
Caca tengah asik memasak sedangkan Langit sudah asik berjalan kesana-kemari untuk melatih kakinya supaya lebih kuat berjalan dan soal syaraf rusak, syaraf di otak Langit sudah pulih kembali walau tak diperbolehkan buat memikirkan beban yang berat.
"Daddy, ayo sarapan!"
"Nanti saja, aku belum lapar!" jelas Langit tanpa menoleh yang membuat Caca kesal, ia ingin menarik Langit tapi kondisinya tak memungkinkan karena ia sedang mengandung anak pertamanya.
Kini usia kandungannya sudah berusia enam bulan, membuat Caca kesulitan buat menarik Langit. "Daddy! ayo sarapan!" kesal Caca sehingga Langit menggeleng tak mau lalu pergi menuju ruang tamu.
Caca hanya diam karena beberapa bulan ini sikap Langit mendadak dingin padanya. Caca menatap makanan yang tertata rapi di atas meja, ia tau sekali kalau suaminya itu pengen sekali ketemu sama orang tuanya.
"Caca nyerah saja," lirih Caca mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan alamat keberadaan Langit ke keluarga Langit. Ia juga sudah bersyukur memiliki anak dari Langit dan mungkin, tetia akan merawat anaknya ini sendiri.
Caca lalu ke kamarnya sambil memegangi perutnya yang sudah besar tersebut. wanita itu lalu duduk di sudut tempat tidur sambil terisak pelan, ia tau kalau ia terlalu egois pada Langit.
Sore harinya, Caca melirik kearah balkon dan menatap keluarga Langit berjalan tergesa-gesa memasuki masionnya. Ia hanya tersenyum tipis saat membayangkan semuanya bahagia dengan kesembuhan Langit.
Tok!
Tok!
"Buka pintunya! aku mau ngomong!"
Caca mendekati pintu kamarnya. "Gak perlu, Daddy pulang lah! aku akan disini," jelas Caca menahan tangisnya.
"Aku gak mau pulang kalau kamu gak ikut sama aku!"
"Daddy pulang saja Daddy usah pikirkan aku!"
"Kamu itu lagi hamil besar, kau ikut bersama kami saja," bujuk Langit balik pintu yang membuat Caca terisak pelan. "Kalau kita berjodoh, kita bakalan bersama," jelas Caca terisak kecil. Langit yang dibalik pintu menggeleng tak setuju.
"Caca ayo ikut bersama aku pulang, kita jaga anak kita bersama-sama," pinta Langit sambil menggedor-gedor pintu kamar tersebut supaya Caca mendengarkannya.
"Dikta, ayo pulang!" ajak Nyonya Reva sehingga Langit menggeleng tak mau. "Dikta mau pulang bersama Caca," isak Langit memohon. "Caca? jadi wanita itu yang menculik kamu?!" tekan Tuan Bambang marah yang membuat Langit menoleh pada Papa nya yang mendekatinya.
"Hiks jangan benci sama Caca hiks, Dikta sangat mencintainya!" tangis Langit sehingga Tuan Bambang menarik tangan Caca dari sana. "Papa, lepasin Dikta! Dikta mau bersama Caca hiks," tangis Langit memberontak.
__ADS_1
"Dikta, jangan keras kepala!" bentak Tuan Bambang tajam.
Dor!
Semuanya menoleh kearah pintu kamar, Langit membulatkan mata melihat darah segar keluar dari celah pintu. "CACA!" tangis Langit berusaha berlari dan mencoba mendobrak pintu kamar itu lalu berhasil, semuanya bungkam melihat Caca yang sudah terkapar dengarkan darah dari kepalanya.
Membuat Langit menyentuh darah itu, pria tersebut tampak kesulitan berkata-kata saat ini. ia menoleh pada Caca yang sudah memejamkan mata untuk selamanya. "Ca-Caca," lirih Langit menyentuh pipi Caca.
"CACA!"
*
Cklek!
Caca yang membawa dua piring nasi goreng pun menoleh pada Langit yang sudah menangis sambil menyebut namanya. "Daddy, Daddy kenapa?" tanya Caca meletakkan piring itu keatas meja.
Ia lalu menepuk pipi Langit pelan, membuat Langit mulai membuka matanya sambil terisak kecil.
"Hiks Caca,"
"Ada apa?" tanya Caca membantu Langit duduk dan memeluk pria itu erat, tubuh Langit benar-benar sudah bergetar ketakutan. "Hiks aku mimpi dibawa oleh Mama dan Papa hiks terus kamu juga menembak kepala kamu mengunakan pistol hiks, kamu juga lagi hamil besar," isak Langit jujur.
