
Caca memasuki kelasnya dan melihat keadaan kelas itu benar-benar sepi, ia tau kalau sudah jam olahraga. Caca lalu duduk di bangkunya sambil memegangi kepalanya uang benar-benar pusing sekali.
Tap!
Tap!
Ia langsung menoleh dan melihat guru yang amat ia cintai tersebut. "Mau Caca bantuin bawa bukunya, Pak?" tanya Caca mendekati Langit yang membereskan meja. "Saya bisa sendiri," ketus Langit mengangkat semua buku-buku tugas siswanya tersebut.
"Caca ikhlas bantu kok, Pak. biar Caca saja,"
"Caca hentikan!" bentak Langit membuat Caca menoleh dengan mata yang sudah berkaca-kaca. namun, Langit tak peduli dengan tangisan tersebut. "Berhenti dekati saya, saya risi!".
Langit langsung pergi dari sana yang membuat Caca memegangi dadanya yang sesak, ia begitu sesak sekali kalau sudah dibentak oleh pria yang ia sukai tersebut.
Sampai kapan ia harus membuat pria itu luluh padanya?
hanya pria itu yang ia sukai. selama ini, Caca menolak pria yang menyatakan perasaan padanya demi menunggu Langit buat membuka hati untuknya.
Apa, ia begitu kecil? sehingga Langit tak mau menerima kehadiran nya di hati Langit.
Caca mengusap air matanya lalu bergegas keluar dari kelas menuju lapangan. Ia ingin melihat teman sekelasnya yang asik mengikuti olahraga.
Wanita itu lalu duduk di pinggir lapangan sehingga Bima mendekatinya, dengan keringat membasahi lehernya.
"Kau ngapain duduk disini? disini panas,"
"Pengen aja lihat kalian semua olahraga. apalagi, Caca gak dibolehin olahraga sama Tante-Mama." ungkapnya jujur sehingga Bima mengangguk paham.
Tatapan pemuda itu teralih ke mata sahabatnya yang merah seperti siap menangis.
"Siapa yang bikin kamu menangis, Caca?" selidik Bima mengusap air mata Caca yang tiba-tiba mengalir.
__ADS_1
"Caca gak nangis kok, cuman kelilipan saja," senyum Caca berbohong, gak mungkin ia berkata jujur pada Bima kalau ia baru saja dibentak oleh Langit. Bisa-bisa, sahabatnya itu melarang ia mendekati guru itu lagi.
"Caca, gue tau kalau lo dibuat nangis oleh guru itu, kan?"
Deg!
Caca menoleh pada Bima yang sudah menatap kearah lapangan. "Bukan kok, Caca cuman kelilipan saja," senyum Caca sehingga Bima menoleh sekilas pada wanita yang duduk disampingnya ini.
"Gue percaya dan kalau gue tau lo nangis karena guru itu, gue bakalan kasih tau Mama lo," ancam Bima lalu pergi menuju lapangan yang membuat Caca terdiam.
Tak lama, semuanya sudah siap berolahraga dan bergegas mengganti pakaian masing-masing. Caca lalu beranjak berdiri buat menuju kelasnya.
"Caca! ayo ke kantin!" ajak Vika sehingga Caca mengangguk pelan.
Vika mengandeng tangan sahabatnya menuju kantin karena begitu lapar setelah rapat OSIS, mengenai keamanan sekolah mereka. terlebih sudah beberapa minggu ini banyak yang cabut sehingga mereka membagi tugas buat menjaga dinding pembatas sekolah.
sesampai di kantin, keduanya langsung memesan soto kesukaan mereka. makanan yang terlezat dikantin ini, apalagi mie ayam yang terkenal tak kalah sedap.
"Kau jangan banyak-banyak ambil sambal, Ca. kalau lo sakit perut, gimana?"
"Gak bakalan kok, perut Caca bakalan aman," senyum Caca mengaduk-aduk sotonya itu.
Brak!
"Semv*k nya Squidward hilang!" pekik Caca kaget.
"Nenek gue kembali turu!" kaget Vika sambil memegangi dadanya yang sudah berdebar-debar karena kaget. sedangkan yang mengebrak meja hanya tertawa puas melihat kedua sahabatnya kaget.
"BIMA!" kesal keduanya menatap tajam kearah Bima yang duduk di dekat mereka berdua.
"Maaf-maaf," tawa Bima sehingga keduanya mendengus kesal dengan kelakuan Bima yang kelewat jail.
__ADS_1
"Ngapain kau kesini?" tanya Caca dingin, membuat Bima menoleh pada Caca. "gue pengen makan lah kesini, ngapain lagi." balasnya dengan entengnya yang membuat Caca maupun Vika menatap sinis pada sahabat mereka itu. "Astaga, Caca! lo itu gak boleh makan yang pedas-pedas!".
"Bima yang ganteng sejagat raya, Caca cuman pengen rasain makan yang pedas dan stop, jangan larang Caca dulu," jelas Caca sambil memakan sotonya tersebut.
Tatapan Caca teralih pada Langit yang masuk bersama beberapa guru yang lainnya, membuat Caca mendengus pelan saat menyadari salah satu guru perempuan yang kecentilan dengan Langit.
*
"Pak Langit, Caca boleh nebeng gak? soalnya gak ada yang jemput Caca," pinta Caca pada Langit yang hendak mendekati mobil hitam.
"Saya gak mau dan tolong! tolong jauhi saya, saya risi di dekati wanita kecentilan seperti kamu," tekan Langit dengan tatapan tajamnya. "Kamu menyerah saja karena Saya gak bakalan tertarik dengan cinta mu itu," ketus Langit lalu memasuki mobil. "Aku gak akan semudah itu menyerah, Pak! aku jamin! aku bisa mendapatkan bapak!" jelas Caca yakin sekali.
Langit tak membalasnya, melainkan melajukan mobil meninggalkan sekolah. "Terpaksa jalan kaki," gumam Caca pasrah sekali.
***
"Aku pulang!"
"Anak Mama udah pulang saja, sini peluk!"
Caca berlari dan memeluk wanita yang sudah merawatnya sejak kecil tersebut. "Tante-Mama, Caca pengen curhat sama Tante-Mama!" lapor Caca memeluk Mama tirinya itu.
"Kebiasaan panggil Tante-Mama, panggil Mama aja!" omel wanita berusia 39 tahun tersebut sambil mencubit gemes pipi anak tirinya itu. "Suka dengan panggilan itu," kekeh Caca jujur sehingga Rianti tersenyum gemes. "Ayo keruang tamu, mau curhat apa? biar Mama dengarin,".
"Gini, Tante-Mama. Caca itu suka ama guru killer di sekolah Caca tapi, guru itu tak mau Caca dekatin dan malah bentak. padahal, Caca udah berusaha untuk tidak menerima pria manapun kecuali guru Caca itu," lirih Caca sambil memeluk Mamanya itu.
"Mungkin, guru kamu udah punya tunangan atau punya istri?"
"Caca yakin kalau Pak Langit belum punya pasangan,' jelas Caca jujur sehingga Rianti terkekeh pelan. "Sekarang istirahat dikamar sana, jangan lupa mandi! Mama mau memasak dulu,"
"Baik, Tante-Mama," senyum Caca lalu bergegas menuju markas besar milik Leo.
__ADS_1
Bersambung...