
Suga tampak bingung mencari rujak yang sejak tadi gak ketemu, pemuda itu juga sudah mencari rujak di pasar tetap saja tak ketemu yang membuatnya benar-benar kesal sekali. tapi, ia harus berjuang demi calon anaknya.
Karena tak bisa berpikir jernih lagi, pemuda itu melajukan motornya menuju tempat tinggal adik tirinya karena disana banyak pohon mangga, ia bisa saja minta tolong pada Langit untuk membuatkan rujak dan soal bengkuang ia bisa ambil bengkuang milik adiknya di kulkas.
Setiba di rumah, pemuda itu melihat pasangan suami istri itu tengah asik duduk di taman sambil menikmati matahari pagi. membuatnya benar-benar iri, apalagi ia disuruh membuatkan rujak buat Abigail.
"Ngapain, Bang?"
Suga menoleh pada Caca yang masih terlihat lemah, karena masih demam. "Ambil mangga buat rujak," balas Suga dengan entengnya. "Siapa yang hamil?" tanya Langit penasaran sehingga Suga terdiam. "Buat seseorang," jelas Suga lalu memanjat pohon mangga yang membuat kedua orang itu menoleh.
Pemuda itu langsung mengambil 3 buah mangga lalu turun dengan entengnya. "Abang, bisakah kau membuatkannya? saya gak bisa," ungkap Suga jujur karena ia tak bisa membuat rujak untuk istrinya.
"Baiklah, mangga ini saja?"
"Sama bengkuang,"
Langit langsung menggendong istrinya memasuki rumah yang diikuti oleh Suga karena pemuda itu ingin juga belajar membuat rujak, supaya saat Abigail memintanya membuat rujak. ia sudah bisa tanpa meminta orang lain untuk membuatnya.
"Apa kamu sudah ketemu sama Abigail?"
"Be-Belum," gagap Suga sehingga Langit mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Abigail, sedangkan Suga menghela nafas lega karena ponsel milik Abigail ia matikan dan juga ia simpan di lemari apartemen nya.
"Gimana?" tanya Caca penasaran sehingga Langit menggeleng. "Gak aktif sejak semalam," balas Langit jujur sehingga Caca mengangguk paham. Langit lalu menyuruh Suga buat mengupas mangga maupun bengkuang sedangkan dirinya mengulek bumbunya. "Pedas?" tanya Langit yang membuat Suga bingung, karena gak tau permintaan istrinya.
"Pedas kek nya, Bang."
Langit kembali membuat bumbu sedangkan Caca hanya menyandarkan kepalanya di atas meja karena benar-benar lemas sekali, terlebih wanita itu tak mood buat sarapan maupun bangun dari tempat tidur.
Tak lama, semuanya sudah siap sehingga Suga senang sekali. pemuda itu minta terimakasih pada Langit dan bergegas ke apartemennya karena takut Bumil itu kabur lagi darinya.
Sesampai di apartemen, ia melihat Abigail yang duduk di lantai sambil mencoret-coret buku untuk mengusir rasa bosan. "Ini rujaknya," jelas Suga memberikan rujak itu pada Abigail sehingga wanita itu menoleh padanya.
"Gak mood lagi,"
"Ha? aku udah capek-capek panjat pohon mangga, kenapa gak kau makan?"
"Kau lama sekali, daripada terbuang. gimana kalau kamu yang makan,"
"Eh," kaget Suga saat mendengar penuturan istrinya itu, masa ia makan rujak pagi-pagi gini? bisa-bisa perutnya bakalan sakit. "Aku gak mau makan nih rujak, asem!".
__ADS_1
"Yasudah, nanti bayi ini ileran aku gak mau tau!"
"Ja-Jangan!"
Abigail menoleh pada Suga yang duduk di sampingnya sambil membuka kotak berisi rujak tersebut, pemuda itu tampak takut-takut memakannya karena sudah dipastikan asem.
"Gak boleh makan bengkuang, kamu harus makan mangga nya!"
'Gini amat,' batin Suga kesal lalu memakan mangga muda tersebut.
1 detik.
2 detik.
"Huweekk! Asam!" pekik Suga bergegas mencari minum yang membuat Abigail tertawa melihat wajah lucu Suga.
"Aduh, perutku kram," ringis Abigail memegangi perutnya yang sakit, membuat Suga mendekat lalu mengendong Abigail menuju ranjang. "Makanya, jangan capek-capek!" kesal Suga menyelimuti tubuh Abigail. pemuda itu masih kesal karna di kerjain oleh Abigail. mengingat istrinya itu lagi hamil, ia hanya bisa pasrah.
