
Keesokan harinya, Caca memasuki sekolah karena ia akan fokus belajar karena ujian akan tinggal beberapa hari lagi. Caca juga begitu kesal karena tak di perbolehkan menjaga Suga oleh suaminya tersebut dengan alasan, ujian!
"Caca! akhirnya penyelamat gue datang juga!"
Caca menoleh pada Bima yang mendekat dengan tergesa-gesa. "Apaan?" tanya Caca penasaran sekali, sehingga pemuda itu tersenyum penuh arti. "Bantuin gue bikin tugas, ayo!" ajak Bima menarik tangan Caca sehingga wanita itu pasrah mengikuti sahabatnya itu.
"Bima, lo ada masalah dengan Vika?"
Deg!
Langkah Bima terhenti lalu menoleh pada Caca, darimana wanita ini tau?.
"Lo tau dari mana?"
"Vika yang bilang, katanya lo selingkuh darinya,"
Bima menahan marahnya saat ini. padahal, wanita itu yang berselingkuh darinya dan wanita itu membalikkan fakta sehingga Caca pikir kalau ia yang salah. "Nanti gue jelasin," jelas Bima lalu membawa pergi sehingga wanita itu pasrah, ia juga penasaran kenapa hubungan sahabatnya retak begitu.
"Ekhem!"
Keduanya menoleh pada Langit yang menatap tajam pada mereka. "Pak Langit, saya mau pinjam Caca bentar untuk bantuin saya bikin tugas. Bapak tenang saja, gak bakalan lecet kok," kesal Bima menarik Caca menuju taman. sedangkan Langit hanya bisa geleng-geleng melihat istrinya dekat dengan sahabat prianya.
Walau keduanya bersahabat dan gak ada niat lebih, tetap saja ia tak suka melihat mereka begitu dekat. Karena jam kosong buatnya, ia lalu mengikuti dua siswa itu menuju taman.
"Lah? ngapain Bapak ikut juga? gak bakalan saya culik istri Bapak!" kesal Bima sedangkan Caca hanya tertawa. "Saya ingin ikut, gak baik berduaan seperti itu," ketus Langit duduk di kursi taman sedangkan kedua orang itu duduk di rumput. "Bilang aja kalau Daddy cemburu," ejek Caca membuat Langit menoleh.
"Cemburu itu wajib," balas Langit dengan entengnya.
"Udah, jangan drama romantis disini! bantuin gue bikin tugas ini," pinta Bima sehingga Caca membantu sahabatnya itu mengerjakan tugas bahasa Inggris tersebut. apalagi, hari ini dikumpulkan. sedangkan Langit yang tampak bosan pun, langsung mengeluarkan ponselnya untuk mengusir rasa bosannya.
Dreet!
Langit menatap bingung pada sebuah panggilan dari pihak rumah sakit yang membuatnya penasaran, apalagi mengingat Suga yang dirawat.
"Ada apa?"
__ADS_1
[......]
Deg!
Langit lalu memutuskan panggilan nya dan menoleh pada istrinya. "Bima, kau jaga istri saya dan jangan sampai lecet sedikitpun," jelas Langit yang membuat keduanya menoleh. "Bapak mau kemana?" tanya Bima penasaran sekali.
"Cari janda," celetuk Caca membuat Langit menoleh.
"Jangan menuduh saya seperti itu!" kesal Langit membuat Caca memanyunkan bibirnya kesal. "Aku ada urusan mendadak dan jangan berpikir negatif,"
Langit mencium kening Caca lalu berlari meninggalkan Caca maupun Bima. "Suami lo aneh banget, Ca!" jelas Bima jujur, membuat Caca mengangkat kedua bahunya tak tau.
*
"Dok, gimana keadaannya?"
"Tuan, keadaan pasien makin memburuk. pasien juga sempat menyebut nama Abigail dan setelah itu, sekarang kondisinya di pertengahan," lirih Dokter itu yang membuat Langit paham maksud Dokter itu.
Pertengahan yang berarti hidup Suga antara hidup dan mati.
"Kami sudah melakukannya semaksimal mungkin, Tuan. mungkin ini kehendak yang diatas," lirih Dokter itu yang membuat Langit khawatir, apalagi kalau seandainya istrinya tau keadaan saudara tirinya yang makin drop.
"Dokter! Pasien kembali muntah darah!" lapor salah satu Suster keluar, membuat Dokter itu langsung memasuki ruangan untuk memeriksa keadaan Suga.
"Kenapa Hendra terus memikirkan Abigail? sampai-sampai dia drop begini? gue harus mencari Abigail lagi," gumam Langit menelpon bawahannya untuk menelpon rekan lainnya di luar negeri supaya bisa mencari Abigail. apalagi ia ingat seseorang menemukan ponsel Abigail di Bandara.
Dokter itu begitu teliti memeriksa keadaan Suga yang makin memburuk dari sebelumnya. "Dokter, detak jantungnya makin melemah," lapor Suster yang memeriksa monitor tersebut.
Disisi lain,
Caca memasuki ruangan suaminya, wanita itu begitu bingung karena tak melihat keberadaan suaminya yang pergi entah kemana. "Suamimu gak ada," jelas Bima membuat Caca mengangguk.
"Caca pengen tau, dia pergi kemana apalagi dia terburu-buru," kesal Caca yang membuat Bima terkekeh kecil dengan sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai saudaranya itu.
"Bima!"
__ADS_1
Keduanya menoleh pada Vika yang tak jauh dari mereka. "Ayo pergi," ajak Bima sehingga Caca mengangguk yang membuat Vika bingung sekali.
"Bima, kau kan bisa mendengarkan penjelasannya dulu,"
"Penjelasan gimana? dia itu jelas-jelas melayani pria di club malam! dia bukan wanita baik-baik," jelas Bima membuat Caca kaget.
"Mak-Maksudnya?"
Caca benar-benar tak mengerti penuturan sahabatnya itu, karena ia tak tau sisi gelap Vika. "Vika itu adalah wanita bayaran, lebih tepatnya seorang ***/***." jelas Bima membuat Caca tak menyangka dengan ucapan sahabatnya itu.
Bima yang tau kalau sahabat perempuan nya itu tak mempercayainya, langsung saja ia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan semuanya, membuat Caca benar-benar syok sekali.
"Udah percaya dengan perkataan gue?"
Caca hanya mengangguk. "Jaga suami lo, dia pasti juga menyukai Pak Langit," bisik Bima supaya tak di dengar oleh orang lain, Caca benar-benar takut kalau seandainya suaminya di rebut oleh sahabatnya.
***
"Kalian sudah menemukan Abigail?"
Semua pria yang ada dihadapan Langit menunduk lalu menggeleng kepala, semuanya tak bisa menemukan Abigail yang pergi tak ada satupun petunjuk.
"Maaf, Tuan. sepertinya Nyonya Abigail pergi bersama seseorang yang sangat misterius. pria itu juga bukan sembarangan orang," lapor seorang bodyguard memperlihatkan sebuah video cctv Bandara.
Langit menatap Video tersebut dan melihat Abigail bersama seorang pria, keduanya tampak tertawa yang membuat Langit penasaran dengan siapa Abigail pergi.
"Selidiki kemana tujuan pesawat itu!"
"Baik, Tuan!"
"Sana pergi!" usir Langit sehingga semuanya mengangguk lalu pergi dari hadapan Langit, sebelum nyawa mereka hilang detik itu juga.
"Gue harus cari tau apa yang dimaksud Suga tentang janin," gumam Langit yang penasaran sekali.
Bersambung...
__ADS_1