Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#35 Dibawa Kabur


__ADS_3

Cklek!


"Ada apa ini?"


Langit menoleh pada orang tuanya yang mendekat. "Jauhkan wanita bodoh ini! saya tak suka dia disini!" kesal Langit sehingga Alya mencubit pipi Langit, membuat pemuda itu kembali menoleh. "Lepaskan! jangan cubit pipiku!" kesal Langit memberontak.


sedangkan pasangan yang baru datang itu hanya terkekeh kecil melihat putra mereka bisa marah-marah pada orang lain. Biasanya tak akan pernah sama sekali.


"Jangan galak-galak, Tuan!"


"USIR WANITA BODOH ITU!" berontak Langit membuat Nyonya Reva membawa Alya pergi dari ruangan tersebut. "Dikta, kamu tenang! wanita itu sudah keluar," jelas Tuan Bambang sehingga Langit menatap sekelilingnya dan tidak melihat wanita tadi, membuatnya benar-benar lega sekali.


"Papa, Dikta gak mau ada wanita itu lagi! jangan biarkan dia kesini lagi!"


"Dikta, dia jaga kamu disini. Mama dan Papa juga mengurus sesuatu supaya kita bisa pindah kesini," jelas Tuan Bambang yang membuat Langit kesal.


"Saya mau tidur, Om pergilah!"


Tuan Bambang menghela nafas panjang, pria itu sedikit kesal pada putranya yang tadi memanggilnya Papa dan sekarang, ia malah di panggil Om. pria paruh baya tersebut lalu keluar supaya putra bungsunya itu bisa beristirahat dengan nyenyak tanpa ada yang menganggu nya.


*


1 bulan berlalu...


Suasana begitu sunyi dan dingin, membuat rumah sakit itu benar-benar sepi tak ada yang berlalu-lalang di koridor.


Cklek!


Tiba-tiba seseorang bertopeng masuk dan menatap kearah brankar yang di tempati oleh Langit yang terlelap. "Bius wanita itu," pinta orang itu sehingga pria itu mendekati wanita yang sudah tertidur di sofa.


Sedangkan wanita bertopeng itu mendekati Langit dan menyuntikkan sesuatu di lengan pemuda itu, sehingga wanita itu langsung menutup mulut Langit supaya tak berisik.


Perlahan Langit mulai tak sadarkan diri akibat efek bius tersebut. "Cepat bantu saya letakin dia ke kursi roda," pinta wanita itu sehingga dua orang bergegas memindahkan Langit ke kursi roda.


"Cepat pergi!" ajak wanita itu mendorong kursi roda meninggalkan ruangan sebelum ada yang melihatnya. sedangkan Langit sudah tak sadarkan diri akibat bius yang di suntikkan padanya.


Semuanya bergegas menuju mobil untuk menuju bandara malam ini juga, semuanya berniat membawa Langit jauh dari keluarganya dan membawanya ke Brazil. tempat yang lebih tersembunyi dari orang-orang.


3 jam berlalu...


Perlahan Langit mulai membuka matanya dan melihat wanita bertopeng yang tengah memeluknya sambil bermain ponsel. "Ka-Kau siapa?" tanya Langit membuat wanita misterius itu menoleh.


Wanita itu hanya mengusap pipi Langit lalu mengangkat tangan buat memanggil bawahannya. "Ada apa, Bos?" tanya pria itu sedikit menunduk.

__ADS_1


"Siapkan sarapan buatnya,"


'Siapa wanita ini? kenapa gue gak kenal sama sekali suaranya,' batin Langit yang benar-benar lemas sekali, ia lalu menoleh kearah sosok misterius itu yang mengusap bahunya pelan.


"Kau harus sarapan yang banyak, okey! biar cepat sembuh,"


"Kau siapa?"


"Kau akan tau," senyum wanita itu kembali mengusap kepala Langit lembut.


Tak lama, sarapan pun datang yang membuat Langit menoleh kearah sarapan yang begitu banyak tersebut. "Buka mulutnya," pinta nya sehingga Langit menggeleng lalu berusaha melepaskan rangkulan wanita misterius tersebut.


"Ayo dimakan, kau harus sembuh!"


Langit menggeleng pelan dan mulai mengangkat tangannya buat membuka topeng tersebut. Wanita itu langsung mengalihkan pandangannya sambil memegangi topeng tersebut.


"Kau siapa? kenapa menculik aku?"


wanita misterius itu kembali menoleh pada Langit yang benar-benar lemas. Ia lalu menutup mata Langit sambil membuka topengnya, membuat Langit perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah wanita itu, walau matanya di tutupi.


