil memakan rujak tersebut membuat kedua orang itu ngilu melihat Caca makan rujak dengan santainya.


"Caca, kau kenapa aneh gini?" tanya Langit penasaran sambil merapikan rambut istrinya itu. Caca langsung membuang rujak itu sehingga Langit kaget.


"Hiks Abang jahat!" tangis Caca membuat Langit bingung. "Saya salah apa? jahatnya dimana?" tanya Langit bingung dengan tingkah aneh istrinya tersebut. walau menyebalkan, wanita itu sangatlah mengemaskan sekali. sedangkan Vika memilih pergi dari sana karena tak ingin membuat sahabatnya itu makin menangis.


"Hiks beneran?"


"Iya,"


"Panggil sayang dulu," isak Caca saat Langit menghapus air matanya, Langit tersenyum. "Iya, Sayang. ayo ke mobil," ajak Langit sehingga Caca mengangguk dan mengikuti suaminya itu, wanita itu juga menggenggam tangan Langit erat. mereka berdua sudah seperti kakak-adik. padahal, mereka adalah pasangan suami-istri.


"Dikta?"


Langit menoleh pada seorang wanita yang mendekat, Caca mendengus kesal karena yakin kalau wanita itu menyukai suaminya. Ia melepaskan genggamannya membuat Langit menoleh pada Caca yang hendak menangis.


"Apa kabar kamu dan gimana hubungan kamu dengan Anita?"


Langit tak membalas. "Saya permisi dulu," pamit Langit membawa istrinya pergi dari sana.

__ADS_1


"Caca, jangan ngambek gini!"


"Sayangnya mana?" tanya Caca saat Langit duduk di sampingnya.


"Harus ya?" selidik Langit sehingga Caca mengangguk sambil memanyunkan bibirnya kesal.


"Sayang, jangan ngambek nanti cantiknya hilang," jelas Langit mengecup pipi membuat wajah Caca makin memerah. "Caca masih ngambek," jelas Caca kembali memanyunkan bibirnya yang membuat Langit gemes sekali. "Mau apa sekarang?" tanya Langit penasaran.


"Caca cuman mau, Abang gak boleh dekat-dekat dengan cewek lain kecuali Caca!"


"Kalau khilaf, gimana?" godanya membuat Caca menoleh, sebenarnya ia bukan tipe pria yang suka selingkuh seperti pria lainnya, ia hanya cukup satu. "Abang jahat!" tangis Caca membuat Langit makin panik. "Jangan nangis, Sayang!" bujuk Langit memeluk wanita itu supaya tenang.


Setelah agak tenang, Langit melepaskan pelukannya.


"Jangan nangis lagi," bujuk Langit mengusap air mata Caca. wanita itu beranjak lalu duduk di pangkuan Langit, membuat wajah pemuda itu memerah. "Caca mau tidur, Caca capek nangis," jelas Caca sambil memejamkan mata.


Langit pasrah lalu menghidupkan mobilnya dan melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang, ia takut kenapa-napa apalagi Caca duduk di pangkuannya.


***


Langit membaringkan Caca di kasur tapi wanita itu langsung memeluk leher Langit. "Daddy disini aja," lirih Caca tanpa membuka matanya.


"Dad-Daddy?"


Drep!


Pemuda itu ambruk di atas tubuh Caca karena wanita itu menarik tubuhnya kuat. "Daddy Langit gak boleh kemana-mana, temani Caca tidur," jelas Caca memeluk erat leher Langit membuat pemuda itu tersenyum. entah kenapa, sikap istrinya berubah-ubah layaknya wanita hamil.


Tak lama, Langit menoleh pada Caca yang sudah kembali tertidur dengan dengkuran halusnya.


"Tidur yang nyenyak, Baby!" bisik Langit mencium sekilas bibir istrinya itu, ia lalu melepaskan pelukan Caca dari lehernya secara hati-hati. pemuda itu lalu duduk disampingnya sambil membetulkan selimut buat menutupi tubuh Caca.

__ADS_1


Bersambung ...,


__ADS_2