
Caca menoleh pada Suga yang makin hari makin aneh, pemuda itu sudah satu bulan ini tak mood belajar dan sesekali, pria itu menanyakan tentang hal Abigail.
"Abang kenapa mendadak aneh gini? Abang kenapa?" tanya Caca mendekati Suga yang melirik ponsel terus. pemuda itu menggeleng sambil mematikan ponselnya lalu menoleh pada Caca yang duduk di sampingnya.
"Caca, apa kau gak tau dimana keluarga ataupun tempat yang selalu di datangi Buk Abigail?" tanya Suga yang sudah frustasi mencari keberadaan istrinya yang entah kemana, apalagi wanita itu lagi mengandung anaknya. "Caca sudah tanya sama Bang Langit tapi dia gak tau," jelas Caca sehingga Suga meremas rambutnya frustasi. "Abang kenapa pengen ketemu dengan Buk Abigail?".
Suga menggeleng lemah, pemuda itu gak mungkin membicarakan masalahnya yang ia inginkan hanyalah Abigail kembali padanya.
Hukk!
Caca langsung memeluk Suga yang ambruk, membuat Caca khawatir. apalagi, darah segar keluar dari mulut saudara tirinya itu. perlahan, pandangan Suga pudar dan gelap.
"Abang! Abang kenapa?" panik Caca menepuk pipi Suga yang sudah tak sadarkan diri, ia juga panik saat menyadari kalau abangnya itu demam tinggi.
"Vika, panggilan Bang Langit!" pinta Caca saat Vika baru masuk kedalam kelas. Vika menoleh lalu mengangguk dan bergegas mencari keberadaan Langit di ruangannya.
"Abang hiks bangun!" tangis Caca menyandarkan tubuh Suga di dadanya, ia juga mengusap darah yang ada mulut saudaranya mengunakan lengan bajunya, ia tak peduli bajunya terkena darah segar.
Tap!
Tap!
"Dia kenapa?" kaget Langit yang baru masuk bersama Vika.
"Hiks gak tau, dia nanyain Buk Abigail terus batuk," tangis Caca sehingga Langit langsung memapah Suga buat meninggalkan kelas menuju mobil milik Langit.
Sesampai di rumah sakit, Suga langsung dilarikan keruangan pemeriksaan oleh pihak rumah sakit yang membuat Caca menangis di pelukan Langit. "Sayang, berhentilah nangis," bujuk Langit mengusap air mata Caca lembut. "Hiks, aku takut Abang kenapa-napa! cuman dia saudara yang Caca punya," isak Caca menangis yang membuat Langit paham.
__ADS_1
"Kita berdoa saja supaya Abang kamu gak kenapa-napa,"
"Hiks i-iya," isak Caca mengangguk sehingga Langit tersenyum.
20 menit berlalu.
Caca tak henti-hentinya menangis karena Dokter tak kunjung keluar yang membuatnya khawatir sekali. Langit juga berusaha membujuk sang istri supaya lebih tenang, tapi wanita itu tetap saja menangis yang membuat Langit pasrah.
Cklek!
"Dok, Abang Caca kenapa?"
"Pasien sangatlah lemah dan saya minta setelah ini, pasien dilarang memikirkan hal-hal berat yang menyebabkan otaknya lelah, apalagi pasien memilik penyakit otak ringan dan gak hanya itu ..., pasien mengalami masa kritis," jelas Dokter itu yang membuat Caca ambruk dan langsung di sambut oleh Langit.
"Suster, ambilkan brankar!" pinta Dokter itu saat menyadari kalau Caca gak sadarkan diri.
1 jam berlalu,
Langit tak henti-hentinya mencoba membangunkan istrinya itu dan benar saja, Caca mulai terbangun dari pingsannya yang membuat Langit senang. "Sayang, kamu istirahat dulu ya. jangan pikirkan apapun dulu," bujuk Langit mengusap kepala istrinya itu lembut.
"Caca penasaran kenapa Abang mendadak drop seperti itu? ada apa hubungan nya dengan Buk Abigail yang hilang kabar," lirih Caca yang membuat Langit terdiam, ia juga penasaran dengan Abigail yang mendadak hilang kontak dengannya. biasanya Abigail selalu menghubungi nya dan sering menelponnya untuk menjaili nya.
"Daddy udah mencari keberadaan Buk Abigail?"
"Belum, saya tak bisa melacak ataupun menghubungi nya," ungkap Langit jujur yang membuat Caca begitu sedih, apalagi Abang tirinya yang kritis sekarang.
Langit mengeluarkan ponselnya untuk mencoba menghubungi Abigail, tetap saja tak ada sambungan yang membuatnya khawatir dengan sepupunya itu. wanita itu pergi tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
__ADS_1
"Owh iya, sekarang kamu hati-hati apalagi sejak video pembu/nuhan itu viral. saya gak ingin kamu kenapa-napa atau bernasib sama dengan wanita itu," jelas Langit sehingga Caca mengangguk pelan, ia juga sempat melihat pembu/nuhan itu secara live.
Caca benar-benar gak sanggup melihat seorang wanita terlindas oleh kereta api dan ia juga merasa sangat kenal dengan suara pemilik akun, walau mengunakan bahasa Inggris, Caca seperti pernah mendengar suara pria pemilik akun tersebut.
"Kenapa diam?"
"Eh, nga-ngak papa," gagapnya membuat Langit percaya, pemuda itu tampak sibuk mencoba menghubungi sepupunya yang entah dimana sekarang.
***
"Abigail, ini sarapan kamu!"
Abigail yang menatap keluar jendela kamar pun menoleh pada wanita yang merupakan kekasihnya Kevin. wanita itu sangatlah baik padanya, apalagi di saat masa-masa ngidamnya ini. membuat wanita itu dan Kevin membantunya.
"Makasih, maafkan aku kalau membuat kamu terbebani,"
"Santai saja, kamu adalah sahabat kekasihku dan otomatis kamu adalah sahabatku juga," kekehnya membuat Abigail tersenyum.
"Kamu kenapa melamun? memikirkan ayah dari kandungan kamu itu?"
Abigail menggeleng. "Aku tak memikirkan pria itu, dia adalah iblis," jelas Abigail membuat wanita itu menarik tangan Abigail. "Suhendra," gumam nya menatap nama yang ada di lengan Abigail.
"Kalau aku jadi kamu, aku sudah Bun/nuh diri karena tak sanggup di berikan nama mengunakan pisau disaat sadar," jelas nya karena mendengar cerita Abigail saat ia melihat nama yang terukir di tangan Abigail.
Abigail juga menoleh kearah tangannya, entah kenapa ia merasa aneh pada Suga yang ia tinggalkan di Indonesia.
Bersambung....
__ADS_1