"Kau sebenarnya siapa? kenapa menangis?" tanya Langit saat menyadari ada yang basah di pipi wanita itu, pemuda itu bungkam saat tanpa izin wanita itu mencium bibirnya sekilas.


"Jangan mencium aku, kau sebenarnya siapa?" kesal Langit berusaha menyentuh wajah wanita itu lagi dan tetap saja tak mengetahui siapa yang ada di dekatnya.


Langit mengusap kedua matanya dan melihat wanita itu memeluknya erat, ia juga memegang rambut wanita itu yang panjangnya hingga bahu dengan cat berwarna kemerahan.


"Kau sebenarnya siapa dan kenapa kau menculik aku? apa kita pernah ketemu sebelumnya?"


Langit begitu kesal saat wanita itu sama sekali tak menjawab pertanyaannya. Pemuda tersebut menoleh pada wanita itu melepaskan pelukannya sambil memegangi topeng yang sudah melekat di wajahnya.


Langit merebut topeng itu yang membuat pemuda itu membuatkan mata, melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.


"Ka-Kau ...,"


*


Disisi lain, suasana rumah sakit benar-benar dan heboh karena kehilangan Langit yang entah kemana. ditambah perawat yang menjaga Langit sudah tak bernyawa di sofa dengan leher yang ikat dengan besi.


Beberapa polisi juga sudah mengecek cctv ruangan dan hanya melihat tiga orang berpakaian serba hitam memasuki ruangan dan igasetelah itu, kamera cctv juga mendadak rusak.


"Mas hiks anak kita di culik hiks," tangis Nyonya Reva di pelukan suaminya, membuat pria paruh baya itu juga kebingungan.Tuan Bambang lalu menghubungi Abigail untuk menanyakan kabar Caca, ia pasti yakin kalau mantan menantunya itu nekat.


{Ada apa, Paman?}

__ADS_1


"Apa Caca bersama kamu?"


{Iya, ada Apa? mau bicara sama dia Paman?}


{Siapa itu, Kak? Daddy kah?}


Tuan Bambang terdiam saat mendengar suara Caca, sehingga ia bingung siapa yang menculik putranya saat ini.


"Gak jadi, Paman cuman mastiin saja."


Tuan Bambang langsung memutuskan panggilan tersebut. "Hiks gimana, Mas? apa Caca yang culik Dikta?" tanya Nyonya Reva terisak, yang dibalas dengan gelengan oleh suaminya itu. "Bukan Caca, tadi Mas juga dengar suara Caca," jelas Tuan Bambang membuat wanita itu makin menangis.


Ia takut putranya kenapa-napa, ditambah anaknya belum sembuh total.


***


"Sekarang makan sarapannya!"


"Saya gak mau," ketus Langit berusaha mengerakkan kursi rodanya dari wanita itu, ia ingin kembali ke tempat Mama dan Papanya.


Orang itu menghela nafas panjang lalu berjongkok di hadapan Langit, sehingga pemuda itu mengalihkan pandangannya dari wanita itu.


"Mommy!"


Keduanya menoleh pada anak kecil yang di gendong oleh pria berpakaian hitam. "Ututu, Mommy kangen sama kamu," kekeh nya langsung mengendong bocah 2 tahun itu. Langit hanya diam menatap kedua orang itu dengan wajah dinginnya.


"Daddy?"


Langit yang di tunjuk pun menoleh kebelakang untuk memastikan bukan dirinya yang di panggil Daddy. tapi, ia tak menemukan siapa-siapa di belakangnya saat ini.


"Daddynya lagi sakit, sehingga Daddynya linglung," kekeh wanita itu mendekati Langit yang masih kebingungan.


"Daddy!" senang bocah itu mengulurkan kedua tangan mungilnya pada Langit, membuat Langit bingung. "Saya gak punya anak," jelas Langit saat wanita itu meletakkan bocah manis itu ke pangkuannya.


"Terima saja, dia manis sekali," senyum wanita itu mengusap pipi bocah perempuan itu, membuat Langit menggeleng. "Saya gak mau punya anak!" kesal Langit hendak memberontak tapi dengan cepat wanita itu mencengkram rahangnya pelan, membuat Langit terdiam.


"Tenang dan jangan memberontak, bersikap manis lah saat bersama Bilqis," jelas wanita itu membuat mata Langit berkaca-kaca. "Hei, gendong Bilqis!".


"Baik, Bos!"


Orang itu langsung mengendong bocah itu sehingga wanita tersebut langsung memeluk Langit lembut. "Jangan nangis, nanti jelek!" kekeh nya mengusap air mata Langit lembut. pemuda itu hanya bisa terisak sambil membalas pelukan wanita tersebut erat.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2