"Hiks takut kalau itu benar-benar terjadi hiks,"
Caca hanya terdiam karena bingung harus menjelaskan pada Langit. "Daddy, itu cuman bunga tidur! gak mungkin bakalan terjadi," jelas Caca membuat Langit menoleh dengan wajah yang sudah memerah. "Hiks pokoknya kamu gak boleh menyerah," isak Langit membuat Caca terkekeh kecil.
"Aku gak bakalan menyerah buat dapatin Daddy lagi, ayo sarapan!"
Langit melepaskan pelukannya lalu menerima piring yang di sodorkan oleh Caca padanya. "Jangan nangis lagi," suruh Caca sehingga Langit mengangguk setelah meminum minumannya. pria itu masih saja terisak kecil karena masih mengingat jelas mimpi yang dialaminya tadi, membuatnya begitu takut kehilangan Caca.
"Makan nasinya," suruh Caca sehingga Langit memakan nasi goreng tersebut, sesekali ia mengusap air mata yang membuat Caca gemes sekali.
***
Pagi harinya, Langit berusaha menurunkan kedua kakinya dari kursi roda dan berusaha bangkit secara pelan-pelan tanpa di ketahui oleh istrinya itu.
__ADS_1
Ia juga sudah bosan duduk di kursi roda terus, dengan langkah kecil, pemuda itu tersenyum saat ia sudah mulai bisa berjalan selangkah demi selangkah.
"Caca!"
Caca yang memasak pun menoleh dan melihat Langit yang berusaha mendekatinya. "Ayo kesini! Daddy pasti bisa!" senang Caca membuat Langit tersenyum dan kembali berusaha berjalan kearah Caca.
Drep!
Langit meringis saat kakinya benar-benar ngilu sekali saat dibawa berjalan. "Hampir saja jatuh," gumam Caca sehingga Langit menoleh, lalu menyembunyikan wajahnya di leher Caca gemes.
"Jangan gigit leher Caca, Dad!" peringat Caca mendorong wajah Langit dari lehernya.
Bukannya berhenti, Langit kembali mengigit dan membuat tanda memar di leher putih wanita itu, membuat Caca hanya bisa menahan suaranya saat ini. kalau ia bersuara, sudah pasti bakalan membuat Langit makin bertindak lebih padanya.
"Gemoy jadinya," lirih Langit mengusap leher Caca yang sudah memar akibat ulahnya.
"Gemoy apaan, sakit tau!" kesal Caca mengusap lehernya sedangkan Langit menoleh kearah leher Caca yang satu lagi. Langsung saja ia melakukannya lagi yang membuat Caca kaget lalu berusaha mendorong kepala Langit.
"Ahh!"
Langit menghentikannya lalu menatap sekelilingnya. "Suara apaan tadi?" bingungnya karena mendengar suara lirih sedangkan Caca malu sekali saat ini. "Caca, kau mendengar suara tadi?" sambung Langit penasaran sedangkan Caca membalasnya dengan gelengan kepala.
Langit hendak membuat tanda lagi tapi dengan cepat Caca menutup mulut Langit, membuat Langit menoleh pada Caca. "Gak boleh lagi, udah merah leher aku," jelas Caca membuat Langit menarik tangan Caca menjauhi mulutnya.
"Pengen buatnya lagi!" kesal Langit sehingga Caca memegangi lehernya membuat Langit memanyunkan bibirnya kesal sekali, lalu beranjak duduk di lantai.
"Daddy berdiri! Lantainya kotor!"
Bukannya berdiri. Langit malah membaringkan tubuhnya, membuat Caca kesal dengan sikap ngambek Langit yang mengemaskan seperti balita tersebut.
"Daddy, kalau lantainya kotor, gimana? terus dingin," jelas Caca berjongkok di samping Langit, sedangkan pemuda tersebut tak menghiraukannya. "Daddy, bangun!" bujuk Caca sehingga Langit tetap menggeleng tak mau, sambil membelakangi Caca. "Yasudah, kalau Daddy kedinginan aku gak mau tanggung jawab,".
Caca kembali berdiri dan melanjutkan aktivitas memasaknya sedangkan Langit hanya diam sambil meniup semut yang berjalan di dekatnya.
4 menit kemudian...
__ADS_1
Caca menoleh pada Langit yang sudah tertidur di lantai, membuat Caca khawatir sekali dengan prianya itu. ia tau, Langit kelelahan belajar jalan tadi, membuat Langit tertidur pulas di lantai dapur.
Bersambung....