"Mau icecream!"
"Gak boleh, pasti ujung-ujungnya aku yang habisin,"
Suga meringis kesakitan saat Abigail menendangnya kuat hingga jatuh dari tempat tidur. "Hiks mau icecream!" tangis Abigail sehingga Suga mendengus kesal, padahal ia ingin sekali melanjutkan tidurnya yang terganggu eh malah di tendang.
"Gak boleh!"
"Yasudah, aku bakalan kabur lagi!" isak Abigail hendak bangkit tapi ditahan oleh Suga yang menatap tajam kearah nya. "Kau mau memancing kemarahan saya?" tanya Suga membuat nyali Abigail menciut, wanita itu langsung menggeleng cepat karena tak ingin di kasari oleh Suga lagi.
*
Siang harinya, Suga menatap kesal pada Abigail yang memasangkan makeup di wajahnya. wanita itu benar-benar menyebalkan sudah hamil dan ia tak dapat menolak karena tubuhnya di ikat di kursi saat Suga hendak menyelesaikan tugas sekolah buat besok.
"Udah puas hancurin wajah saya?" ketus Suga membuat Abigail menggeleng lalu memasangkan bulu mata palsu di wajah suaminya itu, membuat Suga harus pasrah dengan kelakuan bumil satu ini.
Ingin menolak, wanita itu akan menangis.
Ia benar-benar sudah pasrah menjadi bahan percobaan oleh Bumil satu ini.
"Waktunya, pakai daster ini!"
__ADS_1
Suga menoleh pada daster yang dibelikan khusus buat Abigail, Daster hingga betis. "Gak mau! lepasin saya!" kesal Suga yang sudah seperti wanita tomboy, karena makeup yang diberikan oleh Abigail tadi.
"Hiks pakai ini!"
Pemuda itu menatap kesal pada Abigail yang permintaannya kalau tak dituruti pasti berujung nangis. "Saya gak mau!" tolak Suga berusaha melepaskan ikatan ditubuhnya dan berhasil, karena ikatannya tak terlalu kuat.
"Yasudah," kesalnya berjalan menuju ranjang untuk tidur. "Jangan ngambek terus, Abigail!" kesal Suga membangunkan istrinya itu, sedangkan Abigail tak memperdulikannya.
"Baiklah, aku akan memakai daster s i a l a n itu!"
Abigail langsung menyibak selimut lalu melihat suaminya itu memakai daster tersebut, membuat nya senang sekali. "Cantik banget!" senang Abigail sedangkan Suga memutar mata malas sekali dengan tingkah istrinya yang makin aneh itu.
"Sini bobo! aku peluk!" senyum Abigail sehingga Suga berbaring di sebelah Abigail. wanita itu langsung memeluk Suga dan tak lupa mencubit pipi suaminya itu yang benar-benar mengemaskan sekali.
"Aku sudah menuruti semua perlakuan kamu dan sekarang, aku minta imbalan!"
"Apaan?"
"Jat4h!"
"Baiklah, ayo!"
Suga yang mendengar itu begitu kaget, semudah itu istrinya memberikan padanya? gak ada niat nolak, gitu? tapi gak papa, ia sudah capek jadi boneka percobaan dan sekarang ia akan berkuasa.
"Kamu serius?"
Abigail hanya mengangguk yang membuat Suga benar-benar bersemangat sekali hari ini.
***
Suga membuka matanya dan melihat sang istri tertidur lelap di pelukannya, pemuda itu tersenyum lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya tersebut supaya tak kedinginan.
Ia mengusap air mata yang bergelayut di bulu mata lentik Abigail, entah kenapa ia begitu senang sekali melihat wanita itu tertidur di pelukannya.
Wanita itu tak memberontak seperti ia memper/kosa wanita itu dulu karena berani kabur darinya. Ia juga merasa bersalah karena mengambilnya secara paksa dan tanpa hati. dan sekarang, ia melakukannya dengan hati-hati karena ada buah hatinya bersemayam di rahim sang istri.
Suga sudah tak sabar menjadi papa muda di usia muda nya ini. Perlahan, Suga mengecup kening Abigail membuat wanita itu menggeliat kecil dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Suga.
Ia lalu kembali memejamkan mata untuk tidur sedangkan tugas sekolah gak ia pedulikan, karena bisa menyuruh orang buat membuatnya. yang dipikirkannya sekarang adalah untuk melanjutkan tidurnya lelapnya karena begitu capek sekali.
__ADS_1
Bersambung ....