
Langit tampak kesulitan memakai celana panjangnya, sudah berkali-kali dia mencoba dan tetap saja tak bisa, membuatnya kesal sekali.
"Kau aku bantu?"
"Gak perlu, kita bukan siapa-siapa lagi," ketus Langit berusaha mengerakkan kakinya yang benar-benar kaku sekali, tak bisa di gerakkan.
Langit menoleh saat saat wanita itu menarik kasar celana panjang yang ada di tangannya. "Aku masih istri Daddy, aku gak peduli kalau Daddy sudah talak aku dan aku gak peduli apapun. Daddy harus tau, Daddy itu milik Caca!" jelas Caca.
Ya, yang membawa Langit pergi adalah Caca. wanita itu berusaha mati-matian mencari keberadaan Langit dan dibantu oleh Abigail, Caca juga sudah merekam suaranya supaya tak ada yang curiga kalau dirinya lah yang menculik Langit.
Yang lain hanya tau, kalau Caca tinggal di tempat sahabatnya. padahal, ia sudah mendapatkan informasi keberadaan Langit. makanya, ia nekat menculik Langit.
Sedangkan Langit hanya terdiam mendengar perkataan wanita itu. "Caca, kau masih sekolah dan jangan pikirkan saya lagi." jelas Langit membuat Caca menggeleng. "Caca gak peduli dengan sekolah lagi," jelas Caca duduk di samping Langit.
"Kau bukan wanita yang selama ini saya kenal,"
"Itu semua karena Daddy talak Caca, Caca depresi ditambah saat mengetahui Daddy dibawa pergi. buat apaan Daddy talak Caca? Caca tau kalau Caca salah? bukannya talak Caca seperti ini,"
"Saya tak ingin kau tersiksa bersama saya, saya cacat dan sifat saya suka berubah-ubah,"
Caca langsung mencengkram pelan rahang Langit, sehingga pria itu menoleh. "Kenapa saat bersama Caca, Daddy jadi tenang? Daddy gak ngamuk seperti waktu itu. sekarang Daddy baik-baik saja," jelas Caca sehingga Langit tersadar, ia juga baru ingat karena tak memberontak sejak di culik oleh mantan istri kecilnya.
Biasanya, ia akan selalu ngamuk setiap saat dan tak memperdulikan siapa yang terluka akibat ulahnya. Ada apa dengan dirinya?.
"Daddy,"
Langit kembali menatap Caca. "Jangan tinggalin Caca lagi, Caca nerima semua kekurangan Daddy. Caca juga gak peduli kalau Daddy lumpuh, Daddy adalah orang yang Caca cintai," jelas Caca membuat Langit terdiam, lalu mengalihkan pandangannya dari Caca. "Daddy kenapa diam?".
"Kita sudah tak bisa bersama setelah saya mengucapkan talak sama kamu, Ca!"
Brukh!
Langit menoleh pada Caca yang mendorong ke tempat tidur, wanita itu perlahan menaiki tubuhnya. "Caca, kamu jangan aneh-aneh!" panik Langit hendak mendorong tubuh Caca tapi wanita itu menahan kedua tangannya.
"Caca gak peduli itu semua, Dad. Caca bakalan lakuin apapun supaya Daddy kembali pada Caca! Caca memang sudah gila, itu semua karena Caca ingin miliki Daddy!" jelas Caca sedangkan Langit berusaha melepaskan cengkraman wanita itu.
Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa karena kondisinya tak memungkinkan.
Ia ingin meminta bantuan pada Marcell tapi sahabatnya itu sudah pergi untuk beberapa waktu.
"Caca, kau jangan aneh-aneh terhadap saya. beranjaklah dari tubuh saya,"
Srek!
__ADS_1
Langit tersentak akibat wanita itu yang tiba-tiba merobek Kemeja putih yang ia pakai. "Hiks Caca, jangan lakukan apapun pada saya, lepaskan saya!" lirih Langit terisak, ia sudah seperti pria lemah saat ini.
Caca menoleh pada Langit yang sudah menangis, ia lalu tertawa yang membuat pria itu menoleh. "Daddy cengeng haha, padahal Caca gak serius banget buat lakuin nya." tawa Caca yang membuat Langit kesal.
"Kau menyebalkan! turunlah dari tubuh saya!"
Srek!
Lagi-lagi Caca merobek baju Langit, membuat pria itu menoleh pada dada nya yang sudah terlihat begitu juga dengan perutnya. "Caca, saya nangis nih?!" ancam Langit berusaha melepaskan cengkraman di tangannya.
"Nangis saja! nanti Daddy yang bakalan bilang jangan berhenti,"
Wajah Langit memerah mendengarnya, ia menggeleng karena tak ingin malu di hadapan istrinya. "Caca lepaskan saya!" pinta Langit berusaha memberontak.
Langit membeku saat melihat Caca yang mulai membuka baju sendiri di hadapannya secara perlahan, satu persatu kancing baju wanita itu terbuka yang membuat Langit panik.
"Caca, kau jangan gila! kita bukan suami-istri lagi!" panik Langit berusaha mengerakkan kakinya untuk menendang wanita itu. namun, itu akan sia-sia karena kakinya tak bisa di gerakkan sama sekali.
"Caca memang gila! Caca gila karena ingin dapatkan Daddy! Caca gak segan-segan membunvh siapapun wanita yang mendekati Daddy, termasuk wanita yang menemani Daddy waktu itu!" jelas Caca mencengkram dagu Langit sehingga pria itu menatap kearahnya. "Apa salahnya Daddy menerima Caca lagi? kalau Daddy tak mau menerima Caca lagi, it's okey! Caca bakalan bunvh diri, sehingga Caca gak bisa merasakan sakit lagi di tinggal oleh Daddy,".
Pria itu bungkam saat Caca beranjak dari tubuhnya lalu berjalan keluar kamar.
"CACA, JANGAN NEKAT!" teriak Langit berusaha bangun dari tidurnya, ia begitu kesulitan buat duduk dari tidurnya. Pria itu berusaha menggeser tubuhnya.
Brukh!
"CACA, KEPALA SAYA PUSING!" teriak Langit sambil memegangi kepalanya yang mendadak pusing sekali.
Tap!
Tap!
"Astaga, Daddy!" panik Caca membantu Langit buat duduk.
"Pusing banget," lirih Langit memegangi kepalanya sehingga Caca memijat kepala Langit pelan supaya lebih baikan. "Jangan nekat,".
Caca hanya diam yang membuat Langit menoleh dengan air mata yang sudah mengalir deras. "Daddy jangan menangis, aku gak bakalan nekat," jelas Caca menghapus air mata Langit. "Hiks jangan nekat lagi," isak Langit lagi lalu mulai memeluk tubuh Caca, membuat wanita itu langsung mencium pipi Langit.
Pria itu menoleh sehingga Caca langsung mencium bibir Langit, membuat pria itu bungkam.
***
22:12 PM
__ADS_1
Caca membuka matanya lalu melihat Langit yang tertidur pulas di pelukannya, ia juga menarik selimut hingga leher mereka. Wanita itu lalu mencubit gemes pipi Langit sehingga pria itu mulai membuka matanya pelan.
"Ke ganggu ya?"
Langit menggeleng lalu membalas pelukan wanita itu. "Daddy capek ya?" goda Caca membuat pria itu kembali menoleh. "Gak kebalik?" ejek Langit yang membuat Caca tertawa sedangkan wajah Langit memerah menahan malu mengingat kejadian tadi siang.
Ia lalu menoleh pada jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. "Daddy lapar? mau aku buatin nasi goreng?" tawar Caca melepaskan pelukannya.
Langit menoleh pada Caca yang memunguti pakaiannya dan memakai nya lagi. "Iya," balas Langit sehingga Caca menutupi tubuh Langit supaya tak kedinginan.
"Tunggu disini ya, tampan," senyum Caca lalu pergi dari kamar tersebut sehingga Langit kembali terdiam.
"Apa tindakan gue balikan, salah? tapi, gue juga gak mau menyiksa diri gue sendiri," lirih Langit mengusap wajahnya kasar, ia benar-benar sangat mencintai Caca.
Tak lama,
Cklek!
Langit yang berusaha duduk pun menoleh pada Caca yang masuk sambil membawa nampan yang berisi dua piring nasi goreng berserta air putihnya. Caca lalu meletakkan nampan itu ke atas meja lalu membantu Langit buat duduk dan juga menambah bantal di punggung Langit. Pria itu juga merapikan selimut di pinggangnya.
"Nih, nasi goreng kesukaan Daddy!"
Langit langsung menerima nasi goreng tersebut, benar-benar wangi yang membuat Langit makin lapar. Ia juga menerima gelas yang di sodorkan oleh Caca, sehingga ia langsung meminumnya lalu kembali memberikan gelas itu pada Caca.
"Enak?"
Langit hanya mengangguk sambil memakan sarapannya tersebut, ia sudah kelaparan sejak tadi karena belum sarapan sejak tadi siang. Sedangkan Caca hanya terkekeh melihat Langit yang begitu lahap sekali sarapan.
*
"Apa masih ada nasi gorengnya? aku masih lapar lagi,"
Caca yang baru siap sarapan pun menoleh pada Langit. "Masih, tunggu bentar!" balas Caca mengambil piring Langit maupun piring nya, sedangkan Langit mengambil gelas lalu meminum minuman nya karena haus.
Disisi lain, Caca kembali meletakkan beberapa sendok nasi goreng ke piring Langit. ia tadi sengaja memasak banyak karena ia tau, Langit belum makan sejak tadi siang. Ia juga gak lupa menaburkan irisan telur dan beberapa sosis kesukaan Langit. setelah semuanya siap, wanita itu bergegas ke kamar.
"Ini nasi gorengnya,"
Langit tersenyum dan menerima piring tersebut, sesekali ia memakan sosis tersebut. Caca lalu mengambil piyama tidur yang sengaja Caca beli ingin Langit dan tak hanya piyama, Caca juga membeli semua pakaian sehari-hari Langit, termasuk beberapa alat pria sehabis mandi.
Ia sudah mempersiapkan semuanya karena ingin Langit tinggal bersamanya disini berdua dan soal anak kecil tadi, itu adalah anak yang ia temukan di dekat rumah kosong dalam keadaan tak memakai apapun.
Karena kasihan, Caca menganggap bocah itu sebagai anaknya untuk beberapa bulan dan setelah itu memberikannya pada bodyguard yang juga memiliki istri yang tak bisa melahirkan keturunan karena mandul.
__ADS_1
Bersambung...